<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014</id><updated>2011-08-07T06:06:37.931-07:00</updated><category term='Lagu'/><category term='Hikmah'/><category term='Kajian Buku'/><category term='keluarga'/><category term='Politik'/><category term='pendidikan'/><category term='Catatan'/><category term='Remaja'/><category term='Organisasi'/><title type='text'>search for meaning</title><subtitle type='html'>siapa yang menememukan alasan untuk hidup, ia mampu menyelesaikan persoalan dengan cara apapun</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>47</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-8635330924176489953</id><published>2011-04-26T22:08:00.000-07:00</published><updated>2011-04-26T22:15:42.277-07:00</updated><title type='text'>Mencerna Situs Sejaring Sosial</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-r6j6y_f2uFg/TbelTShKkzI/AAAAAAAAAII/mZrhGkAFcW0/s1600/kompasiana.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-r6j6y_f2uFg/TbelTShKkzI/AAAAAAAAAII/mZrhGkAFcW0/s320/kompasiana.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5600126412465541938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; "&gt;&lt;b&gt;Situs jejaring sosial adalah dunia sosial yang baru dimana kita baru mulai berupaya memahaminya. &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; "&gt;W. Keith Campbell, Universitas Georgia&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; Mengapa kita tidak bisa terus menerus memanipulasi identitas kita di situs jejaring sosial?&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; Apa yang membuat orang lain tertarik dengan (profil Facebook) kita?&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; Alih-alih mengganggu produktivitas, bagaimana agar bekerja bisa seperti bermain Facebook?&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; Sebagai orang tua, cara pengasuhan seperti apa yang bisa mengurangi kemungkinan dampak negatif pada anak remaja karena menggunakan situs jejaring sosial?&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; Apa benar, menggunakan situs jejaring sosial bisa menurunkan prestasi belajar?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Situs jejaring sosial merupakan fenomena baru yang menyertai kehidupan kita sehari-hari. Fenomena baru ini terus menggeliat, berada dalam pusaran arus utama kehidupan kita, bahkan menjadi kebutuhan hidup. Pada saat yang bersamaan, situs jejaring sosial telah menyedot waktu dan energi kita, terutama oleh dampak negatif yang ditimbulkannya, sementara kita masih baru berupaya untuk memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai fenomena baru, kita perlu mencerna lebih dalam perihal situs jejaring sosial. Buku ini mengupas berbagai peristiwa, mungkin juga kisah, tentang pengguna situs jejaring sosial. Melalui berbagai hasil penelitian tentang situs jejaring sosial, kita jadi tahu bahwa penggunaan situs jejaring sosial berhubungan dengan hakekat manusia untuk saling terhubung. Situs jejaring sosial juga menyingkap berbagai makna yang membantu kita memahami diri sendiri dan orang lain—inilah esensi langgengnya suatu keterhubungan di antara sesama manusia.[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-8635330924176489953?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/8635330924176489953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2011/04/mencerna-situs-sejaring-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/8635330924176489953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/8635330924176489953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2011/04/mencerna-situs-sejaring-sosial.html' title='Mencerna Situs Sejaring Sosial'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-r6j6y_f2uFg/TbelTShKkzI/AAAAAAAAAII/mZrhGkAFcW0/s72-c/kompasiana.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-2225397710247434127</id><published>2010-10-03T23:15:00.002-07:00</published><updated>2010-10-03T23:21:08.942-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Apa yang Dibincangkan: Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Situs Jejaring Sosial tentang Komunikasi Laki-laki dan Perempuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/TKlyNyLbr5I/AAAAAAAAAHs/i85QLSjOHgU/s1600/facebook-addict-51.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 242px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/TKlyNyLbr5I/AAAAAAAAAHs/i85QLSjOHgU/s320/facebook-addict-51.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5524071999080214418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Eh lu, gak usah ikut campur gendut, kaya tante-tante, gak bisa gaya, norak lu...". Maaf, saya tidak sedang mengata-ngatai Anda. Kalimat ini saya kutip dari akun facebook milik Melati (bukan nama sebenarnya) yang ditulis di dinding facebook milik Mawar (juga bukan nama sebenarnya). Keduanya terlibat adu cemburu. Melati dan Mawar berselisih. Mawar mengadukan penghinaan yang dilakukan Melati pada dirinya ke pengadilan. Facebook jadi perantara yang memudahkan mereka berselisih yang juga berarti menjadi perantara mereka berurusan di pengadilan. Pihak yang lebih banyak menanggung akibat buruk dari urusan itu tentu Melati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada selasa siang, 16 Februari 2010, Melati terlihat tenang di ruang Pengadilan Negeri Bogor. Dia sedang menunggu hakim membacakan vonis untuknya. Satu-satunya hakim yang memimpin sidang membacakan, "Melati bersalah melakukan tindak pidana memfitnah. Dan karena itu saya menjatuhkan vonis 2 bulan dan 15 hari penjara. Tapi hakim memerintahkan dia untuk tidak menjalaninya. Terkecuali terpidana terkena perkara lain dalam masa lima bulan, maka hakim akan memerintahkan dia untuk menjalani hukuman tersebut". Melati masih beruntung karena saat vonis dibacakan, dia masih belum cukup umur untuk menanggung derita di balik jeruji penjara. Apakah urusannya dengan pengadilan membuat Melati mengubah sikapnya terhadap Facebook? Ternyata tidak. Pada hari persidangan, saat ditanya tentang kebiasaannya menggunakan Facebook, Melati menjawab, "Biasa saja, tidak ada trauma. Sampai sekarang saya masih menggunakan Facebook". Perubahan sikapnya mungkin ini, ”ke depan saya tidak mau mengomentari Facebook orang lain”.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya mengajak Anda berbincang tentang Luna Maya. Tapi kali ini bukan tentang videonya yang menghebohkan itu. Jauh sebelum beredar video hebohnya, masyarakat, utamanya para ‘wartawan’ infotainment, dihebohkan oleh statusnya di sebuah situs jejaring sosial, Twitter. Pada Rabu dini hari, 16 Desember 2009, Luna menulis, “Infotainment derajatnya lebh HINA dr pd PELACUR,PEMBUNUH!!!!may ur soul burn in hell!!” Setelah dikasak-kusuk, Luna menulis status tersebut karena kejengkelannya akibat suatu peristiwa pada malam harinya. Pada Selasa malam, saat dia menonton film di sebuah bioskop di Jakarta, kamera ‘wartawan’ menyenggol seorang anak kekasihnya yang sedang dalam gendongannya. Kalau kamera ‘wartawan’ bisa bersenggolan dengan narasumber berita, soal apalagi kalau bukan urusan mengasak-ngusuk berita. Seorang ‘wartawan’ infotainment yang waktu itu sedang berada di lokasi kejadian membela diri, “Sebenarnya yang menyenggol itu bukan kameramen, tapi yang mendekati kamera adalah Luna sendiri. Kita juga tidak mengerumuni dia seperti lalat, kita sebelumnya juga sudah bertanya baik-baik pada dia untuk meminta wawancara.” Setelah statusnya yang bernada menghina itu ditulis, tanggapan datang dari berbagai penjuru. Luna seperti melempar bola panas. Siapa saja yang membaca statusnya bisa merasa kepanasan dibuatnya. Luna mendapat banyak dukungan sekaligus kritik pedas. Tidak lama kemudian, Luna menutup akun Twitternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa kita simpulkan pada kedua kasus di atas? Apakah perempuan lebih sering terseret dalam masalah saat berurusan dengan situs jejaring sosial? Wah, laki-laki juga punya banyak  masalah akibat penggunaan Facebook atau Twitter. Apakah jejaring sosial lebih cocok bagi perempuan sampai akhirnya menyeret mereka dalam masalah yang tidak pernah mereka duga sebelumnya? Mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah survey menyimpulkan bahwa dibandingkan dengan laki-laki, perempuan lebih cenderung mengalami kecanduan dengan Facebook. Lightspeed Research melakukan survey terhadap 1.605 pengguna Facebook di Amerika Serikat. Hasil survey menunjukkan bahwa warga Amerika Serikat semakin banyak yang terobsesi dengan Facebook, terlebih-lebih perempuan. Lightspeed Research mencatat, perempuan merupakan kelompok yang paling sering mengakses Facebook. Sebanyak 34 persen perempuan berusia 18 hingga 34 tahun yang disurvey mengakui bahwa aktivitas pertama yang mereka lakukan saat bangun pagi adalah mengecek akun Facebook. Tidak hanya pagi hari saja, malam hari juga mereka gunakan untuk mengakses Facebook. Sebanyak 20 persen perempuan yang disurvey  larut dalam berjejaring sosial di Facebook pada malam hari sebelum mereka larut dalam tidur. Sedemikian kecanduannya pada Facebook, sebanyak 26 persen perempuan sering terbangun di malam hari hanya sekedar membaca pesan yang mereka terima di Facebook!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis status, mengirim dan membalas pesan, memberi komentar pada status atau dinding teman di situs jejaring sosial, adalah aktivitas yang melibatkan kata-kata. Saat kita menulis status, mengirim dan membalas pesan, memberi komentar pada status atau dinding teman, kita sedang berbicara pada orang lain. Kita sedang berbicara dalam bahasa tulis. Dari hasil survey di atas, perempuan lebih sering mengakses Facebook dibandingkan laki-laki. Pertanyaannya, apa hal ini karena perempuan lebih banyak berbicara? Apakah karena perempuan lebih suka bicara dibanding laki-laki, yang dari kesukaannya berbicara ini memungkinkan perempuan mengungkapkan isi kepalanya di status akun miliknya atau di dinding orang lain atau berkomentar atas status orang lain? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum tahu apakah sudah ada hasil penelitian tentang hubungan antara banyaknya seseorang berbicara dengan banyaknya orang tersebut menuangkan bahasa tulis di Facebook. Penelitian yang sudah ada menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki tingkat keterbukaan (openness to experience) yang tinggi lebih cenderung melakukan aktivitas yang bersifat sosial di Facebook, seperti memberi komentar di dinding teman, mengirim ke dinding teman, maupun menulis pesan pribadi—aktivitas yang banyak menggunakan bahasa tulis dalam berhubungan dengan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk persoalan komunikasi laki-laki dan perempuan, lebih tepat kiranya jika kita bertanya pada John Gray, penulis buku Men Are From Mars, Women Are From Venus. “Bila sedang mengalami ketegangan jiwa, secara naluri perempuan merasa perlu membicarakan perasaan-perasaannya dan segala masalah yang mungkin berkaitan dengan perasaan-perasaannya itu,” begitu kata John Gray. “Bila ia marah, ia marah mengenai segala sesuatunya, yang besar dan yang kecil. Ia tidak langsung ingin memecahkan kesulitan-kesulitannya, melainkan mencari kelegaan dengan mengungkapkan dirinya dan ingin dimengerti,” begitu lanjut John Gray. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersenggolan dengan kamera mungkin masalah kecil bagi sebagian orang. Tapi, sekecil-kecilnya masalah kecil tidak bisa mengecilkan kemarahan Luna karena bersenggolan dengan kamera. Sesungguhnya, lebih karena pemegang kameranya, ya ‘wartawan’ infotainment itu tadi, masalah kecil ini menjadi besar bagi Luna. Atau, bersenggolan dengan kamera merupakan peluang bagi Luna untuk mengungkapkan kepada banyak orang, terutama ‘wartawan’ infotainment, agar mereka bisa memahami perasaannya. Twitter menjadi sarana yang memungkinkan bagi Luna agar orang yang seharusnya memahami dirinya mau mendengar kicauannya. Dan dia melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, terhadap perseteruan Luna dengan ‘wartawan’ infotainment ini, seseorang berkomentar di sebuah blog, “saya prihatin, masalah kecil kok dibesar-besarkan”. Tapi, masalah kecil tidak bisa dianggap remeh, terutama jika kita bisa mendapat banyak pelajaran dari masalah kecil itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan yang dianggap kecil ini sebenarnya dapat dirunut pada dinamika komunikasi laki-laki dan perempuan. Masalah komunikasi tentu sudah menjadi persoalan banyak orang di banyak tempat. “Kaum laki-laki masuk gua, kaum perempuan berbicara,” begitu John Gray membedakan dinamika komunikasi antara laki-laki dan perempuan. Kaum laki-laki cenderung menyelesaikan persoalan mereka sendirian, sedangkan kaum perempuan cenderung membicarakan persoalan-persoalannya kepada orang lain. Bagaimana laki-laki menyelesaikan masalahnya?  “Bila mengalami ketegangan, laki-laki akan menarik diri ke goa pikirannya dan memusatkan perhatiannya untuk memecahkan persoalan. Biasanya ia akan memilih persoalan yang paling mendesak atau yang paling sulit. Perhatiannya jadi begitu terpusat pada pemecahan masalah itu, sehingga untuk sementara ia kehilangan kesadarannya tentang hal-hal lain,” begitu kata John Gray. “Bila tidak dapat menemukan pemecahan, ia melakukan sesuatu untuk melupakan kesulitan-kesulitannya, seperti membaca surat kabar atau melakukan permainan,” lanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain, bagaimana perempuan menyelesaikan persoalannya? “Dengan membicarakan segala persoalan tanpa memusatkan perhatian pada pemecahan masalah, perempuan merasa lebih baik. Dengan menjajagi perasaan-perasaannya dalam proses ini, ia memperoleh kesadaran yang lebih besar mengenai apa yang sesungguhnya merisaukan hati, dan kemudian tiba-tiba ia tidak lagi terbebani” ungkap John Gray. “Bila perempuan sedang kewalahan, ia menemukan keringanan dengan berbicara secara mendetail mengenai segala macam kesulitannya. Lambat laun, bila merasa didengarkan, ketegangan jiwanya lenyap. Setelah berbicara mengenai  salah satu topik, ia akan berhenti sejenak, kemudian melanjutkan ke topik berikutnya,” begitu ulas John Gray.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat John Gray di atas menyiratkan bahwa perempuan lebih banyak bicara dibandingkan laki-laki. Untuk sementara kita bisa mengasumsikan bahwa perempuan lebih banyak menggunakan Facebook atau situs jejaring sosial yang lain untuk mengungkapkan berbagai persoalannya. Mungkin yang diungkapkan melalui situs jejaring sosial bisa membuat perempuan merasa ringan dalam menghadapi persoalannya. Namun, ada juga, alih-alih merasa lega atas persoalannya, orang seperti Luna dibuat kewalahan atas ucapan yang ditulisnya. Yang dilakukannya merupakan konsekuensi atas kecenderungan perempuan dalam menyelesaikan masalah: banyak-banyak membicarakan masalah itu walau tidak menyelesaikan masalah secara langsung. Yang dibutuhkan perempuan hanyalah perasaan lega ketika membicarakan masalahnya. Namun, sungguhkah perempuan lebih suka berbicara dibandingkan laki-laki?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penelitian Matthias R. Mehl bersama kolega-koleganya membuat kita untuk sementara menahan pendapat John Gray. Mehl menyimpulkan bahwa perempuan tidak lebih suka berbicara daripada laki-laki. Baik laki-laki maupun perempuan, keduanya rata-rata berbicara dalam jumlah kata yang sama setiap hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merekam kata-kata yang digunakan subjek, peneliti menggunakan suatu alat yang disebut Electronically Activated Recorder (EAR). Jika Anda ingin tahu apa saja yang dibicarakan pasangan Anda sepanjang hari selain waktu tidurnya, alat ini sangat Anda butuhkan. EAR adalah perekam suara digital yang bisa menelusuri interaksi dari suatu peristiwa ke peristiwa yang lain di dunia nyata. EAR dapat digunakan untuk melakukan penelusuran secara alami atas kata-kata yang diucapkan dan menaksir berapa banyak laki-laki dan perempuan menggunakan kata-kata setelah lewat satu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian dilakukan melalui enam kali pengambilan sampel dengan melibatkan 396 peserta yang terdiri atas 210 perempuan dan 186 laki-laki. Penelitian diadakan dari tahun 1998 sampai 2004. Lima sampel terdiri dari mahasiswa-mahasiswa di Amerika Serikat dan satu sampel terdiri dari mahasiswa-mahasiswa di Meksiko. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa perempuan berbicara rata-rata 16.215 kata dan laki-laki rata-rata berbicara dalam 15.669 kata perhari. Data yang diperoleh gagal memunculkan pengaruh perbedaan jenis kelamin dalam penggunaan kata sehari-hari. Baik laki-laki maupun perempuan, keduanya menggunakan rata-rata 16.000 kata perhari. Mehl dan kolega-koleganya menyimpulkan bahwa stereotipe yang tersebar dan terpublikasi luas bahwa perempuan lebih banyak berbicara tidak ditemukan dalam penelitian mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil penelitian Mehl dan kolega-koleganya di atas, kita harus menahan asumsi bahwa seringnya perempuan menggunakan facebook daripada laki-laki karena kesukaan perempuan dalam berbicara. Gray pun perlu mengingat ungkapannya bahwa dia telah “membuat banyak generalisasi mengenai kaum laki-laki dan perempuan”. Mungkin persoalannya bukan siapa yang paling suka berbicara, karena laki-laki dan perempuan sama-sama suka berbicara. Persoalannya mungkin bersumber dari sesuatu di luar kesukaan perempuan berbicara. Mungkin yang membuat perempuan banyak menghabiskan waktu di facebook bukan karena perempuan lebih sering menulis status, mengirim dan membalas pesan, memberi komentar pada status atau dinding teman di facebook, dan berbagai aktivitas lain sebagai cara perempuan berbicara dengan bahasa tulis. Aktivitas bersama facebook yang tidak berhubungan dengan berbicara dengan bahasa tulis diantaranya mungkin meng-upload foto dirinya di facebook. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang itulah hasil penelitian Tiffany A. Pempek dan kolega koleganya. Hasil penelitian Pempek menunjukkan bahwa  perempuan lebih banyak mem-posting foto di facebook. Perempuan juga lebih banyak mendapat tag foto dari temannya daripada laki-laki. Perempuan juga lebih banyak menghapus nama dirinya yang di-tag di suatu foto. Alasan umum mengapa perempuan menghapus namanya di suatu foto adalah karena ketidaksukaannya atas penampilan dirinya di foto tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya bukan siapa yang banyak bicara, tetapi apa yang dibincangkan oleh laki-laki dan perempuan? Laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan dalam caranya menggunakan bahasa. Dengan kata lain, ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam menentukan apa yang dianggap penting bagi mereka untuk dibincangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matthew L. Newman, pengajar di Departmen Ilmu Sosial dan Perilaku Universitas Arizona, bersama kolega-koleganya menganalisa lebih dari 14.000 arsip tertulis dari 70 penelitian terpisah. Newman dan kolega-koleganya menyimpulkan bahwa perempuan menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan proses psikologis dan sosial. Sementara, laki-laki lebih sering menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan kepemilikan suatu benda dan topik-topik yang tidak berkaitan dengan orang tertentu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penelitian Newman ini, perempuan menyumbang 8.353 arsip tertulis. Hasil analisanya terhadap arsip tertulis tersebut menunjukkan bahwa perempuan cenderung mendiskusikan seseorang dan apa yang mereka lakukan. Perempuan juga suka mengkomunikasikan proses internal mereka pada orang lain, termasuk keraguan-keraguannya. Kata-kata yang berhubungan dengan pikiran, emosi, perasaan, orang lain, penyangkalan, kata kerja sekarang dan kata kerja lampau, lebih sering digunakan oleh perempuan daripada laki-laki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang pada laki-laki, yang mengumbangkan 5.970 arsip tertulis dalam penelitian ini, bahasa lebih cenderung dipakai untuk menyebut nama-nama atas peristiwa eksternal, benda-benda, dan proses-proses. Sembari berdiskusi tentang jabatan, uang dan olah raga, laki-laki menggunakan bahasa teknis seperti angka-angka, artikel (yang dalam bahasa Inggris berarti the, a, dan an), kata depan, dan kata-kata panjang. Kata-kata yang mengandung sumpah juga banyak digunakan oleh laki-laki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki  dan perempuan tidak menunjukkan perbedaan dalam penggunaan kata-kata terkait seksualitas, kemarahan, waktu, penggunaan kata orang-pertama jamak, jumlah kata dan tanda tanya yang digunakan, dan kata-kata eksklusi yang disisipkan (seperti ‘tetapi’, ‘meskipun’ dan sebagainya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, merujuk penelitian Newman di atas, perempuan akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk membicarakan pikiran, emosi dan perasaannya sendiri, juga pikiran, emosi, dan perasaannya terhadap orang lain, untuk ditulis di status Facebooknya. Mungkin juga berkaitan dengan kejengkelannya pada seseorang, kebimbangannya dalam memutuskan sesuatu, dan tanggapannya terhadap sikap orang lain. Jadi, sikap Melati yang mengatakan bahwa, ”ke depan saya tidak mau mengomentari Facebook orang lain” mungkin membutuhkan upaya besar menolak kecenderungan untuk membincangkan pikiran, emosi, dan perasaannya sendiri dan membincangkan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan laki-laki, mereka mungkin akan menuliskan statusnya yang berhubungan dengan karya atau pekerjaan mereka, kota yang sedang dikunjungi, peristiwa terkini, barang yang ingin dimiliki atau baru saja dimiliki, pertandingan sepakbola yang baru ditonton, dan apa saja yang tidak berhubungan dengan membincangkan seseorang secara khusus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, jika Anda diminta oleh teman Anda untuk menebak jenis kelamin seorang pengguna Facebook atau Twitter yang tidak Anda kenal sebelumnya, yang menulis apapun mengenai orang lain, baik itu bernada memuji atau menghina, saya menyarankan Anda untuk menjawab bahwa pengguna situs jejaring sosial itu berjenis kelamin perempuan. Ini bukan mengenai meninggikan status jenis kelamin tertentu dan merendahkan yang lain. Ini menyangkut kemungkinan Anda menjawab dengan benar atas tebakan yang diajukan teman Anda itu. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-2225397710247434127?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/2225397710247434127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2010/10/apa-yang-dibincangkan-apa-yang-bisa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/2225397710247434127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/2225397710247434127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2010/10/apa-yang-dibincangkan-apa-yang-bisa.html' title='Apa yang Dibincangkan: Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Situs Jejaring Sosial tentang Komunikasi Laki-laki dan Perempuan'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/TKlyNyLbr5I/AAAAAAAAAHs/i85QLSjOHgU/s72-c/facebook-addict-51.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-1450347345262134696</id><published>2010-07-22T23:16:00.000-07:00</published><updated>2010-07-22T23:31:23.324-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kajian Buku'/><title type='text'>Menit untuk Anakku: Kata Pengantar Buku Pengantar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/TEk3Hhe8AmI/AAAAAAAAAG8/sqhIChc58Hs/s1600/Copy+(2)+of+fahmi.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 211px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/TEk3Hhe8AmI/AAAAAAAAAG8/sqhIChc58Hs/s320/Copy+(2)+of+fahmi.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496985422569144930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orangtua berhubungan dengan waktu yang kita lalui setiap hari. Menjadi orangtua berhubungan dengan menit-menit yang kita lalui bersama anak-anak kita. Mungkin kita melaluinya hanya beberapa menit saja setiap hari. Tapi menit-menit itu adalah menit-menit yang memungkinkan kita menjadi orangtua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang, kesibukan sehari-hari membuat kita tidak punya waktu untuk bersama anak-anak kita. Tidak jarang, tugas-tugas kita sehari-hari membuat kita, walau sementara, tercerabut dari tugas-tugas sebagai orangtua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari kerja membuat waktu, pikiran dan tenaga kita terkuras untuk urusan kerja. Pergi pagi pulang sore, bahkan sampai larut malam. Waktu sore atau malam hari bersama anak-anak kita, kalaupun ada, adalah waktu-waktu sisa. Pikiran dan tenaga yang kita curahkan untuk anak-anak kita mungkin juga sisa hari itu. Pagi hari, apalagi di kota besar, mungkin kita lebih dahulu berangkat kerja daripada anak-anak kita bangun pagi dan berangkat sekolah. Mungkin gambaran kita dalam berhubungan dengan anak-anak kita tidak seekstrem itu. Atau mungkin juga lebih ekstrem dari itu. Yang lebih penting adalah, menjadi orangtua berhubungan dengan waktu, yakni menit-menit yang kita miliki, dan kita berikan untuk anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terkandung dalam menit-menit yang kita miliki dan kita berikan pada anak-anak kita? Menit-menit itu adalah menit-menit yang kita hargai sendiri nilainya. Mungkin menit-menit itu tidak bernilai apa-apa. Mungkin menit-menit itu adalah menit-menit yang paling berharga sepanjang hidup buat kita dan anak-anak kita. Namun, sebagai sebuah pemberian yang berharga, menit-menit yang kita berikan untuk anak-anak kita adalah menit-menit yang sangat bernilai. Lantas, apa yang membuat menit-menit itu bernilai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menit-menit bersama anak-anak kita bernilai karena ada pelajaran yang kita berikan pada anak-anak kita; ada pelajaran yang kita terima dari anak-anak kita. Ada sikap-sikap kita yang membuat anak-anak kita menjadi lebih dewasa; ada sikap-sikap anak-anak kita yang membuat kita lebih matang sebagai orangtua. Ada kebajikan-kebajikan yang kita munculkan pada anak-anak kita; ada kebajikan-kebajikan yang anak-anak kita munculkan kepada kita. Kita makin memahami esensi menjadi orangtua; anak-anak kita memahami esensi menjadi seorang anak. Kita makin menghargai keberadaan anak-anak kita; mereka makin menghargai keberadaan kita. Menit-menit dimana kita dan anak-anak kita saling diliputi cinta dan kebahagiaan. Menit-menit dimana kita dan anak-anak kita saling belajar tentang kehidupan. Dan sebagainya dan sebagainya. Pada akhirnya, kita memandang menit-menit yang kita lalui bersama anak-anak kita sebagai menit-menit yang bernilai karena memang kita memandangnya bernilai. Ya, menit-menit itu adalah warisan kita yang paling berharga buat anak-anak kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini mengajak kita menggunakan waktu yang kita miliki, ya, menit-menit yang kita lalui setiap hari, untuk kita lewatkan bersama anak-anak kita. Mungkin hanya beberapa menit saja dari waktu yang kita miliki setiap hari, namun menit-menit itu sangat bernilai bagi kita, juga bagi anak-anak kita. Pada akhirnya, menit-menit yang kita miliki dan kita berikan untuk anak-anak kita pada dasarnya bukan menit-menit milik kita, tetapi menit-menit milik anak-anak kita. Buku ini mengajak kita memberikan menit-menit yang kita miliki setiap hari untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian-bagian dalam buku ini ditulis secara singkat. Setiap bagian selesai dibaca dalam satu sampai dua menit. Anda bisa mulai membacanya dari bagian manapun yang disukai. Dengan tidak menguras waktu membaca, menit-menit yang Anda lalui setelah membaca buku ini sebaiknya digunakan bersama anak-anak Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap judul dalam buku ini diawali dengan kutipan para tokoh. Beberapa saya kenal, beberapa lagi tidak saya kenal dan beberapa yang lain memang tidak dikenal siapa pengarangnya. Ungkapan para tokoh itu menggerakkan saya untuk menulis judul demi judul dalam buku ini. Sesungguhnya, ide penulisan tiap-tiap judul bukan dari saya, tetapi dari para tokoh itu. Mungkin lebih tepat kalau saya hanya sebagai perantara yang menghubungkan gagasan para tokoh itu dengan Anda. Bacalah buku ini seolah-olah para tokoh itu sedang membisikkan kalimat yang sangat bermakna kepada Anda. Semoga apa yang mereka bisikkan khusus untuk Anda akan Anda teruskan dan mewujud dalam tindakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini dimaksudkan sebagai teman Anda dalam mengarungi peran sebagai orangtua. Buku ini diharapkan dapat menjadi kawan akrab bagi Anda dalam berhubungan dengan anak-anak Anda setiap hari. Layaknya kawan akrab, buku ini dibutuhkan manakala Anda dalam keadaan senang maupun saat menghadapi kesulitan dalam berhubungan dengan anak-anak Anda. Harapannya, buku ini akan selalu dibutuhkan selama Anda menjalani peran sebagai orangtua. Singkatnya, buku ini semacam buku harian untuk orangtua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir namun bukan terakhir, buku ini mungkin buku sederhana, tetapi semoga tidak membuat kita menyederhanakan peran kita sebagai orangtua. Mari kita berikan menit-menit yang kita miliki untuk anak-anak kita dengan cara menjadi orangtua hari ini juga.[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-1450347345262134696?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/1450347345262134696/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2010/07/menit-untuk-anakku-kata-pengantar-buku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/1450347345262134696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/1450347345262134696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2010/07/menit-untuk-anakku-kata-pengantar-buku.html' title='Menit untuk Anakku: Kata Pengantar Buku Pengantar'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/TEk3Hhe8AmI/AAAAAAAAAG8/sqhIChc58Hs/s72-c/Copy+(2)+of+fahmi.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-1535870063320295250</id><published>2010-05-03T01:17:00.000-07:00</published><updated>2010-05-03T01:18:51.787-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Facebook Pitfalls:  Menjadi Pemimpin Jempolan atau Tak Mampu Mengendalikan Jempol?</title><content type='html'>Facebook telah menarik perhatian banyak orang di dunia. Terhitung pada Januari 2010, facebook menjadi situs jejaring sosial tersibuk dengan pengguna sebanyak 350 juta orang—benar nggak sih? Saya dan Anda termasuk beberapa orang di antara mereka yang memiliki akun facebook dan aktif menggunakannya. Kesempatan saya menulis artikel ini dan kesediaan Anda membacanya mungkin salah satu wujud ikutan ketertarikan kita pada facebook: tidak hanya menggunakannya, tetapi membahas hal ikhwal yang berkaitan dengan facebook. Karena, sebagai pengguna facebook, membahas tentang hal ikhwal facebook sebenarnya juga membicarakan tentang diri kita sendiri. Salah satunya adalah ini: apakah facebook punya perangkap (pitfall) yang, namanya juga perangkap, kita tidak tahu berada di mana perangkap itu?&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kata ‘perangkap’, ingatan saya terbawa pada segala cerita tentang pencarian harta karun. Setelah mengetahui tempat dimana harta karun itu berada, sang pencari harta karun akan mencapainya. Dan, suatu kelimpahan, kemewahan, juga keberuntungan memiliki harta karun tidak diberikan cuma-cuma. Seseorang membutuhkan pengorbanan yang cukup untuk memilikinya. Saat sang pencari harta karun itu melewati sepanjang jalan di mana harta karun berada, kemudian mendekatinya, akan ada banyak perangkap di sana sini. Sang pencari harta karun yang tak lolos dari perangkap mungkin akan pulang dengan nama—dan makin mendorong orang banyak untuk terus mencari harta karun itu. Dan, orang yang mengetahui tentang seluk beluk perangkap itulah biasanya yang akan mendapatkan harta karun itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam facebook ada harta karun sekaligus perangkap. Inilah sarana komunikasi yang bisa dinikmati dan dirayakan oleh banyak orang di dunia. Facebook seperti kelimpahan, kemewahan dan keberuntungan manusia abad ke-21 yang diberikan cuma-cuma. Betapa tidak, melalui facebook kita bisa melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan orang di generasi sebelumnya, misalnya, mencolek kawan SD kita dahulu, yang sedang berada di ujung benua yang lain. Namun, facebook sebenarnya hadir di hadapan kita tidak dengan cuma-cuma. Facebook akan menarik ongkos dari kita, misalnya waktu yang kita habiskan untuk menulis status di akun facebook kita, atau pulsa yang kita sisihkan untuk bisa mengaksesnya. Sebagaimana harta karun, facebook juga punya perangkapnya sendiri. Colekan kita di akun facebook orang lain juga punya perangkap: siapa yang kita colek itu dan dengan maksud apa kita mencolek? Mungkin kita tidak tahu akibatnya sampai pacar atau istri atau suami kita cemburu atas colekan yang kita perbuat—dan ternyata itu baru awal dari malapetaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Facebook pitfalls, moga-moga ini nama yang tepat—saya mencuri frase ini dari artikel orang. Sebutan ini untuk menggambarkan tentang adanya berbagai perangkap dalam facebook. Beberapa kasus penculikan, pemerkosaan, dan berbagai bentuk kejahatan yang dimulai dari penggunaan facebook di antara korban dan pelaku –yang kerap diberitakan di media massa—adalah gambaran gamblang dari facebook pitfalls ini. Namun, kali ini saya tidak hendak membicarakan tentang perangkap yang gamblang ini, mungkin lain waktu. Saat ini, saya ingin mengajak Anda membahas tentang kemungkinan perangkap yang agak halus. Saya ajak Anda membahas tentang penggunan facebook yang membuat siapa saja yang memiliki akun facebook bisa memilih: menjadi pemimpin jempolan atau jadi seorang yang tak mampu mengendalikan ujung jempolnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ψ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering melongok jumlah teman yang dimiliki teman saya di akunnya. Setidaknya ini bisa menjadi gambaran saya untuk mengetahui seberapa lama atau seberapa aktif teman saya itu menggunakan facebook. Biasanya saya akan terus melakukannya, melongok jumlah teman pada akun facebook teman-teman saya yang lain. Mungkin gambaran yang saya peroleh tidak terlalu pas, bahwa dengan mengetahui jumlah teman yang dimiliki saya bisa mengetahui seberapa lama dan seberapa aktif dia menggunakan facebook. Yang saya tahu—sebenarnya ini baru saya ketahui—jumlah teman yang dimiliki seseorang, dan juga banyaknya group yang diikuti, menentukan seberapa besar modal sosial (social capital) yang dimilikinya. Ini lebih menarik dikaji daripada sekedar mengetahui sudah berapa lama dan seberapa aktif teman saya di facebook. Kalau toh benar itu menarik, saya kira hanya karena lama dan aktifnya seorang kawan saya di facebook mungkin berpengaruh terhadap akumulasi modal sosial yang dimilikinya. Apa itu modal sosial? dan mengapa memiliki kawan dan group di facebook berhubungan dengan modal sosial yang dimilikinya? Saya kira, penjelasannya nanti akan berhubungan dengan keadaan bahwa menjadi pemimpin berkaitan dengan seberapa besar modal sosial yang dimiliki dan, penjelasan selanjutnya, seberapa besar facebook membuat keadaan itu menjadi niscaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu modal sosial? Beberapa orang mengartikan modal sosial sebagai, “sejumlah sumber, baik nyata atau maya, yang ada pada individu atau kelompok berdasarkan kepemilikan jaringan atas lebih banyak atau lebih sedikitnya hubungan saling kenal”. Dengan kata lain, modal sosial adalah sejumlah sumber yang dapat digunakan oleh seseorang sebagai hasil dari hubungan sosial dengan orang lain. Apa sumber sumber itu? Banyak macamnya, bisa berupa sesuatu yang nyata atau tidak nyata. Bisa berupa bantuan dana untuk usaha kecil dari teman lama; informasi lowongan kerja dari teman kuliah; keterlibatan dalam aktivitas sosial tertentu; sampai dukungan dari teman-teman Anda yang mengkampanyekan Anda menjadi calon pemimpin di tempat kelahiran Anda. Karena inilah, sebagai pengguna facebook, Anda seperti pencari harta karun. Anda dapat memperoleh harta karun yang berharga sebagai hasil interaksi Anda dengan orang lain. Namun, sekali lagi, harta karun yang disediakan facebook sama banyak dengan perangkap yang ada di sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ψ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh terbaik tentang bagaimana pengguna facebook dapat memperoleh harta karun yang berharga sebagai buah modal sosial yang dimilikinya adalah Barack Obama. Ia mendapat untung dari pertemanan yang dilakukan di facebook saat dirinya berkampanye sebagai calon Presiden Amerika Serikat tahun 2008. Saat ini, Obama mungkin belum bisa disebut pemimpin jempolan, setidaknya karena ia belum merampungkan satu periode penuh kepemimpinannya. Namun, kiprahnya yang belum seberapa itu mampu mengusik para petinggi Komite Nobel untuk sesegera mungkin mengacungkan jempol padanya. Pada 10 Desember 2009, mata dunia tertuju padanya, dan dengan tekun mendengarkan, saat ia berpidato di Oslo, Norwegia, sebagai salah seorang pemenang hadiah Nobel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Obama saat itu dengan facebook? Mungkin lebih tepatnya, apa yang dilakukan pendukung Obama di facebook? Partai Demokrat yang mengusungnya membangun basis data melalui internet—artinya tidak hanya melalui facebook saja. Group di facebook dibuat untuk mendukung pencalonannya sebagai presiden AS—jauh-jauh hari sebelum deklarasi pencalonan. Pada awal 2007 saja, ada group Obama berjumlah 500 macam. Seorang mahasiswa universitas Misouri membuat grup pertama kali dengan judul “Sejuta Kekuatan untuk Barack”. Selanjutnya, ia mendapat banyak sumber sebagai hasil pertemanannya: para voluntir dan dana kampanye—modal yang sangat berharga bagi seorang calon presiden. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Obama dengan facebooknya persis seperti penggambaran Mike Westler tentang facebook: situs jejaring populer yang “cocok untuk sebuah komunikasi yang dimaksudkan untuk mengorganisir dan mengumpulkan sejumlah anggota agar bertindak sesuai tujuan bersama.” Katanya pula, facebook itu “berpotensi memperluas konsep Jurgan Habermas tentang ruang publik yang mengijinkan publik terlibat dalam tindakan politik baik saat kampanye maupun di luar kampanye.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, ketertarikan pada jejaring sosial ini menggoda seorang Hugo Chavez. Menjadi pemimpin jempolan, setidaknya dimata warga dan pengagumnya, mendorong Hugo Chavez membuka akun di twitter. Sebagai orang yang sudah banyak penggemar di dunia, wajar saja jika dalam satu jam pertama sejak ia membuka akunnya, ribuan orang berbondong-bondung menjadi penggemarnya. Dengan kata lain, ia telah memiliki modal sosial yang besar dan fungsi jejaring sosial, dalam hal ini twitter, lebih sebagai upaya untuk menjaga modal sosial yang sudah ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ψ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini kita akan membahas tentang perangkap itu. Alih-alih menjadi pemimpin jempolan semacam Obama, seseorang bisa berada dalam perangkap facebook yang parah: ia tidak bisa mengendalikan ujung jempolnya. Saat berbagai jenis handphone—ini pengaburan atas kelemahan saya yang tidak mengetahui jenis-jenis handphone dan berbagai gadget yang ada saat ini—memungkinkan seseorang mengakses facebook, pengguna facebook seperti majikan yang tak mau membiarkan anak buahnya menganggur: di segala tempat, dalam waktu kapanpun, ia akan terus menggunakan ujung jempolnya untuk mengetikkan status atau melakukan aktivitas lain di akun facebooknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda tergolong sebagai pengguna facebook semacam ini, yang tidak membiarkan ujung jempol Anda menganggur? Kalau ya, Anda perlu hati-hati. Alih-alih Anda menggali lubang untuk mencari harta karun yang terpendam dalam, Anda secara tidak sadar sedang menimbun dalam-dalam tubuh Anda sendiri bahkan sebelum Anda menemukan harta karun yang Anda cari itu. Artinya, alih-alih Anda sedang membangun dan menjaga modal sosial melalui pertemanan yang Anda lakukan di facebook, Anda secara tidak sengaja terperosok pada perangkap facebook. Ya, saat Anda sering menggunakan jari-jari Anda, termasuk jari jempol Anda, saat menggunakan facebook, mungkin Anda sedang diseret-seret untuk masuk pada suatu jerat bernama facebook pitfalls.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa bisa demikian? Mengapa kita tidak bisa mengendalikan diri kita sendiri, termasuk mengendalikan salah satu jempol kita, saat menggunakan facebook? Salah satu alasan yang mungkin adalah karena facebook itu sendiri semacam seni. “Facebook itu seperti benda estetis”, begitu kata Gaurav Anand. Menggunakan facebook tak ubahnya seperti sedang membuat lukisan abstrak! Karena kita tidak bisa dengan pasti melakukan apa yang kita rencanakan saat kita mulai log in di akun facebook kita. Atau, kita bahkan tidak punya rencana apapun saat kita mulai log in. kita membiarkan interaksi kita dengan facebook mengalir apa adanya. Saat kita mulai log in, kita mungkin akan dikejutkan oleh permintaan pertemanan kawan lama; pesan seorang teman yang ditulis di wall atau inbox; ajakan seorang kawan untuk bergabung di group tertentu; atau ajakan seorang kawan untuk mengisi kuis yang menurut kita menarik. Dan, sebagaimana seniman yang larut dalam pekerjaan seninya, kita pun larut saat menggunakan facebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lain mungkin ini, sebagaimana dikutip dari sebuah artikel: “facebook itu suatu permainan: tujuannya adalah memperoleh banyak teman dan mempengaruhi orang lain.” Kalau ajaran Dale Carnegie di awal abad ke-20 untuk mendapatkan banyak teman dan mempengaruhi orang lain diterima sebagai keajaiban dan kita dengan khusyuk mengikuti sebagaimana tertuang dalam petunjuk-petunjuknya, pada abad sekarang ini, mendapatkan banyak teman dan mempengaruhi orang lain bahkan bisa dilakukan sambil bermain-main. Ya, berteman sambil bermain atau bermain sambil berteman—mengingatkan kita saat kecil dahulu, sungguh aktivitas yang menyenangkan! Selain itu, tentu saja, karena dalam facebook sendiri terdapat aplikasi yang menyediakan banyak permainan yang bisa kita pilih dan nikmati sesuai selera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, sebagaimana terdapat dalam jenis permainan apapun, di dalam facebook terdapat kesenangan. Menggunakan facebook seperti cara kita mengingatkan sifat dasar kita sendiri sebagai manusia: manusia pada dasarnya bertindak demi memenuhi kesenangannya sendiri (pleasure principle). Untuk urusaan kesenangan, tidak jarang kita kehilangan kendali atas diri kita, termasuk tidak bisa mengendalikan salah satu alat tubuh paling vital dalam hidup kita saat ini: jempol!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berharap dimudahkan jalan untuk menjadi pemimpin macam Obama? Mungkin facebook terlalu berat untuk membesarkan nama kita. Atau nama kita terlalu ringan sehingga tidak memungkinkan bagi facebook untuk mengangkat nama kita. Namun alasan yang lebih tepat mungkin ini: kita tidak benar-benar menggunakan facebook untuk menjembatani, mengikat dan menjaga modal sosial yang kita miliki. Ada tujuan-tujuan lain yang lebih bersifat pemenuhan atas kebutuhan kesenangan kita sampai-sampai kita tidak bisa mengendalikan jempol kita. Jika mengendalikan seujung jempol kita sendiri saja tidak bisa, kita tidak akan bisa menggunakan jari telunjuk untuk memerintah orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ψ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada pertanyaan di atas, mana yang kita pilih: menjadi pemimpin jempolan atau jadi seorang yang tak mampu mengendalikan ujung jempolnya? Tentu jawabannya kembali pada diri kita, mau mendapatkan harta karun atau masuk ke dalam perangkap di sekitarnya. Mustahil mendapatkan harta karun tanpa melewati jalan yang penuh perangkap, sebagaimana mustahil mendapatkan sumber-sumber kekayaan (apapun) dari jejaring yang kita miliki tanpa mau mengajak atau menerima ajakan seseorang untuk berteman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di abad ke-21 ini, mengunakan facebook seperti perburuan mendapatkan harta karun. Segala kisah perburuan harta karun mengajarkan kita bahwa orang yang mampu mendapatkan harta karun adalah mereka yang mampu membaca peta, mau melangkah dan mawas diri dalam mengadapi segala perangkap yang mungkin menghampiri. selamat berburu![]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-1535870063320295250?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/1535870063320295250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2010/05/facebook-telah-menarik-perhatian-banyak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/1535870063320295250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/1535870063320295250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2010/05/facebook-telah-menarik-perhatian-banyak.html' title='Facebook Pitfalls:  Menjadi Pemimpin Jempolan atau Tak Mampu Mengendalikan Jempol?'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-3818008730855295704</id><published>2010-03-25T23:49:00.000-07:00</published><updated>2010-03-26T00:05:30.320-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Yang Saya Yakini tentang Kaidah 10.000 Jam</title><content type='html'>Siapa pun Anda, apa pun latar belakang Anda, untuk mencapai keahlian dalam bidang apa pun yang sedang Anda geluti, Anda lebih baik mengetahui tentang cara untuk menjadi ahli. Cara itu bernama kaidah 10.000 jam. Apa itu kaidah 10.000 jam? Kaidah 10.000 jam adalah ini: untuk menjadi ahli dalam bidang apa pun seseorang harus melewati latihan yang dibutuhkan untuk menjadi ahli, yakni minimal 10.000 jam. Saya baru mengetahui bahwa telah banyak penelitian psikologi yang membuktikan kebenarannya setelah saya membaca salah satu bab dalam buku karangan Malcolm Gladwell, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Outliers.&lt;/span&gt; Dalam bab itu Gladwell mengisahkan perjalanan para genius mayor yakni Mozart, group musik The Beattles, dan Bill Gates. Para genius mayor itu telah melewati latihan selama 10.000 jam sebelum akhirnya mereka menjadi ahli di bidangnya. Penasaran dengan kaidah 10.000 jam, saya browsing di internet dan baru mengetahui bahwa kaidah 10.000 jam telah diyakini kebenarannya oleh para peneliti psikologi setidaknya sejak tahun 1983. Sayangnya, kaidah itu luput dari perhatian saya dan mungkin juga perhatian para dosen saya sehingga selama 5,5 tahun saya kuliah di psikologi saya tidak pernah tahu adanya kaidah 10.000 jam itu—kalau pun dosen saya mengajarkannya pada suatu sesi kuliah mungkin saat itu saya tidak masuk atau kalau pun masuk mungkin saya waktu itu lagi mengantuk. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana hitungan 10.000 jam itu? Ini artinya jika kita menjalani bidang yang kita geluti—apa pun bidang yang kita geluti itu—setidaknya 3 jam dalam sehari, maka kita akan benar-benar bisa menjadi profesional setelah melewati jangka 10 tahun dari pertama kali kita menjalani latihan di bidang itu. Terlalu lama? Mungkin tidak. Seorang ahli saraf berkata bahwa memang demikianlah otak kita bekerja: otak kita membutuhkan waktu beberapa lama untuk bisa berkembang optimal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saya belum semahir Gladwell dalam menuliskan perjalanan orang lain menuju profesional yang konsisten dengan kaidah 10.000 jam, biarlah saya menceritakan perjalanan saya sendiri sejauh mana kaidah 10.000 jam ini berlaku pada saya. Perjalanan ini berkisar tentang pengalaman menulis—kegiatan yang menjadi kegemaran saya selama ini. Karena alasan-alasan tertentu saya tidak bisa melewatkan setiap hari selama 3 jam untuk menulis dan biarlah Anda menilai apakah kaidah 10.000 jam itu berlaku efektif pula pada saya. Saya menuliskan pengalaman ini tidak untuk gagah-gagahan. Ini cara saya berbagi pengalaman dengan Anda dan saya berharap Anda saat ini juga sedang melewati jalan menuju profesional sesuai kaidah 10.000 jam itu—dan nanti, jika ada kesempatan, Anda ceritakan pula perjalanan Anda itu pada saya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya mulai ‘dipaksa’ menulis pada tahun 2000, yakni ketika saya, untuk pertama kali, diminta menuliskan naskah untuk buletin bulanan yang diterbitkan kawan-kawan Pelajar Islam Indonesia (PII). Kesepakatan di sidang redaksi, kami akan menulis bergiliran. Hanya saya diminta menulis lebih dahulu untuk edisi perdana. Saya pun menyanggupinya. Buletin pun terbit untuk pertama kali. Namanya buletin Cahaya Pelajar. Saya pun diam-diam bangga karena tulisan saya tersiar ke sekolah-sekolah di Kota Tegal, dibaca oleh para pelajar dan mungkin beberapa orang guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dinyana, saat bulan kedua mulai menjelang, yang berarti perlu segera menyiapkan naskah buletin untuk edisi berikutnya, kawan-kawan tidak ada yang menyanggupi untuk menulis. Sidang redaksi pun kembali menunjuk saya untuk menulis naskah buletin edisi kedua. Lagi-lagi, saya pun menyanggupinya. Buletin pun terbit kedua kalinya. Begitulah sidang redaksi menjalankan fungsinya: menunjuk saya untuk menulis naskah buletin kembali untuk edisi berikutnya. Sampai edisi keempat, edisi terakhir buletin Cahaya Pelajar, sayalah yang menuliskan naskah buletin itu. Tidak beberapa lama dari penulisan edisi terakhir itu, saya meninggalkan kota kelahiran menuju Yogyakarta untuk menuntut ilmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berkisah lebih jauh tentang bagaimana saya menjalani pengalaman menulis di kota pelajar itu, saya ungkapkan bahwa dalam psikologi, peran menonjol yang mempengaruhi keterampilan seseorang terus berseteru: bakat vs lingkungan. Ada yang berpendapat kalau bakat berperan dominan menentukan kecakapan seseorang. Pendapat lain mengatakan kalau lingkungan lebih dominan. Saya lebih memilih pendapat yang kedua. Bakat hanya sebagian kecil saja. Lingkunganlah yang mendukung kecakapan kita. Lingkungan juga terkait dengan seberapa banyak waktu yang kita sisihkan untuk mengasah kecakapan kita. Ini adalah soal bagaimana kesempatan dan lingkungan bekerja membentuk keterampilan. Ini adalah soal bagaimana kita meluangkan kesempatan untuk berlatih dan berada dalam lingkungan yang mendukung kita memperoleh kesempatan berlatih terus menerus.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Yogyakarta, saya bertemu dalam lingkungan yang menguntungkan. Setidaknya ada dua lingkungan yang mendukung, yakni kota Yogyakarta itu sendiri dan lingkungan tempat saya aktif berorganisasi saat itu, yakni PII. Dalam dua lingkungan itulah saya bisa memiliki banyak kesempatan untuk terus menulis. Bagaimana tidak, Yogyakarta adalah ‘gudang’nya tiga interaksi: buku, penulis dan penerbit. Di kota inilah siapa saja bisa menulis buku dan memungkinkan buku itu diterbitkan. Namun, tingkat kematangan saya dalam menulis belum mengantar saya untuk menulis dan menerbitkan buku. Walau demikian, interaksi saya dengan buku, penulis dan penerbit di kota ini memberikan atmosfer yang mendukung saya untuk terus menulis. Saat itu, dengan dukungan sumber-sumber ide yang berlimpah, saya sedikit banyak menulis artikel untuk media cetak. Namun saya mencatat hanya sekali saja tulisan saya dimuat di salah satu koran lokal, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bernas&lt;/span&gt;.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di PII, saya memperoleh lingkungan yang menghargai karya tulis. Setidaknya, kawan-kawan PII bersedia membaca hasil tulisan siapa pun—siapa yang tidak senang kalau hasil tulisannya dibaca oleh seseorang apalagi banyak orang? Setelah membaca tulisan saya, kawan-kawan pun memberi komentar, masukan dan beberapa diantaranya pujian—siapa yang hatinya tidak melambung saat hasil karyanya dipuji? Di tempat inilah saya memiliki lebih banyak waktu untuk menulis karena saya bisa menggunakan komputer di sekretariat untuk mengolah tulisan-tulisan saya kapan pun saya mau. Biasanya saya menempelkan beberapa lembar tulisan saya pada mading di ruang depan sekretariat. Tulisan itu ditempel begitu saja dengan sebuah push pin. Biasanya kawan-kawan melepas push pin dan membaca tulisan saya lalu menempelkan kembali di mading itu. Sekali-kali saya memeriksa berapa lubang pada lembar tulisan yang ditembus oleh push pin yang berarti minimal sejumlah itulah tulisan saya dibaca oleh kawan-kawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai kuliah, saya mendapat kesempatan untuk beranjak menuju Jakarta. Di kota ini, setidaknya saya telah memiliki kemampuan yang cukup dalam menulis—dan tulisan saya bisa dihargai. Sehingga, saat ada seorang kawan yang menawarkan saya untuk menjadi kontributor tulisan tentang pendidikan untuk sebuah majalah di sebuah direktorat pada sebuah departemen, saya tidak menyia-nyiakannya. Di kota ini pula, saya berkesempatan menjadi peneliti di sebuah lembaga penelitian yang memungkinkan saya terus menulis—setidaknya karena saya harus membuat beberapa lembar laporan hasil penelitian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah sekilas saya tentang pengalaman menulis di atas mungkin tidak terlalu lengkap dan detail—suatu saat nanti saya akan ceritakan lebih banyak pada Anda. Kisah saya di atas juga tidak terlalu wah. Banyak penulis-penulis lain yang lebih berdedikasi dalam menulis dan memperoleh pencapaian-pencapaian yang lebih berarti—dan membuat kita berdecak kagum. Namun, bagi saya, pengalaman menulis saya di atas sunguh-sungguh berarti—setidaknya saya makin menyadari bahwa saya sedang melewati masa latihan sekaligus sedang menguji pada diri sendiri bahwa untuk mencapai keahlian dalam menulis seseorang membutuhkan waktu setidaknya 10.000 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, 2010, artinya selang 10 tahun dari pertama kali saya menjalani latihan menulis, saya belum menerbitkan buku apa pun. Kalau saya berasumsi bahwa menerbitkan buku merupakan bentuk pengakuan atas kecakapan saya dalam menulis, ini berarti saya belum benar-benar cakap dalam menulis. Sampai saat ini, artikel-artikel saya belum pernah dipublikasikan di media cetak nasional. Kalau saya berasumsi bahwa dimuatnya artikel di media cetak nasional merupakan bentuk pengakuan atas kecakapan saya dalam menulis, ini berarti saya belum benar-benar cakap dalam menulis. kesimpulannya, saya sudah melewati masa 10 tahun namun saya merasa belum menjadi seorang yang ahli dalam menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada kaidah 10.000 jam, saya perlu mengevaluasi bahwa mungkin saya belum benar-benar berlatih menulis sampai 10.000 jam. Saya tidak benar-benar menulis setiap hari, apalagi selama 3 jam sehari. Namun, dengan tetap meyakini kaidah 10.000 jam itu, saya akan tetap terus menulis. Saya merasa terus ada perkembangan dalam kualitas tulisan saya—setidaknya, secara subjektif, menurut saya sendiri. Walau sebenarnya, secara objektif, baik atau tidak baik kualitas tulisan saya, saya tidak terlalu menghiraukannya—saya akan terus menulis. Yang lebih saya hiraukan adalah bahwa kaidah 10.000 jam, yang telah berulang-ulang dibuktikan dalam penelitian psikologi, telah begitu meyakinkan berulang-ulang terbukti dalam kenyataan—pada siapa pun. Saya dan Anda pun bisa membuktikan kaidah itu pada diri kita sendiri, pada kecakapan apa pun yang ingin kita miliki. Sebagaimana kaidah 10.000 jam telah terbukti berlaku pada para genius mayor seperti Mozart, The Beattles, dan Bill Gates dalam bidang mereka masing-masing, kaidah itu juga bisa berlaku pada saya dan juga pada Anda—pada bidang Anda masing-masing. Yang dibutuhkan mungkin ini: kita perlu konsisten dalam berlatih dan terus-menerus terlibat dalam bidang yang sedang kita geluti, sampai kita benar-benar yakin bahwa kita telah melewati latihan setidaknya 10.000 jam. Sebagaimana saya sebut di atas, otak membutuhkan waktu beberapa lama sampai menunjukkan perkembangan optimal. Pada saatnya nanti kita bisa benar-benar meyakini bahwa kaidah 10.000 jam itu sungguh benar adanya—setelah kita menguji kaidah itu pada pada diri kita sendiri dan ternyata terbukti. Semoga.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 26 Maret 2010.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-3818008730855295704?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/3818008730855295704/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2010/03/yang-saya-yakini-tentang-kaidah-10000.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/3818008730855295704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/3818008730855295704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2010/03/yang-saya-yakini-tentang-kaidah-10000.html' title='Yang Saya Yakini tentang Kaidah 10.000 Jam'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-4616238886102852890</id><published>2010-03-11T00:11:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T00:24:21.923-08:00</updated><title type='text'>Bekal Karakter</title><content type='html'>Seorang kawan yang maha baik mengizinkan tulisannya saya muat di blog saya. Tulisannya terinspirasi dari kutipan-penuh-makna tentang keluarga dari para tokoh. sebagian saya mengenal tokoh itu sebagian yang lain saya tidak kenal. Lebih penting dari mengenal atau tidak mengenal tokoh itu, kita bisa mereguk manfaat dari kutipan para tokoh itu. Di antara Anda mungkin telah membina keluarga, baik sebagai suami atau istri, baik sebagai ayah atau ibu. Lebih dari itu semua, bahwa semua orang adalah anak dari orangtuanya, kita semua memiliki keluarga. Selamat membaca. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Saya punya mimpi bahwa suatu saat empat anak kecil saya akan hidup di suatu negara dimana mereka tidak akan dinilai berdasarkan warna kulit mereka, tatapi berdasarkan karakter mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Martin Luther King, Jr. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara tempat King memperjuangkan keadilan, paling tidak sampai tahun 1963, sekolah-sekolah dipisah antara orang kulit putih dan orang kulit hitam. Restoran menolak orang kulit hitam. Kran air minum dan kamar mandi hanya untuk orang kulit putih. Pekerjaan di pabrik baja hanya untuk orang kulit putih. Semua kenaikan jabatan hanya diberikan pada orang kulit putih. Sampai akhirnya datang seruan tentang kedilan dari balik sel penjara Birmingham, dari pena dan hati seorang kulit hitam, Martin Luther King, Jr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat King memperjuangkan keadilan, ia sedang menyuarakan bahwa penilaian seseorang berdasarkan karakter lebih adil secara kemanusiaan daripada dasar penilaian yang lain. Ia meyakini bahwa karakter itu menentukan nasib seseorang di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, di negara tempat King memperjuangkan keadilan, terpilih presiden seorang kulit hitam keturunan Afrika, Barack Obama. Tentang pengaruh orangtuanya, Obama mengatakan, “Orangtua saya memberi andil  tidak hanya sebuah cinta yang mustahil, mereka memberi andil sebuah keyakinan yang abadi tentang kemungkinan-kemungkinan atas bangsa ini. Orangtua saya memberi saya nama Afrika, Barack, atau yang dianugerahi, yang meyakini bahwa di negara Amerika yang toleran, nama Anda bukan hambatan bagi Anda untuk meraih sukses.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter apa yang sudah dan sedang Anda tanamkan pada anak-anak Anda? Karakter apa yang sudah dan sedang Anda tanamkan pada anak-anak Anda yang memungkinkan mereka mengatasi hambatan yang menghadang mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, saya akan menanamkan karakter yang kuat pada anak-anak saya. Saya meyakini bahwa inilah bekal yang terbaik bagi anak-anak saya dan ini pulalah andil yang bisa saya berikan pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-4616238886102852890?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/4616238886102852890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2010/03/bekal-karakter.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/4616238886102852890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/4616238886102852890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2010/03/bekal-karakter.html' title='Bekal Karakter'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-1337784284398660093</id><published>2010-02-22T03:54:00.000-08:00</published><updated>2010-02-22T04:06:09.097-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Malcolm Gladwell sebagai Model : Berbagi Pengalaman Menulis</title><content type='html'>Dari beberapa wawancara, Malcolm Gladwell, penulis buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;What The Dog Saw&lt;/span&gt; dan tiga buku lainnya (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Tipping Point, Blink&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Outliers&lt;/span&gt;—ketiga-tiganya best-seller internasional yang mengantarnya sebagai penulis non-fiksi kenamaan), bercerita tentang pengalamannya sebagai penulis. Agar kisah menulisnya mudah diteladani, saya merinci hasil wawancara tersebut (tentu yang mewawancarai orang lain, bukan saya) dalam beberapa kiat. Moga-moga kiat yang saya rinci ini tidak melenceng dari yang sebenarnya ingin disampaikan Gladwell. Saya mencoba memahami bagaimana Gladwell bercerita tentang dirinya, sebagaimana Gladwell membiarkan narasumbernya bercerita padanya. Berikut ini Gladwell berbagi pengalaman tentang menulis. Selamat membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Biarkan orang lain bercerita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Satu hal yang telah saya pelajari dari sepanjang tahun saya di The Washington Post adalah bagaimanakah reportase sosial itu. Reportase sosial benar-benar berbicara kepada orang, mendapati orang-orang bercerita kepada Anda tentang sesuatu. Hal itu akan menjadi cara paling efisien dan berguna untuk menemukan sesuatu yang baru dan menarik. Anda harus menyingkap diri Anda sendiri sebisa Anda seperti beberapa orang yang menarik. Tidak ada jalan pintas untuk jenis proses tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Menulislah dengan jelas, jernih dan elegan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Jika seseorang tidak memahami apa yang Anda tulis, segala yang Anda lakukan itu tidak berguna. Tidak relevan. Jika pembaca yang berpikir dalam dan penuh keingintahuan menemukan bahwa yang saya tulis tidak dapat dicerna mereka, saya telah gagal. Pujian terbesar saya adalah ketika seseorang menemui saya untuk berkata, “putri saya yang berumur 14 tahun atau putra saya yang berumur 12 tahun membaca buku Anda dan mereka menyukainya”. Saya tidak dapat merasakan pujian yang lebih besar dari itu—untuk menulis sesuatu yang orang dewasa merasa puas, tetapi juga yang menjangkau anak usia 13 atau 14 tahun. Itu model saya, dan jika itu model Anda, Anda harus menulis dengan cara yang dapat diterima. Menulis dengan jelas itu universal. Orang berbicara tentang menulis kepada para hadirin, saya kira itu nonsense. Jika Anda menulis dengan suatu cara yang membuat tulisan itu jelas, jernih, dan elegan, tulisan itu akan menjangkau siapapun. Tidak ada ide yang tidak dapat dijelaskan kepada anak usia 14 tahun. Jika anak usia 14 tahun tidak bisa menerimanya, itu kesalahan Anda, bukan kesalahan anak itu. Saya kira itu fakta yang sangat penting.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Keingintahuan yang tinggi: membuat ruwet lalu menyederhanakan kembali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Saya seorang yang ingin tahu. Saya diseret pada ide yang penjelasannya banyak yang lebih menarik dan kompleks daripada yang saya kira. Gagasan tersebut mengalir melalui banyak tulisan saya, dan saya selalu tertarik dalam semacam keadaan yang meruwetkan sebelum saya menyederhanakannya lagi. Saya ingin agak membuat hal itu sedikit lebih kompleks hanya karena hal itu menarik dan menyenangkan, dan saya selalu berpikir, kita secara prematur menyederhanakan banyak fenomena yang berbeda. Semacam latihan yang sangat menyenangkan, karena kemudian Anda berurusan dengan semua bidang dimana Anda dapat menggali di sekitar bahan yang sebagian besar orang tidak benar-benar tahu tentang hal itu. Hal itu sangat cocok dengan saya, dan banyak kesenangan bermain detektif yang tidak bisa saya tolak.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Percayalah dengan gagasan sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Sebagai penulis, Anda tidak bisa mengontrol –Anda juga tidak ingin mengontrol—bagaimana orang lain menafsirkan hasil  kerja Anda. ketika saya melihat seseorang yang membaca tulisan saya dan menggambarkan sesuatu yang sangat berbeda dari perspektif saya, saya kira hal itu benar-benar semacam ketenangan. Maksud saya, kadang-kadang bisa mencemaskan ketika Anda merasa mereka salah menafsirkan dengan buruk, tetapi hanya dengan mengatakan bahwa mereka sedang berpikir dan mereka sedang membawa tafsir mereka untuk berhubungan dengan tulisan saya, dan mereka segera berbeda dari Anda dari waktu ke waktu. Itu adalah bagian dari sesuatu yang sangat bagus tentang mengungkapkan kata pada dunia, dan jika saya khawatir tentang hal itu, saya tidak bisa menjadi penulis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5. Bermain-main dengan teori dan fakta—sebelum sampai pada kesimpulan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Saya pikir saya akan mendorong orang-orang untuk suka bermain dengan teori dan fakta. Saya ingin mereka akan melihat sesuatu, sejumlah cara yang berbeda dan mempertimbangkan dalam pikiran mereka dan bermain dengannya sebelum mereka menentukan kesimpulan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;6. Sebagaimana pekerjaan lain, menulis butuh kerja keras.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ini sesuatu yang agak menyederhanakan: Anda harus bekerja keras luar biasa untuk menjadi sukses dan hal itu tidak pernah berakhir. Orang berpikir jika Anda adalah penulis sukses, menulis akhirnya datang lebih mudah pada Anda. Faktanya, dalam beberapa hal itu berarti lebih keras. Tidak soal dalam bidang apa Anda berada, Anda perlu membuat yakin bahwa pekerjaan Anda sedang tumbuh dan berkembang. Saya tidak ingin buku baru ini (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Outliers&lt;/span&gt;) menjadi salinan dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Blink &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Tipping Point&lt;/span&gt;, sehingga saya harus sungguh-sungguh mendorong diri saya sendiri. Saya tidak menghitung, berapa jam yang saya habiskan untuk penelitian atau berapa banyak draft yang saya buat. Jika ada satu kunci bagi kesuksesan saya, itu adalah bahwa sekarang saya bekerja lebih keras daripada yang telah saya lakukan ketika saya berumur 24 tahun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;7. Menulis sebagai kegiatan otonom.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak pergi ke kantor, saya menulis di rumah. Saya suka menulis pada pagi hari, jika itu mungkin. Itulah ketika pikiran saya dalam keadaan paling segar. Saya mungkin menulis untuk beberapa jam, dan kemudian saya keluar untuk makan siang dan membaca koran. Kemudian saya menulis sedikit lebih lama jika saya bisa, kemudian pergi ke perpustakaan atau menelpon. Setiap hari agak berbeda. Saya bukan seorang yang suka rutinitas, sehingga saya menghabiskan banyak waktu untuk keluyuran di sekitar kota New York dengan laptop di tas, memikirkan dimana saya akan mengakhiri waktu selanjutnya. Itu adalah gaya hidup ideal bagi beberapa orang yang suka menulis.”[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-1337784284398660093?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/1337784284398660093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2010/02/malcolm-gladwell-sebagai-model-berbagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/1337784284398660093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/1337784284398660093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2010/02/malcolm-gladwell-sebagai-model-berbagi.html' title='Malcolm Gladwell sebagai Model : Berbagi Pengalaman Menulis'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-5769209014523447753</id><published>2010-02-19T08:10:00.000-08:00</published><updated>2010-02-19T08:28:48.510-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga'/><title type='text'>Sumbangan Terbesar</title><content type='html'>Seorang kawan yang maha baik mengizinkan tulisannya saya muat di blog saya. Tulisannya terinspirasi dari kutipan-penuh-makna tentang keluarga dari para tokoh. sebagian saya mengenal tokoh itu sebagian yang lain saya tidak kenal. Lebih penting dari mengenal atau tidak mengenal tokoh itu, kita bisa mereguk manfaat dari kutipan para tokoh itu. Di antara Anda mungkin telah membina keluarga, baik sebagai suami atau istri, baik sebagai ayah atau ibu. Lebih dari itu semua, bahwa semua orang adalah anak dari orangtuanya, kita semua memiliki keluarga. Selamat membaca. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mungkin pelayanan sosial yang paling besar yang dapat disumbangkan oleh seseorang bagi negaranya dan bagi umat manusia adalah membesarkan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; George Bernard Shaw&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada keluarga bayaran. Tidak ada orangtua bayaran. Membangun keluarga dan menjadi orangtua adalah pelayanan sosial. Itu adalah peran yang kita pilih sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita punya alasan bahwa membangun keluarga itu bermanfaat buat diri kita sendiri. Dengan membangun keluarga, kita tumbuh menjadi manusia yang matang. Dengan membangun keluarga, kita memiliki keturunan yang dapat memberi keceriaan dalam hidup. Lebih dari itu, dengan membangun keluarga berarti membuka kesempatan bagi diri kita sendiri untuk melayani. Dengan membangun keluarga, kita melakukan kerja yang membangkitkan ketulusan. Bahwa tidak semua kegiatan yang kita lakukan dapat diukur dengan materi. Dengan membangun keluarga, kita punya kesempatan menyumbang sesuatu yang berharga buat negara dan umat manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tidak akan pernah tahu, dan seharusnya tak perlu tahu, bahwa bisa saja salah seorang di antara anak-anak Anda akan menjadi orang yang turut berperan dalam membawa bangsa ini menjadi lebih baik. Mungkin di antara anak-anak Anda akan menjadi orang yang memberi inspirasi bagi kemajuan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tidak akan pernah tahu. Yang lebih penting untuk Anda pastikan adalah Anda telah memberikan pelayanan sebaik-baiknya bagi anak-anak Anda. Mendidik anak-anak Anda, itulah sumbangan terbesar yang bisa Anda berikan kepada negara dan umat manusia di dunia. Itulah sumbangan yang bisa Anda berikan saat ini juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hari ini, saya akan mendidik anak-anak saya agar mereka berguna bagi negara dan umat manusia di dunia. Saya akan membantu mereka memenuhi harapan itu. Saya tidak akan mengharap balasan. Kepada warga negara dan warga dunialah hendaknya mereka membalas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-5769209014523447753?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/5769209014523447753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2010/02/sumbangan-terbesar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/5769209014523447753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/5769209014523447753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2010/02/sumbangan-terbesar.html' title='Sumbangan Terbesar'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-9119552233363841872</id><published>2009-12-18T20:52:00.000-08:00</published><updated>2009-12-18T20:59:23.850-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Warga Kota yang Tak Setia?</title><content type='html'>Hari libur yang sempurna adalah hari libur yang berdempet dengan akhir pekan. Hari ini hari Jum’at, tanggal merah, tahun baru Hijriyah. Hari ini adalah salah satu dari hari libur yang sempurna itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari libur yang sempurna, akhir pekan terasa lebih panjang. Adalah orang yang menghargai kesempurnaan hari libur itu jika mau menghabiskannya dengan bercengkrama di rumah bersama keluarga. Dan bagi para perantau tentu pilihannya lebih terasa seperti meminum seteguk air pelepas dahaga: pulang kampung! &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari pengetahuan saya bahwa warga yang bekerja di Jakarta ini menghabiskan libur yang sempurna dengan pulang kampung atau bercengkrama di rumah, saya semakin memahami kalau warga kota di sini adalah warga kota yang tak setia. Betapa tidak? Pada hari ini, saya tidak menemukan hari yang persis sama dengan hari-hari sebelumnya. Pada Jum’at ini, saya tidak menemukan Jum’at yang sama dengan Jum’at-jum’at sebelumnya. Pada hari Jum’at ini, saya menemukan warga kota yang berbeda dengan warga kota di hari biasanya. Berikut ini saya rincikan beberapa diantaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Saat saya berada di depan warung makan langganan saya, saya dapati warung makan itu sepi, tidak seperti hari-hari biasanya.&lt;br /&gt;• Mas Dani yang biasa melayani pelanggan di warung itu mengeluh kalau hari ini sepi, tidak seperti hari-hari yang biasa. Alamat lauk dan nasi masih menggunung karena tidak dijamah oleh warga kota sebagaimana biasa. &lt;br /&gt;• Saat saya beranjak menuju masjid terdekat, sederet warung di pinggir gedung-gedung itu tidak ada yang buka.&lt;br /&gt;• Hari ini saya tidak menjumpai seorang ibu paruh baya berjilbab putih yang biasa berada di pinggir jalan meminta-minta kepada para jamaah yang lewat hendak masuk masjid dan berdiri di depan pintu masjid saat jamaah keluar dari masjid. Ibu paruh baya itu biasanya saya jumpai saat menuju dan keluar dari masjid, walaupun saya lebih sering untuk mengabaikan tengadahnya. &lt;br /&gt;• Pasang mata saya tidak juga menemukan seorang bapak penjual obat, penjual DVD, penjual kanebo, dan beberapa penjual lain di sebelah utara masjid. Pada hari biasanya, mereka dirubungi para jamaah sebelum dan sesudah sholat Jum’at. &lt;br /&gt;• Masjid yang biasanya menampung jamaah di lantai bagian atas, kali ini tidak menampungnya. Sekilas saya melihat gerbang pintu di lantai atas itu tertutup rapat. Kali ini, masjid hanya menampung jamaah di lantai bawah. Usai sholat pun saya lihat kalau jamaah Jum’at tidak sampai memenuhi seluruh lantai bawah. Kali ini memang jamaah Jum’at tidak sepenuh Jum’at-jum’at sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa warga kota seakan tidak setia? Sebentar, justru dari pemandangan yang saya lihat seperti saya ungkap di atas, warga kota benar-benar setia. Warga kota tidak setia pada kota, tetapi mereka lebih setia kepada keluarga. Yang karena dorongan kesetiaan kepada keluarga, warga kota rela hadir tiap hari di kota, bekerja 9 jam bahkan lebih lama di kota, mengawali hari kerja dengan kemacetan yang panjang dan lama saat memasuki kota. Mengakhiri hari kerja dengan kemacetan yang tak kalah panjang dan lama. Berangkat berpuluh-puluh kilometer, bahkan berratus-ratus kilometer dari kampung menuju kota. Menginap di kamar sempit di kota selama hari-hari kerja. Karena kesetiaan pada keluarga, warga kota rela untuk disebut sebagai warga kota yang tidak setia kepada kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga asumsi saya ini benar, bahwa warga kota lebih setia kepada keluarga. Selamat tahun baru Hijriah 1431. Selamat berlama-lama bersua dengan keluarga. Mari buktikan kalau kita punya kesetiaan pada keluarga. Biarlah keadaan yang saya ungkap di atas berulang lagi sekali dua kali. Karena, dua minggu ke depan, masih ada dua hari libur sempurna: Hari Natal dan Tahun Baru 2010.[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-9119552233363841872?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/9119552233363841872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/12/warga-kota-yang-tak-setia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/9119552233363841872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/9119552233363841872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/12/warga-kota-yang-tak-setia.html' title='Warga Kota yang Tak Setia?'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-2373107804195277098</id><published>2009-12-16T01:16:00.000-08:00</published><updated>2009-12-16T01:20:51.147-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Bahkan Malaikat pun Menuntut</title><content type='html'>Tidak lagi belajar di lembaga pendidikan formal, baik di sekolah maupun di kampus, mendorong saya lebih banyak belajar dari lingkungan sekitar. Lingkungan tempat kita tinggal dan beraktivitas menjadi ruang belajar terbuka yang menyilakan siapa saja berperan sebagai guru atau murid atau saling menukar peran antarkeduanya. Kali ini, saya menempatkan para demonstran di gedung KPK sebagai guru. Lalu, perkenankan saya berlaku sebagai murid yang sedang berupaya mengais pelajaran. Lewat tulisan yang saya tuang ini, saya berusaha menjadi sebaik-baik murid dari guru-guru terbaik di depan gedung KPK itu.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Semakin marak kasus korupsi, semakin meriah pula demontrasi antikorupsi di depan gedung KPK. Setidaknya dalam dua kasus terakhir, yakni penahanan Bibit-Chandra dan kasus Bank Century, demonstrasi di depan gedung KPK nyaris berlangsung tanpa henti. Beberapa kelompok mahasiswa bahkan mendirikan tenda di depan gedung. Kalau saya lewat di depan gedung KPK, tidak jarang mata saya kepergok spanduk-spanduk para demonstran. Saya tidak terlalu cermat merekam apa bunyi spanduknya. Yang jelas, dalam demonstrasi akhir-akhir ini, mereka menuntut KPK mengusut tuntas dugaan korupsi pencairan dana penyehatan Bank Century sebesar 6,7 triliun. Para demonstran itu menuntut KPK menjalankan laku-perannya sebagaimana melekat pada nama lembaga itu: memberantas korupsi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota KPK bukan terdiri dari para malaikat yang dengan khidmat mengabdi dunia akhirat. Anggota KPK terdiri atas manusia biasa yang suatu saat bisa lalai kalau tidak ada suara-suara yang terus mengingatkan. Jangan sampai KPK kehabisan angin dalam memberantas korupsi karena banyak pihak yang berusaha menggembosinya. Dalam hal ini, peran demonstran menjadi salah satu pihak yang berusaha menghalau pihak-pihak lain yang hendak menggembosi KPK. Juga menambah angin, bahkan menambalnya, semata-mata agar KPK bisa berlaku-peran sebagaimana mestinya. Ya memberantas korupsi itu tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan pengeras suara, tuntutan para pendemo masuk ke telinga saya yang kebetulan sedang duduk di tempat yang tak jauh dari gedung KPK siang itu. Tuntutan itu terdengar lamat-lamat, juga pada hari-hari sebelumnya dari tempat biasa saya duduk. Mungkin demonstrannya berbeda, namun esensinya tidak beda dengan demontrasi yang diadakan dimana-mana: sekelompok masyarakat yang menuntut atas idealitas sebuah keadaan. Dari sekian banyak aspek yang menarik perhatian, saya lebih tertarik pada esensi sebuah tuntutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tidak ada kelompok masyarakat yang melakukan tuntutan jika KPK menjalankan laku-peran sebagaimana mestinya. Tuntutan itu ada karena peran yang semestinya dijalankan namun diabaikan, fungsi yang seharusnya optimal namun minimal, wewenang yang sebenarnya tinggi tapi direndahkan, tugas yang sebenarnya agung namun dikerdilkan. Keadaan semacam ini tidak hanya mengancam KPK, namun bisa mengancam lembaga apa saja. Juga, keadaan semacam ini tidak saja mengancam lembaga, tetapi juga terhadap pelaku-pelaku lembaga itu: sosok ciptaan tuhan bernama manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengatakan bahwa manusia bisa lalai dari berbagai idealitas yang melekat pada dirinya. Ia bisa mengabaikan peran, meminimalkan fungsi, merendahkan wewenang, mengerdilkan tugas sebagai manusia. Manusia bisa menenggelamkan keistimewaan dirinya ke dalam lumpur kotor kelemahan, juga kehinaan, sedalam-dalamnya. Jika hanya sebagai semurni-murninya manusia, maksudnya tanpa jabatan maupun profesi yang melekat padanya, apa yang dilakukan manusia mungkin tidak akan ada yang memprotes. Ini karena apapun jabatan, profesi dan identitas yang melekat pada manusia sebenarnya menjadi alat bantu yang seharusnya mampu mendongkrak ketinggian peran, optimaliasai fungsi, ketinggian wewenang, keagungan tugas sebagai sosok manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun justru yang terjadi sebaliknya. Presiden merasa tidak berwewenang dalam menjalankan peran-peran penting sebagai presiden, justru merasa berwewenang menjalankan peran yang tidak penting. Kepolisian sebagai institusi yang seharusnya memberantas kriminal justru melakukan tindak kriminalisasi. Kejaksaan Agung sebagai tempat agung yang menaungi keadilan justru menampung banyak ketidakadilan. Penyelenggara negara yang mengelola uang rakyat demi kemakmuran bersama justru mengkorupsinya. Para wakil rakyat yang seharusnya memperjuangkan kepentingan rakyat namun saling berjuang sendiri-sendiri demi dirinya dan kelompoknya. Jabatan, profesi dan identitas lain yang melekat pada manusia justru digunakan untuk menjerumuskan dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat firman Tuhan yang menyatakan bahwa kala Tuhan hendak menciptakan manusia, malaikat justru mempertanyakannya. Tanya malaikat pada Tuhan, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Tuhan menjawab bahwa Dia lebih tahu dari apapun yang diketahui oleh malaikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa menerangkan tafsir dibalik pertanyaan protes malaikat pada Tuhan itu. Namun saya merasa ada kaitan antara para demonstran di depan gedung KPK dengan pertanyaan malaikat yang bernada menuntut itu. Ini pula pelajaran yang bisa saya kais dari para demonstran itu. Yakni, jika kita tidak bisa menunjukkan keistimewaan sebagai manusia, termasuk memberikan peran lebih dari sekedar jabatan, profesi dan identitas yang disandang, mungkin kita perlu meyakinkan diri bahwa nun jauh di sana, malaikat sedang protes menuntut kita, hanya kita tidak diperkenankan mendengarnya. Saat menjalani laku-peran sebagai manusia, kita sering menggembosi diri kita sendiri di tengah jalan sebelum sampai ke tempat tujuan. Mungkin malaikat sangat geram mendengar suara gembosnya. Malaikat hendak menuntut kita, juga mengingatkan Tuhan, bahwa wudhu kita batal karena buang angin, namun kita masih terus sholat dan Tuhan membiarkan sampai akhir sholat. Sampai kita mengucap salam sebagai tanda akhir kehidupan.[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-2373107804195277098?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/2373107804195277098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/12/bahkan-malaikat-pun-menuntut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/2373107804195277098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/2373107804195277098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/12/bahkan-malaikat-pun-menuntut.html' title='Bahkan Malaikat pun Menuntut'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-3180543055702098191</id><published>2009-11-30T22:54:00.000-08:00</published><updated>2009-12-01T01:13:34.442-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kajian Buku'/><title type='text'>Menjadi Guru Bener di Zaman Keblinger</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/SxTeFiCsNdI/AAAAAAAAAG0/La7PddwXytc/s1600/PendidikKarakter_02.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 209px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/SxTeFiCsNdI/AAAAAAAAAG0/La7PddwXytc/s320/PendidikKarakter_02.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410193238997611986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Saya minta Menteri Pendidikan Nasional untuk mengubah metodologi belajar-mengajar yang ada selama ini. Sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah jangan hanya gurunya yang aktif, tetapi harus mampu membuat siswanya juga aktif,” begitu ungkapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka Temu Nasional 2009 di Jakarta (Kompas, Jum’at, 30/10). Tersirat, permintaan presiden tersebut tidak hanya ditujukan kepada Menteri Pendidikan Nasional yang baru, tapi juga terhadap para guru sebagai subjek utama penentu kualitas pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, mengubah metode belajar-mengajar bukanlah perkara mudah bagi seorang guru. Ada konsekuensi-konsekuensi yang harus dipenuhi oleh guru jika hendak mengubah metode belajar-mengajar yang dilakukan selama ini. Tidak serta merta dapat terpenuhi, apalagi jika dihadapkan pada kenyataan berurat-akar tentang metode belajar-mengajar yang berlangsung bertahun-tahun lamanya. C.E. Beeby, seorang pernah meneliti tentang pendidikan di Indonesia, menggambarkan cara mengajar guru yang ditelitinya tahun 80-an, “guru berbicara dan biasanya menulis di papan tulis (dan ini rata-rata memakan waktu separuh jam pelajaran), murid-murid mendengarkan secara pasif. Ada sisa waktu yang sangat singkat untuk tanya jawab, sedang pertanyaan-pertanyaan bersifat rutin dan menyimpulkan saja: murid-murid kemudian mencatat apa yang didiktekan atau dari papan tulis. Dimana buku teks sangat kurang, kadang-kadang guru mengajar dengan hanya mendiktekan saja pelajaran dan jika masih ada waktu baru memberikan penjelasan sekedarnya.” Tak bisa dinafikan bahwa cara mengajar demikian masih kerap dijumpai di ruang-ruang kelas sekolah kita saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah bukannya tidak memiliki kebijakan ke arah perbaikan metode belajar-mengajar. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) memberi lampu hijau bagi guru dalam menyelengarakan kurikulum yang sesuai dengan corak sekolah masing-masing. Melalui KTSP, guru mendapat hak profesionalnya, termasuk dalam menyusun kurikulum dan mengembangkan metode pembelajaran. Namun, pemberlakuan KTSP tanpa diimbangi penyiapan pengetahuan dan ketrampilan guru dalam mengampu perubahan kurikulum berujung pada pembebanan guru terhadap tugas-tugas administratif belaka. Kurikulum berubah, namun hal itu tidak mempengaruhi guru dalam mengubah penyelengaraan kurikulum, termasuk pendekatan dan metode dalam belajar-mengajar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui bukunya ini, Doni Koesoema menempatkan guru sebagai subjek penting bagi perubahan. Guru tidak hanya sebagai pelaku perubahan, tapi juga sebagai pendidik karakter. Kedua peran itu saling terkait dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Melalui dua peran ini, pengaruh guru menyebar luas, melampaui tembok-tembok ruang kelas yang menyekatnya setiap hari. Kemauan guru untuk mengubah dan memperbaiki metode belajar-mengajar yang telah dilakukan selama bertahun-tahun berhubungan dengan kesadaran atas peran guru sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doni Koesoema menengarai dinamika pekerjaan guru menyebabkan guru sulit menerima perubahan. Ada tiga ciri dinamika pekerjaan guru yang menghambat perubahan, terhadap guru itu sendiri pada khususnya, dan dunia pendidikan pada umumnya, yakni konservatisme, individualisme dan presentisme. Gejala konservatisme mengemuka saat guru lebih merujuk pada keberhasilan masa lalu sebagai andalan, alih-alih menolak hal-hal baru yang belum tentu terbukti efektivitasnya. Individualisme tampak saat guru merasa bahwa apapun pilihan tindakannya sebagai guru sepenuhnya adalah haknya yang bersifat individual. Sebagai guru mata pelajaran tertentu, ia merasa bahwa cara mengajar dan hasil belajar siswa akibat cara mengajarnya itu adalah haknya sebagai guru yang siap dipertanggungjawabkan. Presentisme terlihat saat guru lebih mementingkan tugas-tugasnya hari ini yang bersifat jangka pendek dan hasilnya dapat langsung dirasakan, seperti menyiapkan ujian. Daripada mendorong siswa aktif memahami dan menemukan makna baru terhadap apa yang dipelajari, lebih baik mendorong siswa untuk berlatih soal-soal ujian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat dinamika pekerjaan guru membuat guru resisten terhadap perubahan, zaman menempatkan guru dan institusi pendidikan lebih tinggi dari seharusnya, bahkan cenderung tidak proporsional. Doni Koesoema menyebutnya sebagai zaman keblinger. Zaman ini setidaknya memiliki dua ciri, yakni mistifikasi peran guru dan pemahaman bahwa sekolah sebagai panasea atau obat mujarab segala macam penyakit sosial. Masyarakat melakukan mistifikasi peran guru dengan menempatkan guru sebagai pangkal segala persoalan yang terjadi di masyarakat. Perdamaian atau permusuhan, kesejahteraan atau kesengsaraan, kecerdasan atau kebodohan yang menggelayuti masyarakat sera merta ditimpakan kepada guru sebagai biangnya. Mistifikasi peran guru berujung pada tuduhan segala ketidakberesan di masyarakat kepada guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman ini disebut sebagai zaman keblinger karena sekolah dipandang sebagai panasea atau obat mujarab segala macam penyakit sosial. Masyarakat menyerahkan sepenuhnya baik dan buruknya perilaku siswa atau warganya kepada sekolah. Jika saat awal masuk sekolah seseorang teramat nakal, setelah lulus dia menjadi orang yang baik-baik. Sekolah menjadi obat ampuh atas penyakit apapun di masyarakat. Narkoba dan perilaku seksual menyimpang yang menggerogoti remaja, ditanggulangi oleh satu-satunya institusi terpercaya bernama sekolah. Masyarakat pun berbondong-bondong menyekolahkan anaknya dari pagi sampai sore, bila perlu diasramakan. Namun, jika sekolah tidak lagi ampuh mengobati penyakit sosial itu, yang harus bertanggung jawab sepenuhnya adalah guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan atas perubahan, baik dari internal (dinamika kerja yang resisten terhadap perubahan) dan eksternal (mistifikasi terhadap peran guru dan fungsi sekolah) menuntut guru memiliki visi sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter. Guru sebagai pelaku perubahan berarti menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan orang lain menuju tatanan yang dicita-citakan. Dalam masyarakat demokratis seperti saat ini, guru yang bervisi sebagai pelaku perubahan perlu melakukan reorientasi gaya pedagogis dalam pengajaran yang selama ini menjadi praksis hariannya. Mengembangkan diri sebagai pelaku perubahan berarti mengkritisi asumsi-asumsi dasar tentang pola relasi pengajaran dan pendidikan yang dianut selama ini. Guru perlu melepas dominasi terhadap siswa dalam pembelajaran dan menggantinya dengan memberikan ruang dan kreativitas kepada siswa untuk berkembang dan memiliki otonomi dalam pembelajaran (hal. 123-124). Beberapa kasus di dunia pendidikan yang masih kerap muncul, seperti kekerasan dan tindak asusia yang dilakukan guru terhadap siswa menjadi indikasi masih besarnya dominasi guru terhadap siswa dalam praksis pembelajaran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran yang terus melekat dalam fungsi dan jabatan apapun di sekolah adalah guru sebagai pendidik karakter. Guru bukan hanya membuat siswa menjadi pintar dan menguasai materi, namun membuat mereka bertumbuh secara integral dan utuh sebagai manusia supaya dapat berkembang individualitas dan keunikan dirinya (hal 136). Namun, tuntutan yang tinggi terhadap capaian kurikulum dan harapan nilai yang tinggi dalam Ujian Nasional (UN) menggiring para guru lebih memusatkan pada pencapaian tujuan pendidikan yang dangkal. Sudah jadi rahasia umum, banyak guru yang melakukan berbagai macam cara agar siswa mendapat nilai tinggi dalam UN. Tindakan curang dan tidak jujur dalam UN, bahkan dilakukan secara sistematis, justru menodai visi luhur guru sebagai pendidik karakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi guru yang bervisi sangat diharapkan bagi perbaikan pendidikan nasional. Namun, masih banyak guru yang belum benar-benar menjadi guru. Menjadi guru yang bener, dalam arti mengembangkan perannya sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter, sangat penting bagi masa depan pendidikan di Indonesia. Di zaman sekarang ini, menjadi guru yang bener juga perlu, semata-mata agar guru tidak ikut keblinger. []&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-3180543055702098191?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/3180543055702098191/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/11/menjadi-guru-bener-di-zaman-keblinger.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/3180543055702098191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/3180543055702098191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/11/menjadi-guru-bener-di-zaman-keblinger.html' title='Menjadi Guru Bener di Zaman Keblinger'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/SxTeFiCsNdI/AAAAAAAAAG0/La7PddwXytc/s72-c/PendidikKarakter_02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-8108488073858593282</id><published>2009-11-23T01:36:00.000-08:00</published><updated>2009-11-23T01:43:53.282-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Mengembangkan Metode, Meningkatkan Kecerdasan</title><content type='html'>Sebuah selebaran tentang unsur-unsur pengajaran tradisional yang dibuat oleh pakar pendidikan Eric Jensen dan jeannette Vos menyebutkan salah satu diantaranya: “kapur—pidato—tunjuk jari”. Tidak tersedia penjelasan lebih lanjut, tetapi penyebutan “kapur—pidato—tunjuk jari” sebagai salah satu unsur pengajaran tradisional mendapatkan gambaran dan pembenarannya sekaligus saat melihat kegiatan dalam ruang-ruang kelas sekolah kita. Pengalaman kita sebagai murid sekolah dahulu atau saat menjadi guru sekarang adalah pengalaman rutin tentang guru yang memasuki kelas, murid yang segera duduk rapi di bangku; guru yang mengambil kapur untuk menulis di papan tulis, murid yang menyalin di buku catatan; guru yang aktif berpidato menerangkan pelajaran, murid yang tekun mendengarkan; guru yang melontar tanya dengan menunjuk salah satu murid untuk menjawab, murid yang diam, tengok kiri kanan karena tak tahu jawaban, atau menjawab seadanya; guru yang menawarkan kesempatan kalau-kalau ada pertanyaan, murid yang diam karena tak ada yang mau bertanya. Sebagai guru, kita sudah lama tidak membayangkan, apa yang dirasakan para murid jika semua guru menampilkan ‘logat’ pembelajaran yang sama : kapur (menulis), pidato (menerangkan), dan tunjuk jari (memberi pertanyaan).&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika para murid diperkenankan bertindak jujur terhadap dirinya, mungkin akan banyak murid yang bernasib seperti Totto Chan—tokoh dalam sebuah novel pendidikan anak. Ia terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena bertindak aneh selama di kelas: berdiri di dekat jendela memandang keluar sembari menunggu pengamen datang bernyayi untuknya. Tidak jarang, sembari menunggu pengamen, ia bernyayi-nyayi sendiri. Beruntung ia mendapat sekolah yang bisa memahami dirinya, belajar di kelas yang terbuat dari bekas gerbong kereta dan setiap murid bisa memulai pelajaran dari mana saja yang disukai.  Di sekolah barunya, Totto Chan terbebas dari kepercayaan yang keliru tentang pembelajaran: siswa yang tidak bisa duduk diam berarti tidak siap belajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa jadinya jika murid-murid yang berperilaku seperti Totto Chan tidak mendapatkan sekolah yang dapat menampung cara belajarnya, seperti kelas di gerbong kereta? Mungkin murid-murid itu akan dipaksa putus sekolah, karena sekolah bukan tempat orang yang tidak mau diatur—termasuk yang tidak mau diatur cara belajarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Figur semacam Totto Chan dalam dunia nyata bukan tidak ada. Beberapa diantara mereka adalah tokoh berpengaruh yang memberi sumbangan besar pada peradaban. Sebut saja misalnya Albert Einstein, Winston Churchill dan Thomas Alva Edison.  Berikut ini kisah mereka menghadapi gaya belajar sekolah yang tidak sesuai dengan gaya khas mereka (dalam Dryden &amp; Vos, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Albert Einstein kecil dikenal suka melamun. Guru-gurunya di Jerman mengatakan bahwa dia tidak akan pernah berhasil di bidang apapun; bahwa pertanyaannya merusak disiplin kelas; bahwa lebih baik jika ia tidak usah bersekolah. Namun, dia terus berusaha dengan gaya belajarnya sehingga menjadi salah satu ilmuwan terbesar sepanjang sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winston Churchill saangat lemah dalam pekerjaan sekolah. Dalam berbicara dia agak gagap dan cadel. Namun ia kemudian menjadi salah satu pemimpin dan orator ulung terbesar di abad ke-20. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas Alva Edison pernah dipukul di sekolah dengan sebuah ikat pinggang kulit karena gurunya menganggap dia ‘mempermainkan’ dengan mengajukan begitu banyak pertanyaan. Dia begitu sering dihukum sehingga ibunya mengeluarkan dia dari sekolah hanya setelah tiga bulan mengenyam pendidikan formal. Dia terus berusaha sehingga menjadi penemu paling produktif sepanjang zaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Albert Einstein, Winston Churchill dan Thomas Alva Edison menjadi ‘korban’ dari ‘malapraktek guru dalam melakukan pembelajaran di kelas. Namun, pembelajaran guru yang kurang tepat tak mampu membendung potensi kecerdasan yang dimilikinya. Kecerdasan mereka lebih berharga daripada sekedar mengikuti apa yang dimaui guru dan sekolah pada umumnya. Demi mengasah potensi optimal kecerdasan, mereka memandang putus sekolah sebagai sesuatu yang remeh belaka. Namun, seberapa banyak orang seperti mereka, yang tanpa putus asa terus mengasah kecerdasannya dengan cara khas mereka sendiri. Tidak sedikit orang yang, walaupun cukup cerdas, memandang putus sekolah sebagai putus harapan—termasuk jaminan hidup bahagia di masa depan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset yang dilakukan oleh pakar pendidikan seperti Howard Gardner, Dunns dan Barbara Prashnig jelas menunjukkan bahwa kebanyakan murid putus sekolah tidak mendapatkan prestasi yang terbaik di sekolah yang hanya menampung dua ragam kecerdasan dari tujuh atau lebih kecerdasan manusia (multiple intelligence). Juga, kebanyakan dari murid putus sekolah merasa terabaikan di tengah lingkungan sekolah yang tidak mendukung pembelajaran kinestetis (Dryden &amp; Vos, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kecerdasan yang dimaksud mungkin ini: kecerdasan linguistik (bahasa) dan kecerdasan logika-matematika. Kecerdasan linguistik tertampung dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa inggris, maupun ilmu sosial, sementara kecerdasan logika-matematika tertampung pada mata pelajaran matematika dan ilmu-ilmu eksakta. Namun, menimbang-nimbang mata pelajaran sebagai pengasah kedua kecerdasan itu tidaklah cukup. Hal yang lebih penting dalam mengasah kedua kecerdasan itu adalah bagaimana cara guru mengajar mata pelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan cara guru mengajar adalah dengan menempatkan dirinya sebagai subjek. Guru adalah pengendali penuh proses belajar mengajar. Apalagi, dengan banyaknya materi pelajaran dan terbatasnya waktu yang tersedia, guru terdorong lebih aktif dalam menyampaikan materi. Hasil observasi kelas yang dilakukan oleh peneliti John Goodlad mengungkapkan bahwa pada kebanyakan kasus, guru merupakan pihak yang berbicara paling banyak sepanjang waktu, sementara siswa pasif mendengarkan. Proses pembelajaran dalam kelas kurang mendorong siswa mengasah kemampuan linguistik. Siswa tidak banyak diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapat atau mengajukan pertanyaan. Padahal,  mengungkapkan gagasan secara verbal merupakan latihan metakognitif yang penting, karena dengan sering mendengar diri kita berbicara, dan membaca apa yang kita tulis, maka kita memperoleh wawasan mengenai apa yang benar-benar kita pikirkan atau kita ketahui (Campbell, Campbell dan Dickinson, 2006). Sementara, pada pelajaran matematika, para murid hanya diajarkan rumus-rumus belaka, tanpa mengetahui asal-usulnya, harus dihafal di luar kepala—jauh dari esensi pembelajaran matematika, yakni logika. Sementara, pada mata pelajaran lain, guru kurang memberikan kesempatan siswa agar berkembang mandiri menyelesaikan permasalahan tertentu yang relevan dengan apa yang dipelajari—sebuah pondasi dalam berpikir logis-ilmiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian terbaru mengenai kecerdasan manusia membuat para guru harus berpikir ulang dalam memandang murid, termasuk dalam melakukan proses pembelajaran. Howard Gardner menyatakan bahwa otak manusia adalah organ yang sangat kompleks dengan kapasitas yaang jauh lebih besar untuk belajar ketimbang yang saat ini dipakai manusia. Artinya, setiap manusia, termasuk murid, begitu juga guru, berkesempatan meningkatkan potensi kecerdasannya. Konon, penemuan ilmiah menakjubkan yang dilakukannya, Albert Einstein baru menggunakan 15 % dari potensi otaknya. Lantas, akankah murid-murid yang berpotensi lebih cerdas ditumpulkan potensinya akibat cara mengajar guru yang tidak mampu mendayagunakan kecerdasan para muridnya? Bisa ditegaskan bahwa sebenarnya tidak ada murid yang bodoh, juga tidak ada murid yang mengalami kesulitan belajar, yang ada hanyalah kesulitan guru untuk mengajar—untuk tidak mengatakan masih ‘bodoh’ dalam menggunakan beragam metode pembelajaran yang efektif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya metode pembelajaran&lt;br /&gt;Metode pembelajaran sangat penting perannya dalam mengoptimalkan kecerdasan murid. Jika metode yang digunakan baik dan tepat, murid akan terangsang untuk mengoptimalkan kecerdasan yang dimiliki. Metode yang digunakan bukan hanya baik tapi juga tepat. Artinya metode yang dipakai sesuai dengan kebutuhan pembelajaran—termasuk kesesuaian metode tersebut bagi warga belajar. Dalam hal ini metode memiliki kemampuan sebagai alat rangsang yang mampu membangkitkan potensi kecerdasan murid. Untuk itu, bisa dipahami bahwa metode merupakan alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka orang mungkin tidak berani membantah bahwa kesuksesan guru—sebagai guru teladan maupun guru favorit di sekolah—terletak pada kesuksesannya dalam menggunakan metode pembelajaran. Murid-murid memandang seorang guru lebih favorit dibanding yang lain karena kemampuannya dalam membawa murid-murid ke alam pembelajaran. Ada semacam inspirasi yang menggerakkan saat guru melakukan proses pembelajaran.  Dengan menggunakan metode yang baik dan tepat, seorang guru dapat mengajak murid berada dalam suasana yang dinikmati, bahkan merasa proses pembelajaran adalah milik dirinya—mereka merasa bahwa proses pembelajaran yang dilakukan melibatkan potensi cerdas yang dimilikinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu guru perlu kiranya mengembangkan metode belajar melalui penggunaan metode yang variatif (sesuai dengan potensi murid yang variatif), memilih metode yang baik (yang mampu meningkatkan kecerdasan siswa) dan menggunakan metode tersebut secara tepat (yang dapat mencapai tujuan pembelajaran). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa argumen yang menguatkan bahwa mengembangkan metode dapat meningkatkan kecerdasan murid. Pertama, kecerdasan bersifat dinamis, artinya ia dapat berkembang dalam dinamika interaksi yang memungkinkan potensi kecerdasan itu tumbuh. Artinya, senada dengan peran metode sebagai alat motivasi ekstrinsik, lingkungan mempengaruhi perkembangan kecerdasan seseorang. Adanya murid yang putus sekolah seperti beberapa tokoh di atas, sebenarnya mencerminkan lingkungan sekolah kurang memberi suasana yang dinamis bagi kecerdasan muridnya. Kedua, metode yang bervariasi memungkinkan murid mengoptimalkan dua potensi otaknya, yakni otak kiri dan otak kanan. Selama ini sekolah lebih menghargai potensi otak kiri (yang rasional, logis, analitis) daripada otak kanan (intuitif, imajinatif dan holistik) muridnya. Ketiga, dalam pertumbuhannya, kecerdasan setiap murid bersifat unik. Setiap orang memiliki ‘jalan cerdas’ nya masing-masing. Artinya, kita tidak tahu pada keadaan yang bagaimana seseorang itu menemukan pencerahan (insight). Harapannya, metode yang digunakan oleh guru dalam belajar di kelas mampu memberikan secercah cerah bagi murid dalam melihat potensi unggul pada dirinya.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mengembangkan metode sekaligus meningkatkan kecerdasan? Beberapa langkah awal perlu dilakukan guru sebelum menentukan metode yang akan digunakan. Pertama, guru harus berpikiran terbuka. Tidak jarang guru terpaku pada metode pembelajaran tertentu karena metode itulah yang dia alami saat dia belajar di sekolah dahulu. Metode ceramah dipilih guru karena metode itulah yang sering dialami dan dilakukan. Jika guru berpikiran tertutup, ia akan mengabaikan dan tidak akan pernah mencoba menggunakan metode lain. Kedua, guru perlu memahami kecerdasan murid-muridnya. Ini penting karena setiap murid memiliki salah satu atau lebih kecerdasan yang menonjol diantara tujuh kecerdasan manusia (linguistuk, matematika-logika, musik, visual-spasial, kinestetik, intrapersonal dan interpersonal). Pemahaman yang baik tentang ketujuh kecerdasan ini diharapkan guru dapat memilih metode yang bisa diikuti dengan baik dan menyenangkan oleh para muridnya. Bagi murid yang memiliki kecerdasan visual-spasial yang baik, mungkin ia lebih tertarik dengan menuliskan ayat alqur’an dalam bentuk kaligrafi daripada diminta membaca dan menghafal ayat tersebut. Ketiga, guru perlu menampung berbagai macam kecerdasan yang berbeda-beda sebagai potensi dalam melakukan proses pembelajaran. Jangan ada ‘diskriminasi kecerdasan’ dengan cara menampung potensi kecerdasan murid tertentu dan mengabaikan potensi kecerdasan murid yang lain. Kabar buruknya adalah, guru cenderung menggunakan cara, gaya dan metode mengajar yang sama dengan cara, gaya dan metodenya dalam belajar. Keempat, guru perlu banyak melakukan uji coba terhadap metode-metode pembelajaran yang mungkin pada tiap jenis kecerdasan. Ini sekaligus juga mengasah kepekaan guru terhadap kecenderungan potensi murid yang berbeda dengan kecenderungan potensi dirinya. Kelima, guru menempatkan murid sebagai subjek belajar. Ini merupakan prasyarat yang perlu ada dalam pembelajaran sehingga murid tidak hanya mendengar, tetapi juga bicara, murid tidak hanya membaca, tetapi juga menulis, murid tidak hanya melihat dan mendengar, tetapi juga mempraktekkannya. Metode-metode seperti bermain peran (role play), diskusi kelompok, debat, praktek, mampu menempatkan murid sebagai pelaku dalam proses pembelajaran. Mengharapkan murid dapat sholat jenasah lengkap dengan kaifiah dan bacaannya tidak cukup dengan menjelaskan di muka kelas dan meminta murid mencatat bacaannya, tapi juga harus praktek. Untuk meneladani figur rasulullah, kita dapat mengajak murid memainkan peran sebagai sahabat nabi yang bisa diteladani semacam abubakar (saat membenarkan kenabian muhammad, misalnya), umar (saat memikul gandum sendiri untuk diberikan pada rakyatnya yang miskin, misalnya), bilal (saat diseret dan tubuhnya ditindih batu, misalnya). Dan sebagainya, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-8108488073858593282?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/8108488073858593282/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/11/mengembangkan-metode-meningkatkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/8108488073858593282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/8108488073858593282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/11/mengembangkan-metode-meningkatkan.html' title='Mengembangkan Metode, Meningkatkan Kecerdasan'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-3540524072141074933</id><published>2009-10-09T06:43:00.000-07:00</published><updated>2009-10-09T06:52:28.386-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kajian Buku'/><title type='text'>Pola-pola Eksternal Menuju Sukses</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/Ss8__STcU0I/AAAAAAAAAGs/UFuCnyhwJbQ/s1600-h/malcolm_gladwell_outliers-796414.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/Ss8__STcU0I/AAAAAAAAAGs/UFuCnyhwJbQ/s400/malcolm_gladwell_outliers-796414.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5390597635463467842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Begitu berita tersebar bahwa kami mengadakan pertunjukan, penonton mulai berdatangan ke klub. Kami bermain tujuh malam tiap minggunya. Pada awalnya kami bermain hampir nonstop sampai jam setengah satu malam saat klub ditutup, tetapi saat permainan kami terus membaik penonton terus bertahan sampai jam dua pagi.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jika kecerdasan, bakat, ambisi dan kegigihan tidak terlalu berarti, apa rahasia dibalik kesuksesan seseorang?  Kalau keberhasilan individu bukan yang utama, apa penentu keberhasilan seseorang? Dalam buku ini, Malcolm Gladwell membangun tesis yang tidak biasa bahwa kesuksesan seseorang diperoleh karena kesempatan dan warisan budaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan di atas adalah ungkapan Pete Best, pemain drum The Beatles. Pada tahun 1960, saat The Beatles masih berupa band rock sekolah, Pete Best dan kawan-kawannya diundang untuk bermain di sejumlah klub di Hamburg, Jerman.  Tujuh hari dalam seminggu!  Selanjutnya, selama tahun 1960 sampai akhir 1962 The Beatles melakukan perjalanan ke hamburg sebanyak lima kali yang seluruhnya berjumlah 270 malam. Tiap malam mereka melakukan pertunjukan minimal lima jam. Kesempatan di undang ke Hamburg mereka gunakan untuk memperbaiki kualitas permainannya. Hamburg menjadi kawah candradimuka bagi mereka dengan banyak belajar tentang stamina, berbagai aliran lagu dan kedisiplinan. Sekembali dari Hamburg, The Beatles telah menemukan cara terbaik dalam bermain musik. Tanpa kesempatan bermain musik di Hamburg, The Beatles mungkin akan merajut cerita sukses yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pola yang sama dialami oleh Bill Gates.  Pada awal kelas tujuh, orangtua Gates mengirimnya ke Lakeside, sebuah sekolah yang berisi anak-anak keluarga kaya di Seatle. Saat menginjak tahun kedua, Gates bergabung di klub komputer yang baru didirikan sekolahnya. Saat itu, tahun 1968, komputer adalah barang mengagumkan, yang universitas-universitas pun belum banyak memilikinya. Waktu-waktu berikutnya adalah kesempatan bagi Gates belajar banyak tentang program komputer. Praktis, pengalaman mengembangkan perangkat lunak selama lima tahun di sekolah menengah ditambah dua tahun di Universitas Harvard, cukup bagi Gates untuk membuat perusahaan perangkat lunak sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Beatles dan Bill Gates adalah dua contoh orang-orang sukses yang melewati pola yang sama: mereka memperoleh kesepatan yang istimewa. Secara metaforis Gladwell menamai mereka sebagai outlier, yakni  orang yang melakukan hal-hal di luar kebiasaan.  Dalam pengertian yang lebih luas, outlier berarti sesuatu atau seseorang yang berada di luar keadaan normal.&lt;br /&gt;Melalui bukunya ini, Gladwell memperkenalkan berbagai jenis outlier: orang jenius, musisi rock, pembuat program perangkat lunak dan raja bisnis dunia. Gladwell mengenalkan outlier dalam kisah sukses yang tidak biasa. Ia memaparkan data dan hasil penelitian psikologi sosial bahwa kesuksesan bukan hanya ditentukan oleh faktor individu, tetapi juga faktor sosial. Faktor terakhir ini mengingatkan siapa saja yang ingin sukses untuk menilik tempat dan waktu seseorang tumbuh besar. Karena, kesempatan yang diperoleh dan kebudayaan tempat seseorang tumbuh berpengaruh pada pola keberhasilan yang dicapai siapapun dan dalam bidang apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat banyak penulis buku tentang kesuksesan memosisikian individu sebagai pelaku kunci, tidak demikian halnya dengan Gladwell. dalam bukunya yang ditulis dengan gaya bercerita ini, Gladwell menangkap fenomena yang luput dari pandangan para penulis tentang kesuksesan. Tanpa menganggap remeh kecerdasan dan bakat seseorang, Gladwell menyematkan tanggung jawab masyarakat sebagai penentu kesuksesan seseorang: masyarakat seharusnya menyediakan kesempatan seluas-luasnya dan mewariskan nilai-nilai yang mendukung kemungkinan seseorang untuk mencapai sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gaya bercerita yang seprovokatif buku-buku yang ditulis sebelumnya, The Tipping Point dan Blink, Gladwell menggugah pikiran pembaca dalam memandang fenomena yang semula dianggap lumrah. Ia menunjukkan pentingnya tanggal lahir saat pada proses seleksi pemain hoki terbaik di Kanada. Batasan umur penerimaan berbagai kelas usia hoki di Kanada adalah tanggal 1 Januari. Seorang anak laki-laki yang berusia sepuluh tahun pada tanggal 2 Januari bisa bermain bersama-sama seseorang yang berumur sepuluh tahun di akhir tahun itu—padahal, pada periode praremaja, jarak dua belas bulan membuat perbedaan fisik yang besar (hlm 23). Sehingga kebanyakan anggota tim terbaik lahir di bulan Januari, Februari, Maret dan April. Menurutnya, jika kebijakan penerimaan dibuat dua kali pertahun, akan lebih banyak pemain hoki terbaik di Kanada. Pola semacam ini bisa berlaku pada penerimaan murid baru di sekolah dasar: dengan menimbang usianya, kapan sebaiknya seorang anak mulai menikmati hari-hari pertama di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk hasil penelitian, Gladwell mengingatkan tentang kaidah 10.000 jam: seseorang perlu berlatih sebanyak itu untuk mendapatkan keahlian dalam sebuah bidang. Latihan sebanyak itu pula yang ditempuh The Beatles dan Bill Gates. Dengan menekankan pentingnya ‘kecerdasan praktis’—mengetahui apa yang harus dikatakan kepada orang tertentu, mengetahui kapan mengatakannya dan tahu bagaimana mengatakannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal—Gladwell berkisah tentang dua orang genius dalam menghadapi problem kuliah, dan berujung pada kesuksesan karier setelahnya. Dua orang genius bernasib lain karena lingkungan yang berbeda mempengaruhi kualitas kesuksesan.  Dalam hal ini, Gladwell menekankan pentingnya keluarga sebagai lingkungan awal pembentuk kesuksesan seseorang, baik genius maupun tidak.&lt;br /&gt;Orang mungkin tidak akan mengira bahwa jatuhnya pesawat terbang dipengaruhi oleh latar belakang budaya awak pesawatnya. Ini berarti bahwa kesuksesan sebuah maskapai penerbangan dipengaruhi oleh warisan budaya awak pesawatnya. Sebelum Korean Air memperbaiki managemennya melalui pembenahan sikap budaya, kecelakaan yang menimpa pesawatnya tujuh belas kali lebih banyak daripada hal yang sama menimpa United Airlines. Bahasa yang digunakan awak pesawat, yakni Bahasa Korea, memiliki enam tingkatan bahasa yang berbeda, bergantung pada hubungan antara kedua pembicara: formal, informal, terbuka, akrab, intim dan datar. Dalam Dimensi Hofstede, orang Korea memiliki Power Distance Index (PDI) tinggi yang menyulitkan komunikasi asertif antara kapten pilot dan ko-pilot dalam sebuah penerbangan yang kritis.  Argumentasi ko-pilot dalam menghadapi kasus penerbangan dihambat oleh jarak kekuasaan yang tinggi sehingga tidak bisa berkata lugas kepada pilot yang dalam hirarki penerbangan lebih tinggi tingkat kekuasaannya. Karena faktor budaya pula orang-orang Asia, dengan dipengaruhi oleh pencahariannya menanam padi, memiliki keunggulan dalam bidang matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, tesis Gladwell tentang outlier  sesunguhnya juga mengisahkan tentang dirinya sendiri. Dia adalah staf penulis di The New Yorker dan mantan reporter bidang bisnis dan sains di Washington Post. Buku Outliers tidak hadir dalam bentuk semacam ini jika dia tidak ada kesempatan baginya melihat ayahnya bekerja, mulai dari mengkaji matematika sampai berkebun, dalam keadaan gembira, teguh dan antusias.  Ia pun diberi kesempatan belajar dari ibunya tentang bagaimana mengungkapkan sesuatu dengan jelas dan sederhana. Neneknya, Daisy Nation—yang kepadanya buku ini dipersembahkan—telah berjuang menghadapi diskriminasi ras di Jamaika sehingga ibunya bisa memperoleh pendidikan. Sebuah pola yang indah mewujud dalam keunikan buku: paduan antara ketelitian, kelugasan dan kesegaran sudut pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pelajaran penting dari buku Outliers ini? Faktor eksternal, yakni tersedianya kesempatan dan pewarisan budaya turut menentukan kesuksesan. Masyarakat sedianya memberi kesempatan seluas-luasnya pada siapapun dalam menapaki jalan kesuksesan. Antarsesama selayaknya terjalin bantuan yang memudahkan jalan sukses. Perlu ada penanaman nilai-nilai positif yang memungkinkan terjadi reaksi kimiawi kesuksesan. Terkhusus dalam pendidikan, tiga matranya, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat seyogyanya saling mendukung tersedianya ruang cerah kesuksesan pada anak atau peserta didik, bukannya saling mengandalkan apalagi menghambat satu sama lain. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-3540524072141074933?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/3540524072141074933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/10/pola-pola-eksternal-menuju-sukses.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/3540524072141074933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/3540524072141074933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/10/pola-pola-eksternal-menuju-sukses.html' title='Pola-pola Eksternal Menuju Sukses'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/Ss8__STcU0I/AAAAAAAAAGs/UFuCnyhwJbQ/s72-c/malcolm_gladwell_outliers-796414.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-6213394969863965844</id><published>2009-08-05T01:45:00.000-07:00</published><updated>2009-08-05T01:47:23.563-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Organisasi'/><title type='text'>Organisasi sebagai Rumah Belajar</title><content type='html'>1. Pada saat pemerintah mengkampanyekan sekolah gratis, saat itu pula ‘sekolah mahal ada dimana-mana’. Program pemerintah membuat SSN (Sekolah Standar Nasional) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) pada akhirnya menyedot banyak biaya dari masyarakat. Secara tidak langsung sekolah formal menciptakan stratifikasi sosial di masyarakat kian menganga. Dampaknya tentu tidak menguntungkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Biaya pendidikan tidak terjangkau. Pada saatnya, kesenjangan ini akan ‘mengganggu’ kepribadian pelajar. Pelajar dari kalangan menengah ke bawah tidak banyak kesempatan melakukan ‘concerted cultivation’, yakni pengembangan (diri) yang dilakukan bersama (antara orang tua atau pihak lain dengan dirinya). Pelajar dari kalangan ini tidak banyak belajar menumbuhkan perasaan memiliki ‘hak’. Mereka tidak tahu cara mendapatkan keinginan dan bagaimana menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dihadapi untuk memenuhi keinginannya (Gladwell, 2009).&lt;br /&gt;Keadaan seperti di atas memberikan ‘jalur hijau’ bagi organisasi pelajar untuk membantu pelajar dalam belajar memahami hak-haknya melalui pengalaman-pengalaman keorganisasian. Sudah terbukti bahwa organisasi mampu menjadi sarana mobilitas sosial bagi anggota-anggotanya. Organisasi punya tugas menghambat agar jurang kelas sosial tidak menganga lebar.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. Ujian Nasional (UN) maupun seleksi masuk lainnya membuka celah bagi kecurangan sistematis yang dilakukan oleh pelaku pendidikan itu sendiri. Sudah jadi rahasia umum bahwa kecurangan dalam UN dilakukan oleh para guru, siswa, dan institusi pendidikan demi mendapat nilai akademik tinggi. Sementara nilai-nilai lain yang lebih luhur, seperti kejujuran, keadilan, dikesampingkan.  &lt;br /&gt;Keadaan seperti di atas menjadi ‘bel masuk’ bagi organisasi pelajar dalam melakukan pendidikan karakter melalui kegiatan yang diselenggarakannya.  Bagaimana pendidikan karakter itu? Menurut Thomas Lickona, ada tiga langkah ampuh dalam mendidik karakter, yakni knowing, loving dan acting the good. Melalui program dan kegiatannya, organisasi pelajar sedianya memberi ruang bagi anggotanya dalam memahami nilai-nilai, mencintai nilai-nilai itu dan menerapkannya dalam kegiatan sebagai tindakan yang bisa diteladani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Problem kurikulum masih belum beranjak dari rangkaian pengetahuan yang memberatkan pelajar.  Sebagaimana dikuatirkan Bertrand Russell (1993), pengetahuan yang diberikan pada pelajar melebihi kemampuannya mencerna bisa menggerus hasrat atas pengetahuan. Ada semacam pertantangan seperti digambarkan oleh John Dewey sebagai ‘anak versus kurikulum’: pertentangan yang timbul dari kepribadian anak melawan keinginan orang dewasa yang tersusun dalam kurikulum. Apa yang terjadi? Banyak pengetahuan yang didapat pelajar tidak relevan dengan kehidupannya sehari-hari. Pada akhirnya, lulus sekolah atau kuliah, tidak menjamin kecakapannya dalam melakukan aktivitas profesional.&lt;br /&gt;Keadaan di atas memberi ‘jalan terang’ bagi organisasi pelajar untuk menempatkan diri sebagai ‘jembatan pengetahuan’ yang mampu mengkontekstualisasikan pengetahuan yang didapat di sekolah. Pembelajaran kontekstual menurut Elaine B Johnson (2009) meliputi delapan komponen: 1)membuat keterkaitain-keterkaitan yang bermakna; 2) melakukan pekerjaan yang berarti; 3) melakukan pembelajaran yang diatur sendiri; 4) bekerja sama; 5) berpikir kritis dan kreatif; 6) membantu individu untuk tumbuh dan berkembang; 7) mencapai standar yang tinggi; dan 8) menggunakan penilaian autentik. Komponen-komponen di atas memungkinkan dilakukan oleh organisasi sehingga pelajar mampu memaknai apa yang dipelajarinya di sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pelajar, guru, orang tua, dan masyarakat pada umumnya lebih mempedulikan kemampuan kognitif melalui jalur pendidikan formal. Sekedar misal, anak-anak masuk SD sudah dites dengan baca tulis, bahkan diberi soal-soal yang menghendaki kemampuan membaca dan menulis. Masuk SMP, SMA dan PT diuji dengan Tes Potensi Akademik (TPA). Sementara, orang tua pun rela mengeluarkan banyak biaya demi meningkatkan kemampuan akademik anaknya dengan memasukkan anaknya ke sekolah ‘berkelas’, ikut kursus-kursus dan sebagainya.&lt;br /&gt;Keadaan tersebut menjadi ‘lampu kuning’ bagi organisasi pelajar bahwa organisasi pelajar dipandang tidak relevan bagi perkembangan diri pelajar.  Dampak ikutannya, pelajar tidak terlalu berminat pada aktivitas keorganisasian, apalagi terlibat terlalu jauh. Kemampuan yang diperoleh lewat organisasi seperti kepemimpinan, pengambilan keputusan, public speaking, diperoleh melalui kursus-kursus yang tidak mengikat, walaupun dengan biaya tinggi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa diimbangi dengan kesadaran atas makna pengetahuan, hanya melanggengkan sikap-sikap yang justru merugikan pelajar itu sendiri. Sebagai misal, kunci jawaban ujian beredar lewat sms, tugas makalah didapat dengan copy paste hasil searching di internet. Adanya teknologi praktis tersebut justru menggerus identitas dan integritas pelajar sebagai agen intelektual. &lt;br /&gt;Keadaan diatas bisa menjadi ‘lampu merah’ karena secara langsung mempengaruhi pelajar, dan bisa jadi, pengurus organisasi itu sendiri sebagai pelakunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Organisasi seyogyanya menjadi tempat belajar tentang apa yang disebut psikolog Robert Stenberg sebagai ‘kecerdasan praktis’ (Gladwell, 2009). Bagi Stenberg, ‘kecerdasan praktis’ meliputi hal-hal seperti mengetahui apa yang harus dikatakan pada orang tertentu, mengetahui kapan mengatakannya, dan tahu bagaimana mengatakannya untuk mendapat hasil yang maksimal. ‘Kecerdasan praktis’ ini diasah dalam organisasi saat kita merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan menilai ketercapaian suatu kegiatan. Kecerdasan ini sulit terasah pada seseorang yang, dengan IQ tinggi, justru mengandalkan kemampuan kognitif (analisis) semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Organisasi perlu menguatkan visinya sebagai rumah belajar bagi pelajar pada khususnya, dan masyarakat umumnya. Visi ini idealnya melekat pada setiap pengurus maupun kader, sehingga dapat dicerminkan dalam program dan aktivitas keorganisasian. Bobbi DePorter  (2007) memberi nasehat, “jadilah model bagi visi anda. Terapkanlah agar orang-orang melihatnya.” &lt;br /&gt;Pelajaran baik datang dari Gola Gong yang meyakini, sebagai sebuah prinsip, bahwa “rumah adalah tempat belajar” (Kompas 26 Juli 2009). Ini tersirat pada isi rumahnya yang penuh dengan buku sebagai ‘perabot utama’ rumah tangga. Rumahnya pun tak pernah sepi dari hilir mudik anak muda yang ingin belajar: membaca, menulis, bermain musik. Jika kita meyakini organisasi sebagai rumah belajar, apa kira-kira ‘perabot’ yang harus dimiliki? Jika kita meyakini organisasi sebagai rumah belajar, lingkungan seperti apakah yang hendak kita ciptakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Sebagai rumah belajar, organisasi perlu menampung berbagai kecenderungan, minat dan bakat pelajar yang, lewat kegiatan keorganisasian, pelajar mampu mengaktualisasikan kecenderungan, minat dan bakatnya itu. Daniel Goleman membagi kecerdasan dalam delapan jenis: linguistik, kinestetik, matematis, spasial, musik, interpersonal, intrapersonal, dan natural. jadi, keberagaman kecerdasan itu mempengaruhi kecenderungan, minat dan bakat pelajar dan perlu dikembangkan melalui komunitas-komunitas pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Selayaknya ada ‘metabolisme’ dalam organisasi yang secara bawah sadar mempertanyakan diri sendiri, bahwa dalam segala aktivitas keorganisasian, akan selalu timbul pertanyaan, “kamu sedang belajar apa?”; “apa pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman atau aktivitas yang dilakukan dalam organisasi?”; “apakah pengetahuanku bertambah?” Jika jawaban dari pertanyaan itu cenderung negatif, artinya organisasi tidak bisa menjadi rumah belajar bagi anggotanya, lebih baik si anggota cepat-cepat beranjak meninggalkan organisasi, mencari tempat lain yang bermanfaat dunia akhirat. Ingat, hidup ini singkat, seumpama belajar ‘sistem kebut semalam’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semarang, 1 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-6213394969863965844?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/6213394969863965844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/08/organisasi-sebagai-rumah-belajar.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6213394969863965844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6213394969863965844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/08/organisasi-sebagai-rumah-belajar.html' title='Organisasi sebagai Rumah Belajar'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-7180394246517067865</id><published>2009-07-08T20:37:00.000-07:00</published><updated>2009-07-08T20:42:57.340-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Tak Ada Pesta di Hari Pemungutan Suara</title><content type='html'>Hari itu, 8 Juli 2009, sekitar tujuh menit terlewat dari pukul 08.00, berlangsung kemeriahan warga yang bukan pesta. Masih pagi benar mungkin. Warga masih belum tergerak hadir di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Di TPS 9 RT 07 RW 3 Kelurahan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat, warga memenuhi kursi yang tak seberapa jumlahnya, satu-dua menit setelah TPS dibuka resmi oleh ketua RT—yang juga ketua KPPS. Ramai dan lengang memenuhi ruang sempit di TPS. Datang dan pergi, ke dan dari sebuah tempat yang, sekali lagi, tidak layak disebut pesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini tak ada pesta, hanya ada tiga meja, kursi yang tak seberapa, empat bilik, sebuah kotak suara, dan tenda biru yang tertata sederhana. Tenda biru didirikan di lontrong yang lengang, sekitar 3,5 meter lebarnya. Tenda membentang sebagai atap dengan kerangka potongan bambu dan tali seadanya. Bambu dan tali menopang lembaran tenda biru yang sudah dipenuhi lubang dan tambalan. Lontrong ditutup di dua mulutnya dengan palang glugu dan tanda nomor TPS. Walaupun sudah dipalang di mulut lontrong , banyak warga yang berlalu lalang dengan kesopanan yang bercampur segan. Dengan properti sedanya, warga yang datang lebih lambat harus bersiap kepanasan dan berdiri sambil menunggu namanya dipanggil. Perlengkapan sederhana ini sudah meyakinkan siapapun yang melintasi tempat ini bahwa disini benar-benar tak ada pesta.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Disini tak ada pesta, hanya ada sekelompok warga yang tertib mengantri di hari pemungutan suara. Mereka duduk dan berdiri, bergilir menunggu dipanggil oleh ketua RT. Mula-mula mereka mengumpulkan surat undangan ke KPPS setiba di TPS. Saat namanya disebut, mereka memungut kertas suara, menghampiri bilik suara, membubuhi tanda contreng pada calon presiden dan wakil presiden yang dipilih, melipat kembali kertas suara, memasukkan kertas suara di kotak suara dan menenggelamkan ujung jari kelingking kirinya ke dalam tinta warna biru. Begitu semua warga melakukan tindakan yang serupa. Sekali dua kali, anggota KPPS mengingatkan warga yang hampir lalai tidak mencelupkan ujung jari kelingking kirinya ke dalam tinta. Tingkah laku serupa yang dilakukan oleh para warga cukup meyakinkan siapapun bahwa disini benar-benar tak ada pesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini tak ada pesta, hanya perilaku Pak RT yang sering kali membikin gelak tawa para warga. Perilaku ketua RT seperti perilaku khas ketua RT umumnya di kampung Betawi—kocak dan asal njeplak!. Namun justru dari situlah sebuah kegiatan yang bukan pesta ini bisa dinikmati dan bahkan terjauh dari kelelahan yang menggelayut. Kelelahan mungkin sudah bergelayut diantara para anggota KPPS sejak semalam, yang lembur untuk mempersiapkan TPS dan perangkatnya. Akibat lembur inilah yang membuat Pak RT datang terlambat membuka acara pemungutan suara—tidak seberapa memang, hanya tujuh menit dari waktu yang sudah ditentukan oleh KPU, yakni pukul 08.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sudah kebiasaan yang menetap atau karena kurang istirahat, ketua RT sering kali salah ucap dalam menyebut nama warga yang akan bergilir memilih. Misal, pak RT memanggil dengan keras, “Royati!”, hampir semua pengunjung TPS terdiam, bahkan tak ada yang berdiri mendekat menuju meja KPPS, sebelum akhirnya ada warga yang mengingatkan bahwa yang dipanggil Pak RT maksudnya “Reniyati”. “Eh, yah, Reniyati” begitu Pak RT membenarkan, seraya melanjutkan dengan kesalahan mengeja nama untuk warganya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena TPS berada di lontrong yang biasa dipakai lalu lalang, Pak RT sempat kecelik. Pak RT memanggil dengan lantang, “Ristanto Wijaya!”, eh yang datang seorang perempuan. Kebetulan perempuan itu hanya numpang lewat pas di depan, mendekati meja KPPS. “Eh, dikire die..!” ucap Pak RT yang segera disambut tawa anggota KPPS yang lain dan sejumlah warga yang hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak RT, dengan posisinya sebagai pemuka warga itu, tentu merasa dekat dengan warganya. Demikian sebaliknya, warga seperti merasa diorangkan dengan sambutan akrab Pak RT. Namun, bukan Pak RT kalau tidak asal jeplak seperti berikut ini.&lt;br /&gt;“Hee…!” sambut Pak RT pada seorang anak muda yang baru hadir. “Dari Tebet jam berapa ya?” tanya Pak RT seketika pada anak muda tersebut yang mungkin bekerja atau punya tempat tinggal keluarga di Tebet.&lt;br /&gt;“Bukan dari Tebet, Pak. Tapi Depok!” jawab anak muda itu sekaligus mengonfirmasi informasi yang salah yang selama ini diketahui Pak RT tentang dirinya.&lt;br /&gt;“Oh, iya. Depok ya..” jawab Pak RT sekenanya, sambil melanjutkan memanggil warganya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang siang kursi lengang. Warga seakan menunda kedatangan. Pak RT dan anggota KPPS lainnya memanfaatkannya dengan menyantap makanan ringan yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu setempat. “Ayuh, ngopi yuh..” sapa Pak RT pada semua warga yang hadir.&lt;br /&gt;“Pak RT, tamu nih.. kotaknya mana?” tanya seorang warga sambil menunjuk kawannya yang baru hadir. Kotak yang dimaksud dalam hal ini adalah makanan ringan.&lt;br /&gt;“Kolak! Itu tuh, di warung!” jawab Pak RT dengan nada keras sembari menunjuk warung yang berada di dekat TPS. Seperti biasa, Pak RT menjawab sekenanya, yang dimaksud kotak, didengar Pak RT sebagai kolak.&lt;br /&gt;“Kolak, kaya puasa saja kolak,” jawab tamu yang ditawari. Sejenak hadirin di TPS tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Disini benar-benar tak ada pesta. Hanya ulah Pak RT yang membikin warganya tertawa-tawa. Sebuah kemeriahan yang tercipta spontan, seadanya, dan terbersit ketulusan sebagai endapan dari interaksi intens sesama warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, disini tak ada pesta, hanya perilaku warga pemilih yang membuat warga yang lain tidak bisa menahan gelak gembira. Ada seorang warga yang menjadi saksi bagi capres/cawapres tertentu. Ia hadir terlambat, namun pulang lebih cepat. Saat diminta menyaksikan dan menanggapi suara capres/cawapresnya yag tidak sah, ia hanya melongok sejenak, lalu bilang, “yah, saya percaya saja pada KPPS!” warga yang lain pun hanya mengoloknya, “menang atau kalah capres/cawapres yang didukungnya, dia tidak urusan, yang penting duit sebagai saksi sudah diterima!” warga yang lain sekilas tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada warga yang usai memasukkan kertas suara, hendak mencelupkan ujung kelingkingnya ke dalam secangkir kopi! Pasalnya, petugas KPPS yang melayani celupan tinta menaruh cangkir kopinya di sisi wadah tinta. Lagian, wadah tinta terlalu kecil dibanding cangkir kopi. “Bukan ini, ini kopi!” tegas petugas KPPS yang diiringi tawa warga di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang warga mengolok kawannya yang menjadi saksi salah satu capres/cawapres. Katanya, “memang saksi ikan asin di jemur!” Si saksi duduk di kursi yang tersiram kuyup panas matahari siang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga seorang warga perempuan paruh baya yang latah dalam berucap. Yang bikin orang lain tertawa karena kata yang keluar dari latahnya adalah alat kelamin laki-laki!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Disini benar-benar tak ada pesta. Hanya polah warga yang merayakan kemeriahan sederhana sekedar bumbu dalam pergaulan sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, kan? bahwa disini tak ada pesta, hanya warga yang lamat-lamat mendeklarasikan diri, semacam perayaan kecil-kecilan, dengan peralatan sederhana, sikap dan tingkah laku seadanya, bahwa dirinya adalah warga negara yang telah memenuhi kewajibannya: hadir di TPS dan menentukan capres/cawapres pilihannya. Mereka tidak terlalu berurusan apakah capres/cawapres yang dipilihnya akan menang atau kalah. Yang jadi urusannya adalah bahwa dirinya harus menggunakan hak suaranya di hari pemungutan suara. Mereka tidak terlalu berhadap banyak bahwa pasca Pilpres 2009 akan ada perubahan yang lebih baik pada kehidupannya sehari-hari. Bahwa terhadap kondisi apapun yang selama ini mereka alami, mereka telah memiliki sikap bahagia, ada atau tidak ada pesta! []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 8 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-7180394246517067865?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/7180394246517067865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/07/tak-ada-pesta-di-hari-pemungutan-suara.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/7180394246517067865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/7180394246517067865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/07/tak-ada-pesta-di-hari-pemungutan-suara.html' title='Tak Ada Pesta di Hari Pemungutan Suara'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-4180228260347044759</id><published>2009-06-14T20:01:00.000-07:00</published><updated>2009-06-15T18:53:22.298-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Pulau Galang dan Jejak Para Pengungsi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/SjW7JvqeduI/AAAAAAAAAGM/TsHXeVLbxdU/s1600-h/balerang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 230px; height: 159px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/SjW7JvqeduI/AAAAAAAAAGM/TsHXeVLbxdU/s400/balerang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347385908660172514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dengan luas hanya 125 km2, siapa yang kenal Pulau Galang? Mungkin tidak semua peta Indonesia memuatnya. Orang Indonesia pun belum tentu tahu kalau pulau Galang adalah salah satu dari ribuan pulau di Indonesia. Kami mengenalnya setelah melalui perjalanan yang sebentar dan tahu pula bahwa orang yang bukan warga negara Indonesia justru lebih mengenal dan memiliki ikatan batin pada pulau ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Galang berada 35 km dari Pulau Batam. Pulau Galang dan beberapa pulau yang lain di sekitarnya dihubungkan oleh jembatan Balerang—jembatan yang menjadi ikon Kota Batam. Pada masa gejolak perang Vietnam, sekitar 200 ribu para pengungsi dari Vietnam, Laos dan kamboja menghuni pulau ini. Kamp pengungsian pun didirikan oleh Komisi Tinggi PB untuk Pengungsi (UNHCR) untuk memenuhi hajat hidup para pengungsi di pulau ini yang berdiam sejak Mei 1979 sampai tahun 1996. Para pengungsi Vietnam ini dikenal dengan menyebut singkatannya, yakni Sinam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Pulau Galang 30 tahun kemudian –sejak pertama kali dihuni para pengungsi? Pulau ini kembali menjadi pulau yang tidak ramai. Sebagian besar tanahnya masih berupa hutan. Tanah merah dan berbatu tak cukup andal untuk pertanian. Tidak ada angkutan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;kota, kecuali bus gratis untuk para pelajar. Pelajar disini tidak mengandalkan jalan darat saja untuk berangkat sekolah. Karena tempat tinggal yana berjauhan, mungkin dari pulau yang berbeda, mereka juga menggunakan perahu untuk pulang-pergi sekolah. Kebanyakan para tamu yang datang ke pulau ini tak lain untuk melihat jejak-jejak para pengungsi yanng masih tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu yang semacam ini pun tidak terlalu banyak. Pulau galang dan beragam jejak para &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;pengungsinya tidak menyimpan nuansa objek wisata pada umumnya: ramai dan menyediakan hiburan. Pulau Galang seakan menghadiahi pengunjungnya dalam dua nuansa: tragedi kemanusiaan yang tragis pada satu sisi dan tindakan kemanusiaan yang tulus pada sisi yang lain. Sisi yang terakhir &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;tersebut tidak dibatasi oleh wilayah negara dan batasan administratif lainnya. Para pengungsi yang berada di Pulau Galang ini seakan menjadi ‘anak semua bangsa’ –meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer. Indonesia menjadi ‘bapak’ dari para pengungsi itu, walau hanya dalam waktu 17 tahun, sebelum akhirnya mereka dipulangkan kembali ke Vietnam pada tahun 1996. Adalah Huan Nguyen Cornwall, salah seorang bekas pengungsi (yang saat itu masih anak-anak) kini menjadi mahasiswa Univers&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ity of Washington, Seattle. Dalam perjalanan hidup yang panjang dan penuh was-was, ia akhirnya bermukim di Amerika Serikat, menjadi anak angkat keluarga Cornwell. Ia sempat berkunjung ke Pulau Galang, mengingat kembali rekaman masa lalu hidupnya yang pahit itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/SjW7hjWSJNI/AAAAAAAAAGU/Wuq7IcHLjU4/s1600-h/quan+am+tu.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 238px; height: 132px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/SjW7hjWSJNI/AAAAAAAAAGU/Wuq7IcHLjU4/s400/quan+am+tu.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347386317671113938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Jejak para pengungsi dikelola oleh Otorita Batam sebagai objek wisata sejarah. Untuk masuk ke&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;dalamnya, kami cukup merogoh 10 ribu rupiah untuk kendaraan roda empat. Dari dalam kendaraan, kami bisa menyaksikan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;jejak-jejak para pengungsi: barak, rumah sakit, sekolah, penjara, perahu, pelabuhan, tem&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;pat peribadatan (masjid, vihara dan gereja). Diantara jejak-jejak itu, hanya tempat ibadah yang masih digunakan oleh penduduk sampai saat ini.&lt;br /&gt;Di awal gerbang masuk, kami disambut oleh vihara Quan Am Tu. Suara talu terdengar berirama dari dalam vihara, tanda ada jemaat yang sedang beribadah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Saat mulai masuk, kami kembali disambut oleh gerombolan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;kera yang mendekati kami. Mungkin mereka mengira kami membawa banyak makan untuk mereka—saya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ngnya kami tidak bawa apa-apa. Pulau ini masih berupa hutan lebat dan kera-kera tentu tercukupi makanannya. Ulah mereka menarik perhatian kami dan memaksa kami untuk berhenti sejenak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Kami mulai menyaksikan barak-barak yang tampak tidak terpelihara. Beberapa atap terlihat rapuh, tak mampu menopang beratnya sendiri. Hanya beberapa barak yang masih kokoh dan rapi, walau tetap menyimpan kekusutan masa lalu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di suatu sudut kami menyaksikan pemakaman dengan nisan yang kokoh. Di tempat inilah sebagian orang pengungsi beristirahat selamanya—di suatu pulau dimana mereka berencana untuk tinggal sementara saja. Konon, karena tak kuasa menanggung pende&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ritaan sebagai &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;pengungsi dan ketakutan akan masa depan, banyak para pengungsi yang bunuh diri, bahkan ada yang membakar diri hidup-hidup di depan petugas PBB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/SjW710gnF9I/AAAAAAAAAGc/kksXZ8v8lIk/s1600-h/perahu+vietnam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 208px; height: 164px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/SjW710gnF9I/AAAAAAAAAGc/kksXZ8v8lIk/s400/perahu+vietnam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347386665875216338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Di bagian yang lain, kami menatap beberapa perahu yang ‘didaratkan’. Sayangnya, karena berada di alam terbuka dan hanya atap pelindung sekedarnya, beberapa perahu tampak rusak tak bisa menahan keasliannya. Kayu-kayu badan perahu itu lapuk oleh panas sinar matahari di Pulau Galang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Di suatu ruang pada bagunan yang digunakan untuk bagian &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;administrasi, kami bisa menyaksikan beberapa barang kerajinan tangan berupa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;tembikar dan lainnya yang merupakan buah tangan para pengungsi. Di beberapa bagian dindi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;ng, kami melihat foto-foto rekaman kejadian: kawanan muda membakar perahu—berharap mereka tidak dipulangkan ke Vietnam; kunjungan Presiden Soeharto ke Pulau galang tahun 1979; kepadatan pengungsi di pelabuhan; dan sebagainya.  Foto yang paling baru merekam rombongan kedutaan besar Vatikan untuk Indonesia yang berkunjung ke objek wisata ini—sembari merekam &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/SjW8JpQRYiI/AAAAAAAAAGk/AoALotWtm3I/s1600-h/gerbang+masuk.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 245px; height: 151px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/SjW8JpQRYiI/AAAAAAAAAGk/AoALotWtm3I/s400/gerbang+masuk.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347387006451278370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;jejak-jejak kemanusiaan para pengungsi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya pemerintah Otorita Batam melestarikan objek wisata ini, agar orang-orang di luar Pulau Galang dapat menyaksikan jejak tragedi kemanusiaan dan bersaksi bahwa yang tak manusiawi akan dibela dengan sikap manusiawi yang tanpa batas. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 14 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB. Untuk Abdul Mufallah, Yasni Atikah dan Reza Rizqy, minta izin foto-fotonya saya pakai. Ini tentang perjalanan kita.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-4180228260347044759?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/4180228260347044759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/06/pulau-galang-dan-jejak-para-pengungsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/4180228260347044759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/4180228260347044759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/06/pulau-galang-dan-jejak-para-pengungsi.html' title='Pulau Galang dan Jejak Para Pengungsi'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/SjW7JvqeduI/AAAAAAAAAGM/TsHXeVLbxdU/s72-c/balerang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-7675569744118895339</id><published>2009-01-22T20:52:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T21:58:35.880-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>SMA PLUS PGRI Cibinong: Melibas Batas Ruang Belajar</title><content type='html'>&lt;p&gt;Satu kalimat singkat tereja segera saat kami memasuki gerbang sekolah itu: sekolah yang mungil. Selanjutnya: yah, PGRI. Namun, dalam waktu yang tidak terlalu lama, stereotipe kami terbantahkan oleh fakta dibalik kata yang menyertai nama sekolah itu : Plus!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami segera menuju ruang kepala sekolah. Pintu kami buka. Beberapa orang terinterupsi kesibukannya, lalu menyambut kami. Tiada yang tersisa di papar wajah mereka selain senyum mengembang tanda keramahan. &lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;p&gt;Beberapa lama kami berdialoh dengan Drs Basyarudin Thayib, M.Pd. (kepala sekolah) dan Drs Agus Rohiman (Wakasek Urusan Kurikulum). Berpanjang-panjang kami mengkaji tentang pendidikan di Indonesia. Sejenak-jenak Pak Basyar mengupas kilas tentang kemajuan sekolah yang dipimpinnya. “Dahulu sekolah ini tidak ada apa-apanya, murid cuma 200 orang. Sekarang tahun ini kami menerima siswa baru sebanyak 540 orang”, kami belum saja menangkap nilai lebih sekolah ini. “Sekolah kami menerapkan Multiple Intelegence. Siswa digolongkan dalam 14 minat dan bakat mereka”, memang ketakjuban tidak cukup diterangkan dengan kata-kata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai obat penasaran, kami senang saja saat diajak mengamati sudut-sudut sekolah. Di ruang yang paling depan: kursi-kursi berjajar rapi memanjang. Sepertinya kursi itu hendak berkata bahwa setiap orang adalah tamu istimewa. Ruang tamu dengan pintu yang selalu terbuka.&lt;br /&gt;Kami melewati ruang istimewa lagi: ruang oval. Atapnya tinggi menjulang, berupa lingkaran bentuk oval warna keemasan. Di dalamnya, meja-meja terjajar rampat membentuk lingkaran oval. Di muka ruangan, meja tinggi dan kursi besar—seperti meja hakim di pengadilan—menghadap lingkaran meja oval itu. Di tepi kiri-kanan ruangan, piala warna keemasan tertata rapat sepanjang ruangan. Penilaian sekilas ruangan itu: bersih, rapi dan berwibawa. “Ini ruang guru. Salah satu cara untuk menghargai pendidikan itu dengan lebih dahulu menghargai guru” begitu alasan Pak Basyar seakan hendak membela guru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Disini biasanya juga kami gunakan untuk mengadakan seminar terbatas. Jika ada pakar datang, kami minta untuk berbicara di depan”, terang Pak Basyar sambil menunjuk ke meja kursi besar yang ada di muka ruangan. Sebuah ruang yang hendak diantar dalam aura akademis, bukan ruang padat serupa pasar penuh rumpian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di salah satu sudut sekolah kami jumpai ruang bertajuk research center. Disinilah para siswa yang disebut Kelompok Pembinaan Khusus (kopasus) IT melakukan kajian terhadap perkembangan IT. Ada meja tertata melingkar dengan beberapa monitor layar datar berdiri tegak menantang. Ada dua orang siswa duduk melantai sambil tangannya cekatan merakit komputer. Mungin ini workshop bagi para kopasus IT.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Jika komputer sekolah rusak siswa Kopasuslah yang memperbaikinya. Jadi kita tidak mengeluarkan biaya perawatan komputer. Sekolah yang berbasis IT itu bukan menyediakan komputer yang tersambung di segala ruang. Kalau ada biaya siapapun bisa. Yang saya lakukan adalah membina dan membentuk tim IT dari kalangan guru dan siswa.” Kata Pak Basyar sambil mengajak ke ruangan lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejenak kami tercengang. Beberapa siswa khidmat menatap komputer di depannya sambil mengutak-atik foto, animasi dan video. Di dalam ruangan itu, tersekat ciut studio radio sekolah: Pesat FM. Dua orang siswa sedang bercuap-cuap merdu menyapa pendengarnya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada halaman yang dikitari oleh gedung sekolah itu, pohon sawo dengan buah ranum merimbuni siapa saja yang duduk di bawahnya (pada tiap pohon sawo dilingkari oleh tempat duduk beton segi delapan). Saat itu sekelompok siswa memenuhi tempat duduk di bawah pohon sawo itu, dengan bukunya masing-masing. Ini hari sedang pelajaran matematika. Terdengar celoteh, tawa riang, dan aksi dorong di antara mereka. Sungguh hebat, pelajaran matematika dijalani dengan riang tawa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekolah bolehlah mungil, ruang kelas bolehlah membatasi interaksi. Namun, proses belajar yang dilakukan di sekolah ini menyeka batas-batas ruang sosial mereka. Sepertinya, siswa membuat halaman dan gedung sekolah ini sebagai ruang kelas mereka. Jadi tak heran jika sekolah ini tak memendam kesunyian. Siswa bisa ditemukan dimana-mana! &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masih bersama Pak Basyar, kami susur kelas demi kelas. Kami mengintip satu persatu kelas itu. Kami saksikan jelas, dinding-dinding kelas hampir-hampir tertutup rapat oleh gambar-gambar. Ya, ada grafiti di dalam kelas!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di salah satu kelas, siswa saling berkelompok dengan duduk berhadap-hadapan. Ya, ini bukan kelas tradisional yang seluruh siswanya wajib menghadap ke depan. Dalam belajar, interaksi antar orang yang terlibat dalam belajar itu tetap utama—untuk membentuk suasana belajar dan proses pembelajaran. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tampaknya, Pak Basyar dan para pendidik di sekolah itu menyadari ungkapan John Dewey. Dalam Democracy and Education ia berkata bahwa sebaiknya sekolah menyediakan lingkungan yang dimurnikan bagi anak (Counts, 2006). Dimurnikan berarti juga menyisihkan segala paham, nilai, sikap dan perilaku yang tidak menguntungkan bagi anak dalam melakukan proses belajar. Termasuk paham, nilai, sikap dan perilaku yang rujukannya hanya diukur dalam takaran orang dewasa. Disini anak bisa lebih berekspresi (menggrafitikan dinding kelas), berinteraksi (belajar bersama dengan menyenangkan) dan beraktualisasi (mengkais-kais potensi dirinya dalam IT dan keminatan yang lain). Ya, lingkungan di sekolah ini memang murni untuk anak didiknya sendiri. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini tidak butuh waktu lama bahwa akhirnya kami terkagumi oleh suasana belajar di sekolah itu: belajar multimedia, belajar di ruang terbuka, belajar kelompok. Semua itu dilakukan dalam rangka melibas sekat pembatas ruang belajar yang masih dianut kebanyakan sekolah selama ini. Benar-benar plus! &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wisma Kodel, 22 Januari 2009&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-7675569744118895339?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/7675569744118895339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/01/sma-plus-pgri-cibinong-melibas-batas.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/7675569744118895339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/7675569744118895339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/01/sma-plus-pgri-cibinong-melibas-batas.html' title='SMA PLUS PGRI Cibinong: Melibas Batas Ruang Belajar'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-6564828921366415093</id><published>2009-01-22T20:48:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T20:52:40.827-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Sekolah Alam Ciganjur: Sekolah yang Benar-benar Waktu Luang</title><content type='html'>Jam 07.30 pagi. Tiap hari bukan pagi yang terburu-buru. Pada saat banyak siswa di Jakarta bergegas mengejar kelas jam 6.30, disini, siswa berangkat satu jam lebih siang. Disini, siswa bukan disambut dengan kelas persegi panjang yang sempit, berderet meja kursi seragam tertata, dan papan hitam tersandar di muka, tapi dengan padang lapang kehijauan, dengan saung serupa panggung, dan tempat bermain yang bisa dipakai kapanpun sempat. Tanpa meja kursi, tanpa sekat pembatas kelas. Mungkin siswa disini tidak merasa masuk sekolah. Apalagi mereka tidak mengenakan pakaian seragam sekolah. Di lain pihak sementara orang menyangsikan: apakah yang semacam ini benar-benar sekolah?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pagi pun tidak disambut dengan guru yang menanya tugas atau pekerjaan rumah, sambil secepat kilat mengeluarkan bertumpuk buku dalam tas. Pagi memang harus dinikmati. Dan para siswa menikmati pagi dengan bercerita ringan sehari-hari. Mereka berbincang pagii: tentang peristiwa kemarin, perasaan hari ini, maupun rencana yang akan dilakukan sepanjang hari. Para guru di sekolah itu menamai dengan morning talk.&lt;br /&gt;Bagi sebagian orang, namanya tidak lagi jarang terngiang: Sekolah Alam Ciganjur. Kami ingin sedikit bertukar cerita tentang sekolah itu. Tentu hanya kilas sepintas, berdasar pengalaman kami bertamu sejenak di sekolah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berbelok ke kanan segera saat masuk pintu sekolah. Ada saung yang dibangun dengan teratak tangga yang lebih tinggi. Di lantai saung itu, ada satu komputer menyala dengan perempuan muda di depannya. Sedang mengerjakan administrasi siswa. Kami disambut, lalu duduk di alas karpet. Ini kantor sekolah itu. Tanpa meja, tanpa tempat duduk, hanya menggelosor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran melayangkan tubuh-tubuh kami berkeliling di area yang luasnya 6.800 meter persegi itu. Dengan ditemani mang Pepen dan mang Asep, kami berjalan pelan sambil berkeliling sekolah. Jalan setapak, diplester. Disekelilingnya rumput-rumput hijau membungkus muka tanah. Beberapa pohon rambat mengatapi jalan setapak itu.&lt;br /&gt;Kami dipergoki oleh antrian siswa yang hendak lewat. Ini siswa mungkin sedang mengikuti pelajaran olah raga. Atau mungkin bukan, karena di sini kapanpun para siswa bisa olah raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah saung, siswa TK A sedang duduk mengantri. Berturut-turut seperti gerbong kereta yang sambung menyambung. Sesekali tawa kecil membahana dari siswa yang sengaja mendorongkan tubuhnya ke belakang mengenai temannya. Di pangkal antrian, seorang siswa dan guru sedang menghadap adonan dari tepung. Saat siswa di pangkal antrian selesai membuat rupa adonan, ia bergegas menuju ujung antrian. Begitu seterusnya mereka belajar membuat adonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saung yang lain, sekelompok siswa mencari tempat masing-masing untuk sebuah kerja di tangan: alas dari papan yang menjepit selembar kertas di atasnya. Mereka sedang belajar menyalin huruf latin. Ada yang menunggingkan pantatnya di lantai saung, ada yang duduk di tangga, ada yang di pinggir jalan setapak, ada juga yang masih berlarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian lain, di sudut sekolah, terhampar lapangan bola. Dua orang siswa sedang bermain sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak waktu, kami menyalami beberapa siswa. Kami menatap mata mereka, mereka pun menatap mata kami. Uluran tangan langsung disambut. Nyaris tak ada rasa minder terbersit di wajah cerah mereka. Yang tersisa hanya ketegaran dan rasa ingin tahu yang lebih dalam pada kami, walau belum sempat kata-kata terucap dari mulut mereka yang menganga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ketinggian, seorang siswa perempuan sedang menaiki teratak dari tali. Tiada ragu kaki menginjak, tak ada waktu untuk sesaat menengok ke bawah. Ia seperti sudah biasa dengan ketinggian. Ya, mereka, siswa yang lebih besar (mungkin kelas 5 atau 6) sedang khusyu bermain &lt;em&gt;flying fox&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kami datang tanpa diundang, kami datang tanpa memberitahu rencana kunjungan. Kesimpulan sederhana kami, apa yang kami lihat saat itu adalah apa yang terjadi setiap hari di sekolah itu. Ini sekolah atau tempat bermain?&lt;br /&gt;Sekolah secara harfiah berarti ‘waktu luang’, berasal dari bahasa Latin, skhole, scola, scholae atau schola. Apa kegiatan yang paling tepat untuk mengisi waktu luang bagi anak-anak selain bermain-main?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, orang Yunani tempo dulu biasanya mengisi waktu luang mereka dengan mengunjungi suatu tempat atau seseorang yang pandai. Mereka menanyakan dan mempelajari ikhwal yang mereka rasa butuh diketahui. Mereka meyebut kegiatan itu dengan istilah di atas. Keempatnya punya arti yang serupa: waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar—leisure devoted to learning (Topatimasang, 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Sekolah Alam Ciganjur, para siswa datang ke tempat itu. Mereka menghabiskan waktunya untuk bermain: adonan, sepakbola, flying fox. Dengan bantuan para guru, mereka bermain tidak sekedar bermain, tapi ada pelajaran yang bisa didapat dari permainan itu. Di sekolah itu mereka bersenang-senang, bahkan mungkin lupa bahwa mereka sebenarnya sedang mempelajari sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah saung, ada gambar-gambar ikan yang ditempel melingkar pada lantainya. Fungsinya untuk membantu siswa agar bisa berdiri melingkar bulat teratur—sesuatu yang tidak mudah bagi anak usia 4-5 tahun. Dipakai setiap hari untuk mengakhiri jam pelajaran. “Itu baru kami terapkan”, ujar mang Asep, sambil menujuk gambar ikan yang ditempel melingkar itu. Sungguh, ternyata, di sekolah ini siswa dan guru saling belajar sesuatu yang baru—yang layak diketahui dan dijalani bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dinyana, kami teringat sekolah Summerhill yang didirikan A.S. Neill di London tahun 1921. “Menurut saya anak punya watak dasar bijaksana dan realistis. Kalau dibiarkan tanpa campur tangan apapun dari orang dewasa, ia akan berkembang sejauh potensinya memungkinkan. Secara logis, di Summerhill, barangsiapa punya potensi dan ingin jadi intelektual, ia akan jadi intelektual. Barangsiapa yang hanya cocok menyapu jalanan akan menyapu jalanan. Namun sejauh ini kami tidak menghasilkan segerombolan tukang sapu jalan.” Begitu ujar Neil (2006). Di Sekolah Alam Ciganjur, para siswa belajar dengan caranya sendiri dan tentang apa yang ingin mereka ketahui bersama. Jadi jangan heran jika ada siswa yang belajar sambil tiduran sementara yang lain hidmat menatap wajah guru. “Saya mendengarkan kok, Bu” begitu jawab seorang siswa yang belajar sambil berbaring, dan guru pun membiarkan ia belajar dengan caranya yang khas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa sekolah ini berbeda dengan jamak sekolah yang lain? Ingin menawarkan sistem yang baru, mungkin. Tapi, ini pasti menyangkut salah satu pemberatan dari dua aspek pengalaman manusia: aspek logis dan psikologis (Dewey, 2006). Pada saat banyak sekolah memberati aspek pertama: dengan membebankan pelajaran atau bidang studi agar bisa menjawab Ujian Nasional, sekolah ini memilih pemberatan pada aspek kedua: bahwa pelajaran sekolah memang benar-benar mengikuti tumbuh kembang kepribadian anak. wallahua’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisma Kodel, 21 Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-6564828921366415093?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/6564828921366415093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/01/sekolah-alam-ciganjur-sekolah-yang.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6564828921366415093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6564828921366415093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/01/sekolah-alam-ciganjur-sekolah-yang.html' title='Sekolah Alam Ciganjur: Sekolah yang Benar-benar Waktu Luang'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-4738018274399668604</id><published>2009-01-08T19:21:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T19:30:28.161-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Ternyata, Beragama Butuh Bijaksana</title><content type='html'>Bahwa agama mengajarkan kebaikan, setiap orang mengakuinya—bahkan sudah jadi aksiomatik. Bahwa agama mengajarkan kebijaksanaan, lebih tidak mudah ditemukan faktanya karena seorang penganut agama yang baik pun belum tentu seorang yang bijaksana. Ini simpulan sederhana yang saya buat dari pertemuan singkat antara dua orang yang sudah tidak lagi dibilang muda, lengkap dengan jenggot putihnya, yang hendak menemui seorang tua pada sebuah kantor di sebuah gedung di bilangan Kuningan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang tua bergegas masuk di ruang tamu kantor itu. Pada jam kantor, tidak semua orang tamu berpakaian a la kantor zaman sekarang. Dua orang tua itu bukan memakai piyama necis, berdasi dan sepatu hitam mengkilap—sebagaimana dikenakan jamak orang yang berlalu lalang di gedung itu. Keduanya memakai baju gamis putih (sebut saja Orang Tua Bergamis), yang ujung kainnya hampir bersepadu dengan ujung lutut, dan sendal sepantasnya—sebagai alas bagi kaki. Dua orang itu menguluk salam, disambut oleh penghuni kantor itu, yang juga orang tua (sebut saja Orang Tua Penghuni Kantor), penuh persahabatan. Mungkin mereka sahabat lama sejak muda.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cerita punya cerita, kedua Orang Tua Bergamis bermaksud sebagai penyampai (mubaligh) pada orang yang ditemuinya itu. Orang Tua Bergamis pertama berujar, "Pak, banyak orang mengaku sudah berbuat untuk Islam; mendirikan masjid yang layak, menyantuni orang miskin, membuat sekolah atau universitas untuk kemajuan pendidikan umat Islam. Tapi sebenarnya mereka itu belum berbuat untuk Islam. Merka hanya berbuat untuk orang Islam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terheran-heran dengan pandangannya itu. Sungguh benar-benar menempatkan pelaku kebaikan pada derajat yang paling rendah. Yang diajak bicara, Orang Tua Penghuni Kantor, adalah orang yang dengan gigih turut serta mendirikan dua universitas di Jakarta. Mungkin Orang Tua Penghuni Kantor tersindir oleh ungkapan Orang Tua Bergamis itu.&lt;br /&gt;"Orang yang berbuat untuk Islam itu mengajak orang Islam untuk ber-Islam yang sesungguhnya. Dalam hal ini yang saya lakukan adalah mengajak orang Islam untuk sholat lima waktu di awal waktu. Lalu, apa yang sudah bapak perbuat untuk Islam?" imbuh Orang Tua Bergamis pertama. Orang Tua Bergamis kedua mengiyakan dengan memberi imbuhan-imbuhan kata yang seadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Tua Penghuni Kantor giliran menjawab, "Pak, saya ingin cerita. Saya pernah diundang dalam suatu acara bedah buku. Seseorang mengajak saya untuk hadir. Buku itu berisi kumpulan tulisan para kaum muda yang saya tidak begitu kenal. Setelah kata sambutan usai, saya dipanggil untuk maju ke depan. Sambil membawa buku, seorang panitia menyerahkan buku itu pada saya dengan berkata,'Pak, buku ini kami tulis untuk Bapak, atas jasa Bapak yang memberi inspirasi bagi kami-kami yang muda ini'. Saya terheran-heran, buku ini ditulis untuk saya dari orang yang hampir semua tidak saya kenal. Saya juga terheran-heran, apa yang saya lakukan ternyata menimbulkan inspirasi bagi mereka. Saya tidak mengajak apapun pada mereka untuk berbuat sesuatu yang saya inginkan. Saya pun tidak mengajak mereka untuk sholat karena saya yakin mereka sudah pada sholat semua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua Orang Tua Bergamis itu pun diam seiring usainya bicara Orang Tua Penghuni Kantor itu.&lt;br /&gt;"Bagi saya, apa yang saya kerjakan ini saya yakini sebagai ibadah. Kalau da'wah anda mengajak orang Islam untuk sholat, da'wah saya dengan melakukan apa yang saya kerjakan dengan baik", begitu Orang Tua Penghuni Kantor menambahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai pembicaraan di atas, Orang Tua Bergamis memulai pembicaraan baru, "bagaimana kabar pak Dawam, apa masih sakit ya?""Pak Dawam sudah sehat. Ia masih berda'wah. Da'wahnya tidak mengajak orang untuk sholat, tapi mengajak orang untuk berdamai, menyeru pada perdamaian" begitu Orang Tua Penghuni Kantor mengakhiri perdebatan kecil di kantor itu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-4738018274399668604?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/4738018274399668604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/01/ternyata-beragama-butuh-bijaksana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/4738018274399668604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/4738018274399668604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2009/01/ternyata-beragama-butuh-bijaksana.html' title='Ternyata, Beragama Butuh Bijaksana'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-2088386990235272155</id><published>2008-12-17T19:53:00.005-08:00</published><updated>2008-12-20T01:20:29.006-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Dimana Tangan-tangan Tuhan itu?</title><content type='html'>&lt;em&gt;Saya menghadiri sebuah seminar pagi itu. Diadakan oleh MK. Dengan sebab-sebab tertentu saya datang di seminar itu. Tanpa referensi yang dalam atas tema dan pembicara seminar, saya melenggang dengan harapan pengetahuan dan pengalamanku makin tertambah. saya punya alasan pembenar: jangan melihat siapa yang bicara, tapi apa yang dibicarakan. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Ternyata yang bicara adalah Jakob Tobing. Mantan politisi PDIP yang dibesarkan di Golkar. mungkin MK mempersembahkan seminar itu hanya untuk Tobing. Atau sebaliknya, Tobing menganugerahkan seminar itu untuk MK. Yang terang, tangan saya menenteng tas berisi dua buku baik dan tebal yang ditulis Tobing dan diterbitkan MK. Yang terang, saya mengakhiri seminar itu dengan makan siang yang lebih lama dari biasanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan pembahasannya--yang sebenarnya lebih berguna bagi penyuka bidang hukum. Seminar membahas evalusasi di sana sini tentang perubahan UUD 1945 yang menginjak kurun 10 tahun--dari pertama kalinya diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menikmati secangkir kopi campur cream yang disuguhi panitia (seperti biasa, perempuan-perempuan muda) saya mendengar sayup-sayup sampai kajian Tobing itu. Dalam kesayupan, saya menelisik dibalik laman buku itu. satu satu saya balik pagina buku. Dan, sebagaimana ketertarikan pecinta psikologi umumnya (atau psikologi naif?), saya mengamati otobiografis pergulatan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertarik pada dua subtema: masa titik baliknya dari 'orang biasa' menuju pentas politik. Dan, kedua, bagaimana orang lain (teman-temannya) mengupas kilas tentang pribadi Tobing.&lt;br /&gt;Ternyata ia menjadi anggota DPR dalam usai 24 tahun! Lebih muda tiga tahun dari usia saya saat ini. Walau dari utusan golongan, setidaknya ia sudah punya peran menonjol sejak masih mahasiswa dulu. ia utusan pemuda dari Bandung, bersama Rahmat (?) Tolleng dan kawan-kawannya yang lain. Di DPR lah ia berada, sampai usianya diantar menuju tua (hampir 30 tahun sebagai politisi). Sampai sekarang, ia dikenal sebagai politisi senior yang kemampuan diplomasinya (saat ini ia seorang diplomat) tidak bisa diabaikan. Yang kesabaran dalam menghadapi orang, mungkin, lebih Jawa dari orang Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sudut dalam sampul bukunya, Tobing menera, "Saya ingin memberikan sebuah testimoni bahwa semua tugas yang diberikan kepada saya itu datang dengan sendirinya menghampiri saya, bukan sesuatu yang saya kejar dengan daya upaya dan cara. oleh karena itu saya selalu berusaha memahami pasti ada campur tangan Tuhan dalam perjalanan hidup saya itu..." (Beruasaha Turut Melayani, Memoar Politik Jakob Tobing, 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tiba-tiba teringat buku &lt;em&gt;The Secret&lt;/em&gt;-nya Rhoda Byrne, &lt;em&gt;Visualisasi Kreatif&lt;/em&gt;-nya Shakti Gwain, dan &lt;em&gt;Sang AlKemis&lt;/em&gt;-nya Paulo Coelho. Sebatas tangkapan saya, semuanya mengajarkan keyakinan atas sesuatu yang kita inginkan. Tentu, dengan mengurangi deprivasi keinginan kita itu, mendekatkan diri pada keinginan itu, melalui usaha-usaha yang tekun dan sonder kata menyerah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Paulo Coelho, &lt;em&gt;"...when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it..."&lt;/em&gt; (The Alchemist, p.6).&lt;br /&gt;Namun, saat ini saya masih menanya pada diri saya sendiri: dimanakah Tangan-tangan Tuhan itu? Mungkin pertanyaan ini juga mengena pada para 'calon politisi' yang hendak melenggang di DPR, dengan segala jerih yang payah, dalam hitungan beberapa puluh hari lagi...&lt;br /&gt;Hatur salam buat Mas Joko, mas Fami, Kang Aris... Bener-bener Wonge Dewek.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-2088386990235272155?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/2088386990235272155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/12/dimana-tangan-tangan-tuhan-itu.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/2088386990235272155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/2088386990235272155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/12/dimana-tangan-tangan-tuhan-itu.html' title='Dimana Tangan-tangan Tuhan itu?'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-4333898587103421683</id><published>2008-11-29T20:20:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T21:19:20.685-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lagu'/><title type='text'>"You Raise Me Up"</title><content type='html'>When I am down and, oh my soul, so weary;&lt;br /&gt;When troubles come and my heart burdened be;&lt;br /&gt;Then, I am still and wait here in the silence,&lt;br /&gt;Until you come and sit awhile with me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You raise me up, so I can stand on mountains;&lt;br /&gt;You raise me up, to walk on stormy seas;&lt;br /&gt;I am strong, when I am on your shoulders;&lt;br /&gt;You raise me up... To more than I can be.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;You raise me up, so I can stand on mountains;&lt;br /&gt;You raise me up, to walk on stormy seas;&lt;br /&gt;I am strong, when I am on your shoulders;&lt;br /&gt;You raise me up... To more than I can be.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is no life - no life without its hunger;&lt;br /&gt;Each restless heart beats so imperfectly;&lt;br /&gt;But when you come and I am filled with wonder,&lt;br /&gt;Sometimes, I think I glimpse eternity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You raise me up, so I can stand on mountains;&lt;br /&gt;You raise me up, to walk on stormy seas;&lt;br /&gt;I am strong, when I am on your shoulders;&lt;br /&gt;You raise me up... To more than I can be.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You raise me up, so I can stand on mountains;&lt;br /&gt;You raise me up, to walk on stormy seas;&lt;br /&gt;I am strong, when I am on your shoulders;&lt;br /&gt;You raise me up... To more than I can be.&lt;br /&gt;You raise me up... To more than I can be.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sumber: azlyrics.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-4333898587103421683?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/4333898587103421683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/11/you-raise-me-up.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/4333898587103421683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/4333898587103421683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/11/you-raise-me-up.html' title='&quot;You Raise Me Up&quot;'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-6411303670796212236</id><published>2008-11-29T20:09:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T20:15:31.782-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Memiliki atau Menjadi Presiden?</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Elite baru Indonesia oleh Sukarno secara bersenda gurau sering disebutnya sebagai orang-orang yang berlaku seperti pemegang saham dalam sebuah perseroan terbatas yang bernama Republik Indonesia.&lt;/em&gt; (Onghokham, 1994) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;Sebutan pemegang saham kepada elite baru Indonesia kala awal kemerdekaan tentu hanya kiasan yang bisa dirasakan, lebih-lebih, oleh Sukarno sendiri. Pada awal pendirian republik ini, peran elite pemerintah sangat menentukan kokoh rapuhnya republik yang baru seumur jagung. Elite pemerintah masa itu berperan besar dalam proses political establishment agar negara yang baru terbentuk tidak urung berdiri.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Fenomena politik terkini menyegarkan kembali geguyon Sukarno itu. Elite politik saat ini menampilkan aksen yang kasat mata dan tak lagi tabu bahwa seakan-akan merekalah pemegang saham dari perseroan terbatas yang bernama Republik Indonesia. Mereka seperti pemilik penuh atas saham republik ini—yang tentu Sukarno, Hatta, Syahrir, Wahid hasyim, dan elite baru saat itu tidak merasa mewarisinya. Saat elite politik menunjukkan perilaku yang membenarkan kiasan Sukarno itu, geguyon di atas sudah tidak lagi lucu, namun ironis.&lt;br /&gt;Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2009, satu persatu tampil para tokoh yang mencalonkan diri sebagai presiden. Baru kali ini saja, tidak sebelum-sebelumnya, jabatan presiden diminati oleh sekian banyak orang. Elite politik generasi tua dan yang lebih muda beradu debut dalam kontes yang diadakan lima tahun sekali ini. Dalam kacamata positif, banyaknya calon presiden dimaknai sebagai kesadaran masyarakat atas kepedulian, pengorbanan dan pengabdiannya kepada bangsa. Namun, pemaknaan tersebut makin buram oleh perilaku para calon yang, seakan-akan, ingin memiliki saham atas republik ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Demi mendongkrak rating, para calon presiden tiada henti mengiklankan diri di media cetak dan elektronik. Demi, menumbuhkan simpati, para calon presiden bersafari menjelajah negeri, menyambangi rakyat yang akan jadi pemilihnya. Demi mengamankan diri agar diusung sebagai calon presiden, mereka membidani partai politik baru. Demi meningkatkan popularitas, mereka mendeklarasikan diri sebagai presiden atau dideklarasikan oleh partai yang mengusungnya. Demi langgengnya kepemilikan atas republik, calon presiden memerankan politik keluarga: menempatkan anggota keluarganya dalam daftar calon anggota legeslatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tanggung-tanggung, UU Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden dibuat sebagai sarana yang memungkinkan jalan mulus memiliki republik ini. Persyaratan perolehan kursi minimal 20 persen di DPR atau 25 persen suara sah dalam pemilu DPR bagi partai atau gabungan partai yang hendak mengusung pasangan calon presiden-wakil presiden adalah jaminan bagi elite politik untuk memiliki republik ini. Sementara, partai politik atau fraksi yang menyatakan nota keberatan (minderheidsnota) atas penetapan UU Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden adalah indikasi bahwa kepemilikan atas republik ini berada dibawah ambang aman. Adanya ingar bingar pengajuan uji materi (judicial review) atas UU Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden oleh partai politik maupun calon presiden hanyalah langkah awal, sedemikian rupa, agar dibela hak-haknya untuk menjadi komisaris bagi perusahaan bernama Republik Indonesia. Rangkap jabatan presiden dan wakil presiden dalam partai politik yang tidak diatur dalam UU adalah garansi bagi siapa saja yang terpilih untuk sepenuhnya menikmati kepemilikan atas republik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Presiden: Otoritas yang dimiliki?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pemilihan umum presiden dan wakil presiden merupakan sarana kontrak sosial antara pihak yang memercayai (rakyat) dan yang dipercayai (presiden terpilih). Pihak perantara, dalam hal ini penyelenggara pemilu memungkinkan proses pemercayaan diantar keduanya. Pemilihan presiden dan wakil presiden memunculkan otoritas atas kekuasaan. Namun, proses pemilihan tersebut tidak sepenuhnya menjamin apakah calon yang terpilih ‘memiliki’ otoritas atau ‘menjadi’ otoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otoritas sebagai kepemilikan hanya memandang jabatan presiden sebagai sandangan formal belaka. Jabatan presiden diperoleh akibat telah dipenuhinya prosedur formal dalam pemilihan presiden. Para calon tidak terlalu berurusan apakah terpilihnya sebagai presiden karena strategi pencitraan diri (self-image) : sosok yang dipoles gagah dan tampan, stimulus yang dikondisikan dengan menampilkan sepositif mungkin kepribadiannya di media massa maupun merebut simpati sesaat dengan memberikan bantuan sosial yang penuh pamrih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otoritas sebagai kepemilikan tidak bertahan lama. Otoritas yang menyertai sosok presiden, baik dalam kepemimpinan, kebijaksanaan dan keahlian dalam mengelola kepentingan publik didapat karena atribusinya sebagai presiden. Sayangnya, otoritas itu dimiliki hanya selama masa jabatannya sebagai presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden dengan otoritas kepemilikan ini tumbuh dari dorongan untuk memenuhi ego diri. Ego diri bisa berupa pemenuhan kepuasan atas identitas, harga diri, status sosial, kekayaan, dan citra diri—yang cenderung hanya angan-angan berlebihan. Pencitraan diri calon presiden di media massa yang terlihat ramah, simpatik dan berada di pihak rakyat hanyalah luapan ego diri yang masih dalam bayangan dan sejatinya belum tentu bisa bersikap demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemunculan ego diri ini tidak lepas dari refleksi atas konteks sosial di sekitarnya. Bisa saja seseorang mendeklarisir sebagai presiden dari kesadaran terdalam atas keprihatinannya terhadap republik ini. Namun, tidak bisa dipungkiri kalau ego sebagai calon presiden timbul dari segelintir orang-orang pendukungnya—yang seakan mewakili seluruh elemen masyarakat. Para pendukungnya inilah tim sukses yang turut serta menikmati kekuasaan dan aset-aset yang dimiliki republik. Jika ego diri berkuasa, para calon presiden tidak sungguh-sunggug jadi presiden. Mereka sedang merencanakan agenda besar, dengan otoritas kepemilikannya, hendak memiliki negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menjadi presiden&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Telah banyak telaah eksistensial yang mengulas proses memiliki &lt;em&gt;(to have)&lt;/em&gt; dan menjadi &lt;em&gt;(to be)&lt;/em&gt;. Erich Fromm mengulas dalam bukunya &lt;em&gt;To Have or to Be&lt;/em&gt; (1976, terjemah Indonesia berjudul &lt;em&gt;Memiliki dan Menjadi&lt;/em&gt;, LP3ES, 1987). Dengan merujuk pendapat Fromm, ‘menjadi’ presiden bukan hanya berdasarkan kompetensi seseorang untuk melakukan tugas-tugas kepresidenan, tetapi juga berdasarkan esensi kepribadian yang telah mencapai tingkat pertumbuhan yang matang dan integritas yang tinggi. Ada semacam intensionalitas pengalaman yang tinggi. Bukan sekedar mematut-matut diri sebagai calon presiden dan melakukan beberapa putaran kampanye untuk memeroleh sebesar-besar suara pemilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan untuk mencalonkan diri sebagai presiden bukanlah pilihan yang sederhana. Tentu para calon sudah mempertimbangkannya dengan matang. Namun, adakah kesempatan bertanya ulang bahwa pencalonan dirinya sebagai presiden memerlukan kematangan pribadi dalam pengalaman dan integritas? Orang-orang yang matang pribadinya, mungkin, telah menjadi presiden –dalam hal pengalaman dan integritasnya sebagai pemimpi n atau guru bangsa—bahkan sebelum ia menjadi presiden. Yang terjadi saat ini justru sebaliknya, orang ramai memantaskan diri sebagai presiden jauh sebelum –atau bahkan belum tentu—menjadi presiden.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-6411303670796212236?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/6411303670796212236/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/11/memiliki-atau-menjadi-presiden.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6411303670796212236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6411303670796212236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/11/memiliki-atau-menjadi-presiden.html' title='Memiliki atau Menjadi Presiden?'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-6366709555086166485</id><published>2008-11-29T19:59:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T20:16:00.375-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Wartawan, Wartawan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Seorang lelaki muda berkacamata memasuki ruangan. Ia hendak mewawancarai seorang pejabat teras di kantor itu. Di ruangan itu, dengan pejabat teras, ia bercakap hangat. Lima belas menit kira-kira. Saya tidak tahu apa yang dibicarakan mereka. Dengar punya dengar, pejabat teras di kantor itu diminta pendapatnya tentang isu hangat menjelang pemilu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, pendapatnya akan dimuat sebagai berita di sebuat koran tempat pemuda itu bekerja—bekerja sebagai wartawan. Usai mewawancara, pemuda berkacamata itu mendapat oleh-oleh secarik amplop yang diberikan oleh staf pejabat kantor itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu dan tempat yang lain, seorang pemuda yang berperawakan kurus datang di suatu seminar pagi-pagi—saat yang lain masih terjebak macet di jalan-jalan kota Jakarta. Akunya, Ia datang atas permintaan panitia. Ia mendaku sebagai koordinator liputan dari para wartawan berbagai media, baik cetak maupun elektronik, yang akan meliput jalannya seminar pagi itu. Saat seminar belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, pemuda kurus itu mendekati panitia, mengurus amplop-amplop yang akan diberikan pada para wartawan yang meliput seminar pagi itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Wartawan. Sebuah profesi yang bagi saya sangat mengesankan. Ejaan namanya tidak jauh dengan ‘Hartawan’. Keduanya sama-sama kaya, namun berbeda pemilikan. Wartawan kaya warta, hartawan kaya harta. Bagi siapa saja, segala yang kaya tetap menyisakan kilau di mata. Saya sempat disilaukan pada wartawan. Saat kecil saya dulu, karena terpana oleh keagungan profesi itu: bercita-cita sebagai wartawan saat saya besar kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kecil punya anggapan sendiri tentang wartawan. Wartawan itu cerdas. Ia bisa menanya sesuatu dengan pertanyaan lugas dan mengalir, bahkan narasumber tidak bisa menjawabnya. Wartawan itu bisa dekat dengan para pejabat. Ia bisa menyanya informasi dari para pejabat dengan sedemikian akrab. Sebagaimana anak kecil yang lain, saya kecil tidak berpikiran kemampuan apa yang harus dimiliki seorang wartawan. Bagi saya kecil, menjadi wartawan adalah semacam keinginan. Atau bahkan angan-angan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya kecil, angan-angan—atau yang umumnya disebut cita-cita– punya hukumnya sendiri. Ia penuh dengan kepolosan, sebagaimana pikiran saya kecil waktu itu. Saya kecil punya citra ideal atas figur yang saya cita-citakan itu. Wartawan adalah figur ideal tanpa cela, yang bagi saya kecil layak untuk menjadi figur itu saat besar kemudian.&lt;br /&gt;“Bu, bagaimana cara menjadi wartawan?” saya menanya kepada Bu Rahayu, guru bimbingan konseling saat saya beranjak kelas 2 SMP. Saya kecil ingin mengobati penasaran apakah menjadi wartawan punya pendidikan khusus—semacam sekolah kejuruan. Maklum, saat itu di lingkungan saya, sekolah kejuruan adalah jalan mulia untuk memperbaiki nasib hidup keluarga.&lt;br /&gt;“Kalau mau jadi wartawan ya harus masuk SMA” begitu jawab guru saya itu dengan meyakinkan.&lt;br /&gt;“Lantas, setelah lulus SMA?” Saya tambah penasaran dengan jawaban yang dilontarkan guru saya itu.&lt;br /&gt;“Ya tinggal melamar kerja sebagai wartawan” sambungnya. Kira-kira begitu sepenggal dialog tentang cita-cita saya kecil dahulu. Masih jelas teringat, karena sejak itulah saya memaksa diri mendeklarisir cita-cita saya itu. “Mudah sekali jadi wartawan” ungkap saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata jadi wartawan tidak semudah itu. Yang saya maksud bukan pada jenjang pendidikan formal yang harus ditempuh, tapi pada pendidikan ‘informal’ yang harus dilalui sebagai wartawan. Bahwa menjadi wartawan ternyata tidak sekedar dikerumuni oleh banyaknya kelebihan-kelebihan (bagi saya kecil: cerdas) dan segala sesuatu yang menyenangkan (bagi saya kecil: bertemu leluasa dengan pejabat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan itu kaya berita, tapi tidak sedikit wartawan yang ingin kaya harta, sonder berita. Wartawan itu kepribadian, bukan sekedar profesi—yang darinya seseorang bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Wartawan itu objektif atas nilai sebuah berita (news value), bukan subjektif atas berita—bahwa peristiwa atau sumber berita layak diwartakan kalau menjanjikan keuntungan buat dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, saya masih memendam (walau tidak terlalu dalam) cita-cita kecil saya itu. Semoga saya bisa menjadi ‘wartawan’ walau tidak menjadi wartawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-6366709555086166485?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/6366709555086166485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/11/wartawan-wartawan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6366709555086166485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6366709555086166485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/11/wartawan-wartawan.html' title='Wartawan, Wartawan'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-1306597088574699275</id><published>2008-11-28T10:35:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T13:55:31.750-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kajian Buku'/><title type='text'>Buku Resep Pengajaran Moral</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STFr0xY3woI/AAAAAAAAAF4/HqNoYY5I2eQ/s1600-h/b.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274115192982585986" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 160px; CURSOR: hand; HEIGHT: 232px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STFr0xY3woI/AAAAAAAAAF4/HqNoYY5I2eQ/s400/b.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Melalui renungan-renungan puitisnya, Kahlil Gibran dikenal sebagai salah satu dari berderet nama pujangga besar dunia. Namun, ia bukan hanya sebagai pujangga kenamaan saat bermadah, “anakmu bukanlah anakmu, anakmu adalah anak dari zamannya”. Dari perenungannya yang dalam atas dimensi kehidupan umat manusia, dia bisa disebut sebagai, tidak hanya pujangga yang menyemburkan kata-kata, tapi juga pendeta yang menganjurkan moral dan etika.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ya, seseorang disebut anak jika secara biologis terlahir dari rahim ibunya. Tapi juga tidak, bahwa selain kepemilikan secara biologis, anak bukanlah anak dari ibunya. Secara psikologis (yang berdimensi individu-kepribadian), sosiologis (dimensi kelompok-kemasyarakatan) dan antropologis (dimensi komunal-kebudayaan), seorang anak lahir dari rahim zamannya. Zaman telah bertindak selaku ibu : menyusui, mengasupi, membesarkan, bahkan mendidik anak sehingga mampu bersikap dan berperilaku sesuai kehendak zaman. Sayangnya, zaman tidak selamanya bisa menjadi ibu yang baik!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah menghadirkan lingkungan di sekitar anak yang, dalam satu sisi meninggikan harkat hidup yang beradab, pada sisi lain mampu memerosokkan anak pada liang kebiadaban. Perangkat TIK, selain bisa memudahkan hidup, juga memendam potensi merendahkan hidup. Pada era ini, teknologi turut menentukan penilaian seseorang tentang sesuatu, apakah sesuatu itu benar atau salah. Dalam hal ini, teknologi berperan serta dalam membangun kadar moral seseorang. Moralitas serupa batu yang terus menerus diasah : jadi batu permata jika memancarkan keluhuran, atau jadi lempung yang lembek, hitam pekat dan mengotori jika mengalami kelunturan.Namun tidak jarang, orang tua maupun pendidik tersandung oleh buaian perangkat TIK ini : anak-anak yang harusnya mendapat pengajaran moral tidak bisa lagi mengasupnya. Justru anak-anak mengasup pelajaran-pelajaran buruk teknologi zaman ini. Bahkan sampai pada kesimpulan bahwa “televisi, film, video permainan, musik pop, dan iklan memberikan pengaruh terburuk bagi moral mereka karena menyodorkan sinisme, pelecehan, materialisme, seks bebas, kekasaran, dan pengagungan kekerasan” (hlm. 5). Penulis buku ini, Michele Borba, bukan hendak mematikan sumbu optimisme. Ia justru hendak menyalakan optimisme orang tua dan para pendidik bahwa walau teknologi media bisa berpengaruh buruk, media bisa dikendalikan. Lingkungan di sekitar anak bisa menumbuhkan moral yang tinggi. Karena, menurutnya, moralitas bisa diajarkan, dan moral dapat dididik jadi makin cerdas. Melalui bukunya yang bertajuk Membangun Kecerdasan Moral, Tujuh Kebajikan Utama Agar Anak Bermoral Tinggi ini, Borba ingin memberi sumbangan bagi proses pencerdasan moral anak. Dan, dalam skala yang lebih luas, upaya pencerdasan moral anak pada dasarnya juga proses pencerdasan moral bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tujuh kebajikan utama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Masih terngiang dalam bilik ingatan, sebuah adegan kekerasan tak lumrah terekam melalui video handphone. Medio April 2008 sekelompok remaja putri menganiaya temannya sendiri dengan cara memukul bergantian ke arah kepala—organ vital yang menentukan masa depan setiap orang. Dari dialog yang terrekam, korban diperintah menunjukkan sikap hormat pada anggota-anggota geng yang bernama Nero (Neko-neko Dikeroyok). Saat korban mengangkat tangan ke samping kanan dahinya –seperti layaknya hormat bendera—seorang temannya mendampar wajahnya berkali-kali. Lalu sesekali menjotos tepat di hidung dan mulut korban sampai kepala korban terantuk ke belakang. Pertunjukan yang ditampilkan remaja puteri asal Pati itu lebih dari perhelatan di atas ring tinju: tanpa sarung tangan, dilakukan dengan keroyokan dan tanpa perlawanan dari pihak lawan. Usut punya usut, penyebabnya sederhana. Seorang anggota geng Nero mengaku telah dihina oleh teman sekolahnya. Lalu ia menceritakan persoalan tersebut ke teman-teman anggota gengnya. Persoalan pun diselesaikan dengan cara geng: korban dibawa ke lorong gang Blimbing, Juwana, lalu di dampar dan dijotos mukanya.Kekerasan yang dilakukan remaja puteri di atas tidak akan terjadi manakala tertanam satu dari tujuh kebajikan utama : empati. Adanya empati ini, seseorang mampu memahami perasaan dan kekhawatiran orang lain. Tidak hanya itu, seorang yang berempati mampu menampilkan perilaku yang mengejawantahkan kedalaman pemahaman perasaan dan kehawatiran orang lain itu. “Empati merupakan emosi yang mengusik hati nurani anak ketika melihat kesusahan orang lain. Hal tersebut juga yang membuat anak dapat menunjukkan toleransi dan kasih sayang, memahami kebutuhan oang lain, serta mampu membantu orang yang sedang kesulitan. Anak yang belajar berempati akan jauh lebih pengertian dan penuh kepedulian, dan biasanya lebih mampu mengendalikan kemarahan” (hlm. 21). Dengan terbangunnya empati, kebijakan utama yang lain, yakni hati nurani, kontrol diri, rasa hormat, kebaikan hati, toleransi dan keadilan turut bersama-sama terbangun. Tujuh kebijakan utama tersebut merupakan pilar-pilar yang menguatkan kecerdasan moral. Kokohnya pilar-pilar tersebut membantu anak dalam menghadapi tantangan dan tekanan terhadap moralitas yang akan dihadapinya kelak. Ya, kelak, saat dewasa, menghadapi zaman yang lebih canggih, gempita, marak dari zaman yang sedang dihadapi saat ini. Empati banyak diulas oleh Daniel Golemen dalam bukunya Emotional Intelligence (1995). Golemen menunjukkan bukti-bukti tentang kuatnya peran empati dalam meningkatkan kecerdasan emosi seseorang. Dan bagi Borba, membangkitkan kesadaran dan perbendaharaan ungkapan emosi mampu mengasah ketajaman empati seseorang. Ia menunjukkan dua penelitian yang dilakukan oleh John Gottman, professor psikologi dari Universitas Washington. Gottman melakukan penelitian selama sepuluh tahun terhadap 120 keluarga. Dari hasil penelitian terungkap bahwa anak-anak yang mempunyai orang tua sebagai ‘pelatih emosi’ bisa belajar memahami dan menguasai emosi lebih baik, lebih percaya diri dan lebih sehat secara fisik. Mereka juga mendapat nilai lebih tinggi dalam mata pelajaran matematika dan membaca, mampu bersosialisasi, dan kecenderungan stress yang rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Resep terperinci&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini, pembaca tidak hanya disajikan berderet-deret teori dan bukti penelitian tentang moral semata. Didalamnya pembaca dapat menyelami beragam resep dan strategi terperinci tentang bagaimana membangun kecerdasan moral. Saat pembaca mulai menjajaki halaman-halaman buku, perlahan-lahan mulai merasakan hamparan khasanah pengkajian moral yang mendalam. Bukan sekedar ketajaman konseptual, tapi juga keluasan praktikal. Membaca buku ini seperti mendapat resep-resep, sebagai obat bagi moral yang sakit. Juga, menikmati buku ini laksana mendapat resep-resep menu sajian spesial bagi siapa saja yang memiliki selera tinggi atas moralitas.Resep yang terperinci dan dengan jitu mengulas-kupas langkah-langkah dalam membangun kecerdasan moral ini tidak akan terpapar baik dalam buku ini jika tidak dilakukan oleh orang semacam Michele Borba. Latar belakang keterlibatannya dalam seluk beluk membangun moral tidak melulu bergulat dalam teoritik saja atau praktikal saja, tapi keduanya. Keluasan wawasan dan kekayaan pengalaman, mampu menyumbang bagi kekuatan buku ini dalam mengkaji moral.Dengan mengantongi gelar doktor di bidang psikologi pendidikan dan konseling dari Universitas San Fransisco, Borba menjalin kerja sama dengan lebih dari setengah juta orang tua dan guru dalam membangun kecerdasan moral selama dua dekade. Sebelumnya, ia adalah guru kelas dan sekolah dengan pengalaman mengajar yang luas. Ia juga pernah bekerja dengan anak-anak yang kesulitan belajar, anak-anak dengan fisik, perilaku dan emosi yang kurang baik, dan anak-anak berbakat. Wawasan dan pengalamannya mampu menuntunnya dalam berbagi ilmu dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari melalui buku ini.Buku ini terdiri atas tujuh bab yang mengulas satu persatu dari tujuh kebajikan utama dalam membangun kecerdasan moral. Secara berurutan bab-bab tersebut yakni empati, hati nurani, kontrol diri, rasa hormat, kebaikan hari, toleransi dan keadilan. Tiap-tiap bab mengupas penyebab merosotnya kebajikan utama, pengertiannya, tes moral diri dan langkah-langkah membangun kebajikan utama itu. Pada tiap bab ditampilkan cerita berdasarkan kasus-kasus yang ditemui Borba selama dua puluh tahun membantu anak, orang tua, dan guru.Buku ini diharapkan mampu membantu orang tua dan guru dalam mengantar anak-anak dan remaja menuju kecerdasan moral yang tinggi. Apalagi, zaman ini seperti ingin merebut anak dari otoritas moral yang hendak diajarkan oleh orang tua dan guru. Adanya buku ini diharapkan dapat mengoptimalkan peran orang tua dan guru sebagai lingkungan terdekat yang akan mawarnai hitam putihnya moral anak. Sebagai kata akhir, tidak salah jika dikutip kata bijak dari Konfusius, alih-alih dukungan bagi orang tua dan guru sebagai pengajar moral –sebagaimana dikutip Borba, “Pemandangan terindah di dunia adalah seorang anak yang melangkah di kehidupan ini dengan penuh percaya diri setelah kita menunjukkan jalannya.” oOo&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-1306597088574699275?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/1306597088574699275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/11/kajian-buku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/1306597088574699275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/1306597088574699275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/11/kajian-buku.html' title='Buku Resep Pengajaran Moral'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STFr0xY3woI/AAAAAAAAAF4/HqNoYY5I2eQ/s72-c/b.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-1168328686432441745</id><published>2008-08-01T01:51:00.000-07:00</published><updated>2008-11-29T13:42:35.941-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Remaja'/><title type='text'>Maskulinitas Geng</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_HRwJGfo5wu8/SJLRwc3qZBI/AAAAAAAAADo/k01vJo4MqTo/s1600-h/fight.gif"&gt;&lt;strong&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229472747644150802" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 171px; CURSOR: hand; HEIGHT: 153px" height="245" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_HRwJGfo5wu8/SJLRwc3qZBI/AAAAAAAAADo/k01vJo4MqTo/s400/fight.gif" width="400" border="0" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Sebagai institusi yang sengaja dibentuk sendiri oleh remaja, geng tidak tampak eksistensinya tanpa kehadiran sesuatu yang menonjol. Kebutuhan anggota geng untuk menguasai, mendominasi, tampil beda, dan menampakkan kelebihan dibanding yang lain mendorong aggotanya menampilkan kepribadian maskulin. Sikap dan perilaku maskulin yang mendapat tempat dari pihak lain di luar anggota gengnya dikukuhkan sebagai cara yang mampu memenuhi kebutuhan untuk diakui statusnya dalam kelompok sebaya&lt;/em&gt; (peer-status needs).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap dan perilaku maskulin dalam geng tumbuh sedangkan sikap dan perilaku yang mencerminkan femininitas dalam geng ditekan. Maskulinitas ini terejawantah dalam cara menyikapi sesuatu (jantan atau tidak), cara berbicara (tegas atau tidak) maupun cara bertindak (keras atau tidak). Sebagai sebuah ciri kepribadian, maskulinitas dalam geng tidak memandang apakah anggota gengnya terdiri atas laki-laki atau perempuan. Sebagaimana pribadi maskulin yang tidak identik laki-laki, maskulinitas dalam geng pun tidak memandang apakah anggota geng terdiri atas laki-laki saja, perempuan saja atau keduanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah geng yang notabene kumpulan orang, penampilan maskulin pun cenderung mendapat tempat yang tepat bagi remaja. Jadi, bisa dipahami bahwa geng yang anggota-anggotanya berjenis kelamin perempuan pun bisa menampilkan sikap dan perilaku maskulin. Bahkan lebih dari maskulinitas yang ditampilkan laki-laki, seperti adegan kekerasan geng Nero (Neko-neko Dikeroyok) yang berulang kali ditampilkan di layar televisi beberapa waktu lalu. Anggota geng lebih mendapat status di hadapan teman sebaya yang lain dengan menampilkan ciri kepribadian maskulin (Lips, 2005) yang kompetitif, dominan, petualang, berani, agresif dan resisten terhadap tekanan. Sedangkan ciri kepribadian feminin yang penuh kasih sayang, simpatik, jentel, sensitif, pengasuh, sentimental, mampu berhubungan sosial dan koopertif kurang diapresiasi dalam pergaulan antaranggota geng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Potensi Maskulin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan anggota geng yang menampilkan sikap dan perilaku maskulin sesungguhnya tidak lepas dari dinamika psikologis masa remaja itu sendiri. Masa remaja merupakan masa subur bagi tumbuhnya maskulinitas. Sebagai masa peralihan menuju dewasa, remaja sering ‘tersesat’ pada premis bahwa seseorang yang dewasa adalah yang menampilkan sikap dan perilaku maskulin. Gerak pertumbuhan psikologis remaja dari interaksi yang terjalin dengan orang tua menuju interaksi dengan teman sebaya justru cenderung sebagai ‘pemberontakan’ atas norma-norma yang terjalin sebelumnya (di keluarga maupun di sekolah). Keinginan untuk tampil dengan sikap dan perilaku berbeda dari sebelumnya menyumbang intensi remaja untuk menampilkan kepribadian maskulin. Maskulinitas pada remaja merupakan buah bagi pertumbuhan interpersonal yang belum sepenuhnya matang. Perkembangan intelektual, emosi dan sosial pada remaja yang belum matang memengaruhi cara remaja berinteraksi dengan orang lain. Terhadap suatu kejadian, remaja berpeluang terjebak dalam cara berpikir pendek yang irasional, tanggapan emosi yang mudah tersulut dan gagap menyesuaikan diri diantara norma-norma masyarakat. Sebagai misal, agresi sebagai aspek pribadi maskulin akan muncul pada remaja sebagai reaksi atas sesuatu. Menurut Abraham H Maslow (1994), agresi dan sikap yang mementingkan diri pada remaja lebih sering timbul sebagai akibat perasaan kecewa, ditolak, kesepian, takut tidak dihormati, takut kehilangan perlindungan. Pada kasus geng Nero, hasil penyelidikan sementara yang dilakukan polisi (Kompas, 23/6) menunjukkan bahwa motif kekerasan bermula dari masalah pribadi yang dibawa ke solidaritas kelompok. Salah satu anggota geng mengaku telah dihina oleh teman sekolahnya. Lalu ia menceritakan persoalan tersebut ke teman-teman anggota gengnya. Persoalan pun diselesaikan dengan cara geng: korban dibawa ke lorong gang Blimbing, Juwana, lalu di dampar dan dijotos mukanya. Sebuah adegan yang lebih mencengangkan dibanding perhelatan dua laki-laki di atas ring tinju. Selain dinamika psikologis remaja, dinamika kelompok pun potensial mumunculkan sikap dan perilaku maskulin. Myers (2005) mengartikan kelompok sebagai dua orang atau lebih yang dalam waktu lama saling berinteraksi dan memengaruhi satu dengan yang lain dan merasakan satu sama lain sebagai ‘kita’. Kekitaan ditunjukkan dengan solidaritas. Dan bagi remaja, solidaritas tidak jarang disalahartikan dengan cara melakukan pembelaan-pembelaan yang menunjukkan maskulinitasnya. Pembelaan terhadap seorang anggota geng --yang disakiti, dikecewakan, dihina-- pada dasarnya pembelaan terhadap nama baik geng dan harga diri anggota-anggotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Otonomi Moral&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Potensi maskulin yang terejawantah tidak proporsional sesungguhnya dapat dikekang dengan menumbuhkan otonomi moral pada remaja. Otonomi moral memungkinkan remaja bersikap dan berperilaku seturut kontrol dirinya. Remaja tidak menimbang sikap dan perilakunya dari kendali eksternal (termasuk dari temannya yang segeng) tapi dari pertimbangan moral yang tumbuh dari kesadaran sendiri. Namun, menilik perkembangan moral Lawrence Kohlberg (1927-1987), remaja cenderung masih berada pada perkembangan moral konvensional yang tindakan-tindakannya dipengaruhi oleh apa yang diinginkan orang-orang di sekitarnya (keluarga, teman sebaya, maupun lingkungan sekitar). Mungkin butuh pengasahan moral yang terus-menerus untuk mencapai otonomi moral—ini akan beriringan dengan tingkat kedewasaan. Remaja yang memiliki moralitas otonom ini bukan hanya tidak terpengaruh oleh maskulinitas destruktif yang ditampilkan oleh anggota-anggota gengnya, tapi bahkan mengendalikan maskulinitas yang destruktif itu. Adanya otonomi moral mendorong remaja menimbang ulang bahwa sikap dan perilaku yang baik itu bukan hanya yang maskulin. Seluhurnya, nama baik geng akan diperoleh bukan dari sikap dan perilaku maskulin semata. Maskulinitas dan femininitas potensial menampilkan harga diri tinggi anggota-anggota geng asal sesuai dengan norma moral yang berlaku. Eksistensi geng yang terbentuk karena minat (hobi) misalnya, tidak diukur dari tingginya kadar maskulinitas (seperti pada geng motor) tapi sejauh mana minat (hobi) itu mampu memenuhi kebutuhan aktualisasi pribadi dan memberi manfaat bagi orang lain (publik). Lebih dari itu semua, otonomi moral yang bisa mengekang potensi maskulin yang negatif dapat tumbuh pada remaja jika dan hanya jika lingkungan mendukung tumbuhnya otonomi moral itu. Sayangnya, lingkungan yang diketengahkan pada remaja justru rangkaian kejadian yang memupuki maskulinitas yang negatif itu : kekerasan muncul dimana-mana!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-1168328686432441745?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/1168328686432441745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/08/maskulinitas-geng-sebagai-institusi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/1168328686432441745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/1168328686432441745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/08/maskulinitas-geng-sebagai-institusi.html' title='Maskulinitas Geng'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_HRwJGfo5wu8/SJLRwc3qZBI/AAAAAAAAADo/k01vJo4MqTo/s72-c/fight.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-8652787756559097553</id><published>2008-08-01T01:32:00.000-07:00</published><updated>2008-11-29T13:44:38.024-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Membangkitkan Bangsa Bersarana Spirit Pembelajar[i]</title><content type='html'>&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229466257042762386" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 210px; CURSOR: hand; HEIGHT: 174px" height="300" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_HRwJGfo5wu8/SJLL2pfs6pI/AAAAAAAAADg/SnFVawz3g7g/s400/SI850310_117.JPG" width="311" border="0" /&gt;&lt;em&gt;Sesungguhnya Allah meninggikan&lt;br /&gt;orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Siapapun yang memiliki alasan untuk hidup,&lt;br /&gt;ia dapat menyelesaikan masalah dengan cara apapun&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;F. Nietszche&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan bangsa diungkit-ungkit, dikenang, sebagai momentum yang hendak dimekarkan. Sealaf berlalu sejak 1908, kebangkitan dirayakan. Serupa kuntum bunga, wanginya membuncah dimana-mana. Dari gerak jalan, seminar seharian, dan berpuncak di Gelora Senayan. Semakin terus dirayakan, kebangkitan jadi sosok penasaran yang kehadirannya selalu dirindukan. Karena, sampai kini, tanda-tanda kebangkitan belumlah kelihatan.&lt;br /&gt;Yang nyata terlihat adalah bangsa yang tak putus dirundung malang. Dari bencana alam yang merusak infra-suprastruktur masyarakat (tsunami Aceh 2004, gempa Jogja 2006, banjir Jakarta tiap tahun, lumpur Sidoarjo –bertahun-tahun? kalau boleh disebut bencana alam), sampai ulah manusia yang merusak tatanan : pohon hijau ditebang, tanah-tanah kota disemen, eksplorasi hasil bumi dan industri menyisakan ampas meracuni. Kita jadi anak bangsa yang tidak bersahabat dengan alam, sesama, bahkan dengan dirinya sendiri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan memercik dalam pergaulan antarkampung, sebagai bumbu pedas dalam demonstrasi, kelabu dalam rangkaian pemilihan kepala daerah (selisih suara yang menyulut perselisihan), alat pembelaan agama atas penodaan terhadap agama, bahkan pengikat pergaulan remaja! –seperti kasus geng Nero di Pati. Korupsi tumbuh seperti pohon subur yang merambat, menjalar kemana-mana, bahkan sampai ke Kejaksaan Agung yang harusnya memberangus korupsi. Parlemen jadi medan terhormat yang menyelubungi tindak korupsi, semacam democratic corruption. Kebijakan pemerintah yang tidak mementingkan rakyat, pada dasarnya pembodohan dan pemiskinan rakyat. Saat gegap demokrasi terlalu akrab, diam-diam kita membiarkan tumbuh budaya bisu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Tapi, akan tetap ada orang yang tidak betah membisu. Pengakuan jujur Saini KM (1938- ) mungkin sebentuk kesadaran realitas. Katanya, “secara kultural, kita sebenarnya telah kalah”.&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2862562208272223014#_edn3" name="_ednref3"&gt;[iii]&lt;/a&gt; Tentu ucapannya disertai kepekatan empati atas runyam kondisi. Namun tidak semua orang mengamini. Kita!?&lt;br /&gt;Yang tidak mengamini mungkin hanya bergeliat untuk tidak mau disebut kalah. Ia ingin bangkit dari kondisi kalah. Caranya? Sayangnya pertanyaan ini tidak bisa jawab dalam rumus-rumus yang bisa dibakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Budaya itu proses belajar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mengatasi kondisi bangsa yang tak lekang oleh problema? Jangan sekali-kali ditanya pada seorang ahli –yang makin tak ahli oleh kepicikan bidangnya. Ahli ilmu politik akan mengatakan problem bangsa bisa diatasi melalui kekuasaan, ahli hukum : penegakan konstitusi, ekonom : kesejahteraan ekonomi, psikologi : penyehatan jiwa, agamawan : penguatan aqidah atau ketuhanan, pengusaha : kemandirian ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Mari kita menilik dalam perspektif yang lebih pada dimensi kemanusiaan. Tentang baiagimana manusia hidup bersama alam, bahkan menguasai alam. Berbeda dengan binatang, yang pada dasarnya adalah alam itu sendiri—bagian yang juga ditaklukkan manusia. Manusia berkembang dan harkatnya meninggi : dari berburu-meramu, mengolah tanah (agraris), industri, dan informasi. Bahkan manusia bisa memadukan gaya hidup yang melingkupi era itu : petani bisa saja memanggul pacul di pundak kiri dengan tangan kirinya, dan menggenggam handphone di tangan kanannya. Budaya berkembang, tidak lain dan tidak bukan adalah melalui proses belajar. Karena, “belajar merupakan suatu proses yang lebih bersifat kultural daripada alamiah”&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2862562208272223014#_edn4" name="_ednref4"&gt;[iv]&lt;/a&gt;. Jadi, kehidupan ini merupakan sekolah alam yang melangsungkan proses belajar dengan guru yang bisa ditentukan manasuka. Karena, proses belajar yang dilakukan di kehidupan ini adalah peneguh atas eksistensi manusia sebagai homo educandus dan homo educandum sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Namun, tidak semua orang mampu jadi pembelajar yang baik. Proses-proses budaya sering kali ditangkap dalam jala yang terlalu longgar : lepas begitu saja. Budaya ditangkap hanya sebagai gejala yang alamiah. Kita jadi tidak peka dalam berbudaya. Budaya dicerna sebagai lalu-lalang biasa dan membuat kita tidak lagi awas dengan gejala-gejala itu. Semisal, disini, masuk gerai-gerai penyedia fast-food meningkatkan prestisius—dan itulah yang dicari: bukan kualitas jenis makan, tapi kualitas diri yang terangkat statusnya. Cara hidup yang berorientasi hedonistik terpelihara oleh tayangan-tayangan televisi yang mengumbar kelimpahan dunia. Kita jadi bangsa yang mudah disetir oleh kebutuhan yang dicipta oleh beragam jenis iklan! Hidup lebih ringan dijalani dengan agenda-agenda yang melena dalam kepasifan. Padahal, dalam melakukan proses budaya, kita membutuhkan orang-orang yang aktif. Dialah orang yang mau terus belajar. Kembali ke pertanyaan di atas, problem bangsa bisa diatasi oleh orang-orang yang memiliki spirit pembelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembelajar : Menjadi, bukan memiliki&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pelajar adalah atribusi yang melekat pada siapapun yang melewati fase belajarnya dalam pendidikan formal. Masyarakat mafhum, siapa saja yang belajar di sekolah dia disebut sebagai pelajar. Namun, predikat pelajar dijalani dalam laku peran yang belum tentu sama satu orang atas yang lain. Sebagai predikat yang melekat, pelajar mendalami kemelekatannya dalam taraf yang hanya kulit di satu sisi, dan isi pada sisi lain. Merujuk dua modus eksistensi Erich Fromm&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2862562208272223014#_edn5" name="_ednref5"&gt;[v]&lt;/a&gt;, pelajar mendekati perannya dalam modus ‘memiliki’ pada satu sisi, dan modus ‘menjadi’ pada sisi lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Pelajar yang mendekati perannya dalam modus ‘memiliki’ memandang predikat pelajar sebagai objek semata. Karena sebagai objek, tidak jarang predikat ini membawa pada kondisi yang menderita. Semisal : pelajar terpusingkan oleh kewajiban-kewajiban sebagai pelajar: belajar, mengerjakan PR, ujian. Tidak ada yang keluar dari mulut pelajar yang ‘memiliki’ ini selain merapal keluhan. Pada sisi lain pelajar tersenangkan oleh statusnya: bersenang-senang dengan teman sebaya (berkelahi, mengguna narkoba, adu motor, lalu jika dituntut hukum akan berdalih dengan status yang dimilikinya : masih pelajar). Pelajar menggunakan status sebagai pelajar untuk meraup keuntungan : merengek pada orang tua untuk dipenuhi keinginannya (beli buku, bel motor, minta tambahan uang jajan dengan dalih biar prestasi belajar meningkat).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Pelajar dengan modus modus ‘menjadi’ memandang predikat pelajar sebagai subjek. Ia mendekati peran ini sebagai proses yang terus berlangsung. Ia menjadi pelajar. Ia memenuhi segala apa yang harus dipenuhi untuk layak disebut pelajar (yakni belajar itu sendiri). Dalam melakukan proses belajar, pelajar dengan modus ‘menjadi’ ini tidak menggantungkan proses belajar pada orang lain (orangtua, guru), tapi pada diri sendiri. Ia menyimpan motivasi belajar yang tinggi. Ia menyadari atas manfaat belajarnya, baik secara teoritis maupun praktis dalam kehidupan sehari-hari. Pelajar yang ‘menjadi’ lebih punya kemauan dan kemampuan melakukan kontekstualisasi atas apa yang dipelajarinya. Karena, kehidupan sehari-hari pada dasarnya adalah sebuah dialektika yang tak pernah selesai. Pelajar hendak melakukan kristalisasi eksistensinya bahwa ‘aku belajar maka aku ada’ (I learn therefore I am).&lt;br /&gt;Pribadi pembelajar adalah pribadi yang menyadari bahwa jalan untuk menjadi pelajar hanya ini : terus menerus melakukan proses belajar. Dengan kata lain, karena budaya adalah proses belajar, menjadi pelajar tidak lain sekaligus menjalani laku budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Membangun spirit pembelajar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Belajar adalah proses mengetahui. Dalam filsafat ilmu, terdapat tiga aspek pengetahuan, yakni ontologis, epistemologis dan aksiologis. Dalam tiga aspek inilah spirit pembelajar itu terbangun. Alinea selanjutnya akan mengulas bagaimana spirit pembelajar tumbuh dalam tiga aspek itu.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, aspek ontologis memungkinkan pembelajar mengeksplorasi segala jenis pengetahuan, baik fisik maupun metafisik. Pembelajar tidak dengan mudah membatas-batasi pengetahuan yang dikajinya. Hadist Nabi bahwa “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” adalah spirit bagi pembelajar yang mengkaji segala jenis ilmu, tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu tertentu. Pada aspek ini, pembelajar menyadari bahwa segala jenis ilmu pada mulanya bebas nilai. Pembelajar menyadari bahwa apapun yang terhampar di bumi adalah objek ilmu. Allah tidak menciptakan makhluknya dengan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, aspek epistemologis memungkinkan pmbelajar menjalani proses-proses mengetahui. Ia mengoptimalisasi potensi akalnya dalam berlogika dan melakukan penalaran. Ia mencari data-data baru, membuat premis-premis baru, melakukan analisa-analisa yang menyegarkan. Ia pantang melakukan epigonisasi bagi pikirannya sendiri. Pembelajar terpanggil untuk menjadi ulul albab yang senantiasa memikirkan tanda-tanda kehidupan dalam kondisi apapun&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2862562208272223014#_edn6" name="_ednref6"&gt;[vi]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, aspek aksiologis memungkinkan pembelajar menampilkan apa yang diketahuinya sebagai perihal yang bermanfaat buat siapapun. Karena, apa yang diketahui pada dasarnya adalah sarat nilai. Pada aspek ini, pembelajar menyadari atas fungsi kekhalifahannya. Fungsi kekhalifahan memungkinkan pembelajar menjadi muslim terbaik : sebaik-baik muslim adalah yang berguna bagi sebanyak-banyak orang. Pada aspek ini, pembelajar turut serta menyumbang norma dan etika yang berlaku di masyarakat. Bukan hanya norma dan etika yang bersifat privat, semata-mata hanya untuk dirinya dan kelompoknya sendiri, tapi norma dan etika publik yang lebih luas. Van Peursen menegaskan bahwa :&lt;br /&gt;“etika bukan lagi sejumlah kaidah bagi orang perorangan, mengenai apa yang khalal atau haram, tetapi berkembang menjadi etika-makro, yaitu merencanakan masyarakat kita sedemikian rupa sehingga kita belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang telah kita bangkitkan sendiri.”&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2862562208272223014#_edn7" name="_ednref7"&gt;[vii]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cendekia dan beradab&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pembelajar tidak hanya bergerak dalam ruang privat. Karena belajar merupakan proses yang terjadi dalam ruang sosial, belajar memendam potensi sosial juga. Seorang sahabat Nabi berujar bahwa ilmu akan makin bertambah jika diajarkan pada orang lain. Pada masyarakat Jawa dikenal, ilmu iku klakone kanti laku, bahwa seseorang belum dikatakan belajar sampai apa yang dipelajarinya bermanfaat bagi orang lain.&lt;br /&gt;Pembelajar dalam hal ini tidak lepas dari perannya sebagai cendekia dan pribadi yang beradab. Ia menjadi cendekia : secara ontologis dan epistemologis ia menggali ilmu. Juga, ia beradab : secara aksiologis ia membangun moral, etika, norma, akhlak dan memberi manfaat bagi kemajuan peradaban umat.&lt;br /&gt;Banyak baiknya jika kita merenungi ulang harapan Bung Hatta yang makin meneguhkannya sebagai pribadi pecinta ilmu yang memahami masyarakatnya itu. Bung Hatta mengajak pelajar menjadi pembelajar yang cendekia sekaligus beradab. Pada sebuah kongres di hadapan para pelajar ia berujar :&lt;br /&gt;"Apabila pelajar-pelajar Islam benar-benar mencintai masyarakat yang berdasarkan keadilan Ilahi, yang bebas dari penindasan dan kesengsaraan hidup, sejak dari sekolah ia harus menyiapkan diri untuk jadi pembangunnya dalam bidang masing-masing. Dimulai dengan melatih diri, supaya tingkah laku dalam pergaulan menjadi contoh dan teladan. Rangkaian pengetahuan yang dipelajari dan ilmu yang dituntut dengan jiwa Islam yang dibawa dari rumah dan dipupuk di sekolah. Barulah ilmu pengetahuan dapat dipergunakan kelak untuk membangun suatu masyarakat yang berdasarkan keadilan Ilahi, keadilan sosial yang setinggi-tingginya."&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2862562208272223014#_edn8" name="_ednref8"&gt;[viii]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;Jakarta-Pontianak, 5 Juli 2008 &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2862562208272223014#_ednref1" name="_edn1"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;[i]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt; Disampaikan dalam Seminar Pendidikan bertema “Menuju Kebangkitan Pendidikan Kita : Membangun Jatidiri Bangsa yang Cendekia dan Berbudaya” pada Ahad, 6 Juli 2008 di Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2862562208272223014#_ednref2" name="_edn2"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;[ii]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt; Penulis adalah ketua Bidang Kaderisasi PB Pelajar Islam Indonesia (PII) periode 2006-2008. Pernah belajar di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2862562208272223014#_ednref3" name="_edn3"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;[iii]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt; Dalam Kompas, 22 Juni 2008.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2862562208272223014#_ednref4" name="_edn4"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;[iv]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt; C.A. Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius, 1976, hlm143-144.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2862562208272223014#_ednref5" name="_edn5"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;[v]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt; Lihat Erich Fromm. Memiliki dan Menjadi, tentang Dua Modus Eksistensi. Jakarta: LP3ES, 1987.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2862562208272223014#_ednref6" name="_edn6"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;[vi]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt; QS Ali Imran ayat 120.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2862562208272223014#_ednref7" name="_edn7"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;[vii]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt; C.A. Van Peursen. Op Cit, hlm. 192.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2862562208272223014#_ednref8" name="_edn8"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;[viii]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt; Pidato Mohammad Hatta dalam Muktamar ke-9 Pelajar Islam Indonesia (PII) di Medan, 17 Juli 1962. Lihat Mohammad Hatta. Kumpulan Pidato III. Jakarta: Inti Idayu Press, 1985, hlm. 185.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-8652787756559097553?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/8652787756559097553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/08/membangkitkan-bangsa-bersarana-spirit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/8652787756559097553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/8652787756559097553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/08/membangkitkan-bangsa-bersarana-spirit.html' title='Membangkitkan Bangsa Bersarana Spirit Pembelajar[i]'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_HRwJGfo5wu8/SJLL2pfs6pI/AAAAAAAAADg/SnFVawz3g7g/s72-c/SI850310_117.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-6558071869969450124</id><published>2008-07-10T07:37:00.000-07:00</published><updated>2008-11-29T13:45:29.397-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Tanggung Jawab: Bekal Mereguk Potensi Fithrah</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_HRwJGfo5wu8/SHYhDTB1_4I/AAAAAAAAADI/nUiadg0ECcg/s1600-h/1178090807_e5e69790bd_o.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221397158513999746" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 191px; CURSOR: hand; HEIGHT: 170px" height="298" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_HRwJGfo5wu8/SHYhDTB1_4I/AAAAAAAAADI/nUiadg0ECcg/s400/1178090807_e5e69790bd_o.jpg" width="191" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;Perjalanan hidup manusia adalah jalan panjang pemenuhan tanggung jawab. Sepanjang rentang kehidupan, mulai dari kanak-kanak, remaja, muda, dewasa dan tua, adalah rentang panjang seseorang dalam memenuhi tanggung jawabnya. Namun, tidak semua orang mampu menampilkan aksen sebagai pribadi yang bisa memberi jawaban atas apa yang menjadi tanggung jawabnya itu. Dengan ungkapan lain, tidak semua orang mampu menjadi orang yang bertanggung jawab.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap rentang masa (waktu) dan bidang tempat (ruang) tertentu dimana seseorang menjalani hidup, tuntutan tanggung jawab yang bersangkutan berbeda-beda. Semakin tinggi usia seseorang, tanggung jawab yang diemban semakin besar. Dalam hal ini, perkembangan pribadi seseorang baik dari segi fisik maupun psikhis yang makin tinggi fungsionalitasnya menuntut tanggung jawab yang tinggi pula. Seorang anak mungkin hanya bertangggung jawab atas perannya sebagai seorang anak: belajar di sekolah, belajar di rumah, bermain dengan anak sebaya, dan membantu orang tua di rumah. Seorang anak memiliki area tanggung jawab dalam lingkup sosial yang lebih kecil. Berbeda dengan anak, orang dewasa memiliki area tanggung jawab yang lebih besar: menafkahi anggota keluarga, menjalani peran profesi, menjadi anggota masyarakat setempat, jadi panutan bagi yang lebih muda, membantu orang tua (jika masih membuthkan bantuan) dan melakukan aktivitas sosial lainnya. Dengan demikian tanggung jawab jadi kata sifat yang senantiasa melekat pada seseorang di ruang dan waktu manapun.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Peran seeorang yang lebih besar menuntut tanggung jawab yang lebih besar pula. Seorang ketua kelas memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada siswa yang lainnya. seorang kepala sekolah memiliki tanggung jawab lebih besar daripada perangkat sekolah lainnya. seorang presiden punya tanggung jawab yang paling besar dibandingkan dengan warga negara lainnya. namun, tidak semua peran memiliki korelasi positif dengan sikap tanggng jawab yang dimiliki oleh pemegang peran itu. Fenomenanya bahkan makin ironis: seorang anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dijerat hukum akibat tindakan korupsi. Seorang jaksa yang harusnya menuntut atas pelaku pelanggaran hukum justru malah dituntut karena terbukti melanggar hukum. Guru yang diharap bisa digugu dan ditiru karena tindak tanduk susilanya yang luhur justru malah bertindak asusila. Anggota legeslatif yang semestinya menjadi wakil bagi aspirasi dan kepentingan rakyat malah manyunat hak-hak rakyat. Jadi pengurus partai politik bukannya mengurus kepentingan publik tapi mengurus dirinya sendiri. Adakah tanggung jawab jadi kata sifat yang terlalu langka melekat di pundak setiap orang saat ini? ataukah tanggung jawab jadi frase yang tidak terlalu penting lagi keberadaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini hendak mengetengahkan tanggung jawab sebagai sikap yang penting untuk diperhatikan dan dimiliki oleh siapa pun. Tangguung jawab adalah sikap yang khas manusia, tidak dimiliki dan dituntut untuk dimiliki oleh makhluk manapun selain manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Driyarkara dalam bukunya, &lt;em&gt;Percikan Filsafat&lt;/em&gt; (1978) menerangkan bahwa 'tanggung jawab ialah kewajiban menanggung bahwa perbuatan yang dilakukan oleh seseorang adalah sesuai tuntutan kodrat manusia'. Ia menambah pula bahwa 'berani bertanggung jawab berarti bahwa seseorang berani menentukan, berani memastikan, bahwa perbuatan ini sesuai dengan kodrat manusia dan bahwa hanya karena itulah perbuatan tadi dilakukan' (hlm. 30). Lantas, seperti apakah kodrat manusia itu? Yang dikehendaki dari manusia adalah menunjukkan kemanusiaannya. Ia ada sebagai sosok manusia, yakni sosok mahkuk yang paling sempurna dan yang paling baik yang diciptakan oleh Allah swt (QS. At-Tin ayat 4). Dari sinilah diharapkan manusia mampu menunjukkan tabiat kesempurnaan dan kebaikannya. Menurut Driyarkara, 'yang sejati bagi manusia menurut tabiatnya yang terdalam ialah manusia sebagai pribadi-rohani'.&lt;br /&gt;sesungguhnya kodrat manusia bukan sebagai sebuah tuntutan seandainya Allah swt tidak memberi potensi yang mampu mengukuhkan kodrat kemanusiaannya itu. Potensi yang dimaksud adalah fithrah. Adanya fithrah pada diri manusia inilah tuntutan atas kodrat manusia jadi perihal yang niscaya. Dalam sebuah hadist Rasulllah saw bersabda, "setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fithrah). Kemudian kedua orang tuanya lah yang menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana seekor binatang dilahirkan dalam keadaan utuh. Apakah kalian melihat diantara mereka ada yang cacat (pada saat dilahirkan)?" (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengertian Fithrah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kajian tentang fithrah lebih dalam dikupas oleh Yasien Mohamad dalam bukunya &lt;em&gt;Insan yang Suci, Konsep Fithrah dalam Islam&lt;/em&gt; (1997). Menurutnya, fithrah memiliki makna yang sama dengan kata thabi'un yang secara lingusitik berarti suatu kecenderungan alamiah bawaan. Sedangkan dalam pengertian religius, fithrah merupakan kemampuan yang telah Allah swt ciptakan dalam diri manusia untuk mengenal Allah swt. Fithrah merupakan 'bentuk alami yang dengannya seorang anak tercipta dalam rahim ibunya sehingga dia mampu menerima agama yang hak', begitu menurut Yasien Mohamad. Dia mengimbuhi pula bahwa 'konsep fithrah sebagai kebaikan asal tidak semata-mata mengandung makna suatu kesiapan menerima tindakan yang baik dan benar secara pasif, tapi juga suatu kecenderungan aktif serta kecondongan bawaan alamiah untuk mengenal Allah, untuk tunduk kepadanya an untuk melakukan yang benar.' (hlm. 26). Ia juga menyimpulkan bahwa 'fithrah mungkin bisa didefinisikan sebagai suatu kecenderungan bawaan alamiah terhadap yang baik dan ketundukan kepada Tuhan Yanng Maha Esa' (hlm. 30).&lt;br /&gt;Namun, kecenderungan pada kebaikan dan Tuhan bukan sebagai keadaan yang taken for granted. Kecenderungan ini tidak sepenuhnya melekat adanya setelah seseorang lahir dan bertumbuh. Kecenderungan ini akan sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor lingkungan tempat seseorang belajar. Lingkungan dimana seseorang bisa memunculkan kebaikan ataupun menyimpan kebaikan itu, bahkan mengganti dengan bentuk sikap yang sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tanggung Jawab sebagai sarana Aktualisasi Fithrah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Salah satu bentuk upaya menjagai dan mengembangkan potensi fithrah ini adalah dengan menanamkan sikap tanggung jawab. Tanggung jawab disini tidak ditamankan melalui senarai kewajiban yang membebankan. Tanggung jawab yang hendak dimuncukan bukan karena susuatu yang diwajibkan, tapi sesuatu yang disadari. Sadar atas tanggung jawab dengan demikian adalah sadar atas potensi fithrahnya sebagai manusia. Melatih seseorang untuk bertanggung jawab berarti memberikan kesempatan untuk mengaktualisasikan fithrahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran tentang tanggung jawab yang makin tinggi sekaligus sebagai 'ujian' kefithrahan tampak pada pemberlakuan hukum islam. Ushul fikh Islam mengakui empat tahap perkembangan dalam kehidupan manusia. Tahapan atau jenjang perkembangan tersebut menunjukkan tingkatan-tingkatan tanggung jawab yang berjenjang pula. Hukum Islam melekat mengikuti tahapan tanggung jawab itu. Ulasan tentang empat tahapan perkembangan manusia di bawah ini merujuk ulasan dari Mohamad (1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap pertama dimulai ketika ruh memasuki janin yang tengah tumbuh dan berakhir saat kelahiran anak. Pada tahap ini manusia belum dikenai tanggung jawab. Justru orang lain (dalam hal ini ibunya) tertanggung jawab atas kesehatan anaknya dengan memberi makanan yang baik. Tahap kedua dimulai saat kelahiran sampai usia tujuh tahun, yang oleh kalangan fuqaha disebut usia tamyiz. Pada tahap ini manusia tidak bertanggung jawab kepada siapapun meskipun ia tunduk pada bimbingan orang tua dan 'bertanggung jawab' kepada mereka sebagai orang tua. Sampai usia ini manusia disebut kamil, sempuna, tetapi belum bertanggung jawab atas tndakan-tindakannya. Jenjang ketiga yakni dari usia tujuh tahun hingga lima belas tahun. Pada usia ini anjuran dan penerapan syariat mulai dikenalkan pada anak. Tapi anak pada usia ini tidak akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat jika ia tidak melaksanakan syariat. Manusia mencapai tanggung jawab penuh pada tahap keempat, yakni pada usia dewasa secara seksual (bulugh) dan berakhir hingga kematian. Pada tahap ini manusia bertanggung jawab untuk melaksanakan semua hukum syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tangung Jawab dalam Praktek&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya." (HR. Al-Syaikhani, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa'i)&lt;br /&gt;Tanggung jawab adalah sifat luhur yang harus ada pada seorang muslim. Ia adalah sifat yang menyokong kesempurnaan pribadi seseorang. Menurut Hamka, 'berani bertanggung jawab membuat orang kuat menjadi lebih kuat. Ataupun sebaliknya, suatu pekerjaan yang dipikul dengan tidak penuh tanggung jawab membuat orang yang lemah jadi lebih lemah'. Oleh karena itu kita perlu dikuatkan sikap tanggung jawabnya agar tidak jadi pribadi-pribadi yag lemah. Masih menurut Hamka, proklamasi 17 Agstus 1945 adalah buah dari sikap tanggung jawab yang melekat pada para founding fathers bangsa ini. Artinya bangsa ini tidak akan ada jika tidak ada pribadi-pribadi kuat yang memiliki sikap tanggung jawab. Ya, mereka bertanggung jawab atas nasib derita rakyat banyak!&lt;br /&gt;Oleh itu, seorang pendidik hendaknya memberi kesempatan bagi anak didiknya untuk mengasah ketajaman tanggung jawab. Usia remaja adalah usia dimana seseorang hendak menunjukkan independensinya dari segala ikatan yang selama ini membebani, alih-alih menemukan ikatan-ikatan baru berupa teman sebaya yang lebih leluasa dan tidak terlalu membebani. Orang tua atau pun guru hendaknya tidak menggunakan pembebanan kewajiban sebagai sarana memupuk tanggung jawab dan menempatkan anak didik sebagai orang yang masih dibawah kendali orang yang lebih dewasa. Padahal usia remaja perlu didekati dengan cara mendewasakannya. Menanamkan tanggung jawab bisa dengan cara memberian anak didik suatu kepercayaan, memberi tugas yang menyenangkan dan memberi kesempatan mereka menyelesaikan tugas itu. Bisa juga memberikan kesempatan anak didik berinteraksi lebih leluasa dengan sesama temannya (seperti diberi tugas kelompok, dan sebagainya). Karena, pujian dan kritikan dari teman sebaya lebih manjur pengaruhnya daripada hal yang sama keluar dari orang yang lebih tua darinya.&lt;br /&gt;Akhirnya, mengasah tanggung jawab adalah tanggung jawab itu sendiri!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-6558071869969450124?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/6558071869969450124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/07/tanggung-jawab-bekal-mereguk-potensi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6558071869969450124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6558071869969450124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/07/tanggung-jawab-bekal-mereguk-potensi.html' title='Tanggung Jawab: Bekal Mereguk Potensi Fithrah'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_HRwJGfo5wu8/SHYhDTB1_4I/AAAAAAAAADI/nUiadg0ECcg/s72-c/1178090807_e5e69790bd_o.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-6291490423036940278</id><published>2008-07-10T07:23:00.000-07:00</published><updated>2008-11-29T13:46:35.511-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Remaja'/><title type='text'>Remaja dan Perilaku Menyimpang : Korban dari Perubahan Zaman?</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_HRwJGfo5wu8/SHYkAKauV0I/AAAAAAAAADQ/PCBLmenjbcI/s1600-h/1353506260_a1a5a63735_o.jpg"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221400403197712194" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 176px; CURSOR: hand; HEIGHT: 148px" height="300" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_HRwJGfo5wu8/SHYkAKauV0I/AAAAAAAAADQ/PCBLmenjbcI/s400/1353506260_a1a5a63735_o.jpg" width="239" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;Sebuah adegan yang tak lumrah terekam melalui video handphone. Medio April 2008 sekelompok remaja putri menganiaya temannya sendiri dengan cara memukul bergantian ke arah kepala—organ vital yang menentukan masa depan setiap orang.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#000000;"&gt;Dari dialog yang terrekam, korban diperintah menunjukkan sikap hormat pada anggota-anggota geng yang bernama Nero (Neko-neko Dikeroyok). Saat korban mengangkat tangan ke samping kanan dahinya –seperti layaknya hormat bendera—seorang temannya mendampar wajahnya berkali-kali. Lalu sesekali menjotos tepat di hidung dan mulut korban sampai kepala korban terantuk ke belakang. Sebuah pertunjukan yang paling banter bisa ditemui di atas ring tinju. Namun pertunjukan yang satu ini lebih dari perhelatan di atas ring tinju: tanpa sarung tangan, dilakukan dengan keroyokan dan tanpa perlawanan dari pihak lawan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#000000;"&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu yang hampir bersamaan, beredar pula rekaman video melalui handphone tentang seorang remaja puteri yang dianiaya oleh sekitar lima remaja puteri lainnyakorban dipukuli bergantian, diinjak-injak, lalu ditarik rambutnya oleh seorang remaja putri lainnya sampai berguling-guling ke tanah. Adegan ini disaksikan oleh beberapa orang di sekitarnya tanpa ada seorang pun yang mencoba melerainya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika berbicara tentang kekerasan, kita mendapati ketakwajaran yang jadi lumrah—terutama akhir-akhir ini. Kekerasan banyak dijumpai di ruang publik (di jalan raya, perumahan, kampus dan tempat kerja) maupun ruang privat (di keluarga atau dalam rumah). Freudian menjustifikasi sebagai potensi bawah sadar yang dibawa oleh setiap orang. Ketakwajaran yang belum lagi lumrah adalah kekerasan ini dilakukan oleh perempuan dan pada saat usia pelaku baru menginjak remaja. Perempuan merupakan sosok yang identik dengan pribadi feminin. Tentang kepribadian feminin, Lips (2005) memaparkan ciri-cirinya yakni penuh kasih sayang, simpatik, jentel, sensitif, pengasuh, sentimental, mampu berhubungan sosial dan koopertif. Berbeda dengan ciri kepribadian maskulin yang kompetitif, dominan, petualang, berani, agresif dan resisten terhadap tekanan. Namun, kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok remaja putri di atas lebih cenderung menunjukkan pribadi maskulin daripada feminin. Dalam hal ini, perilaku yang ditunjukkan tersebut disamping tidak wajar secara perilaku juga tidak normal jika ditilik dari sudut pandang pelaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat biasa disebut perilaku menyimpang. Disamping kekerasan seperti yang dilakukan remaja putri di atas, ada banyak perilaku menyimpang yang dilakukan remaja dan makin mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku tersebut antara lain penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba), perilaku seksual sebelum menikah, premanisme di kalangan pelajar dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masa remaja : berdayung di tengah badai&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Masa remaja adalah usia yang niscaya dilewati oleh setiap orang dewasa. Masa ini akan menguji setiap orang bahwa tidak selamanya hidup dilewati dengan perjalanan yang mulus dan lurus. Mungkin si pejalan yang remaja itu tahu lurusnya jalan. Namun, menjalani tidak semudah hanya mengetahui. Seorang pedayung yang hendak menuju suatu pulau mungkin tahu arah jalannya dan mungkin tahu ada badai di depan, tapi tidak semua pedayung bisa melewati badai dan sampai pada tempat yang dituju. Masa remaja adalah masa yang penuh badai dan tidak semua orang bisa lolos melewati masa-masa itu.&lt;br /&gt;Ada minimal tiga badai yang akan mengguncang masa remaja ini. Pertama, badai otoritas. Pada masa ini remaja cenderung bersikap dependen. Remaja akan banyak diterpa oleh otoritas-otoritas lain yang mampu memengaruhi sikapnya. Independensi didapat melalui penghargaan atas otoritas orang tua, teman sebaya, guru maupun orang yang dituakan. Kedua, badai rangsang emosi. Remaja menunjukkan emosi yang labil sehingga mudah dipengaruhi oleh rangsang emosi di luar dirinya. Remaja akan terdorong bertindak agresif hanya dengan dipanas-panasi oleh teman sepermainannya. Ketiga, badai ego. Remaja cenderung menunjukkan keakuannya pada orang lain. Kebutuhan untuk diakui bisa menjerat remaja pada tindakan yang dilarang oleh norma. Dengan kata lain, remaja bisa saja melakukan tindakan yang melanggar norma asal dirinya bisa diakui oleh orang lain. Tiga badai di atas sangat memungkinkan remaja terantuk pada posisi oleng : melakukan berbagai perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang ada di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman ini, ada badai besar yang bisa menggulung siapa saja yang tidak cakap mengendalikannya, yakni badai informasi. Memang, tidak hanya remaja saja yang akan terpengaruh oleh badai informasi ini. Tapi, badai informasi akan melengkapi ancaman tiga badai seperti tersebut di atas. Ciri adanya badai ini adalah makin tidak terbendungnya arus informasi seiring dengan makin mudah didapatnya teknologi informasi. Remaja bisa dengan mudah memamah informasi tentang apapun. Bisa dipastikan, hampir semua remaja di kota sudah familier dengan handphone, bahkan bisa berganti-ganti model sesuai tren terbaru. Internet sudah bisa diakses sampai ke pelosok, dimana saja dan kapan saja. Internet menyediakan beragam informasi dan pengetahuan sesuai kebutuhan penggunanya hanya dengan satu dua kali menekan tuts keyboard. Televisi menjadi penyedia layanan informasi yang paling banyak dikonsumsi, terlebih banyak handphone yang sudah memiliki fasilitas gambar hidup itu. Media cetak beragam jumlahnya dan mampu memenuhi beragam hobi dan minat setiap orang.&lt;br /&gt;Derasnya informasi yang mengalir ke segala penjuru ruang sosial di masyarakat tentunya akan memengaruhi pengguna informasi itu. Informasi yang dikenyam akan memengaruhi cara pandang, sikap, perilaku, gaya hidup, dan kebiasaan seseorang. Sebagai misal, belajar tidak harus tatap muka langsung dalam kelas tapi bisa dengan jarak jauh via internet (e-learning). Berdiskusi tidak harus bersua langsung tapi bisa lewat mailinglist. Belanja tidak harus ke supermarket tapi tapi dapat dilakukan dalam kamar dengan menggunakan jasa belanja online. Berkirim kabar tidak lagi harus pakai surat via pos tapi bisa langsung pakai layanan pesan singkat (sms) atau e-mail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alvin Toffler dengan lugas menjelaskan pengaruh (teknologi) informasi terhadap perilaku seseorang. Menurutnya, setiap jenis teknologi melahirkan lingkungan teknologi (teknosfer) yang khas. Teknologi informasi sebagai bagian dari teknosfer akan mewarnai infosfer –yakni budaya pertukaran informasi di antara warga masyarakat. Infosfer pada gilirannya akan membentuk dan mengubah sosiosfer—yakni norma-norma sosial, pola-pola interaksi dan organisasi kemasyarakatan. Karena manusia adalah makhluk sosial, perubahan sosial akan memengaruhi perilaku dan proses mental seseorang—yakni mengubah psikosfer orang-perorang (Rakhmat, 2004). Dari itu bisa dimengerti bahwa perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh beragam arus informasi yang melingkupinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Badai informasi pada kalangan remaja&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Apa yang bisa dijadikan dalih bahwa kekerasan yang dilakukan remaja dipengaruhi oleh tayangan kekerasan dalam televisi? Mungkin butuh penelitian yang cermat tentang hal ini. Namun, bila merujuk teori konstruktivisme, beragam tayangan kekerasan dalam televisi tidak bisa dianggap remeh, apalagi disisihkan alih-alih menampik tidak ada hubungannya dengan kekerasan yang dilakukan remaja. Sikap dan perilaku remaja dikonstruksi dari informasi yang didapat dari lingkungannya. Sementara televisi suda jadi media yang tidak mungkin dilepas dari keseharian masyarakat, didalamnya tersaji banyak tayangan yang kurang mendidik bahkan banyak diwarnai adegan kekerasan. Informasi selebriti mengabarkan kekerasan : perceraian maupun kekerasan yang dilakukan antarartis. Berita di televisi bertabur kekerasan: perselisihan antarwarga kampung, perbedaan pandangan antarorganisasi masyarakat, perseteruan antarpendukung pilkada, penggusuran paksa maupun demonstrasi yang berujung bentrok fisik. Film tidak enak dinikmati tanpa adegan kekerasan, bahkan film-film yang diputar di televisi kita sebagian besar dari Hollywood yang penuh adegan kekerasan. Sinetron-sinetron banyak mengisahkan kekerasan fisik maupun psikis (fitnah, dendam, iri, munafik). Acara dialog dan diskusi di televisi makin berani mengumbar kekerasan psikhis dengan cara saling menyudutkan dan saling memancing amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kekerasan ini tampil mengisi ruang dan waktu seseorang tanpa ada reaksi penolakan, ada saatnya kekerasan dianggap sebagai kejadian yang lumrah adanya. Kekerasan tidak bisa lagi ditolak sebagai perilaku yang melanggar norma karena sudah diwajarkan oleh sebagian besar masyarakat. Saat kita menikmati adegan kekerasan bahkan memengaruhi dan mengubah cara kita memandang kekerasan, pada dasarnya kita telah mengalami desensitisasi sistematis. Yakni proses yang secara sistematis memungkinkan seseorang mewajarkan sesuatu karena sesuatu itu muncul berulang-ulang. Kekerasan akan dianggap wajar jika hal itu muncul secara berulang-ulang dan seakan diterima di masyarakat sebagai realitas biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Norma-norma sosial makin terbuka untuk dipengaruhi bahkan diubah. Dengan mudah norma-norma yang berlaku di masyarakat tertentu akan diadopsi oleh norma-norma di masyarakat lain. Mode pakaian yang baru muncul di Perancis dengan cepat dikonsumsi oleh masyarakat di kota kecil. Di Jember setiap tahun diadakan Jember Fashion Carnaval (JFC), yakni karnaval keliling kota dengan menggunakan mode pakaian kontemporer. Mode pakaian dapat dinikmati di sudut-sudut kota di Jember, tanpa perlu pergi ke Perancis. Melalui internet, siapa saja bisa berinteraksi dan menemukan ruang interaksi sosialnya. Minat, bakat, pandangan hidup, gaya hidup, pilihan profesi bahkan orientasi seksual pun bisa terjalin intens lewat internet. Orang dapat berinteraksi dan bertukar pikir tanpa perlu banyak tahu latar belakang lawan interaksinya. Dalam hal ini, komunitas yang terjalin dapat membangun norma-norma sendiri, bahkan lepas dari norma yang umum berlaku di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Korban yang harus dibela&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perubahan zaman menuju era informasi memiliki andil besar dalam membentuk sikap dan perilaku remaja. (Teknologi) informasi yang tidak terkendali peran dan fungsinya turut memengaruhi pola perilaku remaja yang abai terhadap norma yang berlaku. Artinya, perilaku menyimpang tidak hanya semata-mata bersumber dari remaja itu sendiri. Tapi, adanya perubahan zaman secara potensial bisa memacu remaja bersikap dan berperilaku di luar batas normativitas. Keterbukaan informasi dan komunikasi seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mungkin bukan satu-satunya sebab, tapi ini merupakan salah satu sebab yang menentukan. Lebih menentukan lagi karena, satu sisi informasi menyerang deras ke relung hidup sampai yang paling privat dan sakral, pada sisi lain remaja kurang memiliki kemampuan otonom dalam memilih normativitas sikap dan perilaku. Lagi, satu sisi lembaga penyedia informasi menghantam keras ruang hidup di ranah publik, di sisi lain lembaga-lembaga yang memiliki otoritas norma dan ajaran agama di masyarakat semakin melemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menanggapi remaja dengan perilaku yang menyimpang akan lebih bijaksana jika tidak semata-mata menempatkan remaja sebagai ‘tersangka’. Mungkin ya, bahwa perilaku menyimpang remaja tidak akan muncul jika tidak ada perilaku yang ditampilkan remaja itu sendiri. Tapi mungkin juga tidak, bahwa perilaku menyimpang yang dilakukan remaja dipengaruhi pula oleh lingkungan yang melingkupinya. Lingkungan di sekitar remaja seperti katalisator yang memungkinkan remaja berperilaku menyimpang. Dalam hal ini remaja ditempatkan sebagai korban dari lingkungannya. Maka, tidak ada empati yang bisa ditunjukkan kepada korban selain dengan cara membela korban. Bagaimana pembelaannya?&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, menciptakan lingkungan yang mampu membentuk remaja pada kesadaran normatif yang otonom. Dengan harapan, remaja mampu menentukan pilihan perilaku menurut pertimbangannya sendiri dengan bersandar pada norma-norma yang berlaku. Dalam hal ini remaja diharapkan memiliki kecerdasan normatif, yakni kemampuan remaja dalam menentukan sikap dan perilaku apapun dengan tetap mengindahkan norma-norma. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, menguatkan lembaga-lembaga yang memiliki otoritas norma. Lembaga-lembaga tersebut diharapkan mampu menopang norma-norma yang ada sekaligus menyesuaikannya sesuai dengan perubahan zaman. Disini peran keluarga sebagai lembaga yang memiliki otoritas norma sungguh penting. Mengingat, keluarga merupakan lembaga pertama dan utama yang mengenalkan remaja pada norma-norma. Tidak kalah penting dari keluarga adalah sekolah. Pada institusi sekolah inilah keluarga turut menumpukan harapan. Sekolah adalah institusi yang sengaja dibuat untuk mendidik remaja agar bisa bersosialisasi di masyarakat dengan baik.&lt;br /&gt;Jika kita benar handak membela, indikasinya bisa bermula dari yang sederhana saja : kita merasa, perilaku menyimpang remaja, seperti kekerasan yang dilakukan remaja putri di atas, benar-benar menggelisahkan kita. Ini hanya sebagai pengganti kata-kata yang terkesan retoris: kita merasa, perilaku tersebut sungguh-sungguh mengiris-iris hati nurani kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegal-Jakarta, 19 Juni 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-6291490423036940278?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/6291490423036940278/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/07/remaja-dan-perilaku-menyimpang-korban.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6291490423036940278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6291490423036940278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/07/remaja-dan-perilaku-menyimpang-korban.html' title='Remaja dan Perilaku Menyimpang : Korban dari Perubahan Zaman?'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_HRwJGfo5wu8/SHYkAKauV0I/AAAAAAAAADQ/PCBLmenjbcI/s72-c/1353506260_a1a5a63735_o.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-6875759782140422766</id><published>2008-07-10T07:13:00.000-07:00</published><updated>2008-11-29T13:48:00.109-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Remaja'/><title type='text'>Geng Sebagai ‘Rumah’ yang Baru</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_HRwJGfo5wu8/SHYgEpRAq1I/AAAAAAAAADA/Hxj0_USoUaY/s1600-h/Sepatu_Kaca_Cover_35526_f_27454.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221396082151435090" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 157px; CURSOR: hand; HEIGHT: 169px" height="158" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_HRwJGfo5wu8/SHYgEpRAq1I/AAAAAAAAADA/Hxj0_USoUaY/s400/Sepatu_Kaca_Cover_35526_f_27454.jpg" width="220" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Seiring dengan makin terbukanya ruang sosial dan berkurangnya porsi interakaksi dalam rumah sebagai ruang sosialisasi pertama, pelajar mulai menemukan interaksi dalam kelompok sebaya sebagai ‘rumah’ mereka yang baru.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja Tono, seorang siswa SMP di Bengkulu. Saat masih SD ia biasa pulang segera setelah jam pelajaran sekolah usai. Apalagi sekolahnya tidak jauh dari tempat ia tingal. Tapi kini, saat ke sekolah memakai celana biru dan bersepeda di jalan raya yang ramai, Tono tidak segera pulang usai jam pelajaran sekolah. Ia bahkan pulang saat hari menjelang petang, saat seragam tidak lagi layak dipakai. Jika ditanya kenapa ia pulang selarut petang itu, Tono menimpali, “saya main sama teman-teman”. Kata ‘main’ jadi kata mujarab untuk mengaburkan tanda tanya, apa yang ia lakukan sebenarnya bersama teman-temannya. Juga, jadi tanya yang gundah, apakah yang ia lakukan itu baik atau buruk. Dalam kata-kata ‘main’ mungkin terdapat minimal salah satu dari ini: nongkrong di pinggir jalan, jalan-jalan di mall, berlama-lama di warung atau kafe sambil merokok, duduk lama di ruang playstation atau berkunjung ke rumah teman.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya tidak salah bagi pelajar usia remaja menemukan tempat bermain. Adalah wajar jika ruang antar-teman sebaya itu, dengan interaksi yang terjadi di dalamnya, diangap sebagai ‘rumah’ mereka yang baru. Semacam ‘rumah kedua’. Sedang rumah pertama adalah rumah tempat tinggalnya selama ini bersama kedua orang tuanya. Rumah yang ditempati oleh anggota dalam keluarga inti. Dalam rumah yang baru, pelajar berinteraksi dengan anggota-anggota kelompoknya. Sesama mereka merasa sebagai anggota kelompok yang saling menghargai satu sama lain keberadaannya. Dalam derajat tertentu anggota kelompok merasa nyaman berada dalam kerumunan para anggota yang lain. Bahkan, interaksi yang terjalin mewujud laksana interaksi dalam anggota keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Karakteristik Geng&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Institusi formal mampu memengaruhi institusi informal, begitu juga sebaliknya. Sekolah merupakan institusi formal yang keberadaannya turut memengaruhi adanya pertemanan kelompok sebaya sebagai institusi informal. Pertemanan kelompok sebaya yang biasa disebut geng terbentuk diantaranya oleh pertemaan yang terjalin karena ikatan formal anggota-anggotanya dalam komunitas sekolah tertentu yang sama-sama sebagai murid. Dari sini terbentuk bermacam-macam geng yang muncul atas sedikit kesamaan sebagai sesama warga sekolah. Ada geng yang terbentuk karena anggota-anggotanya gemar bermain playstation. Ada geng yang anggota-anggotanya biasa mangkal di perpustakaan. Ada geng yang terbentuk karena anggota-anggotanya pulang sekolah melewati jalan yang sama. Ada geng yang terbentuk karena anggota-anggotanya lahir pada bulan yang sama. Ada geng yang terbentuk karena anggota-aggotanya biasa belajar bersama di luar jam sekolah. Ada geng yang terbentuk karena anggota-anggotanya merasa lebih superior di banding teman-temannya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena geng merupakan institusi informal, proses pembentukannya pun berjalan secara informal. Geng terbentuk sebagai sebuah konvensi atas beberapa kesamaan di antara anggota-anggotanya. Kesamaan itu mencakup antara lain: minat atau keinginan, kebiasaan, perilaku dan tujuan. Dalam perjalanannya kemudian, anggota-anggotanya menemukan aturan main (rule of the game) dalam geng yang harus disepakati seluruh anggota. Dalam hal ini kekompakan geng diuji: semakin nyata anggota-anggota menunjukkan kesamaan, semakin kuatlah eksistensi geng itu. Semakin kuat geng, akan makin sulit anggota untuk melepaskan keanggotaannya dalam geng. Sebaliknya, makin longgar geng, akan makin mudah bagi anggota-anggotanya untuk keluar dan masuk sebagai anggota geng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah geng, akan terbentuk struktur keanggotaan walaupun bukan sebagai struktur formal. Seorang ketua geng biasanya dipilih diantara anggota yang paling menonjol perannya diantara anggota-anggota yang lain. Layaknya sebagai keluarga, ketua geng bisa diangap sebagai kepala dalam rumah mereka yang baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menguatkan kekhasan eksistensi suatu geng, tidak jarang geng tersebut mengeluarkan identitas tertentu yang menjadi tanda. Nama geng itu jadi identitas utama tentunya. Beberapa identitas yang lain dibuat antara lain kaos, jaket, stiker dan produk barang yang lain yang menandai keberadaan geng tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Geng sebagai Keluarga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Solidaritas yang tinggi antar sesama anggota geng tidak mustahil geng diangap seperti layaknya anggota keluarga. Geng yang semacam ini mampu menunjukkan karakteristik kekeluargaan dalam interaksi antar anggotanya. Pada keanggotaan geng tertentu bahkan menunjukkan tingkat kekeluargaan yang lebih tinggi daripada dengan anggota keluarganya yang sesungguhnya. Tidak sulit ditemukan anggota geng tertentu menampilkan sikap dan perilaku yang tidak diinginkan, bahkan tidak diinginkan oleh kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;Dalam hal ini orang tua kepayahan dalam mengendalikan perangai anaknya. Ini lebih memungkinkan karena interaksi anaknya dalam waktu-waktu tertentu berada jauh dari jangkauan orang tua. Pada saat jam pelajaran sekolah, orang tua hanya tahu kalau pada saat itu anaknya tentu sedang belajar bersama teman-temannya di sekolah. Apalagi jika kedua orang tuanya sibuk bekerja, maka berkuranglah perhatian orang tua terhadap anaknya, bahkan pada waktu usai jam sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua yang sibuk bekerja atau memiliki kesibukan lain yang mengurangi porsi orang tua dalam memerhatikan anaknya tentu akan memengaruhi kualitas hubungan dalam keluarga. Bisa jadi anak merasa tidak diperhatikan, tidak dicukupi kebutuhannya. Anak merasa orang tua tidak lagi mengerti dan mau memahami apa yang jadi keinginan anak. Anak merasa miskin pujian. Akan kehilangan kebersamaan dengan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang bersamaan, saat anak (dalam hal ini pelajar) mulai merasakan keadaan yang kering dari kekeluargaan, mereka menemukan orang-orang lain yang mampu memenuhi kekurangan-kekurangan itu. Ada orang-orang lain yang mampu memenuhi kebutuhanan dengan ngerti dan mau memahami apa yang jadi keinginan anak. anak memerhatikan anaknya u usai jam sekola-kebutuhan yang tidak dipenuhi oleh keluarganya. Secara tidak sadar anak akan memerlakukan orang-orang lain itu seperti layaknya keluarga mereka sendiri. Teman-temannya yang lain itulah teman-teman anggota gengnya. Sifat kekeluargaan dalam gengnya itulah yang akan menguatkan posisi tawar tinggi sebuah geng bagi anggota-anggotanya. Geng akan diposisikan seperti layaknya keluarga. Institusi geng akan ditempatkan seperti institusi keluarga. Geng akan disematkan sebagai sebuah rumah yang baru bagi mereka. Rumah dimana anggota-anggotanya menghargai kebutuhan satu sama lain. Rumah dimana kebutuhan anggota-anggotanya dapat dipenuhi dengan segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Geng yang Positif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan geng dapat muncul dalam aksen seperti berikut ini. Anggota geng yang dipukul atau disakiti oleh pelajar lain di luar anggota gengnya akan menyulut kemarahan anggota yang lain. Apalagi jika yang memukul adalah anggota geng lain. Pemukulan salah satu anggota berarti juga pemukulan seluruh anggota geng. Solidaritas ditunjukkan dengan pembalasan. Tidak jarang perkara kecil akan meledakkan perkara yang jauh lebih besar akibatnya: tawuran antar geng, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan kesamaan dalam geng mengharuskan adanya kesamaan dalam perilaku. Geng memiliki kekhasan dalam perilaku. Mungkin perilaku yang khas itu perilaku yang menonjol, yang aneh dan menimbulkan decak perhatian orag lain. Karena sebagai perilaku standar dalam geng itu, mau tidak mau semua anggota harus menampilkan perilaku itu. Merokok, misalnya. Jika suatu geng menyepakati perilaku yang jadi kekhasan adalah merokok, maka siapapun anggota, tanpa kecuali, harus merokok. Jika ada anggota baru yang tidak pernah merokok, maka ada tuntutan kebersamaan yang sulit terelak: ia harus merokok juga. Jadilah merokok sebagai semacam inisiasi dalam menyambut anggota yang baru.&lt;br /&gt;Ada juga geng yang solidaritasnya muncul menjelang ujian. Mungkin mereka akan belajar bersama, di waktu dan tempat yang sama. Tapi, pada saat yang memungkinkan, sesama mereka akan saling membantu dalam mengatasi kesulitan menghadapi ujian. Caranya? Bisa lewat contekan yang beredar, sms yang di-forward, atau bahkan langsung menunjukkan lembar jawaban dari teman lain yang sudah selesai mengerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada geng yang terdiri atas kaum adam, fenomenanya lebih komples lagi. Kehadiran geng bukan sekadar untuk berkumpul dengan remaja pria lain, tetapi juga sebagai aktualisasi nilai-nilai kelelakian yang dianggap paling sejati (Lukmantoro, 2007). Ada maskulinitas dalam hubungan antara remaja pria. Siapa yang lebih menunjukkan pribadi yang lebih ‘jantan’, dialah yang akan mendapat tempat dalam pergaulan. Sebagaimana dikemukakan UNESCO—Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (New Delhi, 2006)—dalam risalah panjang berjudul Masculinity for Boys, remaja pria yang tidak mampu mengadopsi maskulinitas berarti: (1) akan ditolak kelompok sebayanya, (2) akan dilecehkan teman sebaya, dan (3) akan dipandang sebagai sosok laki-laki yang lebih lemah (Lukmantoro, 2007). Pada akhirnya geng lebih suka memunculkan perilaku yang maskulin seperti merokok, minum-minuman keras, berkelahi dan membalas dendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh yang dipaparkan di atas, bukan hendak mencari kesimpulan bahwa geng itu lebih banyak yang bersifat negatif. Ini sebagai gambaran bahwa kekuatan dalam sebuah geng akan berpola dalam wujud yang mana suka (arbitrer). Kekuatan itu bisa mewujud dalam pola yang negatif, tapi sesungguhnya tidak selamanya demikian.&lt;br /&gt;Geng yang seperti apakah yang disebut sebagai geng yang positif? Geng seperti apakah yang didalamnya terbangun rumah baru yang diidamkan oleh penghuni dan ornag lain di luar penghuni? Berikut ini bisa jadi catatan dalam identivikasi geng yang positif.&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, geng harus bersifat fleksibel. Artinya, tidak terlalu kaku dan fanatik. Bukan seperti gel, tapi liquid (cair). Ini mungkin sesuatu yan sult ditemukan dalam sifat geng. Tapi ini perlu bagi suatu interaksi yan sehat. Interaksi yang sehat masih menghargai independensi individu, bukan mengaburka individualitas. Jangan sampai geng terjebak pada interaksi yan bersifat kerumunan (mob) dimana masing-masing tidak merasa sebagai penanggung jawab atas sikapnya sendiri, tapi merasa ditanggungjawabi oleh kerumunan yang tidak jelas itu. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, geng tidak memaksakan identitas. Identitas tumbuh dari kesadaran anggota-anggotanya. Artinya perilaku yang muncul dalam geng harus sesuai dengan jati diri dan kepribadian anggota-anggotanya. &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, geng mampu memberikan sumbangan positif bagi pertumbuhan kepribadian anggota-anggotanya. Ini penting karena masa remaja adalah masa pertumbuhan kepribadian, dari labil menuju stabil. Geng yan positif mampu memberikan pencerahan bagi anggota dalam menemukan karakter, sikap dan perilaku yang membangun kepribadian matang. &lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, gang turut memberi manfaat dan kebaikan pada pihak lain di luar anggotanya. Solidaritas dalam kelompok yang terlalu tinggi cenderung menyeret anggota geng berperilaku yang berlebihan bahkan cenderung destruktif bagi lingkungan sekitar. Geng yang yang positif adalah geng yang mampu memberi sumbangan konstruktif bagi masyarakat yang lebih besar, minimal masyarakat dalam segmen usia hidupnya, yakni pelajar. ♣&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-6875759782140422766?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/6875759782140422766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/07/geng-sebagai-rumah-yang-baru-seiring.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6875759782140422766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6875759782140422766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/07/geng-sebagai-rumah-yang-baru-seiring.html' title='Geng Sebagai ‘Rumah’ yang Baru'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_HRwJGfo5wu8/SHYgEpRAq1I/AAAAAAAAADA/Hxj0_USoUaY/s72-c/Sepatu_Kaca_Cover_35526_f_27454.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-7902788801224424503</id><published>2008-07-10T06:59:00.000-07:00</published><updated>2008-11-29T13:49:40.606-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Religious Culture di Sekolah: Menggugah hakekat Pendidikan Agama</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STFoNi4s_mI/AAAAAAAAAFw/ScUFwaVu05Q/s1600-h/j.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274111220539784802" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 142px; CURSOR: hand; HEIGHT: 186px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STFoNi4s_mI/AAAAAAAAAFw/ScUFwaVu05Q/s400/j.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Alih-alih sekolah sebagai sarana/infrastruktur pendidikan, di dalamnya bertaburan perilaku yang menjauhkan penghuninya dari rasa nyaman mendapat keindahan atas pelangi kesopanan, kasih sayang, empati, penghargaan, prestasi, spiritualitas dan aktualisasi diri. Hakekat pendidikan adalah proses pembudayaan. Sekolah diselenggarakan dengan maksud melangsungkan proses pembudayaan itu.&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Namun, budaya malas (lalu mencontek saat ujian), individualitas (lalu menyelimuti sikap empati), tindakan permusuhan (menyelubungi kasih sayang lalu menimbulkan kekerasan), pemuasan diri (lalu mengumbar nafsu diri dengan pornografi, minum minuman yang memabukkan, narkoba dan seksualitas) merebak marak dan bukan hal yang sulit ditemukan di sekolah. Guru mengajar pelajaran di tengah arus budaya yang dengan mudah menggerus apapun yang terangkai dalam anjuran positifnya. Guru agama melafadzkan dalil-dalil yang segera menguap oleh suhu panas pergaulan bebas! &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dengan sekolah kita? Memang, sekolah hanyalah salah satu dari banyak pranata di masyarakat. Sekolah merupakan salah satu dari banyak mata rantai pendidikan. Tapi, jika dihitung dengan keterlibatan siswa yang menyedot porsi minimal seperempat hari di sekolah, keberadaannya penting dan berharap tetap jadi ikatan kuat dalam mata rantai pendidikan itu. Sekolah diharapkan tetap jadi mata rantai pendidikan yang akan terjaga kelangsungannya dan terandalkan keberlanjutaannya (sebagai bekal) setelah siswa selesai sekolah dan melanjutkan ke pranata pendidikan yang lainnya. Sekolah seyogyanya jadi pranata pendidikan yang bisa diandalkan dan terhindar dari keterkoyakan apalagi ke’bolong’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah kita ada keterkoyakan budi pekerti. Di sekolah kita ada kebolongan akhlak mulia. Tapi ini mungkin argumen yang terlalu berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bisa digelar hanyalah fakta-fakta yang kasat mata: di sekolah para siswi berseragam minimalis, di luar jam sekolah (baik di dalam sekolah maupun di luar) berdandan a la artis. Para siswa menunjukkan kejantanan dengan sembarang merokok di jalanan. Handphone jadi sarana penyebaran pornografi yang disepakati oleh hasrat nafsu diri. Ada siswi yang menanggung beban berat akibat janin yang mengembang dalam perut yang ketat. Zat adiktif menyebar terlalu dekat dalam lingkungan pergaulan siswa, bahkan sampai di kolong meja kelas sekolah!&lt;br /&gt;Namun, sekolah tidak sedang dalam kekoyakan yang sempurna. Juga tidak dalam bolong yang bulat utuh. Ada realitas sekolah yang sesaat bisa menambal kekurangan itu. Sekolah banyak menggelar ritual keagamaan. Sekolah tiada lengkap tanpa musholla. Musholla padat dengan sholat dhuha. Para siswa mengorganisir diri dalam pengajian-pengajian. Sekolah tidak kehabisan stok siswa yang diutus dalam lomba kaligrafi atau musabaqah tilawatil Qur’an. Sekolah masih cukup fakta untuk dikatakan memiliki religiusitas yang langgeng. Namun, yang seperti itukah? Pada satu hal, fakta-fakta religius di sekolah tersebut ada baiknya. Pada hal lain, fakta-fakta tersebut belum bisa memenuhi keunggulan religius itu sendiri. Fakta-fakta religius itu pada satu sisi membanggakan, pada sisi yang lain melenakan. Adanya perilaku negatif siswa seperti tersebut di atas menunjukkkan bahwa ada fungsi pendidikan yang perlu dilempengkan, ada peran pendidikan yang perlu segera ditambal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kawah pendidikan bagi anak remaja, kita banyak berharap dari sekolah. Tapi, lebih dari itu, sesungguhnya sekolah banyak berharap dari kita! Lantas apa yang bisa kita lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Konteks yang kompleks&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada abad 21 ini manusia berada dalam kompleksitas hidup yang diciptakannya sendiri. Manusia makin bisa mengatasi masalah dalam hidup dan, pada saat yang bersamaan, masalah hidup itu makin semarak berkembang biak. Manusia mengagumi kemampuannya dan norma moral yang menghalangi perkembangan kemampuannya hanya menghambat kemajuan. Pada sebagian lain, manusia memiliki kemampuan yang terbatas dalam mengatasi kompleksitas kemajuan. Yang tersisa hanyalah anomali, mungkin Thomas Kuhn berkata demikian. Itu pula yang menggelisahkan Fuad Hassan (2001) yang mengingatkan bahwa,&lt;br /&gt;“kita berada di ambang suatu masa yang akan digoncang oleh terjadinya krisis nilai dan heteronomi (bahkan anomi). Memudarnya nilai-nilai peri kehidupan serta norma-norma perilaku akan makin menggelisahkan dan mencemaskan, karena menjadikan manusia makin tercengkeram oleh relativisme. Bertubi-tubinya dampak proses globalisasi niscaya akan melahirkan perikehidupan yang ditandai oleh kesegeraan-serba-kesementaraan…” (hlm 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pada negara maju globalisasi berefek pada kemampuan kompetisi, pada Dunia Ketiga (&lt;em&gt;Third World&lt;/em&gt;), termasuk Indonesia, globalisasi berefek antara lain pada penyesuaian (adjustment) dan tantangan budaya (&lt;em&gt;cultural challenge&lt;/em&gt;). Yang terjadi adalah kegamangan masyarakat kita dalam menanggapi globalisasi. Globalisasi jadi gurita yang mencengkeramkan kaki-kakinya melalui struktur (pembagian kerja, hak, modal dan resiko), pembudayaan (identitas, kognisi, nilai, norma dan bentuk simbol) dan tindakan—berupa interaksi global (Thernborn, 2000). Pada resonansi budaya yang kurang berimbang, masyarakat hanya meniru saja budaya baru yag timbul dari luar—dan dengan bangga ditonjolkan sebagai apresiasi atas globalisasi demi menghindari tuduhan anti kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat kita mengalami kegamangan penyesuaian dalam menghadapi budaya akibat globalisasi (&lt;em&gt;cultural maladjustment&lt;/em&gt;). Contoh yang dekat dengan masyarakat adalah televisi. Kalau dahulu haya ada satu stasiun (&lt;em&gt;channel&lt;/em&gt;) televisi, sekarang ada lebih dari sepuluh &lt;em&gt;channel&lt;/em&gt;. Kalau dahulu hanya sedikit tayangan yang diproduksi dari luar negeri, sekarang banyak tayangan yang diproduksi luar negeri yang bahkan menuntut partisipasi banyak pemirsa. Program penjaringan penyanyi berbakat yang diadopsi dari American Idol banyak menyedot kalangan remaja untuk berpartisipasi. Popularitas pun jadi obsesi. Popularitas bisa dicapai oleh siapa saja tanpa mengenal latar belakang sosial. Akibat ikutannya, anak dan remaja dilibatkan dalam program yang hanya menguntungkan sebagian kecil pemodal saja. Anak dan remaja terobsesi oleh popularitas dan menggunakan berbagai cara untuk mencapai obsesinya itu.&lt;br /&gt;Untuk tidak sekedar mengandalkan, sekolah sebagai agen pendidikan berada di ruang yang jauh dari kondusif dalam melakukan proses pendidikan. Sekolah perlu memperbarui peran agar sesuai dengan tuntutan konteks kekinian. Jangan sampai, alih-alih menciptakan ruang sosial yang mendidik, yang terjadi adalah pengasingan siswa dari realitas di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Religiusitas sebagai budaya tanding&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tiada budaya tanding yang kuat selain menggali dari warisan purba dalam mayarakat yang akan terus dipegang teguh, yakni agama. Agama adalah senjata! Dengan agama, orang akan tergerak memberi sesuatu setulus-tulusnya sampai sepaksa-paksanya merampas. Dengan agama orang akan menebar kasih sayang sampai menyebar kebencian. Melalui agama akan tergelar kedamaian dan juga terselimuti permusuhan. Dari agama akan muncul sebajik-bajiknya amalan dan sekaligus sekeji-kejinya perbuatan. Dari agama kita berharap akan energi positif yang turut serta membangun peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan religiusitas jadi sumber rujukan dalam menghampiri globalisasi. Sebagai seorang muslim, modalitas itu sudah ada. Namun, apakah modalitas itu hanya ada secara potensial atau aktual, itu tergantung kita sendiri. Religiusitas itu ada secara esensial maupun kontekstual dalam tiga unsur globalisasi itu sendiri, yakni struktur, pembudayaan dan tindakan. Sekolah sebagai agen budaya diharapkan berperan di aspek pembudayaan (identitas, kognisi, nilai, norma dan bentuk simbol) dan tindakan. Religiusitas sebagai nilai ditatap oleh Hassan (2001) sebagai&lt;br /&gt;“jauh dari relativisme. Maka dapatlah disimpulkan bahwa nilai-nilai religius bisa berlaku sebagai andalan bagi kemantapan orientasi manusia dalam perilakunya. Ini terutama berlaku bagi perilaku manusia yang disebut ‘akhlak’, yaitu segala penjelmaan perilakunya yang dinilai pada rentangan skala ‘baik-buruk’ (‘good-evil’). Pada segala perilakunya yang tergolong sebagai ‘akhlak’ inilah melekat ‘adab’ sebagai acuan normatif dalam interaksinya dengan manusia sesamanya maupun sikapnya terhadap kemanusiaan umumnya. Bagi seorang yaang religius mestinya agama yang dianutnya cukup memberi tuntunan untuk tampil dengan perilaku berakhlak dan beradab, sebab sebagai suatu sumber keyakinan dan keimanan, agama secara keseluruhan dan keutuhan mestinya merupakan carapandang bagi penganutnya mengenai manusia dan dunianya maupun perikehidupannya (Mensch-, Welt- und Lebensanschauung).” (hlm 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil akhirnya adalah religius dalam tindakan. Akhlak, inilah esensi hadirnya agama. Ini pula esensi diutusnya Rasulullah saw. Allah swt berfirman dalam QS. Al-Qalam ayat 4, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” Dalam hadits riwayat Ahmad dan Baihaqy, Rasulullah saw bersabda, “sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan keutamaan akhlak.” Dengan penekanan yang tidak kalah kuat akan pentingnya akhlak, seorang penyair, Ahmad Syauqi Bey berkata, “kekalnya suatu bangsa adalah selama akhlaknya kekal, jika akhlaknya sudah lenyap, musnah pulalah bangsa itu.” Lantas, apa itu akhlak? Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin memberikan pengertian bahwa “akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, daripadanya timbul perbuatan yang mudah tanpa memerlukan pertimbangan pikiran”(Razak, 1989).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tingkat identitas dan kognisi (cara pandang), religiusitas yang tinggi pada seseorang akan nampak seperti kesadaran atas eksistensi ketuhanan pada sosok penggembala kambing yang ditemui Umar bin Khattab ra. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Dinar bahwa pada suatu hari dia berjalan bersama Umar bin Khattab ra. Dari Madinah ke Mekkah. Di tengah jalan mereka berjumpa dengan seorang anak gembala yang sedang turun dari tempat penggembalaan dengan kambing-kambingnya yang banyak. Khalifah ingin menguji sampai dimana anak gembala itu bersikap amanah. Khalifah bertanya, “wahai gembala, juallah padaku seekor anak kambing itu.” Gembala itu menjawab, “aku hanya seorang budak”. Lalu khalifah menimpali, “katakan saja pada tuanmu kalau anak kambing itu telah dimakan serigala.” Segera anak gembala itu menjawab, “kalau begitu dimana Allah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Religiusitas yang muncul dari nilai-nilai ketauhidan menjelmakan kesadaran atas Tuhan-hamba. Manusia adalah pengabdi. Manusia juga adalah pemimpin-pengelola (khalifah) bagi jagad raya. Dimanapun berada kita adalah seorang muslim yang punya hubungan relasional dengan Tuhannya. Dimanapun berada kita adalah seorang muslim yang punya hubungan interaksional dengan manusia lain dan makhluk Allah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hakekat pendidikan agama&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pendidikan agama memiliki peran dalam melakukan transformasi religiusitas pada siswa. Pendidikan agama akan mengena jika di dalam terkandung pesan-pesan religius yang membangkitkan potensialitas siswa sebagai seutuh-utuhnya manusia. Karena tujuan utama pendidikan agama, menurut Imam Tolkhah (2006) sejatinya bukanlah sekedar mengalihkan pengetahuan dan keterampilan (sebagai isi pendidikan), melainkan lebih merupakan suatu ihktiar untuk menumbuhkembangkan fitrah insani (ranah afektif) sehingga peserta didik bisa menjadi penganut atau pemeluk agama yang taat dan baik (paripurna). Jangankan pendidikan agama, pendidikan apapun (matematika, kimia, fisika, ekonomi, sejarah, dan sebagainya) bisa membangkitkan fitrah insani yang mampu memberikan kesadaran sebagai hamba Allah. Ali Issa Othman (1981) menggambarkan tentang potensi pengetahuan manusia menurut Al-Ghazali seperti berikut ini.&lt;br /&gt;"Walaupun manusia terbawa oleh fitrahnya untuk mengenal Allah, ia tidak dapat tertarik ke dekat Allah melalui fitrah atau melalui prinsip-prinsip akali, kecuali melalui ilmu-ilmu yang diperolehnya. Dengan perkataan lain, perolehan ilmu pengetahuan sangat penting di dalam mencari pengetahuan tentang Allah. Pengetahuan tentang alam semesta merupakan tangga menuju pengetahuan (ma’rifah) tentang pencipta-Nya. Alam semesta merupakan ‘tulisan Allah’ di mana terdapat tulisan-tulisan dan perwujudan kebenaran-kebenaran ilahi." (hlm 73)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, pendidikan agama harus bisa membangkitkan religiusitas. Karena kahekat pendidikan Islam adalah kesadaran atas identitasnya sebagai seorang muslim dan mampu mewarnai diri dan di luar dirinya agar sejalan dengan Islam. Pesan Islam adalah akhlak. Dari akhak inilah pondasi peradaban terbangun. John Gardner, seorang cendekiawan Amerika yang pernah menjadi Menteri Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan (&lt;em&gt;Health, Education and Welfare—HEW&lt;/em&gt;) dalam pemerintahan Presiden John F. Kennedy mengatakan, “&lt;em&gt;no nation can achieve greatness unless it believes in something, and unless that something has moral dimensions to sustain a great civilization&lt;/em&gt;” (tidak ada bangsa yang mampu mencapai kebesaran kecuali jika bangsa ini percaya kepada sesuatu, dan kecuali jika sesuatu itu memiliki dimensi moral untuk menopang suatu peradaban yang besar). Agama, menurut Madjid (2004), adalah sistem kepercayaan, dan agama yang besar memiliki dimensi moral yang besar untuk menopang peradaban yang besar. Peradaban besar terbangun dari keteladanan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa yang religius ini merindukan siswa yang giat belajar mandiri (sebagai ganti dari mencontek), siswa yang hormat pada yang lebih tua, tenggang rasa pada yang seusia dan mencintai pada yang lebih muda, siswa yang menebarkan kebaikan tanpa pandang-pilih, siswa yang mampu mengelola energinya dengan prestasi dan aktualisasi kemampuan. Siswa yang tegar dengan segala lika-liku hidup (sehingga tidak mudah terjerumus pada kenikmatan yang melalaikan). Siswa yang memiliki otonomi moral atau akhlak sehingga tidak mudah terbawa oleh ajakan-ajakan negatif, bakhan mampu mengingatkan jika orang lain terlanjur berperilaku negatif. Ini bukan doktrin, ini harapan yang terkumpul oleh kerinduan atas budaya religius yang makin terkikis oleh derasnya kemajuan peradaban—sehingga lupa menyingsingkan lengan baju, bergegas membenah diri. []&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-7902788801224424503?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/7902788801224424503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/07/religious-culture-di-sekolah-menggugah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/7902788801224424503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/7902788801224424503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/07/religious-culture-di-sekolah-menggugah.html' title='Religious Culture di Sekolah: Menggugah hakekat Pendidikan Agama'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STFoNi4s_mI/AAAAAAAAAFw/ScUFwaVu05Q/s72-c/j.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-238896528566971391</id><published>2008-05-12T02:54:00.000-07:00</published><updated>2008-11-29T11:20:48.113-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;Sekolah Saja tidak Cukup&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“&lt;em&gt;Kejujuran dan integritas moral penting. Jika hanya mengandalkan nilai UN tinggi, kita jadi bangsa yang tidak jujur” &lt;/em&gt;(Bambang Sudibyo)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Belum lama berselang peringatan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo di atas, pada hari yang sama (23/4) kecurangan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) terjadi di sekolah-sekolah kita.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan Mendiknas di atas tentu bukan sekedar pelipur lara atas kecemasan pelajar, orang tua, guru, kepala sekolah maupun pengamat pendidikan menghadapi UN. Bukan pula sebagai basa-basi di tengah sekelompok masyarakat yang riuh-ramai menggugat pelaksanaan UN. Sirat ungkapan di atas bisa tertangkap sebagai kecemasan atas ujian yang sia-sia: saat ujian digelar sebagai pengukur capaian hasil belajar-mengajar (dan kualitas pendidikan nasional umumnya), ada variabel pendidikan lain yang luput uji. Ada anasir capaian pendidikan kita yang tidak mampu terukur lewat evaluasi yang diadakan oleh Depdiknas. Pada akhirnya, ada hasil UN yang diproduksi dari bahan dasar kecurangan. Ada hasil UN yang diproduksi oleh pelajar, orang tua, guru, kepala sekolah, pengawas, dinas pendidikan bahkan orang Depdiknas sendiri dengan peralatan yang sonder kejujuran.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saat dibutuhkan kejujuran dan integritas moral, fakta-fakta yang terungkap justru mengindikasikan perihal yang sebaliknya. Di banyak kota, peserta UN dengan mudah mendapat kunci jawaban lewat SMS. Guru-guru di sebuah SMA di Lubuk Pakam ketahuan memberbaiki lembar jawaban peserta untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Di Batam, ada soal UN yang bocor, beredar lewat bawah pintu kantor Dinas Pendidikan. Setidaknya dua kepala sekolah diperiksa Polresta Makasar karena diduga memberi kunci jawaban pada siswa-siswanya. Kejujuran dan integritas moral tergadai oleh ambisi bercampur cemas para peserta UN, guru, kepala sekolah maupun dinas pendidikan untuk mendapat nilai UN yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam pelaksanaan UN tersedia ruang lapang bagi ketidakjujuran, keraguan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menggunakan hasil UN sebagai salah satu pertimbangan seleksi masuk PTN tidaklah berlebihan. Keraguan tidak hanya pada kecurangan yang terjadi selama UN. Tapi, upaya guru men-drill kemampuan pelajar dalam menjawab soal UN melalui latihan soal sebanyak mungkin pada gilirannya, mengutip pernyataan Rektor ITB Joko Santoso, menyampingkan proses pembentukan nalar, logika dan kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, pernyataan Bambang Sudibyo di atas sedikit benarnya. Yang banyak benarnya adalah, pelaksanaan UN tidak hanya membuat kita jadi bangsa yang tidak jujur, tapi juga jadi bangsa yang rendah nalar, irrasional dan miskin kreativitas. Semula, maksud penyelenggaraan UN tidak mengamini akibat buruknya. Tapi, saat semua pihak terfokus pada hasil UN yang tinggi, sikap yang dilakukan mengikuti target tercapainya nilai UN yang tinggi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua &lt;em&gt;over-protective&lt;/em&gt; terhadap anaknya, berharap agar anaknya lebih banyak mengisi waktu sepanjang hari untuk belajar. Secara tidak sengaja orang tua terpola cara asuhnya dalam gaya otoritarian. Orang tua mengasuh sembari diselubungi kecemasan atas masa depan anaknya. Aktivitas anak pun terbatas pada kagiatan yang mampu meningkatkan prestasi akademiknya. Anak terjerat dalam kerangka berpikir linier yang konkret : jika saya rajin mengerjakan soal UN maka saya dapat nilai UN tinggi; jika saya mengikuti bimbingan belajar maka saya dapat nilai UN memuaskan. Yang ada dalam benak kepala sekolah : citra baik sekolah ditentukan oleh tingginya tingkat kelulusan siswa, orang lain tidak akan bertanya bagaimana caranya. Guru sedang mempertaruhkan kualitas paedagogisnya : apa jadinya jika banyak siswa yang tidak lulus UN karena mata pelajaran yang diampu bernilai rendah? Pelajar diukur kemampuan aktual dan potensialnya (masa kini dan masa depannya) dengan mengukur banyak sedikitnya butir soal yang mampu dijawab dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berharap, ada ruang sosial baru yang memungkinkan pelajar bisa mengaktualisasikan potensinya. Ada ruang sosial yang menghargai pelajar tidak dalam nominal hasil belajar. Ruang sosial yang kecakapan afektif dan psikomotorik dihargai. Ada ruang belajar baru yang di dalamnya menjunjung tinggi kejujuran, kemampuan nalar, logika dan kreativitas. Butuh ruang tempaan yang menyilakan pelajar mengasah integritas moral; menguji kejujuran; mendobrak nalar sempit; mengasah logika berpikir radian dan memulung percik kreativitas. Dalam hal ini organisasi yang memosisikan pelajar sebagai subjek garap tertantang untuk membuka lebar ruang belajar itu. Adanya orientasi belajar di sekolah yang hanya mengambil satu aspek (yakni kognitif) semata, memungkinkan institusi lain memenuhi aspek-aspek yang bolong itu. Selanjutnya, organisasi pelajar diharap mampu mendedikasikan sebagai ruang belajar alternatif yang selama ini tidak tercukupi oleh pendidikan formal di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya kita mengapresiasi tawaran konsep baru dalam pendidikan formal, sebagaimana diungkap Tomas Englund. Menututnya, “dalam teori didaktik dan kurikulum, kita sering kali terlalu dicengkeram oleh konsep-konsep seperti persekolahan, perencanaan, belajar dan mengajar. Sebagai gantinya, saya pikir kita membutuhkan bahasa yang menggunakan konsep-konsep seperti pengalaman, komunikasi, kebermaknaan, praktek kemandirian, dan seterusnya.” Konsep-konsep baru tersebut mungkin janggal diadopsi sekolah. Apalagi sindroma UN lebih mempersempit lagi konsep-konsep belajar itu: yang dimaksud belajar adalah mengerjakan soal. Namun, pada organisasi pelajar, konsep-konsep semacam pengalaman, komunikasi, kebermaknaan, tanggung jawab, kepedulian dan kerjasama adalah konsep dasar yang alamiah dan lumrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam organisasi pelajar, pengalaman-pengalaman digali dan dieksplorasi. Training-training di beberapa organisasi pelajar menggunakan experiental learning yang memungkinkan seseorang belajar dari pengalamannya maupun pengalaman temannya. Dalam organisasi, pelajar berlatih komunikasi secara formal (rapat, sidang, sambutan, pidato) maupun informal (komunikasi interpersonal—diadik maupun kelompok). Pelajar diasah mentalnya untuk bertanggung jawab melalui amanah yang diemban. Pelajar dilatih dalam situasi alamiah pengambilan keputusan yang bijak. Pelajar dilatih sikap assertif dalam mengungkapkan gagasan, perasaan dan hak-haknya.&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Selamat datang PII, IPM, IPNU, IPPNU, KAPMI, GSNI dan organisasi pelajar yang lain. Kita sedang memasuki dunia yang riuh-lirih memanggil karena butuh peran konkretmu! Kita tertantang oleh asumsi yang menyelubungi pelajar, orang tua, guru, kepala sekolah, dinas pendidikan maupun masyarakat umumnya bahwa berorganisasi tidak punya korelasi dengan nilai akademik yang tinggi. Pelajar perlu di beri ruang belajar, semacam ‘sekolah baru’. Saat sekolah dirundung demam atas kalkulasi kognitif anak didiknya, pelajar yang memiliki kesadaran aktualisasi afeksi dan psikomotor akan berujar: sekolah saja tidak cukup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteng Raya, 30 April 2008&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-238896528566971391?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/238896528566971391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/05/sekolah-yang-lain.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/238896528566971391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/238896528566971391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/05/sekolah-yang-lain.html' title='Pendidikan'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-4213396117752445177</id><published>2008-03-28T22:50:00.000-07:00</published><updated>2008-11-29T11:21:35.461-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Catatan</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R-3dJkatWbI/AAAAAAAAACo/fGeORvZh5B4/s1600-h/S5031435.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183041902637570482" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 137px; CURSOR: hand; HEIGHT: 136px" height="400" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R-3dJkatWbI/AAAAAAAAACo/fGeORvZh5B4/s400/S5031435.JPG" width="159" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya tidak banyak menulis beberapa minggu ini. Ini hanya sedikit tulisan yang sempat mampir di buku harian saya. Sebuah perenungan—saya takut menyebut ini sebagai puisi. Sebuah katarsis dari benak pikiran yang hanya berfungsi parsial (di ruang dan waktu tertentu), bukan universal (di ruang dan waktu tak tentu). Ini jelmaan yang mengafirmasi pada konsep diri: saya-yang-ingin-dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dalam Orkestra Waktu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;pagi terlalu dini, dan siang adalah niscaya yang nyaman tertunda&lt;br /&gt;syaraf-syaraf waktu merambati kepala&lt;br /&gt;menarik simpul yang menyembunyikan dawai-dawai tak beraturan&lt;br /&gt;detak perdetik bergulir di rindang riwayat&lt;br /&gt;bukan suara yang memekik syaraf-syaraf kerja&lt;br /&gt;waktu melantun lagu yang mengubur rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jejak hanya berbekas tapak tak tampak&lt;br /&gt;semacam riwayat yang lupa tertulis&lt;br /&gt;gema terekam rapi, sebagai persembahan pribadi&lt;br /&gt;wadagnya hanya seberkas putih kabut&lt;br /&gt;menjerat kaki sejarah&lt;br /&gt;yang hampir saja lupa melangkah&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-4213396117752445177?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/4213396117752445177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/03/renungan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/4213396117752445177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/4213396117752445177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/03/renungan.html' title='Catatan'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R-3dJkatWbI/AAAAAAAAACo/fGeORvZh5B4/s72-c/S5031435.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-9204902030542662214</id><published>2008-02-12T07:31:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T11:21:35.461-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Catatan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R7HAqfAT8II/AAAAAAAAACU/hhIb9dW10nE/s1600-h/zimages.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5166122083680514178" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R7HAqfAT8II/AAAAAAAAACU/hhIb9dW10nE/s320/zimages.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold;font-size:130%;" &gt;Kebaikan yang tidak Mengenal Konteks&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kebaikan tidak mengenal konteks. Atau ini hanya pengetahuan saya yang terlambat bahwa ternyata ada kebaikan yang tidak mengenal konteks. Kebaikan lebih mementingkan isi. Dan, di Jakarta ada orang yang berbuat baik tanpa mengenal konteks. Semoga bukan orang baru di jakarta: yang untuk beberapa lama (atau mungkin selamanya) meninggalkan kampung halaman—yang diwajarkan sebagai kaum udik. Juga bukan dari kalangan yang terbiasa terjaga kesuciannya dengan tiada henti berbuat baik—seperti biksu yang keluar dari biara.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kebaikan tidak mengenal konteks. Betapa tidak? Ini setidaknya saya alami siang tadi, dari sebuah perkenalan yang sebentar. Dari sebuah sapaan yang tidak aku kehendaki. Tapi sapaan yang dikehendaki olehnya, dari orang yang berbuat baik tanpa mengenal konteks. Sebuah sapaan yang tanggung, sekedar memuluskan jalan baginya untuk mendekati konten. Sapaan dilakukannya sebagai syarat untuk menjalani laku kebaikan. Mungkin kebaikannya tidak terlalu banyak harganya, tapi bernilai tinggi bagiku yang tergugah oleh laku kebaikan. Karena, kebaikan yang dilakukannya hanya berharga satu gelas es campur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otot kaki yang gemetar—akibat berjalan lama—memaksa saya mendamparkan tubuh di tengah taman Kwitang. Rasa haus ingin tercukupi dengan memesan segelas es campur. Digenapi keinginanku (beristirahat di taman) oleh nuansa baru dalam aktivitas membaca: menikmati buku lama yang baru dibeli. Sambil menunggu pesanan segelas es campur itu tersedia, saya membuka-buka halaman kertas buku yang lusuh—dan berbau kertas tua. Saat saya menggapai es campur dengan parutan es-nya yang mengungguni gelas, seseorang berbadan hampir-hampir setinggi dua meter mendekat di samping tempat duduk saya. Lalu ia menyapa dengan sapaan yang membutuhkan rasa nyaman.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, kalau mau ke Cengkareng pakai bus yang mana ya?” pertanyaan perihal jalar transportasi yang lebih dari 90 persen (pertanyaan perihal itu) tidak bisa aku jawab dengan meyakinkan. Ia berbicara dengan logat yang meyakinkan saya bahwa yang mengajak bicara berasal dari wilayah nusantara yang jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“oh, gini aja Mas, lebih baik ke terminal Senen dulu, nanti disana bisa memilih bus yang ke arah Cengkareng”. Sebuah jawaban yang tidak terlalu memuaskan memang, tapi tidak terlalu mengecewakan juga. Walaupun aku tidak begitu yakin apakah jawaban itu tepat, apalagi benar.&lt;br /&gt;”Trus kalau mau ke Senen pakai apa?”&lt;br /&gt;”Emmm...” saya menjawab terlalu lama, mengkin baginya saya belum menjawab sama sekali, sampai ia menoleh ke arah bajaj.&lt;br /&gt;”Pakai itu ya..” akhirnya ia menjawab sendiri pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan selanjutnya kami isi dengan mempertajam konteks kehadirannya saat itu di taman Kwitang. Darinya saya tahu bahwa ia seorang polisi, sakabayangkara yang sedang mengikuti perlemahan di Cibubur. Ia berasal dari sebuah kota kecil di sudut timur negeri ini: Papua. Aku masih terus menikmati es campur yang hampir tandas. Oh, ternyata ia pesan es campur juga. Percakapan yang kulakukan selanjutnya hanyalah basa-basi yang tidak hendak dirajut kelanjutannya jika bertemu lagi kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia usai menghabiskan es campurnya, mendadak ia berdiri dan mencegat siklus saya sebagai pembeli yang harus membayar, “Sekalian saja mas, saya bayar”. Ia membayar es campur yang mestinya jadi tanggunganku sendiri. Mungkin aneh, dalam relasi yang sebentar dan tidak mendalam, ia berlaku seakan sebagai kawan akrab. Ia tidak terlalu dipusingkan oleh siapa saya, darimana asal saya, kerja dimana saya. Karena pertanyaan-pertanyaan itu memang tidak sekalipun ia lontarkan pada saya. Ia seakan tidak mementingkan konteks yang melingkupi kehadiranku saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konteks, bagi mereka yang yang terlanjur lekat dengan kebaikan yang tanpa pamrih, mungkin bukan berarti tidak ada. Konteks bagi mereka tidak terlalu dipentingkan, mungkin nyaris tiada. Para pelaku kebaikan yang tidak mengenal konteks mungkin seperti orang yang bernapas: nyaris tidak mengenal O2. Hanya sekedar mewajibkan diri mengikuti ritme makhluk yang hidup: ambil napas dan buang napas. Baginya, konteks ada bersamaan dengan keberadaannya di dunia. Dengan kata lain, keberadaan dirinya di dunia memang dalam konteks menyebarkan kebaikan sebanyak-banyaknya. Kepada apa dan siapa saja, kenal maupun tidak. Mungkin ini yang dimaksud rahmatan lil alamin. Sayangnya, dalam percakapan yang sebentar dan dangkal itu saya tidak (tertarik) mengetahui agama yang dianutnya. Bagi saya jika sudah sampai pada esensi &lt;em&gt;rahmatan lil alamin&lt;/em&gt;, konteks keberagamaan seseorang tidaklah terlalu penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteng Raya, 6 Februari 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-9204902030542662214?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/9204902030542662214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/02/kebaikan-itu.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/9204902030542662214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/9204902030542662214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/02/kebaikan-itu.html' title='Catatan'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R7HAqfAT8II/AAAAAAAAACU/hhIb9dW10nE/s72-c/zimages.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-5808790761700160576</id><published>2008-02-12T07:05:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T11:21:35.461-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Catatan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kebaikan yang tidak Mengenal Konteks&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kebaikan tidak mengenal konteks. Atau ini hanya pengetahuan saya yang terlambat bahwa ternyata ada kebaikan yang tidak mengenal konteks. Kebaikan lebih mementingkan isi. Dan, di Jakarta ada orang yang berbuat baik tanpa mengenal konteks.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bukan orang baru di jakarta: yang untuk beberapa lama (atau mungkin selamanya) meninggalkan kampung halaman—yang diwajarkan sebagai kaum udik. Juga bukan dari kalangan yang terbiasa terjaga kesuciannya dengan tiada henti berbuat baik—seperti biksu yang keluar dari biara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kebaikan tidak mengenal konteks. Betapa tidak? Ini setidaknya saya alami siang tadi, dari sebuah perkenalan yang sebentar. Dari sebuah sapaan yang tidak aku kehendaki. Tapi sapaan yang dikehendaki olehnya, dari orang yang berbuat baik tanpa mengenal konteks. Sebuah sapaan yang tanggung, sekedar memuluskan jalan baginya untuk mendekati konten. Sapaan dilakukannya sebagai syarat untuk menjalani laku kebaikan. Mungkin kebaikannya tidak terlalu banyak harganya, tapi bernilai tinggi bagiku yang tergugah oleh laku kebaikan. Karena, kebaikan yang dilakukannya hanya berharga satu gelas es campur!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Otot kaki yang gemetar—akibat berjalan lama—memaksa saya mendamparkan tubuh di tengah taman Kwitang. Rasa haus ingin tercukupi dengan memesan segelas es campur. Digenapi keinginanku (beristirahat di taman) oleh nuansa baru dalam aktivitas membaca: menikmati buku lama yang baru dibeli. Sambil menunggu pesanan segelas es campur itu tersedia, saya membuka-buka halaman kertas buku yang lusuh—dan berbau kertas tua. Saat saya menggapai es campur dengan parutan es-nya yang mengungguni gelas, seseorang berbadan hampir-hampir setinggi dua meter mendekat di samping tempat duduk saya. Lalu ia menyapa dengan sapaan yang membutuhkan rasa nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, kalau mau ke Cengkareng pakai bus yang mana ya?” pertanyaan perihal jalar transportasi yang lebih dari 90 persen (pertanyaan perihal itu) tidak bisa aku jawab dengan meyakinkan. Ia berbicara dengan logat yang meyakinkan saya bahwa yang mengajak bicara berasal dari wilayah nusantara yang jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“oh, gini aja Mas, lebih baik ke terminal Senen dulu, nanti disana bisa memilih bus yang ke arah Cengkareng”. Sebuah jawaban yang tidak terlalu memuaskan memang, tapi tidak terlalu mengecewakan juga. Walaupun aku tidak begitu yakin apakah jawaban itu tepat, apalagi benar.&lt;br /&gt;”Trus kalau mau ke Senen pakai apa?”&lt;br /&gt;”Emmm...” saya menjawab terlalu lama, mengkin baginya saya belum menjawab sama sekali, sampai ia menoleh ke arah bajaj.&lt;br /&gt;”Pakai itu ya..” akhirnya ia menjawab sendiri pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan selanjutnya kami isi dengan mempertajam konteks kehadirannya saat itu di taman Kwitang. Darinya saya tahu bahwa ia seorang polisi, sakabayangkara yang sedang mengikuti perlemahan di Cibubur. Ia berasal dari sebuah kota kecil di sudut timur negeri ini: Papua. Aku masih terus menikmati es campur yang hampir tandas. Oh, ternyata ia pesan es campur juga. Percakapan yang kulakukan selanjutnya hanyalah basa-basi yang tidak hendak dirajut kelanjutannya jika bertemu lagi kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia usai menghabiskan es campurnya, mendadak ia berdiri dan mencegat siklus saya sebagai pembeli yang harus membayar, “Sekalian saja mas, saya bayar”. Ia membayar es campur yang mestinya jadi tanggunganku sendiri. Mungkin aneh, dalam relasi yang sebentar dan tidak mendalam, ia berlaku seakan sebagai kawan akrab. Ia tidak terlalu dipusingkan oleh siapa saya, darimana asal saya, kerja dimana saya. Karena pertanyaan-pertanyaan itu memang tidak sekalipun ia lontarkan pada saya. Ia seakan tidak mementingkan konteks yang melingkupi kehadiranku saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konteks, bagi mereka yang yang terlanjur lekat dengan kebaikan yang tanpa pamrih, mungkin bukan berarti tidak ada. Konteks bagi mereka tidak terlalu dipentingkan, mungkin nyaris tiada. Para pelaku kebaikan yang tidak mengenal konteks mungkin seperti orang yang bernapas: nyaris tidak mengenal O2. Hanya sekedar mewajibkan diri mengikuti ritme makhluk yang hidup: ambil napas dan buang napas. Baginya, konteks ada bersamaan dengan keberadaannya di dunia. Dengan kata lain, keberadaan dirinya di dunia memang dalam konteks menyebarkan kebaikan sebanyak-banyaknya. Kepada apa dan siapa saja, kenal maupun tidak. Mungkin ini yang dimaksud rahmatan lil alamin. Sayangnya, dalam percakapan yang sebentar dan dangkal itu saya tidak (tertarik) mengetahui agama yang dianutnya. Bagi saya jika sudah sampai pada esensi &lt;em&gt;rahmatan lil alamin&lt;/em&gt;, konteks keberagamaan seseorang tidaklah terlalu penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteng Raya, 6 Februari 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-5808790761700160576?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/5808790761700160576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/02/catatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/5808790761700160576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/5808790761700160576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/02/catatan.html' title='Catatan'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-2362440076111124016</id><published>2008-02-04T02:05:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T11:21:35.462-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Catatan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R7Byw_AT8HI/AAAAAAAAACM/jBlRieQ68n4/s1600-h/berta-0302-banjir-02.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165754958465986674" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 172px; CURSOR: hand; HEIGHT: 130px" height="240" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R7Byw_AT8HI/AAAAAAAAACM/jBlRieQ68n4/s320/berta-0302-banjir-02.jpg" width="172" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;The True Power of Water atawa Banjir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pada mulanya adalah rahmat. Peristiwa pada hari itu (Jum’at, 1/2), makin menambah yakin bahwa Jum’at adalah hari yang terlalu akrab dengan perihal musibah. Titik air hujan di hari Jum’at serupa rahmat yang nyaris terlupa.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan yang berlangsung sepanjang hari itu mampu mengumpul curahan airnya, tidak hanya di sepanjang aliran sungai, selokan, rawa-rawa atau ceruk danau, tapi juga di sepanjang jalan raya, trotoar, halaman rumah, lantai keramik dan jok-jok mobil. Hujan yang terus menerus mampu menyulap keteduhan—sebagaimana hujan pertama di musim kemarau- jadi kegundahan yang membikin panik. Dalam beberapa situasi mampu membuat orang tidak berkutik. Hujan mengguyur penghuni Jakarta sampai basah kuyup oleh kegalauan.&lt;br /&gt;Air tidak selamanya memiliki takaran yang bersahabat dengan manusia. Kadang air berkurang (yang jika itu berada dalam tubuh akan menumbulkan dehidrasi), kekadangan yang lain, air berlebih: lalu timbul banjir. Sebenarnya bukan berlebih, tapi karena tiada tempat yang mempunyai daya untuk menciptakan kelangkaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, disamping manusia mengatur air, air juga mampu mengatur manusia. Ternyata pula, air memiliki hubungan resiprokal yang tanggap terhadap respon dari (yang selama ini jadi) tuannya. Ada sebab-sebab yang membawa kemungkinan air berkumpul, menghalau, memusnahkan, dan terus menerus meneror dengan penuh rasa yang harap-harap galau. Ada sebab-sebab yang mendaulat air agar berlaku (seakan-akan) lebih pintar dari manusia. Makin sulit manusia mengatasi kumpulan air itu, makin memperjelas daya kemampuan manusia yang sungguh tidak lebih kuasa dari air yang menyatu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada &lt;em&gt;people power&lt;/em&gt;. Untuk masyarakat yang masih berdamai dengan demokrasi, kekacauan akibat manusia yang berkumpul tabu terjadi. Kekacauan ini lebih bersumber pada keengganan manusia untuk berembug: mengurai penyebab banjir, membenahi penyebabnya, dan antisipasi aktif untuk menanggulangi. Kekacauan yang terjadi saat itu disebabkan oleh water power yang kemunculannya tidak disetir oleh kepentingan. Yang lebih tepat mungkin ini: manusia dengan dengan kepentingan diri sendiri yang melena, terlupa bahwa hujan –dengan segala rahmat yang terkandungnya- adalah peristiwa alam yang teramat penting. Lebih penting dari sekedar (orang nomor satu RI) tepat waktu menghadiri sekaligus memimpin sidang kabinet paripurna membahas APBN 2008. Lebih penting dari sekedar (orang nomor satu RI) berada di atas Mercedes Benz tanpa harus berpindah mobil karena terjebak banjir di Jl Thamrin. Lebih penting dari sekedar naik pesawat tanpa delay akibat bandara tergenang. Lebih penting dari sekedar melewati sepanjang jalan di Jakarta tanpa macet, juga tanpa air yang membasahi mesin dan jok mobil—yang berarti membasahi sekujur kaki dan pinggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan bahwa hujan bukan sebuah peristiwa penting bisa bermula dari ketidakpentingan air. Kapan air itu dianggap penting? Mungkin bila sudah tidak ada lagi hujan—yang berarti berakhirnya siklus air. Akhir dari sebuah siklus air berarti berakhirnya kehidupan itu sendiri. Akhir dari kehidupan, termasuk juga kehidupan manusia, berarti berakhirnya segala rupa anggapan, termasuk anggapan yang mengatakan bahwa sesuatu itu penting. Air memiliki siklus yang abstrak dan tidak terlalu menarik disimak oleh beragam manusia dengan keawamannya.&lt;br /&gt;Saat ini, air dari deras hujan masih menyimpan kekuatan yang menimbulkan rasa takut. Tiap kali hujan akan timbul rasa cemas. Tiap kali angin mengantar rintik keras membentur atap, tiap kali itu pula rasa was-was membentur-bentur dada. Bagi kalangan yang terbersit sedikit tanggung jawab, rintik hujan membangunkan dari diam panjang. Mungkinkah bisa sampai tergerak untuk segera berbenah, lalu berburu-buru, seakan ada tugas yang belum selesai tertuntaskan? Pilkada Jakarta baru empat bulan kemarin, dan sayangnya, hujan tidak tahu menahu apakah pemerintah sudah siap dengan program penanggulangan banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteng Raya, 3 Februari 2008&lt;br /&gt;dari orang udik yang ingin merasakan suka-duka jadi orang Jakarta, include dengan banjirnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-2362440076111124016?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/2362440076111124016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/2362440076111124016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/02/hujan-adalah-banjir.html' title='Catatan'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R7Byw_AT8HI/AAAAAAAAACM/jBlRieQ68n4/s72-c/berta-0302-banjir-02.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-5032473167459704503</id><published>2008-01-27T10:12:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T11:24:21.318-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lagu'/><title type='text'>Lagu Baik</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R6Da14O-bgI/AAAAAAAAABc/pi9L6GYto5E/s1600-h/gie.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161365792129707522" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R6Da14O-bgI/AAAAAAAAABc/pi9L6GYto5E/s320/gie.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Donna Donna - Sita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On a waggon bound for market&lt;br /&gt;there's a calf with a mournful eye.&lt;br /&gt;High above him&lt;br /&gt;there's a swallow&lt;br /&gt;winging swiftly through the sky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Reff:&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;How the winds are laughing,&lt;br /&gt;they laugh with all their might.&lt;br /&gt;Laugh and laugh the whole day through,&lt;br /&gt;and half the summers night.&lt;br /&gt;Donna, Donna, Donna, Donna;&lt;br /&gt;Donna, Donna, Donna, Don.&lt;br /&gt;Donna, Donna, Donna, Donna;&lt;br /&gt;Donna, Donna, Donna, Don.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stop complaining! said the farmer,&lt;br /&gt;Who told you a calf to be?&lt;br /&gt;Why don't you have wings to fly with,&lt;br /&gt;like the swallow so proud and free?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Repeat &lt;em&gt;Reff&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Calves are easily bound and slaughtered,&lt;br /&gt;never knowing the reason why.&lt;br /&gt;But whoever treasures freedom,&lt;br /&gt;like the swallow has learned to fly.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Repeat&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Reff&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;a title="Lirik Lagu Indonesia" href="http://liriklaguindonesia.net/"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;LirikLaguIndonesia.Net&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-5032473167459704503?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/5032473167459704503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/5032473167459704503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/01/donna-donna.html' title='Lagu Baik'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R6Da14O-bgI/AAAAAAAAABc/pi9L6GYto5E/s72-c/gie.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-168591638199647184</id><published>2008-01-27T08:31:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T11:20:48.113-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R6DnM4O-biI/AAAAAAAAABs/sPkTyT6bOcw/s1600-h/kihajar.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161379381406232098" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R6DnM4O-biI/AAAAAAAAABs/sPkTyT6bOcw/s320/kihajar.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Media Sebagai Lingkar Pendidikan Keempat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Beberapa waktu lalu, sekelompok muda perfilman yang tergabung dalam Masyarakat Film Indonesia (MFI) mengajukan&lt;/em&gt; judicial review &lt;em&gt;atas Undang-undang nomor 8 Tahun 1992 tentang Perfilman kepada Mahkamah Konstitusi (MK). Mereka menggugat keberadaan Lembaga Sensor Film (LSF) yang membendung kreativitas mereka selama ini. Juga, mereka menuntut agar LSF dan Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) dibubarkan karena telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, Indonesia akan terus merapalkan sejumlah tuntutan, deklarasi, dan gugatan atas nama HAM yang tereja dari masyarakatnya sendiri. HAM menjadi dalih ampuh untuk melindungi diri manakala seseorang atau kelompok orang terampas hak-haknya. Pada kasus di atas, kreativitas adalah sewujud HAM yang, bagi kalangan perfilman, merupakan modal dasar dalam berkarya. Padahal, mengutip pendapat Julian Beggini (2003:51), ’bahasa hak dan kebebasan dapat digunakan untuk mengaburkan segala jenis ketidakadilan dan perbuatan salah’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin penulis akan dituduh mengaburkan ketidakadilan jika berpendapat bahwa mendapatkan pendidikan yang layak dari media –dalam arti luas berarti juga film—adalah HAM, apalagi bagi bangsa yang mendapat amanah ’mencerdaskan kehidupan bangsa’ dari the founding fathers-nya. Kalaulah anak dan remaja di negeri ini sadar atas hak pendidikannya, mereka mungkin menuntut agar mendapatkan tayangan film yang meneguhkan wawasan dan kepribadiannya. Gegap riuh genderang HAM yang dilantun oleh kepentingan orang dewasa mampu menyumbat perhatian banyak kalangan bahwa ’setiap anak berhak mencari, menerima, dan memberi informasi sesuai dengan tingkat intelektualitas dan usianya demi pengembangan dirinya sepanjang sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan’ (pasal 60 ayat 2 UU nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika kepedulian terhadap hak pendidikan anak nyata tersemat, yang dibutuhkan tidak hanya LSF yang hanya bekerja di area seksualitas dan agresivitas, tapi juga lembaga yang melarang beredarnya film yang tidak mengandung unsur pendidikan. Letak masalahnya bukan pada tingkat pendidikan masyarakat yang rendah, tapi tidak adanya perhatian dari elemen bangsa, termasuk media, terhadap proses dan strategi mendidik. Tapi, apakah itu mungkin? Alih-alih menghayati tujuan pendirian bangsa dan pengacuhan atas hak-hak anak, mengharapkan media sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat justru mempersempit peran media itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari naluri mendidiknya, Ki Hajar Dewantara pernah mengutarakan tiga lingkar pendidikan, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat. Tiga lingkungan itulah yang akan memberi corak bagi seorang anak atau remaja terhadap perilaku (&lt;em&gt;behavior&lt;/em&gt;), sikap (&lt;em&gt;attitude&lt;/em&gt;), pandangan (&lt;em&gt;subjective norm&lt;/em&gt;), keyakinan (&lt;em&gt;belief&lt;/em&gt;) dan nilai (&lt;em&gt;value&lt;/em&gt;) yang dianut. Tiga lingkungan itu seperti buaian yang akan mengintrodusir anak dan remaja perihal anasir kepribadian tersebut. Namun, dalam era informasi sekarang ini, ketiga lingkungan itu mengenyam peran yang semakin menyusut. Saat ini media, baik cetak maupun elektronik, merupakan lingkungan yang dekat bagi anak dan remaja. Lepas dari apakah media menyadari atas signifikansi perannya dalam membentuk kepribadian, media telah menjadi lingkar pendidikan keempat, bahkan dalam rentang yang lebih dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengulas peran mendidik sebenarnya tidak terpaku pada tanggung jawab pelaku pendidikan di tiga lingkar itu. Bukan semata sebagai tanggung jawab orang tua atau yang dituakan (dalam keluarga), guru (di sekolah) dan sesepuh atau tokoh (di masyarakat). Mendidik adalah tanggung jawab universal setiap orang atas kodratnya sebagai makhluk yang dididik (animal educandum) dan makhluk yang mendidik (animal educandus). Seorang tokoh filsafat pendidikan dari Universitas London, john White, berpendapat, ’bukan hanya guru dan orang tua yang bertanggung jawab memikirkan tujuan pendidikan, melainkan setiap warga berkepentingan dengannya. Akan seperti apakah masyarakat kita?’ (Callan, 2003:448). Bahkan sebenarnya tanggung jawab terbesar atas pendidikan adalah pihak yang paling besar mempengaruhi gaya hidup masyarakat. Berarti pula, pihak yang mampu menjadi trend-setter budaya di masyarakat dan sekaligus juga mengetahui jawaban atas pertanyaan White, ’akan seperti apakah masyarakat kita?’ Dalam hal ini peran media teramat penting bagi terbentuknya cita masyarakat yang akan dituju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan mengapa media, sebagai lingkar pendidikan keempat, memiliki peran signifikan dalam mendidik anak dan remaja. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, anak dan remaja memiliki intensitas interaksi yang tinggi dengan media. Hampir tidak ada hari tanpa menonton televisi—pun karena hampir setiap rumah memiliki televisi. Seorang remaja dianggap tidak gaul jika belum menonton film Indonesia terbaru—yang memang banyak berkisah tentang remaja.&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, media memungkinkan jarak sosial yang dekat dengan anak atau remaja. Media menjadi sarana interaksi yang privat. Peran masyarakat sebagai lingkar pendidikan setelah sekolah berkurang perannya apalagi dalam masyarakat perkotaan. Beban belajar di sekolah yang makin meningkat cenderung membatasi anak dan remaja berinteraksi di masyarakat. Alih-alih berinteraksi dengan lingkungan luar, anak dan remaja justru mengandalkan televisi sebagai ’teman dekat’nya. &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, media dapat hadir dalam waktu kapanpun yang dimaui anak atau remaja. Apalagi jika lingkungan keluarga tidak menghalangi atau membatasi anak atau remaja dalam berinteraksi dengan media. Beberapa kasus perkosaan yang dilakukan remaja terjadi setelah pelaku menonton VCD seronok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, perihal seksualitas dan agresivitas bukanlah penentu utama ketertarikan masyarakat pada media. Dilema di sekitar seksualitas dan agresivitas adalah dilema primordial umat manusia. Walaupun menurut Freud seksualitas dan agresivitas adalah bawaan tak sadar manusia, aktualitasnya akan dibatasi oleh norma yang berkembang di masyarakat. Jadi, daripada menampilkan seksualitas dan agresivitas yang akan mendapat tentangan di masyarakat, media lebih bijak menyodorkan tayangan yang lebih memenuhi harapan masyarakat. Kelima, media yang juga disebut sebagai pilar keempat demokrasi memungkinkan interaksi yang dinamis dengan masyarakat. Media, disamping mampu mempengaruhi kebijakan publik, juga menjadi sarana aspirasi masyarakat. Lewat media, masyarakat pada umumnya bisa mengetahui beragam informasi dan fenomena yang terjadi pada seseorang atau kelompok masyarakat tertentu. Masyarakat yang beragam akan menderetkan fenomena dan laku hidup yang beragam dan tentu, memiliki nilai media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mengatakan bahwa media tidak memiliki unsur edukatif tentu tidak sepenuhnya benar. Beberapa stasiun TV swasta menayangkan acara yang memungkinkan anak belajar kebiasaan baru dalam dunia permainan. Ada acara yang memperluas wawasan anak dengan menampilkan asal mula benda tertentu (dikemas seperti ensiklopedia). Film Nagabonar jadi 2, yang meminimalisasi seksualitas, bukannya kehilangan popularitas tapi malah memperoleh penghargaan sebagai film terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2007. Baru-baru ini, film Denias Senandung di atas Awan mendapatkan penghargaan dari pemerintah Australia karena sarat dengan unsur pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan MFI agar pemerintah membubarkan LSF bisa dijadikan pelajaran bersama atas peran media selama ini. Adalah hak seluruh warga untuk mendapatkan pendidikan yang baik dari media. Namun hak ini hanyalah sesumbar hambar jika seluruh aparatus bangsa ini, termasuk pelaku media, tidak menjadikan media sebagai lingkar pendidikan keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteng Raya, 14 Januari 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-168591638199647184?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/168591638199647184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/168591638199647184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2008/01/media-itu-pesan.html' title='Pendidikan'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R6DnM4O-biI/AAAAAAAAABs/sPkTyT6bOcw/s72-c/kihajar.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-4223875127683928110</id><published>2007-12-05T07:58:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T11:20:48.113-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Pendidikan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Demonstrasi Pelajar :&lt;br /&gt;‘Mata Pelajaran’ Dibalik UN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penerapan Ujian Nasional (UN) atau yang sejenisnya, telah berulang kali jadi kebijakan Pendidikan Nasional di negeri ini. Tiap akhir tahun ajaran, segenap perangkat sekolah di negeri ini punya hajatan bersama yang dinamakan UN. Ritual pun dijalani pelajar sebagai tradisi yang maklum: mempersiapkan UN dengan berkutat diktat dan ribuan soal.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan olah kognisi dilakukan bersamaan dengan tekanan yang mengancam nasibnya, kalau-kalau nilai yang didapat tidak sesuai standar minimal kelulusan. Sebagai sebuah kebiasaan (&lt;em&gt;habitus&lt;/em&gt;) yang dilakukan berulang-ulang, negeri ini telah merancang, meminjam adagium Emerson, karakter (&lt;em&gt;caracter&lt;/em&gt;) sekaligus nasib (&lt;em&gt;destiny&lt;/em&gt;) yang secara sistemik akan menggelayuti masa depan generasi muda nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dari berserak pelajar yang sedang menunggu giliran merasai tragedi UN ini, ada secuil di antara mereka yang berani menggugat nasibnya sendiri—sudah berlangsung lama bahwa dalam sistem pendidikan kita, pelajar terpaksa mengurusi nasibnya sendiri. Stakeholder yang punya andil besar memoles warna pendidikan di negeri ini seperti ibu yang tak acuh terhadap masa depan pelajar sebagai anaknya. Pelajar mengorganisir diri dengan menggelar demonstrasi. Mereka menampilkan kepedulian atas nasib diri dan kaumnya dengan melantangkan pekik: menolak UN!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 2000 pelajar berhimpun di depan kantor DPRK Bireuen. Mereka berjalan kali dengan mengusung spanduk bertuliskan ‘Hapus UN’. Dalam pernyataanya di depan anggota dewan DPRK Bireuen, pelajar menuntut agar kelulusan tidak ditentukan oleh UN, tapi oleh sekolah masing-masing dan pendidik. Juga, mereka mengungkapkan bahwa UN sangat memberatkan siswa apalagi nilai kelulusan menjadi 5,25 dengan enam mata pelajaran yang diujikan (&lt;em&gt;Serambi Indonesia&lt;/em&gt;, 21/11/2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demonstrasi, bagi bagi segmen masyarakat manapun, adalah pilihan wajar di era demokratisasi sekarang. Demonstrasi, walau dilakukan oleh pelajar, akan tetap bergema suaranya. Negeri ini sedang menderas demokratisasi, sehingga aspirasi tidak lagi kedap suara. Dengan berdemonstrasi, mereka sedang menjalani laku orang dewasa dengan aspirasi yang layak didengar oleh orang yang usianya jauh di atas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Labih dari itu, demonstrasi yang dilakukan pelajar perlu ditatap sebagai sebuah metode belajar yang menyegarkan. Demonstrasi pelajar merupakan ‘mata pelajaran’ baru yang bisa dipelajari dibalik UN. Tidak sebagaimana UN yang menekankan dimensi kognitif semata, demonstrasi pelajar menyentuh ranah pendidikan yang makin memperkokoh kepribadiannya sebagai bagian dari masyarakat terdidik. Demonstrasi bukan sekedar ‘mata pelajaran’ biasa. Demonstrasi adalah khasanah pendidikan yang tersembul dibalik gencarnya pemberlakuan UN. Berikut ini bahan pelajaran dari demonstrasi pelajar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, demonstrasi mengajarkan sikap kritis. Pelajar tidak sekedar tunduk pada kebijakan elite pendidikan—apalagi jika kebijakan itu secara kasat mata nyata salahnya. Pelajar diajak belajar menilai baik atau buruk sebuah kebijakan, sekaligus mendorong mereka mempelajari dampak yang akan ditimbulkan oleh kebijakan itu. Pelajar melakukan refleksi kritis saat menyadari bahwa mereka merasa berat dengan adanya UN. Adanya penambahan mata pelajaran yang di-UN-kan berkorelasi dengan bertambahnya beban kognitif pelajar. Indikasi sikap kritis muncul saat mereka menyadari atas keadaan yang menimpa dirinya, saat ini atau nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya kritis tidak berhenti pada kesadaran. Daya kritis muncul dalam sikap dan praksis tindakan. Kesadaran kritis pelajar terejawantah dalam respon mereka atas perilaku elite yang cenderung tidak berpihak pada pelajar. Demonstrasi merupakan praksis murni atas sikap kritis yang dibangun di atas perilaku politik elite yang cenderung sewenang-wenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, respon penolakan pelajar atas penerapan UN merupakan wujud kepekaan sosial mereka. Pelajar tidak sekedar diam berpangku tangan atas tragedi yang terberi (given) berupa penerapan UN oleh elite penentu kebijakan pendidikan. Juga bukan hanya merajinkan diri bergladi bersih mempersiapkan UN. Mereka turut ambil bagian dalam penolakan ‘hukum vonis mati’ kesempatan belajar oleh adanya UN. Mereka bersuara, yang sekaligus mendeklarisir bahwa mereka ada dan keberadaannya terparahkan oleh eksistensinya sebagai pelengkap penderita kebijakan pendidikan. Demo menolak UN merupakan wujud sikap empatik atas mendung hitam yang menyelimuti nasib pelajar—bersamaan dengan nihilnya stakeholder pendidikan yang peduli dengan nasibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, demonstrasi pelajar mengisi relung kosong peran pendidikan formal yang tidak mengajarkan pelajar mengenali dirinya sendiri. Pendidikan di sekolah umumnya bersifat impersonal. Pendidik di sekolah hanya mengantar pelajar memperoleh prestasi kognitif yang tinggi. Pendidik kurang memberi bimbingan afektif mengenai perkembangan kepribadiannya. Untuk menutupi kekurangan itu, Mochtar Buchori (2001) menyarankan agar pelajar diberi kesempatan mempraktekkan ‘&lt;em&gt;personalized education’&lt;/em&gt;. Pendidikan yang memungkinkan pelajar mampu mengenali hidupnya sendiri ini bisa efekif diterapkan pada institusi pendidikan informal ataupun nonformal. Demonstrasi merupakan ikhtiar belajar informal yang tidak diajarkan di sekolah. Para pelajar yang mengorganisir diri dalam demonstrasi sedang menggelar sendiri pencarian makna dirinya dengan kehidupannya. Penolakan terhadap UN adalah sanggahan keras bagi institusi pendidikan. Pelajar seperti berujar bahwa bukan UN yang dibutuhkan oleh dirinya dalam mengarungi hidup nantinya. UN bukan modal yang cukup berarti untuk menapaki hidup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, demonstrasi pelajar mengajarkan tentang demokratisasi itu sendiri. Demokratisasi membawa gerbong yang sarat kepentingan untuk berbaur di alam demokratis. Masih sekedar idealitas bahwa demokrasi tidak memberi ruang bagi tumbuhnya tirani, walau dalam bentuk yang semu. Penyelenggaraan UN merupakan gejala kecil munculnya embrio tirani yang ditiup oleh pemegang kebijakan. Wujud nyata menyelamatkan demokrasi adalah dengan menggunakan aparatus demokrasi pula untuk menyanggahnya. Dengan jalan demonstrasi, pelajar sedang mengingatkan semua komponen bangsa bahwa penerapan UN yang mengabaikan aspirasi para pelaku utama pendidikan (guru dan murid) adalah penghalang bagi tumbuh pesatnya demokrasi di negeri ini. §&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jl Ahmad Dahlan no 1 Banda Aceh,&lt;br /&gt;29 November 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-4223875127683928110?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/4223875127683928110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/4223875127683928110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2007/12/apresiasi-untuk-sahabat-di-aceh.html' title='Pendidikan'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-4623513774245853026</id><published>2007-12-01T07:57:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T11:22:24.028-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Politik</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R6DdmoO-bhI/AAAAAAAAABk/1dyk8EnYVU4/s1600-h/freire.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161368828671585810" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R6DdmoO-bhI/AAAAAAAAABk/1dyk8EnYVU4/s320/freire.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Memimpin dengan Praksis&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sejak tahun 2004, yakni terpilihnya Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, masyarakat Indonesia memilih pemimpinnya secara langsung. Sejak itu pula panggung politik di daerah-daerah dipimpin oleh figur-figur terpilih yang dikehendaki mayoritas rakyatnya. Namun, adakah ekses positif yang terasakan dari performance pemimpin pilihan rakyat tersebut?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini bermunculan banyak figur yang, entah dengan terus terang maupun tersirat, mendeklarasikan diri sebagai calon presiden. Alih-alih turut menyambut gempita demokrasi, kehadiran mereka justru menambah sesak denyut jantung kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;Pemimipin yang dipilih secara langsung seharusnya justru mampu menampilkan wujud dirinya sebagai wakil yang dipilih seluruh rakyat. Pemimpin memiliki kehendak membangun yang manunggal dengan rakyat. Apa yang diinginkan rakyat, begitulah pemimpinnya. Sayangnya, demokrasi tidak menyediakan kalkulasi keinginan yang terlalu sederhana.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bangsa ini sedang diliput demokrasi biaya tinggi (&lt;em&gt;high cost democracy&lt;/em&gt;). Secara material, baik Pemilihan Umum (Pemilu) maupun Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) butuh biaya besar. Secara immaterial, perhelatan tersebut menguji modal sosial (social capital) yang selama ini dimiliki masyarakat, yakni kebersamaan, gotong royong, tenggang rasa dan toleransi—dalam realitas politik yang terjadi justru sebaliknya. Harapan bahwa pemilihan langsung mampu menyeleksi pemimpin bangsa terbaik masih sebagai angan yang butuh pembuktian. Repotnya, belum sampai bukti tersiar, Pemilu berikutnya sebentar lagi akan tergelar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kodrat sebagai makhluk praksis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya manusia terkodrat sebagai makhluk praksis yang membedakannya dengan binatang. Untuk hidup dan mempertahankan diri, binatang hanya cukup bermodal insting. Sedang manusia, ia punya kemampuan praksis yang tidak hanya berhenti pada keadaan yang terberi (given). Manusia mampu merambah ’dunia lain’ yang tidak hanya kini dan di sini, juga esok dan disana. Dalam dirinya, seorang manusia punya keinginan dan kemampuan untuk mencapai keinginan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praksis dalam perspektif Freirean berarti menggabungkan antara tindakan dan refleksi sekaligus. Dalam melakukan tindakan, seseorang sekaligus juga melakukan analisis kelayakan tindakannya itu. Dengan kata lain, kepraksisan seseorang dilihat dari intensionalitas (kesadaran)-nya dalam bertindak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan seseorang yang mewujud dalam perilaku politik lebih mudah terimbas dalam perilaku yang tidak mencerminkan kesadaran. Dalam melakukan agenda politiknya, para politisi rentan terjebak dalam perilaku politik yang a-sadar, apalagi sengaja tertuju sebagai manufer. Para politisi terdominasi tindakan politik sadarnya oleh dorongan-dorongan yang bersifat menguasai (need of power). Pemandangan semacam ini bisa dilihat pada sebagian tokoh politik yang buru-buru mendeklarasikan diri sebagai calon presiden, safari politik, dan penggalangan dukungan partai terhadap calon presiden tertentu. Mereka sedang mempraktekkan kepraksisan yang sebagian. Kalau bukan verbalisme dengan mengumbar janji hambar, maka yang dilakukan hanyalah aktivisme, yakni tindakan yang sonder manfaat bagi rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para calon presiden tersebut, yang berharap turut berpartisipasi dalam kontestasi pemilihan langsung, sudah lebih dini menyangkal kodratnya sebagai makhluk praksis. Mereka melakukan tindakan yang tidak sepenuhnya berasal dari refleksi atas kebutuhan rakyat pada umumnya. Mereka asyik masyuk melakukan manufer politik pada saat keprihatinan bangsa ini melanda semua sektor kehidupan. Bencana datang bertubi : gempa bumi, banjir, lumpur panas, gunung meletus dan kebakaran —untuk menyebut beberapa diantaranya. Dan, yang tersisa adalah kepedihan menanggung derita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Belajar dari Surabaya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menjelang bulan November 1945, saat usia bangsa Indonesia baru beberapa bulan, kepemimpinan praksis Presiden Sukarno diuji. Pada saat ’orang-orang Indonesia sedang menembak dan menikam dan membunuh secara membabi buta’ pihak Inggris mendatangkan Sukarno untuk menghentikan pembantaian. Saat itu, Sukarno menyiarkan seruan yang mendekati verbalisme, "Sekali lagi, saudara-saudara, saya dengan ini memerintahkan agar pertempuran melawan Sekutu dihentikan". Perlawanan yang dilancarkan oleh segenap elemen masyarakat Surabaya itu tak kuasa dibendung oleh seruan Sukarno. Pada akhirnya ia tidak bisa berkata apa-apa setelah didesak oleh pertanyaan-pertanyaan dari pejabat-pejabat Jawa Timur, kecuali "kami membiarkannya kepada Surabaya". Tepat pukul 23.00, tanggal 9 November 1945 Gubernur Jawa Timur mengumumkan melalui Radio Surabaya bahwa kota itu akan melakukan perlawanan sampai akhir (Reid, 1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau rakyat Surabaya hanya bersenjata bambu runcing, tapi semangatnya mampu menyentak pasukan Sekutu. Setelah Surabaya, kota-kota lain di Kalimantan dan Sulawesi terjadi demonstrasi anti penjajah. Begitu juga di Jawa dan Sumatera, serangan anti Sekutu dan Belanda berkobar sampai akhir tahun 1945. Pertempuran demi pertempuran itu akhirnya menyadarkan belanda untuk mengganti penyelesaian dari militeristik ke jalur diplomasi.&lt;br /&gt;Kehendak Sukarno untuk menghentikan perlawanan terhadap Sekutu mungkin masih dimaklumi. Proklamasi kemerdekaan yang saat itu baru dikumandangkan mengubah haluan perjuangan dari militeristik ke diplomasi. Sukarno tidak sepenuhnya salah ucap. Hanya saja kehendak rakyat Surabaya yang membulat kuat tak mampu lagi ditampik dengan sekedar seruan larangan perang. Saat itu Sukarno pun harus menyadari akan kebulatan tekad rakyatnya untuk melawan Sekutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran di Surabaya mengajarkan elite negeri ini untuk memimpin dengan praksis. Pemilihan pemimpin langsung memungkinkan adanya pemimpin yang sekehendak dengan rakyatnya. Pemimpin yang praksis adalah pemimpin yang sekata dengan yang dipimpinnya. Tindakannya adalah buah dari refleksi atas kebutuhan maslahat rakyatnya. Bukan manufer, apalagi janji-janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteng Raya, 8 November 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-4623513774245853026?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/4623513774245853026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/4623513774245853026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2007/12/memimpin-dengan-praksis-sejak-tahun.html' title='Politik'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/R6DdmoO-bhI/AAAAAAAAABk/1dyk8EnYVU4/s72-c/freire.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-5609599967890878117</id><published>2007-10-04T01:04:00.000-07:00</published><updated>2008-11-29T11:21:35.462-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Catatan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Belajar dari Kawan Lama&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saya menemui peristiwa yang menarik, setidaknya bagi diriku sendiri. Kejadian yang aku alami ini menyadarkanku pada berartinya sebuah perkawanan lama. Juga, mengajarkanku bahwa kawan lama tidak selamanya harus dinomorduakan, alih-alih mementingkan jalinan perkawanan yang baru. Kawan lama jadi semacam ‘barang antik’ yang, jika berjumpa, akan menyisakan sebuah ketakjuban. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Peristiwa itu terjadi pada sore hari menjelang berbuka puasa. Saat itu aku bersama kawan-kawan satu asrama hendak berangkat ke sebuah perjamuan buka puasa. Karena tempatnya berjarak sekitar lima kilo dari asrama, kami memutuskan memakai taksi. Kami bersepuluh orang sudah berada di trotoar jalan dekat Tugu Tani. Pada saat kami menunggu taksi, handpone-ku berdering. Seorang kawan lama menghubungiku. Ia menagih janjiku yang kuucap siang hari bahwa aku bersedia hadir dalam acara buka puasa yang diadakan oleh kawan lama, teman-temanku waktu kuliah di Jogja dua tahun lalu. Namun, saat itu pilihanku lebih berat untuk menghadiri buka puasa dengan kawan-kawan satu asrama. Aku pun menolak permintaannya untuk berbuka bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih berdiri di trotoar, menunggu taksi yang belum juga melangsir. Pikiranku masih dibayangi oleh permintaan teman lama itu yang tidak sanggup aku penuhi. Aku seperti menyesal. Aku merasa terlalu sayang tidak dapat hadir. Tapi itu tidak berlangsung lama, hilang saat sebuah taksi melangsir dan hendak membawaku ke sebuah tempat berbuka puasa dengan teman-teman satu asrama. Segera saat aku mendekati taksi, tiba-tiba sebuah sedan warna hitam berhenti. Seseorang dengan wajah yang pernah akrab dalam benak keluar dari sedan hitam itu. Ia hadir di depanku saat sebuah taksi berhenti dan hendak membawaku pergi. Ia adalah kawan lama yang baru saja menelponku beberapa menit yang lalu.&lt;br /&gt;Sebuah pertemuan tak diduga terjadi. Aku spontan menyapanya, menjabat tangannya erat, lalu memeluk tubuhnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Hei, Fahmi. Ayo berangkat. Sudah ditunggu teman-teman di Monas.” Ia lalu menyebut beberapa nama yang pernah akrab di telingaku.&lt;br /&gt;“Aduh, gimana ya?” aku menjawab penuh keraguan.&lt;br /&gt;“Ayolah, ini acara yang sekali-kalinya loh, minggu depan belum tentu kita mengadakan lagi.” Ujar teman lamaku itu meyakinkan.&lt;br /&gt;“Aduh, gimana ya? Aku juga mau berangkat ini dengan teman-teman.” Jawabku dengan masih membersit keraguan.&lt;br /&gt;“Ayolah, Mi…” ujar temankku setengah memelas.&lt;br /&gt;Aku pun mengambil keputusan itu. Setelah berpamit pada teman-teman seasrama, tubuhku tertelan sedan warna hitam itu. Aku memenuhi permintaan teman-teman lama untuk hadir dalam sebuah perjamuan berbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah jamuan buka berupa nasi kotak terlahap habis, teman lama yang tadi menjemputku melontarkan sebuah pengumuman.&lt;br /&gt;“Ini makanannya iuran 25 ribu per-orang.” Sejenak aku mengernyit dahi. Saat itu aku tidak bawa uang sebesar itu. Aku lalu mendekatinya dan bergegas berujar, “Aku….” Belum sampai satu kalimat sempurna terlontar, si pemberi pengumuman itu langsung mencegat, “kalau kamu nanti saja iurannya, Fahmi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum berbunga-bunga. Aku memendam pikiran yang aku sendiri saja yang mengetahuinya: bisa bertemu kawan lama, dijemput tepat di depan asrama, juga, makan bersama tanpa ikut iuran sepeser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin sadar akan berartinya perkawanan. Pertama, tidak melupakan atau meninggalkan kawan lama, kedua, akrabkan lagi kawan yang sedang dijalin saat ini. Karena, bisa jadi suatu ketika kita akan menemui sebuah peristiwa yang menakjubkan akibat jalinan perkawanan yang terrajut di masa lampau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-5609599967890878117?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/5609599967890878117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/5609599967890878117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2007/10/belajar-dari-kawan-lama.html' title='Catatan'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-6958562862423035958</id><published>2007-10-02T01:25:00.000-07:00</published><updated>2008-11-29T11:21:35.462-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Catatan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menjenguk Masa Lalu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ahad, 30 September yang lalu, aku seperti diajak menjenguk masa lalu. sore hari, ketika aku bersama teman baru hendak pergi bersama ke sebuah tempat berbuka puasa, aku dijemput oleh kawan lama. kawan lama juga mengajak berbuka bersama. dan, keputusanku hendak pergi bersama siapa (kawan baru atau kawan lama) ternyata ditentukan oleh kendali emosi yang menguatkan perhatianku pada masa lalu. aku akhirnya memenuhi ajakan kawan lama untuk berbuka puasa. sungguh, masa lalu lebih punya energi 'goda' yang membuat kita takluk untuk menjemput kenangan yang telah lama disimpan dalam pendaman ingatan. aku sejenak menunda perhatianku pada masa kini dan masa depan. aku berenang dalam sungai ingatan lama yang sama-sama dibuka oleh kawan-kawan lama itu, yang pernah berjumpa dan bercengkrama di tempat belajar bersama, di kampus biru UGM. tapi aku sadar, masa lalu itu hanya untuk dijenguk sebentar, sebagai pengingat saja, untuk 'melawan' lupa. bahwa aku punya komunitas perantara yang jadi jembatanku hinga aku sampai berada saat ini disini. bahwa masa lalu itu punya andil dalam merangkai jembatan hidupku. bahkan jika jembatan itu adalah jembatan emas, tentu menyepuhnya tidak setiap hari, bukan? boleh-boleh saja ia disepuh setahun sekali. di negara kita, tradisi halal bihalal itu mewakili. dalam waktu yang mungkin tidak sampai seminggu, kita biasa berjumpa dengan kawan lama, dari beragam jembatan yang telah kita buat sepanjang perguliran hidup selama ini. kawan lama, semoga aku bisa terus mengingatmu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-6958562862423035958?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6958562862423035958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6958562862423035958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2007/10/menjenguk-masa-lalu.html' title='Catatan'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-6288176130174913431</id><published>2007-09-30T06:56:00.000-07:00</published><updated>2008-11-29T11:21:35.462-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Catatan</title><content type='html'>aku tahu kalau aku belum bisa apa-apa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-6288176130174913431?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6288176130174913431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6288176130174913431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2007/09/diam.html' title='Catatan'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-2978814664353640347</id><published>2007-09-24T08:29:00.000-07:00</published><updated>2008-11-29T11:21:35.463-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Catatan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tersungkur dalam Lelah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya tidak terlalu malas banget untuk membuat catatan kecil. Namun, kebiasaanku membuat catatan kecil di buku tulis membuatku tercandui oleh buku tulis itu. mungkin terlalu berlebihan, maksud saya, hal itu membuatku tidak terdorong untuk menulis di depan komputer, dengan melenggak-lenggokkan jari-jari menyentuh tuts-tust di atas keyboard. karena, di tempat manapun, komputer jadi barang yang terlalu publik. mungkin aku perlu laptop agar segala yang kutulis semata hanya interaksiku dengan alat tulis itu. tapi, lagi-lagi itu hanya alasan bagiku untuk tidak hadir di ruang ini. okelah, saya coba agar bisa bersahabat dengan catatan kecil di dunia yang semakin sulit disentuh wadagnya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-2978814664353640347?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/2978814664353640347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/2978814664353640347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2007/09/tersungkur-dalam-lelah.html' title='Catatan'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-4632936605646067229</id><published>2007-09-24T08:19:00.000-07:00</published><updated>2008-11-29T11:23:01.510-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Hikmah</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Kalimat-kalimat Allah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambah kepada keduanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”&lt;/em&gt; [QS. Luqman (31) : 27] &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;Ayat di atas menunjukkan bahwa kalimat-kalimat Allah tidak terbatas pada kalimat-kalimat-Nya yang telah tersurat (kauliyah) berupa firman-firman, tapi juga kalimat-kalimat-Nya yang tersirat (kauniyah). Kalimat-kalimat yang tersirat (kauniyah) inilah yang sesungguhnya, jika ditilik dari ayat di atas, tidak terbatas.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Namun, kita lebih sering mengandalkan kalimat-kalimat-Nya yang tertulis (dalam Al-Qur’an). Kita terlena bahwa sebenarnya Allah telah membentangkan firman-firman dalam kejadian-kejadian alam dan peristiwa-peristiwa yang menimpa manusia. Karena, dari kejadian-kejadian alam dan peristiwa-peristiwa yang menimpa manusia itulah seseorang bisa mengambil hikmah-Nya dan ilmu-Nya. Kalimat-Nya yang berupa hikmah dan ilmu justru tidak terbatas, hanya saja manusia lebih sering membatasi kemampuannya untuk mereguk hikmah-Nya dan ilmu-Nya itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa alam dan kejadian yang menimpa manusia, jika berdampak buruk, lebih suka dikatagorisasi sebagai ujian (jika menimpa orang yang bertakwa) atau laknat (jika menimpa orang yang lalai). Padahal, terlepas dari ketakwaan dan kelalaian itu, yang diperlukan adalah kemauan seseorang untuk mengambil hikmah-Nya dan ilmu-Nya atas peristiwa alam dan kejadian yang menimpa manusia itu. Dan untuk bisa mengambil hikmah-Nya dan ilmu-Nya itu, seseorang perlu memandang segala sesuatu, bahkan, tidak dari dua sisi (yakni baik dan buruk), tapi dari satu sisi, yakni bahwa segala yang datang dari Allah pasti menimbulkan kebaikan bagi hamba-Nya. Dalam hal ini, kejadian (yang dipandang) buruk menimpa seseorang bahkan menimbulkan kerugian fisik maupun psikologis, akan dimaknai dalam sisi positifnya, bukan sepenuh-penuhnya negatif. Dari sinilah seseorang diharapkan bisa me-resonansi-kan jiwanya untuk siap sedia menerima hikmah-Nya dan ilmu-Nya yang sengaja didekatkan pada dirinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Yusuf yang dilemparkan saudara-saudaranya sendiri ke dalam sumur. Tidak lama berselang, datang sekelompok kafilah yang mengeluarkannya dari dasar sumur. Oleh kafilah itu, beliau dijadikan budak yang dijual dengan harga tinggi. Kemudian, saat berada di Mesir, beliau menghadapi tuduhan keji yang menyeretnya masuk penjara. Setelah semua berlalu, beliau menjadi raja Mesir dan berjumpa kembali dengan ayahnya. Ayahnya bertanya, ”Apa yang telah diperbuat saudaramu terhadap dirimu?” Yusuf kemudian menjawab, ”Janganlah ayah menanyakan apa yang diperbuat saudara-saudaraku. Tanyakanlah mengenai kemurahan Allah serta bagaimana Dia menjaga dan melindungiku saat aku menghadapi persekongkolan, perbudakan, tuduhan keji dan penjeblosan ke dalam penjara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruslah mengingat bahwa segala sesuatu datang dari Allah. Itulah kalimat-kalimat-Nya yang tidak terbatas. Jangan sampai kita memaknai segala yang datang dari-Nya dalam kesimpulan-kesimpulan yang terlalu dangkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 30 Mei 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-4632936605646067229?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/4632936605646067229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/4632936605646067229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2007/09/kalimat-kalimat-allah.html' title='Hikmah'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-8107959526276318172</id><published>2007-09-04T02:21:00.001-07:00</published><updated>2008-11-29T11:23:01.510-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hikmah'/><title type='text'>Hikmah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kebajikan yang Sempurna&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Agama kita mengajarkan berbagai macam kebajikan. Dalam rentang waktu yang mengiringi usia kita dan di bawah kolong langit tempat memijak di bumi, tidak ada kesempatan yang mustahil bagi kita untuk berbuat kebajikan. Apalagi, fungsi kekhalifahan manusia (QS Albaqarah [2]: 30) memungkinkan sifat-sifat kebajikan Allah (asma’ul husna) mendekam dalam pribadi orang perorang.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebajikan memiliki arti yang luas. Secara khusus, Allah mengungkapkan perinciannya, “...sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya bila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan...” (QS Albaqarah [2]: 177)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Dari sederet kebajikan-kebajikan itu, ada kebajikan yang bisa mengantarkan seseorang pada sebuah kebajikan yang sempurna. Kebajikan yang sempurna itu adalah menafkahkan sebagian dari apa yang kita cintai. “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 92)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebagian besar kita sesungguhnya belum bisa merengkuh kebajikan yang sempurna itu. Apa pasal? Tidak jarang, kita menafkahkan sebagian dari apa yang kita miliki namun yang kita nafkahkan itu tidak benar-benar sesuatu yang kita cintai. Kita berinfak untuk masjid atau lembaga pendidikan agama, menyumbangkan dana untuk korban bencana, menyisihkan rizki untuk tetangga dan menghibahkan barang yang masih bermanfaat untuk orang lain belum bisa dikata telah menggenggam kebajikan yang sempurna. Karena bisa jadi, harta yang dinafkahkan itu hanya bagian kecil saja dan, mungkin, tidak berarti apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, seorang tamu datang ke rumah Abu Dzar al-Ghifari. Dia berkata kepada tamu itu bahwa saat itu ia sedang sibuk. Dia memiliki beberapa ekor unta dan tamu itu diminta mengambil unta yang terbaik untuk dibawa pulang. Lantas tamu itu kembali dengan seekor unta yang kurus dan Abu Dzar berkata bahwa tamu itu tidak jujur kepadanya tentang unta itu. Tamu itu berkata bahwa dirinya menemukan unta yang terbaik di antara yang lain, tapi dia berpikir, barangkali suatu saat Abu Dzar akan membutuhkannya. Lalu Abu Dzar berkata, “Sesungguhnya hari ketika aku sangat membutuhkannya adalah hari saat aku dimasukkan ke liang kuburku, karena Allah berfirman, ‘kalian tidak akan pernah mencapai kebajikan yang sempurna kecuali kalian menafkahkan dari apa yang kalian cintai.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh-jauh sebelumnya, dalam risalah kenabian, kita mengenal sosok Ibrahim a.s. yang merelakan Ismail, anak satu-satunya, disembelih demi menjalankan perintah Allah. Walau akhirnya perintah itu dianulir dan diganti dengan menyembelih seekor kambing.&lt;br /&gt;Pada akhirinya, segala yang kita miliki hanya milik Allah semata. Kecintaan atas apa yang kita miliki hendaklah juga didasari oleh kecintaan pada Sang Pemilik. Karena, apa yang kita cintai dan menjadi milik kita pada hakekatnya bukanlah milik kita. Biarlah kecintaan atas apa yang kita miliki kita gunakan sebagai wujud kecintaan kita pada-Nya. Semoga kita masuk dalam kaum terbaik yang dijanjikan oleh Allah karena telah merengkuh kebajikan yang sempurna. “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya...” (QS. Almaidah [5]: 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 7 Mei 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-8107959526276318172?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/8107959526276318172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/8107959526276318172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2007/09/kebajikan-yang-sempurna.html' title='Hikmah'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-6187460363862241767</id><published>2007-09-04T02:19:00.001-07:00</published><updated>2008-11-29T11:23:28.336-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Organisasi'/><title type='text'>Organisasi Pelajar</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;PII sebagai Aktualisasi Kesadaran Sosial&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tidak cukup alasan untuk tidak mengingat sebuah tilas yang penting. Pun tidak cukup alasan untuk terjebak pada sawan megalomania atas keagungan masa lalu. Dalam tapak tilas yang tidak melebih-lebihkan, tulisan ini hendak mengantarkan pada memori jangka panjang bangsa, bahwa dalam kurun 60 tahun lampau, tepatnya 4 Mei 1947, telah lahir Pelajar Islam Indonesia (PII), organisasi avant garde gerakan pelajar masa Orde Lama dan turut membuka gerbang kejayaan Orde Baru. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih mengulas kilas historisitasnya, tulisan ini hendak meneguhkan realitas penting bahwa tidak selamanya pelajar terperiferi dalam percaturan kebangsaan. Dan sejatinya, pelajar memiliki modal sosial yang kehadirannya dalam dinamika kebangsaan menjadi mungkin.&lt;br /&gt;PII bukan organisasi politik, namun kesadaran sosial (social consciousness) para kadernya menyokong organisasi tertua di Indonesia itu menyeruak di selisik jagad politik bangsa waktu itu. Apa lacur, pelajar yang merupakan segmen yang tak diperhitungkan dalam konstelasi politik, kehadirannya jadi semacam tamu istimewa. Sudah tercatat dalam sejarah bahwa PII turut berperan dalam Agresi Militer I dan II dalam wadah Brigade PII, melakukan perlawanan terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) yang puncaknya terjadi Peristiwa Kanigoro (Kanigoro Affair) dan membentuk Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) yang memberi andil terhadap kejatuhan Orde Lama—yang berarti mengantarkan pada kemunculan Orde Baru.&lt;br /&gt;Bukan organisasi politik, tapi tidak abai terhadap politik. Begitu kira-kira sifat gerakan politik PII. Mungkin bukan politiknya yang penting, tapi kemampuan PII membawa diri dalam hiruk pikuk politik membuat organisasi ini seperti tak pernah tinggal diam. Walau sekedar bermain di ’tepian’, adanya pelajar yang peduli terhadap kondisi politik bangsanya layak mendapat apresiasi, semacam sebuah ibu jari yang terangkat!&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kalau dalam perjalanannya PII mengambil peran-peran politik, motivasi genialnya lebih pada akumulasi kesadaran sosial (social consciousness) pada kadernya itu. Respon-respon politik gerakan lebih sebagai bentuk kepedulian para kader terhadap kondisi kebangsaan. Dalam menganalisis motivasi pendiriannya, Djayadi (2006) mengungkap dua alasan, yakni motivasi keislaman dan motivasi kebangsaan. Dalam hemat penulis, adanya kesadaran sosial inilah kontekstualitas peran PII saat itu mengemuka, yakni saat menguatnya aliran ideologi kebangsaan dan perjuangan heroik pemuda pascakemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedasaran sosial inilah yang bersemayam dalam diri Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Amin Syahri dan Ibrahim Zarkasyi. Saat itu, tepat pukul 10.00 WIB pada tanggal 4 Mei 1947 di Jalan Margomulyo nomor 8 Yogyakarta mereka mendeklarasikan berdirinya PII. Pada masa itu, adanya dikotomi dalam dunia pendidikan, yakni antara pendidikan modern a la Barat dan pendidikan tradisional a la Pesantren menimbulkan jurang pemisah dan dikhawatirkan mengancam perkembangan bangsa dan umat Islam pada khususnya. Bagi para pendirinya, inisiatif pembentukan organisasi yang menjembatani (brigding) polarisasi dikotomis model pendidikan itu mungkin sebagai sebuah respon yang tidak berlebih-lebihan. Pun mereka tidak akan berpikir terlampau panjang bahwa jembatan itu akan terus dilewati oleh para kader penerusnya—bahkan sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontinuitas gerakan yang disokong oleh para kader terlanggengkan oleh motivasi yang tak lekang oleh waktu. Idealitas akan kualitas pendidikan yang mengintegrasikan ilmu umum-sekuler sebagai produk pendidikan Barat dan ilmu khusus-agama sebagai produk pendidikan tradisional merupakan harapan terbentuknya manusia paripurna. Manusia paripurna ini diyakini tidak akan tergapai hanya dengan mengutamakan satu atas yang lainnya. Manusia paripurna ini mengakomodasi kemampuan-kemampuan dalam tiga ranah, yakni keahlian (&lt;em&gt;skill&lt;/em&gt;), pengetahuan (&lt;em&gt;knowledge&lt;/em&gt;) dan sikap (&lt;em&gt;attitude&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, iklim pendidikan saat ini kurang memungkinkan kesadaran sosial yang genial. Beberapa alasan dapat diketengahkan sebagai penguat bahwa keberlangsungan pendidikan para pelajar saat ini makin jauh dari harapan atas terbentuknya manusia paripurna itu. Pertama, ada kecenderungan pengandalan pada satu institusi pendidikan, yakni sekolah. Institusi yang lain, yaitu keluarga dan masyarakat, hanya sebagai pelengkap—untuk tidak mengatakan pengebirian atas institusi selain sekolah. Maraknya sekolah-sekolah terpadu maupun sekolah-sekolah plus yang mengasramakan para peserta didiknya, atau menghabiskan waktu lebih banyak di sekolah diyakini mengurangi akses institusi keluarga dan masyarakat dalam mendidik seorang anak (pelajar). Kontrol berlebih oleh sekolah tidak memberi ruang bagi peserta didik untuk melihat dunia lain di luar sekolah. Memang, sekolah-sekolah semacam ini menjamur di tempat yang tepat, yakni masyarakat kota: tempat dimana keluarga dan masyarakat itu sendiri lebih suka cuci tangan dari tanggung jawab pendidikan generasi setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, realitas pendidikan saat ini hanya menekankan pada aspek kognitif an sich. Adanya Ujian Nasional (UN) yang digunakan sebagai standar kelulusan peserta didik menyedot perhatian masyarakat untuk mementingkan aspek kognitif semata. Alih-alih meningkatkan kualitas kognitif, yang terjadi justru manipulasi peran-peran institusional pendidikan itu sendiri. Agar peserta didiknya mendapat nilai yang tinggi, seorang guru sebuah sekolah di Medan membacakan kunci jawaban soal pada saat ujian berlangsung, dan kejadian itu terus berlangsung sampai UN berakhir! (Kompas, 28 April 2006). Pada kasus lain, untuk menjamin peserta didik lulus UN, beberapa sekolah bahkan mempercayakan lembaga pendidikan untuk bekerjasama mempersiapkan siswanya menghadapi UN. Persisnya, ini merupakan tindakan ceroboh sekaligus merendahkan martabat sekolah yang tidak mampu mendidik (atau mengajar?) siswanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, laksana gayung bersambut, kepercayaan pada institusi sekolah seiring jalan dengan ketidakpercayaan pada institusi keluarga dan masyarakat dalam mendidik anak. Keluarga, yang merupakan tempat belajar pertama seorang anak, seakan menyerah. Dalam kondisi tertentu, memang anggota keluarga tidak mampu menciptakan lingkungan yang hangat bagi perkembangan pendidikan anaknya sendiri, entah karena kesibukan orang tua ataupun infrastruktur keluarga yang labil. Sementara, orang tua juga tidak merasa lingkungan masyarakat menjamin perkembangan yang baik bagi anaknya. Kondisi carut marut masyarakat bukan sebagai tempat yang aman bagi anaknya. Praktis, orang tua lebih memilih sekolah terpadu atau sekolah plus sebagai miniatur masyarakat yang lebih terkontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yakin bahwa kesadaran sosial itu akan bertumbuh tanpa lekang oleh waktu, PII diharapkan menyediakan diri sebagai tempat pertumbuhan kesadaran itu. Sebagai institusi pendidikan informal, PII jadi ruang belajar yang bisa diikuti oleh siapa pun. Diharapkan pula, kehadiran organisasi pelajar di masyarakat semacam PII disambut oleh orang tua bahwa tak selamanya masyarakat menyediakan tempat yang kelam bagi pendidikan seorang anak. Memang, di masyarakat itulah –dalam hal ini terwadahi oleh institusi pendidikan informal semacam PII—tempat bertumbuhnya kesadaran sosial yang genial. Sungguh-sungguh, bukan dibuat-buat, karena kesadaran sosial itu akan tumbuh seiring dengan problem sosial yang dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini hanya sebagai pertimbangan atas (re)posisi. Penulis tidak akan menimbang perihal strategi, karena perihal yang satu ini memang (seharusnya) sudah ada yang memikirkan, yakni kader-kader PII yang sedang melakoni peran-peran profetisnya saat ini. Selamat Hari Bangkit!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-6187460363862241767?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6187460363862241767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/6187460363862241767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2007/09/pii-sebagai-aktualisasi-kesadaran.html' title='Organisasi Pelajar'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2862562208272223014.post-1021233118238459847</id><published>2007-09-04T00:51:00.000-07:00</published><updated>2008-11-29T11:21:35.463-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan'/><title type='text'>Catatan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Terdampar di Makasar&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sebuah perjalanan pasti akan menemukan akhir. Tapi, perjalanan akan menemui akhir yang, bagi orang tertentu, bahkan merusak makna perjalanan itu. Karena, perjalananku saat ini, di Makasar yang berselang hampir sepuluh hari, hanya berujung pada hamburan waktu yang hanya menunggu. Semoga ini cepat berakhir dengan tidak percuma.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2862562208272223014-1021233118238459847?l=abubakarfahmi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/feeds/1021233118238459847/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2007/09/terdampar-di-makasar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/1021233118238459847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2862562208272223014/posts/default/1021233118238459847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abubakarfahmi.blogspot.com/2007/09/terdampar-di-makasar.html' title='Catatan'/><author><name>The Art of Phenomenon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09153398294006689396</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_HRwJGfo5wu8/STA4-WnZDcI/AAAAAAAAAFQ/6fFYkyMdYyw/S220/fahmi2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
