Menjadi orangtua berhubungan dengan waktu yang kita lalui setiap hari. Menjadi orangtua berhubungan dengan menit-menit yang kita lalui bersama anak-anak kita. Mungkin kita melaluinya hanya beberapa menit saja setiap hari. Tapi menit-menit itu adalah menit-menit yang memungkinkan kita menjadi orangtua.
Tidak jarang, kesibukan sehari-hari membuat kita tidak punya waktu untuk bersama anak-anak kita. Tidak jarang, tugas-tugas kita sehari-hari membuat kita, walau sementara, tercerabut dari tugas-tugas sebagai orangtua.
Hari-hari kerja membuat waktu, pikiran dan tenaga kita terkuras untuk urusan kerja. Pergi pagi pulang sore, bahkan sampai larut malam. Waktu sore atau malam hari bersama anak-anak kita, kalaupun ada, adalah waktu-waktu sisa. Pikiran dan tenaga yang kita curahkan untuk anak-anak kita mungkin juga sisa hari itu. Pagi hari, apalagi di kota besar, mungkin kita lebih dahulu berangkat kerja daripada anak-anak kita bangun pagi dan berangkat sekolah. Mungkin gambaran kita dalam berhubungan dengan anak-anak kita tidak seekstrem itu. Atau mungkin juga lebih ekstrem dari itu. Yang lebih penting adalah, menjadi orangtua berhubungan dengan waktu, yakni menit-menit yang kita miliki, dan kita berikan untuk anak-anak kita.
Apa yang terkandung dalam menit-menit yang kita miliki dan kita berikan pada anak-anak kita? Menit-menit itu adalah menit-menit yang kita hargai sendiri nilainya. Mungkin menit-menit itu tidak bernilai apa-apa. Mungkin menit-menit itu adalah menit-menit yang paling berharga sepanjang hidup buat kita dan anak-anak kita. Namun, sebagai sebuah pemberian yang berharga, menit-menit yang kita berikan untuk anak-anak kita adalah menit-menit yang sangat bernilai. Lantas, apa yang membuat menit-menit itu bernilai?
Menit-menit bersama anak-anak kita bernilai karena ada pelajaran yang kita berikan pada anak-anak kita; ada pelajaran yang kita terima dari anak-anak kita. Ada sikap-sikap kita yang membuat anak-anak kita menjadi lebih dewasa; ada sikap-sikap anak-anak kita yang membuat kita lebih matang sebagai orangtua. Ada kebajikan-kebajikan yang kita munculkan pada anak-anak kita; ada kebajikan-kebajikan yang anak-anak kita munculkan kepada kita. Kita makin memahami esensi menjadi orangtua; anak-anak kita memahami esensi menjadi seorang anak. Kita makin menghargai keberadaan anak-anak kita; mereka makin menghargai keberadaan kita. Menit-menit dimana kita dan anak-anak kita saling diliputi cinta dan kebahagiaan. Menit-menit dimana kita dan anak-anak kita saling belajar tentang kehidupan. Dan sebagainya dan sebagainya. Pada akhirnya, kita memandang menit-menit yang kita lalui bersama anak-anak kita sebagai menit-menit yang bernilai karena memang kita memandangnya bernilai. Ya, menit-menit itu adalah warisan kita yang paling berharga buat anak-anak kita.
Buku ini mengajak kita menggunakan waktu yang kita miliki, ya, menit-menit yang kita lalui setiap hari, untuk kita lewatkan bersama anak-anak kita. Mungkin hanya beberapa menit saja dari waktu yang kita miliki setiap hari, namun menit-menit itu sangat bernilai bagi kita, juga bagi anak-anak kita. Pada akhirnya, menit-menit yang kita miliki dan kita berikan untuk anak-anak kita pada dasarnya bukan menit-menit milik kita, tetapi menit-menit milik anak-anak kita. Buku ini mengajak kita memberikan menit-menit yang kita miliki setiap hari untuk mereka.
Bagian-bagian dalam buku ini ditulis secara singkat. Setiap bagian selesai dibaca dalam satu sampai dua menit. Anda bisa mulai membacanya dari bagian manapun yang disukai. Dengan tidak menguras waktu membaca, menit-menit yang Anda lalui setelah membaca buku ini sebaiknya digunakan bersama anak-anak Anda.
Tiap judul dalam buku ini diawali dengan kutipan para tokoh. Beberapa saya kenal, beberapa lagi tidak saya kenal dan beberapa yang lain memang tidak dikenal siapa pengarangnya. Ungkapan para tokoh itu menggerakkan saya untuk menulis judul demi judul dalam buku ini. Sesungguhnya, ide penulisan tiap-tiap judul bukan dari saya, tetapi dari para tokoh itu. Mungkin lebih tepat kalau saya hanya sebagai perantara yang menghubungkan gagasan para tokoh itu dengan Anda. Bacalah buku ini seolah-olah para tokoh itu sedang membisikkan kalimat yang sangat bermakna kepada Anda. Semoga apa yang mereka bisikkan khusus untuk Anda akan Anda teruskan dan mewujud dalam tindakan.
Buku ini dimaksudkan sebagai teman Anda dalam mengarungi peran sebagai orangtua. Buku ini diharapkan dapat menjadi kawan akrab bagi Anda dalam berhubungan dengan anak-anak Anda setiap hari. Layaknya kawan akrab, buku ini dibutuhkan manakala Anda dalam keadaan senang maupun saat menghadapi kesulitan dalam berhubungan dengan anak-anak Anda. Harapannya, buku ini akan selalu dibutuhkan selama Anda menjalani peran sebagai orangtua. Singkatnya, buku ini semacam buku harian untuk orangtua.
Akhir namun bukan terakhir, buku ini mungkin buku sederhana, tetapi semoga tidak membuat kita menyederhanakan peran kita sebagai orangtua. Mari kita berikan menit-menit yang kita miliki untuk anak-anak kita dengan cara menjadi orangtua hari ini juga.[]
Kamis, 22 Juli 2010
Menit untuk Anakku: Kata Pengantar Buku Pengantar
di
23.16
0
komentar
Label: Kajian Buku
Senin, 30 November 2009
Menjadi Guru Bener di Zaman Keblinger

“Saya minta Menteri Pendidikan Nasional untuk mengubah metodologi belajar-mengajar yang ada selama ini. Sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah jangan hanya gurunya yang aktif, tetapi harus mampu membuat siswanya juga aktif,” begitu ungkapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka Temu Nasional 2009 di Jakarta (Kompas, Jum’at, 30/10). Tersirat, permintaan presiden tersebut tidak hanya ditujukan kepada Menteri Pendidikan Nasional yang baru, tapi juga terhadap para guru sebagai subjek utama penentu kualitas pendidikan nasional.
Namun, mengubah metode belajar-mengajar bukanlah perkara mudah bagi seorang guru. Ada konsekuensi-konsekuensi yang harus dipenuhi oleh guru jika hendak mengubah metode belajar-mengajar yang dilakukan selama ini. Tidak serta merta dapat terpenuhi, apalagi jika dihadapkan pada kenyataan berurat-akar tentang metode belajar-mengajar yang berlangsung bertahun-tahun lamanya. C.E. Beeby, seorang pernah meneliti tentang pendidikan di Indonesia, menggambarkan cara mengajar guru yang ditelitinya tahun 80-an, “guru berbicara dan biasanya menulis di papan tulis (dan ini rata-rata memakan waktu separuh jam pelajaran), murid-murid mendengarkan secara pasif. Ada sisa waktu yang sangat singkat untuk tanya jawab, sedang pertanyaan-pertanyaan bersifat rutin dan menyimpulkan saja: murid-murid kemudian mencatat apa yang didiktekan atau dari papan tulis. Dimana buku teks sangat kurang, kadang-kadang guru mengajar dengan hanya mendiktekan saja pelajaran dan jika masih ada waktu baru memberikan penjelasan sekedarnya.” Tak bisa dinafikan bahwa cara mengajar demikian masih kerap dijumpai di ruang-ruang kelas sekolah kita saat ini.
Pemerintah bukannya tidak memiliki kebijakan ke arah perbaikan metode belajar-mengajar. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) memberi lampu hijau bagi guru dalam menyelengarakan kurikulum yang sesuai dengan corak sekolah masing-masing. Melalui KTSP, guru mendapat hak profesionalnya, termasuk dalam menyusun kurikulum dan mengembangkan metode pembelajaran. Namun, pemberlakuan KTSP tanpa diimbangi penyiapan pengetahuan dan ketrampilan guru dalam mengampu perubahan kurikulum berujung pada pembebanan guru terhadap tugas-tugas administratif belaka. Kurikulum berubah, namun hal itu tidak mempengaruhi guru dalam mengubah penyelengaraan kurikulum, termasuk pendekatan dan metode dalam belajar-mengajar.
Melalui bukunya ini, Doni Koesoema menempatkan guru sebagai subjek penting bagi perubahan. Guru tidak hanya sebagai pelaku perubahan, tapi juga sebagai pendidik karakter. Kedua peran itu saling terkait dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Melalui dua peran ini, pengaruh guru menyebar luas, melampaui tembok-tembok ruang kelas yang menyekatnya setiap hari. Kemauan guru untuk mengubah dan memperbaiki metode belajar-mengajar yang telah dilakukan selama bertahun-tahun berhubungan dengan kesadaran atas peran guru sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter.
Doni Koesoema menengarai dinamika pekerjaan guru menyebabkan guru sulit menerima perubahan. Ada tiga ciri dinamika pekerjaan guru yang menghambat perubahan, terhadap guru itu sendiri pada khususnya, dan dunia pendidikan pada umumnya, yakni konservatisme, individualisme dan presentisme. Gejala konservatisme mengemuka saat guru lebih merujuk pada keberhasilan masa lalu sebagai andalan, alih-alih menolak hal-hal baru yang belum tentu terbukti efektivitasnya. Individualisme tampak saat guru merasa bahwa apapun pilihan tindakannya sebagai guru sepenuhnya adalah haknya yang bersifat individual. Sebagai guru mata pelajaran tertentu, ia merasa bahwa cara mengajar dan hasil belajar siswa akibat cara mengajarnya itu adalah haknya sebagai guru yang siap dipertanggungjawabkan. Presentisme terlihat saat guru lebih mementingkan tugas-tugasnya hari ini yang bersifat jangka pendek dan hasilnya dapat langsung dirasakan, seperti menyiapkan ujian. Daripada mendorong siswa aktif memahami dan menemukan makna baru terhadap apa yang dipelajari, lebih baik mendorong siswa untuk berlatih soal-soal ujian.
Pada saat dinamika pekerjaan guru membuat guru resisten terhadap perubahan, zaman menempatkan guru dan institusi pendidikan lebih tinggi dari seharusnya, bahkan cenderung tidak proporsional. Doni Koesoema menyebutnya sebagai zaman keblinger. Zaman ini setidaknya memiliki dua ciri, yakni mistifikasi peran guru dan pemahaman bahwa sekolah sebagai panasea atau obat mujarab segala macam penyakit sosial. Masyarakat melakukan mistifikasi peran guru dengan menempatkan guru sebagai pangkal segala persoalan yang terjadi di masyarakat. Perdamaian atau permusuhan, kesejahteraan atau kesengsaraan, kecerdasan atau kebodohan yang menggelayuti masyarakat sera merta ditimpakan kepada guru sebagai biangnya. Mistifikasi peran guru berujung pada tuduhan segala ketidakberesan di masyarakat kepada guru.
Zaman ini disebut sebagai zaman keblinger karena sekolah dipandang sebagai panasea atau obat mujarab segala macam penyakit sosial. Masyarakat menyerahkan sepenuhnya baik dan buruknya perilaku siswa atau warganya kepada sekolah. Jika saat awal masuk sekolah seseorang teramat nakal, setelah lulus dia menjadi orang yang baik-baik. Sekolah menjadi obat ampuh atas penyakit apapun di masyarakat. Narkoba dan perilaku seksual menyimpang yang menggerogoti remaja, ditanggulangi oleh satu-satunya institusi terpercaya bernama sekolah. Masyarakat pun berbondong-bondong menyekolahkan anaknya dari pagi sampai sore, bila perlu diasramakan. Namun, jika sekolah tidak lagi ampuh mengobati penyakit sosial itu, yang harus bertanggung jawab sepenuhnya adalah guru.
Tantangan atas perubahan, baik dari internal (dinamika kerja yang resisten terhadap perubahan) dan eksternal (mistifikasi terhadap peran guru dan fungsi sekolah) menuntut guru memiliki visi sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter. Guru sebagai pelaku perubahan berarti menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan orang lain menuju tatanan yang dicita-citakan. Dalam masyarakat demokratis seperti saat ini, guru yang bervisi sebagai pelaku perubahan perlu melakukan reorientasi gaya pedagogis dalam pengajaran yang selama ini menjadi praksis hariannya. Mengembangkan diri sebagai pelaku perubahan berarti mengkritisi asumsi-asumsi dasar tentang pola relasi pengajaran dan pendidikan yang dianut selama ini. Guru perlu melepas dominasi terhadap siswa dalam pembelajaran dan menggantinya dengan memberikan ruang dan kreativitas kepada siswa untuk berkembang dan memiliki otonomi dalam pembelajaran (hal. 123-124). Beberapa kasus di dunia pendidikan yang masih kerap muncul, seperti kekerasan dan tindak asusia yang dilakukan guru terhadap siswa menjadi indikasi masih besarnya dominasi guru terhadap siswa dalam praksis pembelajaran.
Peran yang terus melekat dalam fungsi dan jabatan apapun di sekolah adalah guru sebagai pendidik karakter. Guru bukan hanya membuat siswa menjadi pintar dan menguasai materi, namun membuat mereka bertumbuh secara integral dan utuh sebagai manusia supaya dapat berkembang individualitas dan keunikan dirinya (hal 136). Namun, tuntutan yang tinggi terhadap capaian kurikulum dan harapan nilai yang tinggi dalam Ujian Nasional (UN) menggiring para guru lebih memusatkan pada pencapaian tujuan pendidikan yang dangkal. Sudah jadi rahasia umum, banyak guru yang melakukan berbagai macam cara agar siswa mendapat nilai tinggi dalam UN. Tindakan curang dan tidak jujur dalam UN, bahkan dilakukan secara sistematis, justru menodai visi luhur guru sebagai pendidik karakter.
Menjadi guru yang bervisi sangat diharapkan bagi perbaikan pendidikan nasional. Namun, masih banyak guru yang belum benar-benar menjadi guru. Menjadi guru yang bener, dalam arti mengembangkan perannya sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter, sangat penting bagi masa depan pendidikan di Indonesia. Di zaman sekarang ini, menjadi guru yang bener juga perlu, semata-mata agar guru tidak ikut keblinger. []
di
22.54
2
komentar
Label: Kajian Buku
Jumat, 09 Oktober 2009
Pola-pola Eksternal Menuju Sukses

“Begitu berita tersebar bahwa kami mengadakan pertunjukan, penonton mulai berdatangan ke klub. Kami bermain tujuh malam tiap minggunya. Pada awalnya kami bermain hampir nonstop sampai jam setengah satu malam saat klub ditutup, tetapi saat permainan kami terus membaik penonton terus bertahan sampai jam dua pagi.”
Jika kecerdasan, bakat, ambisi dan kegigihan tidak terlalu berarti, apa rahasia dibalik kesuksesan seseorang? Kalau keberhasilan individu bukan yang utama, apa penentu keberhasilan seseorang? Dalam buku ini, Malcolm Gladwell membangun tesis yang tidak biasa bahwa kesuksesan seseorang diperoleh karena kesempatan dan warisan budaya.
Kutipan di atas adalah ungkapan Pete Best, pemain drum The Beatles. Pada tahun 1960, saat The Beatles masih berupa band rock sekolah, Pete Best dan kawan-kawannya diundang untuk bermain di sejumlah klub di Hamburg, Jerman. Tujuh hari dalam seminggu! Selanjutnya, selama tahun 1960 sampai akhir 1962 The Beatles melakukan perjalanan ke hamburg sebanyak lima kali yang seluruhnya berjumlah 270 malam. Tiap malam mereka melakukan pertunjukan minimal lima jam. Kesempatan di undang ke Hamburg mereka gunakan untuk memperbaiki kualitas permainannya. Hamburg menjadi kawah candradimuka bagi mereka dengan banyak belajar tentang stamina, berbagai aliran lagu dan kedisiplinan. Sekembali dari Hamburg, The Beatles telah menemukan cara terbaik dalam bermain musik. Tanpa kesempatan bermain musik di Hamburg, The Beatles mungkin akan merajut cerita sukses yang berbeda.
Pola yang sama dialami oleh Bill Gates. Pada awal kelas tujuh, orangtua Gates mengirimnya ke Lakeside, sebuah sekolah yang berisi anak-anak keluarga kaya di Seatle. Saat menginjak tahun kedua, Gates bergabung di klub komputer yang baru didirikan sekolahnya. Saat itu, tahun 1968, komputer adalah barang mengagumkan, yang universitas-universitas pun belum banyak memilikinya. Waktu-waktu berikutnya adalah kesempatan bagi Gates belajar banyak tentang program komputer. Praktis, pengalaman mengembangkan perangkat lunak selama lima tahun di sekolah menengah ditambah dua tahun di Universitas Harvard, cukup bagi Gates untuk membuat perusahaan perangkat lunak sendiri.
The Beatles dan Bill Gates adalah dua contoh orang-orang sukses yang melewati pola yang sama: mereka memperoleh kesepatan yang istimewa. Secara metaforis Gladwell menamai mereka sebagai outlier, yakni orang yang melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Dalam pengertian yang lebih luas, outlier berarti sesuatu atau seseorang yang berada di luar keadaan normal.
Melalui bukunya ini, Gladwell memperkenalkan berbagai jenis outlier: orang jenius, musisi rock, pembuat program perangkat lunak dan raja bisnis dunia. Gladwell mengenalkan outlier dalam kisah sukses yang tidak biasa. Ia memaparkan data dan hasil penelitian psikologi sosial bahwa kesuksesan bukan hanya ditentukan oleh faktor individu, tetapi juga faktor sosial. Faktor terakhir ini mengingatkan siapa saja yang ingin sukses untuk menilik tempat dan waktu seseorang tumbuh besar. Karena, kesempatan yang diperoleh dan kebudayaan tempat seseorang tumbuh berpengaruh pada pola keberhasilan yang dicapai siapapun dan dalam bidang apapun.
Saat banyak penulis buku tentang kesuksesan memosisikian individu sebagai pelaku kunci, tidak demikian halnya dengan Gladwell. dalam bukunya yang ditulis dengan gaya bercerita ini, Gladwell menangkap fenomena yang luput dari pandangan para penulis tentang kesuksesan. Tanpa menganggap remeh kecerdasan dan bakat seseorang, Gladwell menyematkan tanggung jawab masyarakat sebagai penentu kesuksesan seseorang: masyarakat seharusnya menyediakan kesempatan seluas-luasnya dan mewariskan nilai-nilai yang mendukung kemungkinan seseorang untuk mencapai sukses.
Dengan gaya bercerita yang seprovokatif buku-buku yang ditulis sebelumnya, The Tipping Point dan Blink, Gladwell menggugah pikiran pembaca dalam memandang fenomena yang semula dianggap lumrah. Ia menunjukkan pentingnya tanggal lahir saat pada proses seleksi pemain hoki terbaik di Kanada. Batasan umur penerimaan berbagai kelas usia hoki di Kanada adalah tanggal 1 Januari. Seorang anak laki-laki yang berusia sepuluh tahun pada tanggal 2 Januari bisa bermain bersama-sama seseorang yang berumur sepuluh tahun di akhir tahun itu—padahal, pada periode praremaja, jarak dua belas bulan membuat perbedaan fisik yang besar (hlm 23). Sehingga kebanyakan anggota tim terbaik lahir di bulan Januari, Februari, Maret dan April. Menurutnya, jika kebijakan penerimaan dibuat dua kali pertahun, akan lebih banyak pemain hoki terbaik di Kanada. Pola semacam ini bisa berlaku pada penerimaan murid baru di sekolah dasar: dengan menimbang usianya, kapan sebaiknya seorang anak mulai menikmati hari-hari pertama di sekolah.
Merujuk hasil penelitian, Gladwell mengingatkan tentang kaidah 10.000 jam: seseorang perlu berlatih sebanyak itu untuk mendapatkan keahlian dalam sebuah bidang. Latihan sebanyak itu pula yang ditempuh The Beatles dan Bill Gates. Dengan menekankan pentingnya ‘kecerdasan praktis’—mengetahui apa yang harus dikatakan kepada orang tertentu, mengetahui kapan mengatakannya dan tahu bagaimana mengatakannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal—Gladwell berkisah tentang dua orang genius dalam menghadapi problem kuliah, dan berujung pada kesuksesan karier setelahnya. Dua orang genius bernasib lain karena lingkungan yang berbeda mempengaruhi kualitas kesuksesan. Dalam hal ini, Gladwell menekankan pentingnya keluarga sebagai lingkungan awal pembentuk kesuksesan seseorang, baik genius maupun tidak.
Orang mungkin tidak akan mengira bahwa jatuhnya pesawat terbang dipengaruhi oleh latar belakang budaya awak pesawatnya. Ini berarti bahwa kesuksesan sebuah maskapai penerbangan dipengaruhi oleh warisan budaya awak pesawatnya. Sebelum Korean Air memperbaiki managemennya melalui pembenahan sikap budaya, kecelakaan yang menimpa pesawatnya tujuh belas kali lebih banyak daripada hal yang sama menimpa United Airlines. Bahasa yang digunakan awak pesawat, yakni Bahasa Korea, memiliki enam tingkatan bahasa yang berbeda, bergantung pada hubungan antara kedua pembicara: formal, informal, terbuka, akrab, intim dan datar. Dalam Dimensi Hofstede, orang Korea memiliki Power Distance Index (PDI) tinggi yang menyulitkan komunikasi asertif antara kapten pilot dan ko-pilot dalam sebuah penerbangan yang kritis. Argumentasi ko-pilot dalam menghadapi kasus penerbangan dihambat oleh jarak kekuasaan yang tinggi sehingga tidak bisa berkata lugas kepada pilot yang dalam hirarki penerbangan lebih tinggi tingkat kekuasaannya. Karena faktor budaya pula orang-orang Asia, dengan dipengaruhi oleh pencahariannya menanam padi, memiliki keunggulan dalam bidang matematika.
Pada akhirnya, tesis Gladwell tentang outlier sesunguhnya juga mengisahkan tentang dirinya sendiri. Dia adalah staf penulis di The New Yorker dan mantan reporter bidang bisnis dan sains di Washington Post. Buku Outliers tidak hadir dalam bentuk semacam ini jika dia tidak ada kesempatan baginya melihat ayahnya bekerja, mulai dari mengkaji matematika sampai berkebun, dalam keadaan gembira, teguh dan antusias. Ia pun diberi kesempatan belajar dari ibunya tentang bagaimana mengungkapkan sesuatu dengan jelas dan sederhana. Neneknya, Daisy Nation—yang kepadanya buku ini dipersembahkan—telah berjuang menghadapi diskriminasi ras di Jamaika sehingga ibunya bisa memperoleh pendidikan. Sebuah pola yang indah mewujud dalam keunikan buku: paduan antara ketelitian, kelugasan dan kesegaran sudut pandang.
Apa pelajaran penting dari buku Outliers ini? Faktor eksternal, yakni tersedianya kesempatan dan pewarisan budaya turut menentukan kesuksesan. Masyarakat sedianya memberi kesempatan seluas-luasnya pada siapapun dalam menapaki jalan kesuksesan. Antarsesama selayaknya terjalin bantuan yang memudahkan jalan sukses. Perlu ada penanaman nilai-nilai positif yang memungkinkan terjadi reaksi kimiawi kesuksesan. Terkhusus dalam pendidikan, tiga matranya, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat seyogyanya saling mendukung tersedianya ruang cerah kesuksesan pada anak atau peserta didik, bukannya saling mengandalkan apalagi menghambat satu sama lain. []
di
06.43
0
komentar
Label: Kajian Buku
Jumat, 28 November 2008
Buku Resep Pengajaran Moral
Melalui renungan-renungan puitisnya, Kahlil Gibran dikenal sebagai salah satu dari berderet nama pujangga besar dunia. Namun, ia bukan hanya sebagai pujangga kenamaan saat bermadah, “anakmu bukanlah anakmu, anakmu adalah anak dari zamannya”. Dari perenungannya yang dalam atas dimensi kehidupan umat manusia, dia bisa disebut sebagai, tidak hanya pujangga yang menyemburkan kata-kata, tapi juga pendeta yang menganjurkan moral dan etika.
Mungkin ya, seseorang disebut anak jika secara biologis terlahir dari rahim ibunya. Tapi juga tidak, bahwa selain kepemilikan secara biologis, anak bukanlah anak dari ibunya. Secara psikologis (yang berdimensi individu-kepribadian), sosiologis (dimensi kelompok-kemasyarakatan) dan antropologis (dimensi komunal-kebudayaan), seorang anak lahir dari rahim zamannya. Zaman telah bertindak selaku ibu : menyusui, mengasupi, membesarkan, bahkan mendidik anak sehingga mampu bersikap dan berperilaku sesuai kehendak zaman. Sayangnya, zaman tidak selamanya bisa menjadi ibu yang baik!
Era Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah menghadirkan lingkungan di sekitar anak yang, dalam satu sisi meninggikan harkat hidup yang beradab, pada sisi lain mampu memerosokkan anak pada liang kebiadaban. Perangkat TIK, selain bisa memudahkan hidup, juga memendam potensi merendahkan hidup. Pada era ini, teknologi turut menentukan penilaian seseorang tentang sesuatu, apakah sesuatu itu benar atau salah. Dalam hal ini, teknologi berperan serta dalam membangun kadar moral seseorang. Moralitas serupa batu yang terus menerus diasah : jadi batu permata jika memancarkan keluhuran, atau jadi lempung yang lembek, hitam pekat dan mengotori jika mengalami kelunturan.Namun tidak jarang, orang tua maupun pendidik tersandung oleh buaian perangkat TIK ini : anak-anak yang harusnya mendapat pengajaran moral tidak bisa lagi mengasupnya. Justru anak-anak mengasup pelajaran-pelajaran buruk teknologi zaman ini. Bahkan sampai pada kesimpulan bahwa “televisi, film, video permainan, musik pop, dan iklan memberikan pengaruh terburuk bagi moral mereka karena menyodorkan sinisme, pelecehan, materialisme, seks bebas, kekasaran, dan pengagungan kekerasan” (hlm. 5). Penulis buku ini, Michele Borba, bukan hendak mematikan sumbu optimisme. Ia justru hendak menyalakan optimisme orang tua dan para pendidik bahwa walau teknologi media bisa berpengaruh buruk, media bisa dikendalikan. Lingkungan di sekitar anak bisa menumbuhkan moral yang tinggi. Karena, menurutnya, moralitas bisa diajarkan, dan moral dapat dididik jadi makin cerdas. Melalui bukunya yang bertajuk Membangun Kecerdasan Moral, Tujuh Kebajikan Utama Agar Anak Bermoral Tinggi ini, Borba ingin memberi sumbangan bagi proses pencerdasan moral anak. Dan, dalam skala yang lebih luas, upaya pencerdasan moral anak pada dasarnya juga proses pencerdasan moral bangsa.
Tujuh kebajikan utama
Masih terngiang dalam bilik ingatan, sebuah adegan kekerasan tak lumrah terekam melalui video handphone. Medio April 2008 sekelompok remaja putri menganiaya temannya sendiri dengan cara memukul bergantian ke arah kepala—organ vital yang menentukan masa depan setiap orang. Dari dialog yang terrekam, korban diperintah menunjukkan sikap hormat pada anggota-anggota geng yang bernama Nero (Neko-neko Dikeroyok). Saat korban mengangkat tangan ke samping kanan dahinya –seperti layaknya hormat bendera—seorang temannya mendampar wajahnya berkali-kali. Lalu sesekali menjotos tepat di hidung dan mulut korban sampai kepala korban terantuk ke belakang. Pertunjukan yang ditampilkan remaja puteri asal Pati itu lebih dari perhelatan di atas ring tinju: tanpa sarung tangan, dilakukan dengan keroyokan dan tanpa perlawanan dari pihak lawan. Usut punya usut, penyebabnya sederhana. Seorang anggota geng Nero mengaku telah dihina oleh teman sekolahnya. Lalu ia menceritakan persoalan tersebut ke teman-teman anggota gengnya. Persoalan pun diselesaikan dengan cara geng: korban dibawa ke lorong gang Blimbing, Juwana, lalu di dampar dan dijotos mukanya.Kekerasan yang dilakukan remaja puteri di atas tidak akan terjadi manakala tertanam satu dari tujuh kebajikan utama : empati. Adanya empati ini, seseorang mampu memahami perasaan dan kekhawatiran orang lain. Tidak hanya itu, seorang yang berempati mampu menampilkan perilaku yang mengejawantahkan kedalaman pemahaman perasaan dan kehawatiran orang lain itu. “Empati merupakan emosi yang mengusik hati nurani anak ketika melihat kesusahan orang lain. Hal tersebut juga yang membuat anak dapat menunjukkan toleransi dan kasih sayang, memahami kebutuhan oang lain, serta mampu membantu orang yang sedang kesulitan. Anak yang belajar berempati akan jauh lebih pengertian dan penuh kepedulian, dan biasanya lebih mampu mengendalikan kemarahan” (hlm. 21). Dengan terbangunnya empati, kebijakan utama yang lain, yakni hati nurani, kontrol diri, rasa hormat, kebaikan hati, toleransi dan keadilan turut bersama-sama terbangun. Tujuh kebijakan utama tersebut merupakan pilar-pilar yang menguatkan kecerdasan moral. Kokohnya pilar-pilar tersebut membantu anak dalam menghadapi tantangan dan tekanan terhadap moralitas yang akan dihadapinya kelak. Ya, kelak, saat dewasa, menghadapi zaman yang lebih canggih, gempita, marak dari zaman yang sedang dihadapi saat ini. Empati banyak diulas oleh Daniel Golemen dalam bukunya Emotional Intelligence (1995). Golemen menunjukkan bukti-bukti tentang kuatnya peran empati dalam meningkatkan kecerdasan emosi seseorang. Dan bagi Borba, membangkitkan kesadaran dan perbendaharaan ungkapan emosi mampu mengasah ketajaman empati seseorang. Ia menunjukkan dua penelitian yang dilakukan oleh John Gottman, professor psikologi dari Universitas Washington. Gottman melakukan penelitian selama sepuluh tahun terhadap 120 keluarga. Dari hasil penelitian terungkap bahwa anak-anak yang mempunyai orang tua sebagai ‘pelatih emosi’ bisa belajar memahami dan menguasai emosi lebih baik, lebih percaya diri dan lebih sehat secara fisik. Mereka juga mendapat nilai lebih tinggi dalam mata pelajaran matematika dan membaca, mampu bersosialisasi, dan kecenderungan stress yang rendah.
Resep terperinci
Dalam buku ini, pembaca tidak hanya disajikan berderet-deret teori dan bukti penelitian tentang moral semata. Didalamnya pembaca dapat menyelami beragam resep dan strategi terperinci tentang bagaimana membangun kecerdasan moral. Saat pembaca mulai menjajaki halaman-halaman buku, perlahan-lahan mulai merasakan hamparan khasanah pengkajian moral yang mendalam. Bukan sekedar ketajaman konseptual, tapi juga keluasan praktikal. Membaca buku ini seperti mendapat resep-resep, sebagai obat bagi moral yang sakit. Juga, menikmati buku ini laksana mendapat resep-resep menu sajian spesial bagi siapa saja yang memiliki selera tinggi atas moralitas.Resep yang terperinci dan dengan jitu mengulas-kupas langkah-langkah dalam membangun kecerdasan moral ini tidak akan terpapar baik dalam buku ini jika tidak dilakukan oleh orang semacam Michele Borba. Latar belakang keterlibatannya dalam seluk beluk membangun moral tidak melulu bergulat dalam teoritik saja atau praktikal saja, tapi keduanya. Keluasan wawasan dan kekayaan pengalaman, mampu menyumbang bagi kekuatan buku ini dalam mengkaji moral.Dengan mengantongi gelar doktor di bidang psikologi pendidikan dan konseling dari Universitas San Fransisco, Borba menjalin kerja sama dengan lebih dari setengah juta orang tua dan guru dalam membangun kecerdasan moral selama dua dekade. Sebelumnya, ia adalah guru kelas dan sekolah dengan pengalaman mengajar yang luas. Ia juga pernah bekerja dengan anak-anak yang kesulitan belajar, anak-anak dengan fisik, perilaku dan emosi yang kurang baik, dan anak-anak berbakat. Wawasan dan pengalamannya mampu menuntunnya dalam berbagi ilmu dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari melalui buku ini.Buku ini terdiri atas tujuh bab yang mengulas satu persatu dari tujuh kebajikan utama dalam membangun kecerdasan moral. Secara berurutan bab-bab tersebut yakni empati, hati nurani, kontrol diri, rasa hormat, kebaikan hari, toleransi dan keadilan. Tiap-tiap bab mengupas penyebab merosotnya kebajikan utama, pengertiannya, tes moral diri dan langkah-langkah membangun kebajikan utama itu. Pada tiap bab ditampilkan cerita berdasarkan kasus-kasus yang ditemui Borba selama dua puluh tahun membantu anak, orang tua, dan guru.Buku ini diharapkan mampu membantu orang tua dan guru dalam mengantar anak-anak dan remaja menuju kecerdasan moral yang tinggi. Apalagi, zaman ini seperti ingin merebut anak dari otoritas moral yang hendak diajarkan oleh orang tua dan guru. Adanya buku ini diharapkan dapat mengoptimalkan peran orang tua dan guru sebagai lingkungan terdekat yang akan mawarnai hitam putihnya moral anak. Sebagai kata akhir, tidak salah jika dikutip kata bijak dari Konfusius, alih-alih dukungan bagi orang tua dan guru sebagai pengajar moral –sebagaimana dikutip Borba, “Pemandangan terindah di dunia adalah seorang anak yang melangkah di kehidupan ini dengan penuh percaya diri setelah kita menunjukkan jalannya.” oOo
di
10.35
2
komentar
Label: Kajian Buku
