Hari itu, 8 Juli 2009, sekitar tujuh menit terlewat dari pukul 08.00, berlangsung kemeriahan warga yang bukan pesta. Masih pagi benar mungkin. Warga masih belum tergerak hadir di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Di TPS 9 RT 07 RW 3 Kelurahan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat, warga memenuhi kursi yang tak seberapa jumlahnya, satu-dua menit setelah TPS dibuka resmi oleh ketua RT—yang juga ketua KPPS. Ramai dan lengang memenuhi ruang sempit di TPS. Datang dan pergi, ke dan dari sebuah tempat yang, sekali lagi, tidak layak disebut pesta.
Disini tak ada pesta, hanya ada tiga meja, kursi yang tak seberapa, empat bilik, sebuah kotak suara, dan tenda biru yang tertata sederhana. Tenda biru didirikan di lontrong yang lengang, sekitar 3,5 meter lebarnya. Tenda membentang sebagai atap dengan kerangka potongan bambu dan tali seadanya. Bambu dan tali menopang lembaran tenda biru yang sudah dipenuhi lubang dan tambalan. Lontrong ditutup di dua mulutnya dengan palang glugu dan tanda nomor TPS. Walaupun sudah dipalang di mulut lontrong , banyak warga yang berlalu lalang dengan kesopanan yang bercampur segan. Dengan properti sedanya, warga yang datang lebih lambat harus bersiap kepanasan dan berdiri sambil menunggu namanya dipanggil. Perlengkapan sederhana ini sudah meyakinkan siapapun yang melintasi tempat ini bahwa disini benar-benar tak ada pesta.
Disini tak ada pesta, hanya ada sekelompok warga yang tertib mengantri di hari pemungutan suara. Mereka duduk dan berdiri, bergilir menunggu dipanggil oleh ketua RT. Mula-mula mereka mengumpulkan surat undangan ke KPPS setiba di TPS. Saat namanya disebut, mereka memungut kertas suara, menghampiri bilik suara, membubuhi tanda contreng pada calon presiden dan wakil presiden yang dipilih, melipat kembali kertas suara, memasukkan kertas suara di kotak suara dan menenggelamkan ujung jari kelingking kirinya ke dalam tinta warna biru. Begitu semua warga melakukan tindakan yang serupa. Sekali dua kali, anggota KPPS mengingatkan warga yang hampir lalai tidak mencelupkan ujung jari kelingking kirinya ke dalam tinta. Tingkah laku serupa yang dilakukan oleh para warga cukup meyakinkan siapapun bahwa disini benar-benar tak ada pesta.
Disini tak ada pesta, hanya perilaku Pak RT yang sering kali membikin gelak tawa para warga. Perilaku ketua RT seperti perilaku khas ketua RT umumnya di kampung Betawi—kocak dan asal njeplak!. Namun justru dari situlah sebuah kegiatan yang bukan pesta ini bisa dinikmati dan bahkan terjauh dari kelelahan yang menggelayut. Kelelahan mungkin sudah bergelayut diantara para anggota KPPS sejak semalam, yang lembur untuk mempersiapkan TPS dan perangkatnya. Akibat lembur inilah yang membuat Pak RT datang terlambat membuka acara pemungutan suara—tidak seberapa memang, hanya tujuh menit dari waktu yang sudah ditentukan oleh KPU, yakni pukul 08.00.
Entah sudah kebiasaan yang menetap atau karena kurang istirahat, ketua RT sering kali salah ucap dalam menyebut nama warga yang akan bergilir memilih. Misal, pak RT memanggil dengan keras, “Royati!”, hampir semua pengunjung TPS terdiam, bahkan tak ada yang berdiri mendekat menuju meja KPPS, sebelum akhirnya ada warga yang mengingatkan bahwa yang dipanggil Pak RT maksudnya “Reniyati”. “Eh, yah, Reniyati” begitu Pak RT membenarkan, seraya melanjutkan dengan kesalahan mengeja nama untuk warganya yang lain.
Karena TPS berada di lontrong yang biasa dipakai lalu lalang, Pak RT sempat kecelik. Pak RT memanggil dengan lantang, “Ristanto Wijaya!”, eh yang datang seorang perempuan. Kebetulan perempuan itu hanya numpang lewat pas di depan, mendekati meja KPPS. “Eh, dikire die..!” ucap Pak RT yang segera disambut tawa anggota KPPS yang lain dan sejumlah warga yang hadir.
Pak RT, dengan posisinya sebagai pemuka warga itu, tentu merasa dekat dengan warganya. Demikian sebaliknya, warga seperti merasa diorangkan dengan sambutan akrab Pak RT. Namun, bukan Pak RT kalau tidak asal jeplak seperti berikut ini.
“Hee…!” sambut Pak RT pada seorang anak muda yang baru hadir. “Dari Tebet jam berapa ya?” tanya Pak RT seketika pada anak muda tersebut yang mungkin bekerja atau punya tempat tinggal keluarga di Tebet.
“Bukan dari Tebet, Pak. Tapi Depok!” jawab anak muda itu sekaligus mengonfirmasi informasi yang salah yang selama ini diketahui Pak RT tentang dirinya.
“Oh, iya. Depok ya..” jawab Pak RT sekenanya, sambil melanjutkan memanggil warganya yang lain.
Menjelang siang kursi lengang. Warga seakan menunda kedatangan. Pak RT dan anggota KPPS lainnya memanfaatkannya dengan menyantap makanan ringan yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu setempat. “Ayuh, ngopi yuh..” sapa Pak RT pada semua warga yang hadir.
“Pak RT, tamu nih.. kotaknya mana?” tanya seorang warga sambil menunjuk kawannya yang baru hadir. Kotak yang dimaksud dalam hal ini adalah makanan ringan.
“Kolak! Itu tuh, di warung!” jawab Pak RT dengan nada keras sembari menunjuk warung yang berada di dekat TPS. Seperti biasa, Pak RT menjawab sekenanya, yang dimaksud kotak, didengar Pak RT sebagai kolak.
“Kolak, kaya puasa saja kolak,” jawab tamu yang ditawari. Sejenak hadirin di TPS tertawa.
Begitulah. Disini benar-benar tak ada pesta. Hanya ulah Pak RT yang membikin warganya tertawa-tawa. Sebuah kemeriahan yang tercipta spontan, seadanya, dan terbersit ketulusan sebagai endapan dari interaksi intens sesama warga.
Sekali lagi, disini tak ada pesta, hanya perilaku warga pemilih yang membuat warga yang lain tidak bisa menahan gelak gembira. Ada seorang warga yang menjadi saksi bagi capres/cawapres tertentu. Ia hadir terlambat, namun pulang lebih cepat. Saat diminta menyaksikan dan menanggapi suara capres/cawapresnya yag tidak sah, ia hanya melongok sejenak, lalu bilang, “yah, saya percaya saja pada KPPS!” warga yang lain pun hanya mengoloknya, “menang atau kalah capres/cawapres yang didukungnya, dia tidak urusan, yang penting duit sebagai saksi sudah diterima!” warga yang lain sekilas tertawa.
Ada warga yang usai memasukkan kertas suara, hendak mencelupkan ujung kelingkingnya ke dalam secangkir kopi! Pasalnya, petugas KPPS yang melayani celupan tinta menaruh cangkir kopinya di sisi wadah tinta. Lagian, wadah tinta terlalu kecil dibanding cangkir kopi. “Bukan ini, ini kopi!” tegas petugas KPPS yang diiringi tawa warga di sekitarnya.
Seorang warga mengolok kawannya yang menjadi saksi salah satu capres/cawapres. Katanya, “memang saksi ikan asin di jemur!” Si saksi duduk di kursi yang tersiram kuyup panas matahari siang itu.
Ada juga seorang warga perempuan paruh baya yang latah dalam berucap. Yang bikin orang lain tertawa karena kata yang keluar dari latahnya adalah alat kelamin laki-laki!
Begitulah. Disini benar-benar tak ada pesta. Hanya polah warga yang merayakan kemeriahan sederhana sekedar bumbu dalam pergaulan sesama.
Benar, kan? bahwa disini tak ada pesta, hanya warga yang lamat-lamat mendeklarasikan diri, semacam perayaan kecil-kecilan, dengan peralatan sederhana, sikap dan tingkah laku seadanya, bahwa dirinya adalah warga negara yang telah memenuhi kewajibannya: hadir di TPS dan menentukan capres/cawapres pilihannya. Mereka tidak terlalu berurusan apakah capres/cawapres yang dipilihnya akan menang atau kalah. Yang jadi urusannya adalah bahwa dirinya harus menggunakan hak suaranya di hari pemungutan suara. Mereka tidak terlalu berhadap banyak bahwa pasca Pilpres 2009 akan ada perubahan yang lebih baik pada kehidupannya sehari-hari. Bahwa terhadap kondisi apapun yang selama ini mereka alami, mereka telah memiliki sikap bahagia, ada atau tidak ada pesta! []
Jakarta, 8 Juli 2009
Rabu, 2009 Juli 08
Tak Ada Pesta di Hari Pemungutan Suara
di
20:37
1 komentar
Label: Politik
Minggu, 2009 Juni 14
Pulau Galang dan Jejak Para Pengungsi

Dengan luas hanya 125 km2, siapa yang kenal Pulau Galang? Mungkin tidak semua peta Indonesia memuatnya. Orang Indonesia pun belum tentu tahu kalau pulau Galang adalah salah satu dari ribuan pulau di Indonesia. Kami mengenalnya setelah melalui perjalanan yang sebentar dan tahu pula bahwa orang yang bukan warga negara Indonesia justru lebih mengenal dan memiliki ikatan batin pada pulau ini.
Pulau Galang berada 35 km dari Pulau Batam. Pulau Galang dan beberapa pulau yang lain di sekitarnya dihubungkan oleh jembatan Balerang—jembatan yang menjadi ikon Kota Batam. Pada masa gejolak perang Vietnam, sekitar 200 ribu para pengungsi dari Vietnam, Laos dan kamboja menghuni pulau ini. Kamp pengungsian pun didirikan oleh Komisi Tinggi PB untuk Pengungsi (UNHCR) untuk memenuhi hajat hidup para pengungsi di pulau ini yang berdiam sejak Mei 1979 sampai tahun 1996. Para pengungsi Vietnam ini dikenal dengan menyebut singkatannya, yakni Sinam.
Bagaimana Pulau Galang 30 tahun kemudian –sejak pertama kali dihuni para pengungsi? Pulau ini kembali menjadi pulau yang tidak ramai. Sebagian besar tanahnya masih berupa hutan. Tanah merah dan berbatu tak cukup andal untuk pertanian. Tidak ada angkutan kota, kecuali bus gratis untuk para pelajar. Pelajar disini tidak mengandalkan jalan darat saja untuk berangkat sekolah. Karena tempat tinggal yana berjauhan, mungkin dari pulau yang berbeda, mereka juga menggunakan perahu untuk pulang-pergi sekolah. Kebanyakan para tamu yang datang ke pulau ini tak lain untuk melihat jejak-jejak para pengungsi yanng masih tersisa.
Tamu yang semacam ini pun tidak terlalu banyak. Pulau galang dan beragam jejak para pengungsinya tidak menyimpan nuansa objek wisata pada umumnya: ramai dan menyediakan hiburan. Pulau Galang seakan menghadiahi pengunjungnya dalam dua nuansa: tragedi kemanusiaan yang tragis pada satu sisi dan tindakan kemanusiaan yang tulus pada sisi yang lain. Sisi yang terakhir tersebut tidak dibatasi oleh wilayah negara dan batasan administratif lainnya. Para pengungsi yang berada di Pulau Galang ini seakan menjadi ‘anak semua bangsa’ –meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer. Indonesia menjadi ‘bapak’ dari para pengungsi itu, walau hanya dalam waktu 17 tahun, sebelum akhirnya mereka dipulangkan kembali ke Vietnam pada tahun 1996. Adalah Huan Nguyen Cornwall, salah seorang bekas pengungsi (yang saat itu masih anak-anak) kini menjadi mahasiswa University of Washington, Seattle. Dalam perjalanan hidup yang panjang dan penuh was-was, ia akhirnya bermukim di Amerika Serikat, menjadi anak angkat keluarga Cornwell. Ia sempat berkunjung ke Pulau Galang, mengingat kembali rekaman masa lalu hidupnya yang pahit itu.
Jejak para pengungsi dikelola oleh Otorita Batam sebagai objek wisata sejarah. Untuk masuk ke dalamnya, kami cukup merogoh 10 ribu rupiah untuk kendaraan roda empat. Dari dalam kendaraan, kami bisa menyaksikan jejak-jejak para pengungsi: barak, rumah sakit, sekolah, penjara, perahu, pelabuhan, tempat peribadatan (masjid, vihara dan gereja). Diantara jejak-jejak itu, hanya tempat ibadah yang masih digunakan oleh penduduk sampai saat ini.
Di awal gerbang masuk, kami disambut oleh vihara Quan Am Tu. Suara talu terdengar berirama dari dalam vihara, tanda ada jemaat yang sedang beribadah.
Saat mulai masuk, kami kembali disambut oleh gerombolan kera yang mendekati kami. Mungkin mereka mengira kami membawa banyak makan untuk mereka—sayangnya kami tidak bawa apa-apa. Pulau ini masih berupa hutan lebat dan kera-kera tentu tercukupi makanannya. Ulah mereka menarik perhatian kami dan memaksa kami untuk berhenti sejenak.
Kami mulai menyaksikan barak-barak yang tampak tidak terpelihara. Beberapa atap terlihat rapuh, tak mampu menopang beratnya sendiri. Hanya beberapa barak yang masih kokoh dan rapi, walau tetap menyimpan kekusutan masa lalu.
Di suatu sudut kami menyaksikan pemakaman dengan nisan yang kokoh. Di tempat inilah sebagian orang pengungsi beristirahat selamanya—di suatu pulau dimana mereka berencana untuk tinggal sementara saja. Konon, karena tak kuasa menanggung penderitaan sebagai pengungsi dan ketakutan akan masa depan, banyak para pengungsi yang bunuh diri, bahkan ada yang membakar diri hidup-hidup di depan petugas PBB.
Di bagian yang lain, kami menatap beberapa perahu yang ‘didaratkan’. Sayangnya, karena berada di alam terbuka dan hanya atap pelindung sekedarnya, beberapa perahu tampak rusak tak bisa menahan keasliannya. Kayu-kayu badan perahu itu lapuk oleh panas sinar matahari di Pulau Galang.
Di suatu ruang pada bagunan yang digunakan untuk bagian administrasi, kami bisa menyaksikan beberapa barang kerajinan tangan berupa tembikar dan lainnya yang merupakan buah tangan para pengungsi. Di beberapa bagian dinding, kami melihat foto-foto rekaman kejadian: kawanan muda membakar perahu—berharap mereka tidak dipulangkan ke Vietnam; kunjungan Presiden Soeharto ke Pulau galang tahun 1979; kepadatan pengungsi di pelabuhan; dan sebagainya. Foto yang paling baru merekam rombongan kedutaan besar Vatikan untuk Indonesia yang berkunjung ke objek wisata ini—sembari merekam
jejak-jejak kemanusiaan para pengungsi.
Hendaknya pemerintah Otorita Batam melestarikan objek wisata ini, agar orang-orang di luar Pulau Galang dapat menyaksikan jejak tragedi kemanusiaan dan bersaksi bahwa yang tak manusiawi akan dibela dengan sikap manusiawi yang tanpa batas. []
Jakarta, 14 Juni 2009
NB. Untuk Abdul Mufallah, Yasni Atikah dan Reza Rizqy, minta izin foto-fotonya saya pakai. Ini tentang perjalanan kita.
di
20:01
0
komentar
Label: Catatan
Kamis, 2009 Januari 22
SMA PLUS PGRI Cibinong: Melibas Batas Ruang Belajar
Satu kalimat singkat tereja segera saat kami memasuki gerbang sekolah itu: sekolah yang mungil. Selanjutnya: yah, PGRI. Namun, dalam waktu yang tidak terlalu lama, stereotipe kami terbantahkan oleh fakta dibalik kata yang menyertai nama sekolah itu : Plus!
Kami segera menuju ruang kepala sekolah. Pintu kami buka. Beberapa orang terinterupsi kesibukannya, lalu menyambut kami. Tiada yang tersisa di papar wajah mereka selain senyum mengembang tanda keramahan.
Beberapa lama kami berdialoh dengan Drs Basyarudin Thayib, M.Pd. (kepala sekolah) dan Drs Agus Rohiman (Wakasek Urusan Kurikulum). Berpanjang-panjang kami mengkaji tentang pendidikan di Indonesia. Sejenak-jenak Pak Basyar mengupas kilas tentang kemajuan sekolah yang dipimpinnya. “Dahulu sekolah ini tidak ada apa-apanya, murid cuma 200 orang. Sekarang tahun ini kami menerima siswa baru sebanyak 540 orang”, kami belum saja menangkap nilai lebih sekolah ini. “Sekolah kami menerapkan Multiple Intelegence. Siswa digolongkan dalam 14 minat dan bakat mereka”, memang ketakjuban tidak cukup diterangkan dengan kata-kata.
Sebagai obat penasaran, kami senang saja saat diajak mengamati sudut-sudut sekolah. Di ruang yang paling depan: kursi-kursi berjajar rapi memanjang. Sepertinya kursi itu hendak berkata bahwa setiap orang adalah tamu istimewa. Ruang tamu dengan pintu yang selalu terbuka.
Kami melewati ruang istimewa lagi: ruang oval. Atapnya tinggi menjulang, berupa lingkaran bentuk oval warna keemasan. Di dalamnya, meja-meja terjajar rampat membentuk lingkaran oval. Di muka ruangan, meja tinggi dan kursi besar—seperti meja hakim di pengadilan—menghadap lingkaran meja oval itu. Di tepi kiri-kanan ruangan, piala warna keemasan tertata rapat sepanjang ruangan. Penilaian sekilas ruangan itu: bersih, rapi dan berwibawa. “Ini ruang guru. Salah satu cara untuk menghargai pendidikan itu dengan lebih dahulu menghargai guru” begitu alasan Pak Basyar seakan hendak membela guru.
“Disini biasanya juga kami gunakan untuk mengadakan seminar terbatas. Jika ada pakar datang, kami minta untuk berbicara di depan”, terang Pak Basyar sambil menunjuk ke meja kursi besar yang ada di muka ruangan. Sebuah ruang yang hendak diantar dalam aura akademis, bukan ruang padat serupa pasar penuh rumpian.
Di salah satu sudut sekolah kami jumpai ruang bertajuk research center. Disinilah para siswa yang disebut Kelompok Pembinaan Khusus (kopasus) IT melakukan kajian terhadap perkembangan IT. Ada meja tertata melingkar dengan beberapa monitor layar datar berdiri tegak menantang. Ada dua orang siswa duduk melantai sambil tangannya cekatan merakit komputer. Mungin ini workshop bagi para kopasus IT.
“Jika komputer sekolah rusak siswa Kopasuslah yang memperbaikinya. Jadi kita tidak mengeluarkan biaya perawatan komputer. Sekolah yang berbasis IT itu bukan menyediakan komputer yang tersambung di segala ruang. Kalau ada biaya siapapun bisa. Yang saya lakukan adalah membina dan membentuk tim IT dari kalangan guru dan siswa.” Kata Pak Basyar sambil mengajak ke ruangan lain.
Sejenak kami tercengang. Beberapa siswa khidmat menatap komputer di depannya sambil mengutak-atik foto, animasi dan video. Di dalam ruangan itu, tersekat ciut studio radio sekolah: Pesat FM. Dua orang siswa sedang bercuap-cuap merdu menyapa pendengarnya.
Pada halaman yang dikitari oleh gedung sekolah itu, pohon sawo dengan buah ranum merimbuni siapa saja yang duduk di bawahnya (pada tiap pohon sawo dilingkari oleh tempat duduk beton segi delapan). Saat itu sekelompok siswa memenuhi tempat duduk di bawah pohon sawo itu, dengan bukunya masing-masing. Ini hari sedang pelajaran matematika. Terdengar celoteh, tawa riang, dan aksi dorong di antara mereka. Sungguh hebat, pelajaran matematika dijalani dengan riang tawa.
Sekolah bolehlah mungil, ruang kelas bolehlah membatasi interaksi. Namun, proses belajar yang dilakukan di sekolah ini menyeka batas-batas ruang sosial mereka. Sepertinya, siswa membuat halaman dan gedung sekolah ini sebagai ruang kelas mereka. Jadi tak heran jika sekolah ini tak memendam kesunyian. Siswa bisa ditemukan dimana-mana!
Masih bersama Pak Basyar, kami susur kelas demi kelas. Kami mengintip satu persatu kelas itu. Kami saksikan jelas, dinding-dinding kelas hampir-hampir tertutup rapat oleh gambar-gambar. Ya, ada grafiti di dalam kelas!
Di salah satu kelas, siswa saling berkelompok dengan duduk berhadap-hadapan. Ya, ini bukan kelas tradisional yang seluruh siswanya wajib menghadap ke depan. Dalam belajar, interaksi antar orang yang terlibat dalam belajar itu tetap utama—untuk membentuk suasana belajar dan proses pembelajaran.
Tampaknya, Pak Basyar dan para pendidik di sekolah itu menyadari ungkapan John Dewey. Dalam Democracy and Education ia berkata bahwa sebaiknya sekolah menyediakan lingkungan yang dimurnikan bagi anak (Counts, 2006). Dimurnikan berarti juga menyisihkan segala paham, nilai, sikap dan perilaku yang tidak menguntungkan bagi anak dalam melakukan proses belajar. Termasuk paham, nilai, sikap dan perilaku yang rujukannya hanya diukur dalam takaran orang dewasa. Disini anak bisa lebih berekspresi (menggrafitikan dinding kelas), berinteraksi (belajar bersama dengan menyenangkan) dan beraktualisasi (mengkais-kais potensi dirinya dalam IT dan keminatan yang lain). Ya, lingkungan di sekolah ini memang murni untuk anak didiknya sendiri.
Ini tidak butuh waktu lama bahwa akhirnya kami terkagumi oleh suasana belajar di sekolah itu: belajar multimedia, belajar di ruang terbuka, belajar kelompok. Semua itu dilakukan dalam rangka melibas sekat pembatas ruang belajar yang masih dianut kebanyakan sekolah selama ini. Benar-benar plus!
Wisma Kodel, 22 Januari 2009
di
20:52
1 komentar
Label: pendidikan
Sekolah Alam Ciganjur: Sekolah yang Benar-benar Waktu Luang
Jam 07.30 pagi. Tiap hari bukan pagi yang terburu-buru. Pada saat banyak siswa di Jakarta bergegas mengejar kelas jam 6.30, disini, siswa berangkat satu jam lebih siang. Disini, siswa bukan disambut dengan kelas persegi panjang yang sempit, berderet meja kursi seragam tertata, dan papan hitam tersandar di muka, tapi dengan padang lapang kehijauan, dengan saung serupa panggung, dan tempat bermain yang bisa dipakai kapanpun sempat. Tanpa meja kursi, tanpa sekat pembatas kelas. Mungkin siswa disini tidak merasa masuk sekolah. Apalagi mereka tidak mengenakan pakaian seragam sekolah. Di lain pihak sementara orang menyangsikan: apakah yang semacam ini benar-benar sekolah?
Pagi pun tidak disambut dengan guru yang menanya tugas atau pekerjaan rumah, sambil secepat kilat mengeluarkan bertumpuk buku dalam tas. Pagi memang harus dinikmati. Dan para siswa menikmati pagi dengan bercerita ringan sehari-hari. Mereka berbincang pagii: tentang peristiwa kemarin, perasaan hari ini, maupun rencana yang akan dilakukan sepanjang hari. Para guru di sekolah itu menamai dengan morning talk.
Bagi sebagian orang, namanya tidak lagi jarang terngiang: Sekolah Alam Ciganjur. Kami ingin sedikit bertukar cerita tentang sekolah itu. Tentu hanya kilas sepintas, berdasar pengalaman kami bertamu sejenak di sekolah itu.
Kami berbelok ke kanan segera saat masuk pintu sekolah. Ada saung yang dibangun dengan teratak tangga yang lebih tinggi. Di lantai saung itu, ada satu komputer menyala dengan perempuan muda di depannya. Sedang mengerjakan administrasi siswa. Kami disambut, lalu duduk di alas karpet. Ini kantor sekolah itu. Tanpa meja, tanpa tempat duduk, hanya menggelosor.
Penasaran melayangkan tubuh-tubuh kami berkeliling di area yang luasnya 6.800 meter persegi itu. Dengan ditemani mang Pepen dan mang Asep, kami berjalan pelan sambil berkeliling sekolah. Jalan setapak, diplester. Disekelilingnya rumput-rumput hijau membungkus muka tanah. Beberapa pohon rambat mengatapi jalan setapak itu.
Kami dipergoki oleh antrian siswa yang hendak lewat. Ini siswa mungkin sedang mengikuti pelajaran olah raga. Atau mungkin bukan, karena di sini kapanpun para siswa bisa olah raga.
Di sebuah saung, siswa TK A sedang duduk mengantri. Berturut-turut seperti gerbong kereta yang sambung menyambung. Sesekali tawa kecil membahana dari siswa yang sengaja mendorongkan tubuhnya ke belakang mengenai temannya. Di pangkal antrian, seorang siswa dan guru sedang menghadap adonan dari tepung. Saat siswa di pangkal antrian selesai membuat rupa adonan, ia bergegas menuju ujung antrian. Begitu seterusnya mereka belajar membuat adonan.
Pada saung yang lain, sekelompok siswa mencari tempat masing-masing untuk sebuah kerja di tangan: alas dari papan yang menjepit selembar kertas di atasnya. Mereka sedang belajar menyalin huruf latin. Ada yang menunggingkan pantatnya di lantai saung, ada yang duduk di tangga, ada yang di pinggir jalan setapak, ada juga yang masih berlarian.
Pada bagian lain, di sudut sekolah, terhampar lapangan bola. Dua orang siswa sedang bermain sepak bola.
Sejenak waktu, kami menyalami beberapa siswa. Kami menatap mata mereka, mereka pun menatap mata kami. Uluran tangan langsung disambut. Nyaris tak ada rasa minder terbersit di wajah cerah mereka. Yang tersisa hanya ketegaran dan rasa ingin tahu yang lebih dalam pada kami, walau belum sempat kata-kata terucap dari mulut mereka yang menganga.
Di ketinggian, seorang siswa perempuan sedang menaiki teratak dari tali. Tiada ragu kaki menginjak, tak ada waktu untuk sesaat menengok ke bawah. Ia seperti sudah biasa dengan ketinggian. Ya, mereka, siswa yang lebih besar (mungkin kelas 5 atau 6) sedang khusyu bermain flying fox.
Saat itu kami datang tanpa diundang, kami datang tanpa memberitahu rencana kunjungan. Kesimpulan sederhana kami, apa yang kami lihat saat itu adalah apa yang terjadi setiap hari di sekolah itu. Ini sekolah atau tempat bermain?
Sekolah secara harfiah berarti ‘waktu luang’, berasal dari bahasa Latin, skhole, scola, scholae atau schola. Apa kegiatan yang paling tepat untuk mengisi waktu luang bagi anak-anak selain bermain-main?
Alkisah, orang Yunani tempo dulu biasanya mengisi waktu luang mereka dengan mengunjungi suatu tempat atau seseorang yang pandai. Mereka menanyakan dan mempelajari ikhwal yang mereka rasa butuh diketahui. Mereka meyebut kegiatan itu dengan istilah di atas. Keempatnya punya arti yang serupa: waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar—leisure devoted to learning (Topatimasang, 1998).
Pada Sekolah Alam Ciganjur, para siswa datang ke tempat itu. Mereka menghabiskan waktunya untuk bermain: adonan, sepakbola, flying fox. Dengan bantuan para guru, mereka bermain tidak sekedar bermain, tapi ada pelajaran yang bisa didapat dari permainan itu. Di sekolah itu mereka bersenang-senang, bahkan mungkin lupa bahwa mereka sebenarnya sedang mempelajari sesuatu.
Di sebuah saung, ada gambar-gambar ikan yang ditempel melingkar pada lantainya. Fungsinya untuk membantu siswa agar bisa berdiri melingkar bulat teratur—sesuatu yang tidak mudah bagi anak usia 4-5 tahun. Dipakai setiap hari untuk mengakhiri jam pelajaran. “Itu baru kami terapkan”, ujar mang Asep, sambil menujuk gambar ikan yang ditempel melingkar itu. Sungguh, ternyata, di sekolah ini siswa dan guru saling belajar sesuatu yang baru—yang layak diketahui dan dijalani bersama-sama.
Tidak dinyana, kami teringat sekolah Summerhill yang didirikan A.S. Neill di London tahun 1921. “Menurut saya anak punya watak dasar bijaksana dan realistis. Kalau dibiarkan tanpa campur tangan apapun dari orang dewasa, ia akan berkembang sejauh potensinya memungkinkan. Secara logis, di Summerhill, barangsiapa punya potensi dan ingin jadi intelektual, ia akan jadi intelektual. Barangsiapa yang hanya cocok menyapu jalanan akan menyapu jalanan. Namun sejauh ini kami tidak menghasilkan segerombolan tukang sapu jalan.” Begitu ujar Neil (2006). Di Sekolah Alam Ciganjur, para siswa belajar dengan caranya sendiri dan tentang apa yang ingin mereka ketahui bersama. Jadi jangan heran jika ada siswa yang belajar sambil tiduran sementara yang lain hidmat menatap wajah guru. “Saya mendengarkan kok, Bu” begitu jawab seorang siswa yang belajar sambil berbaring, dan guru pun membiarkan ia belajar dengan caranya yang khas itu.
Mengapa sekolah ini berbeda dengan jamak sekolah yang lain? Ingin menawarkan sistem yang baru, mungkin. Tapi, ini pasti menyangkut salah satu pemberatan dari dua aspek pengalaman manusia: aspek logis dan psikologis (Dewey, 2006). Pada saat banyak sekolah memberati aspek pertama: dengan membebankan pelajaran atau bidang studi agar bisa menjawab Ujian Nasional, sekolah ini memilih pemberatan pada aspek kedua: bahwa pelajaran sekolah memang benar-benar mengikuti tumbuh kembang kepribadian anak. wallahua’lam.
Wisma Kodel, 21 Januari 2008
di
20:48
2
komentar
Label: pendidikan
Kamis, 2009 Januari 08
Ternyata, Beragama Butuh Bijaksana
Bahwa agama mengajarkan kebaikan, setiap orang mengakuinya—bahkan sudah jadi aksiomatik. Bahwa agama mengajarkan kebijaksanaan, lebih tidak mudah ditemukan faktanya karena seorang penganut agama yang baik pun belum tentu seorang yang bijaksana. Ini simpulan sederhana yang saya buat dari pertemuan singkat antara dua orang yang sudah tidak lagi dibilang muda, lengkap dengan jenggot putihnya, yang hendak menemui seorang tua pada sebuah kantor di sebuah gedung di bilangan Kuningan Jakarta.
Dua orang tua bergegas masuk di ruang tamu kantor itu. Pada jam kantor, tidak semua orang tamu berpakaian a la kantor zaman sekarang. Dua orang tua itu bukan memakai piyama necis, berdasi dan sepatu hitam mengkilap—sebagaimana dikenakan jamak orang yang berlalu lalang di gedung itu. Keduanya memakai baju gamis putih (sebut saja Orang Tua Bergamis), yang ujung kainnya hampir bersepadu dengan ujung lutut, dan sendal sepantasnya—sebagai alas bagi kaki. Dua orang itu menguluk salam, disambut oleh penghuni kantor itu, yang juga orang tua (sebut saja Orang Tua Penghuni Kantor), penuh persahabatan. Mungkin mereka sahabat lama sejak muda.
Cerita punya cerita, kedua Orang Tua Bergamis bermaksud sebagai penyampai (mubaligh) pada orang yang ditemuinya itu. Orang Tua Bergamis pertama berujar, "Pak, banyak orang mengaku sudah berbuat untuk Islam; mendirikan masjid yang layak, menyantuni orang miskin, membuat sekolah atau universitas untuk kemajuan pendidikan umat Islam. Tapi sebenarnya mereka itu belum berbuat untuk Islam. Merka hanya berbuat untuk orang Islam."
Saya terheran-heran dengan pandangannya itu. Sungguh benar-benar menempatkan pelaku kebaikan pada derajat yang paling rendah. Yang diajak bicara, Orang Tua Penghuni Kantor, adalah orang yang dengan gigih turut serta mendirikan dua universitas di Jakarta. Mungkin Orang Tua Penghuni Kantor tersindir oleh ungkapan Orang Tua Bergamis itu.
"Orang yang berbuat untuk Islam itu mengajak orang Islam untuk ber-Islam yang sesungguhnya. Dalam hal ini yang saya lakukan adalah mengajak orang Islam untuk sholat lima waktu di awal waktu. Lalu, apa yang sudah bapak perbuat untuk Islam?" imbuh Orang Tua Bergamis pertama. Orang Tua Bergamis kedua mengiyakan dengan memberi imbuhan-imbuhan kata yang seadanya.
Orang Tua Penghuni Kantor giliran menjawab, "Pak, saya ingin cerita. Saya pernah diundang dalam suatu acara bedah buku. Seseorang mengajak saya untuk hadir. Buku itu berisi kumpulan tulisan para kaum muda yang saya tidak begitu kenal. Setelah kata sambutan usai, saya dipanggil untuk maju ke depan. Sambil membawa buku, seorang panitia menyerahkan buku itu pada saya dengan berkata,'Pak, buku ini kami tulis untuk Bapak, atas jasa Bapak yang memberi inspirasi bagi kami-kami yang muda ini'. Saya terheran-heran, buku ini ditulis untuk saya dari orang yang hampir semua tidak saya kenal. Saya juga terheran-heran, apa yang saya lakukan ternyata menimbulkan inspirasi bagi mereka. Saya tidak mengajak apapun pada mereka untuk berbuat sesuatu yang saya inginkan. Saya pun tidak mengajak mereka untuk sholat karena saya yakin mereka sudah pada sholat semua."
Kedua Orang Tua Bergamis itu pun diam seiring usainya bicara Orang Tua Penghuni Kantor itu.
"Bagi saya, apa yang saya kerjakan ini saya yakini sebagai ibadah. Kalau da'wah anda mengajak orang Islam untuk sholat, da'wah saya dengan melakukan apa yang saya kerjakan dengan baik", begitu Orang Tua Penghuni Kantor menambahi.
Usai pembicaraan di atas, Orang Tua Bergamis memulai pembicaraan baru, "bagaimana kabar pak Dawam, apa masih sakit ya?""Pak Dawam sudah sehat. Ia masih berda'wah. Da'wahnya tidak mengajak orang untuk sholat, tapi mengajak orang untuk berdamai, menyeru pada perdamaian" begitu Orang Tua Penghuni Kantor mengakhiri perdebatan kecil di kantor itu.
di
19:21
0
komentar
Label: Catatan
Rabu, 2008 Desember 17
Dimana Tangan-tangan Tuhan itu?
Saya menghadiri sebuah seminar pagi itu. Diadakan oleh MK. Dengan sebab-sebab tertentu saya datang di seminar itu. Tanpa referensi yang dalam atas tema dan pembicara seminar, saya melenggang dengan harapan pengetahuan dan pengalamanku makin tertambah. saya punya alasan pembenar: jangan melihat siapa yang bicara, tapi apa yang dibicarakan.
Ternyata yang bicara adalah Jakob Tobing. Mantan politisi PDIP yang dibesarkan di Golkar. mungkin MK mempersembahkan seminar itu hanya untuk Tobing. Atau sebaliknya, Tobing menganugerahkan seminar itu untuk MK. Yang terang, tangan saya menenteng tas berisi dua buku baik dan tebal yang ditulis Tobing dan diterbitkan MK. Yang terang, saya mengakhiri seminar itu dengan makan siang yang lebih lama dari biasanya.
saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan pembahasannya--yang sebenarnya lebih berguna bagi penyuka bidang hukum. Seminar membahas evalusasi di sana sini tentang perubahan UUD 1945 yang menginjak kurun 10 tahun--dari pertama kalinya diubah.
Sambil menikmati secangkir kopi campur cream yang disuguhi panitia (seperti biasa, perempuan-perempuan muda) saya mendengar sayup-sayup sampai kajian Tobing itu. Dalam kesayupan, saya menelisik dibalik laman buku itu. satu satu saya balik pagina buku. Dan, sebagaimana ketertarikan pecinta psikologi umumnya (atau psikologi naif?), saya mengamati otobiografis pergulatan hidupnya.
Saya tertarik pada dua subtema: masa titik baliknya dari 'orang biasa' menuju pentas politik. Dan, kedua, bagaimana orang lain (teman-temannya) mengupas kilas tentang pribadi Tobing.
Ternyata ia menjadi anggota DPR dalam usai 24 tahun! Lebih muda tiga tahun dari usia saya saat ini. Walau dari utusan golongan, setidaknya ia sudah punya peran menonjol sejak masih mahasiswa dulu. ia utusan pemuda dari Bandung, bersama Rahmat (?) Tolleng dan kawan-kawannya yang lain. Di DPR lah ia berada, sampai usianya diantar menuju tua (hampir 30 tahun sebagai politisi). Sampai sekarang, ia dikenal sebagai politisi senior yang kemampuan diplomasinya (saat ini ia seorang diplomat) tidak bisa diabaikan. Yang kesabaran dalam menghadapi orang, mungkin, lebih Jawa dari orang Jawa.
Dalam sudut dalam sampul bukunya, Tobing menera, "Saya ingin memberikan sebuah testimoni bahwa semua tugas yang diberikan kepada saya itu datang dengan sendirinya menghampiri saya, bukan sesuatu yang saya kejar dengan daya upaya dan cara. oleh karena itu saya selalu berusaha memahami pasti ada campur tangan Tuhan dalam perjalanan hidup saya itu..." (Beruasaha Turut Melayani, Memoar Politik Jakob Tobing, 2008)
Saya tiba-tiba teringat buku The Secret-nya Rhoda Byrne, Visualisasi Kreatif-nya Shakti Gwain, dan Sang AlKemis-nya Paulo Coelho. Sebatas tangkapan saya, semuanya mengajarkan keyakinan atas sesuatu yang kita inginkan. Tentu, dengan mengurangi deprivasi keinginan kita itu, mendekatkan diri pada keinginan itu, melalui usaha-usaha yang tekun dan sonder kata menyerah...
Kata Paulo Coelho, "...when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it..." (The Alchemist, p.6).
Namun, saat ini saya masih menanya pada diri saya sendiri: dimanakah Tangan-tangan Tuhan itu? Mungkin pertanyaan ini juga mengena pada para 'calon politisi' yang hendak melenggang di DPR, dengan segala jerih yang payah, dalam hitungan beberapa puluh hari lagi...
Hatur salam buat Mas Joko, mas Fami, Kang Aris... Bener-bener Wonge Dewek.
di
19:53
2
komentar
Label: Catatan
Sabtu, 2008 November 29
"You Raise Me Up"
When I am down and, oh my soul, so weary;
When troubles come and my heart burdened be;
Then, I am still and wait here in the silence,
Until you come and sit awhile with me.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up... To more than I can be.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up... To more than I can be.
There is no life - no life without its hunger;
Each restless heart beats so imperfectly;
But when you come and I am filled with wonder,
Sometimes, I think I glimpse eternity.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up... To more than I can be.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up... To more than I can be.
You raise me up... To more than I can be.
Sumber: azlyrics.com
di
20:20
0
komentar
Label: Lagu



