Siapa yang menemukan alasan untuk hidup, ia dapat menyelesaikan masalah dengan cara apapun

Jumat, 18 Desember 2009

Warga Kota yang Tak Setia?

Hari libur yang sempurna adalah hari libur yang berdempet dengan akhir pekan. Hari ini hari Jum’at, tanggal merah, tahun baru Hijriyah. Hari ini adalah salah satu dari hari libur yang sempurna itu.

Di hari libur yang sempurna, akhir pekan terasa lebih panjang. Adalah orang yang menghargai kesempurnaan hari libur itu jika mau menghabiskannya dengan bercengkrama di rumah bersama keluarga. Dan bagi para perantau tentu pilihannya lebih terasa seperti meminum seteguk air pelepas dahaga: pulang kampung!

Terlepas dari pengetahuan saya bahwa warga yang bekerja di Jakarta ini menghabiskan libur yang sempurna dengan pulang kampung atau bercengkrama di rumah, saya semakin memahami kalau warga kota di sini adalah warga kota yang tak setia. Betapa tidak? Pada hari ini, saya tidak menemukan hari yang persis sama dengan hari-hari sebelumnya. Pada Jum’at ini, saya tidak menemukan Jum’at yang sama dengan Jum’at-jum’at sebelumnya. Pada hari Jum’at ini, saya menemukan warga kota yang berbeda dengan warga kota di hari biasanya. Berikut ini saya rincikan beberapa diantaranya.

• Saat saya berada di depan warung makan langganan saya, saya dapati warung makan itu sepi, tidak seperti hari-hari biasanya.
• Mas Dani yang biasa melayani pelanggan di warung itu mengeluh kalau hari ini sepi, tidak seperti hari-hari yang biasa. Alamat lauk dan nasi masih menggunung karena tidak dijamah oleh warga kota sebagaimana biasa.
• Saat saya beranjak menuju masjid terdekat, sederet warung di pinggir gedung-gedung itu tidak ada yang buka.
• Hari ini saya tidak menjumpai seorang ibu paruh baya berjilbab putih yang biasa berada di pinggir jalan meminta-minta kepada para jamaah yang lewat hendak masuk masjid dan berdiri di depan pintu masjid saat jamaah keluar dari masjid. Ibu paruh baya itu biasanya saya jumpai saat menuju dan keluar dari masjid, walaupun saya lebih sering untuk mengabaikan tengadahnya.
• Pasang mata saya tidak juga menemukan seorang bapak penjual obat, penjual DVD, penjual kanebo, dan beberapa penjual lain di sebelah utara masjid. Pada hari biasanya, mereka dirubungi para jamaah sebelum dan sesudah sholat Jum’at.
• Masjid yang biasanya menampung jamaah di lantai bagian atas, kali ini tidak menampungnya. Sekilas saya melihat gerbang pintu di lantai atas itu tertutup rapat. Kali ini, masjid hanya menampung jamaah di lantai bawah. Usai sholat pun saya lihat kalau jamaah Jum’at tidak sampai memenuhi seluruh lantai bawah. Kali ini memang jamaah Jum’at tidak sepenuh Jum’at-jum’at sebelumnya.

Mengapa warga kota seakan tidak setia? Sebentar, justru dari pemandangan yang saya lihat seperti saya ungkap di atas, warga kota benar-benar setia. Warga kota tidak setia pada kota, tetapi mereka lebih setia kepada keluarga. Yang karena dorongan kesetiaan kepada keluarga, warga kota rela hadir tiap hari di kota, bekerja 9 jam bahkan lebih lama di kota, mengawali hari kerja dengan kemacetan yang panjang dan lama saat memasuki kota. Mengakhiri hari kerja dengan kemacetan yang tak kalah panjang dan lama. Berangkat berpuluh-puluh kilometer, bahkan berratus-ratus kilometer dari kampung menuju kota. Menginap di kamar sempit di kota selama hari-hari kerja. Karena kesetiaan pada keluarga, warga kota rela untuk disebut sebagai warga kota yang tidak setia kepada kota.

Semoga asumsi saya ini benar, bahwa warga kota lebih setia kepada keluarga. Selamat tahun baru Hijriah 1431. Selamat berlama-lama bersua dengan keluarga. Mari buktikan kalau kita punya kesetiaan pada keluarga. Biarlah keadaan yang saya ungkap di atas berulang lagi sekali dua kali. Karena, dua minggu ke depan, masih ada dua hari libur sempurna: Hari Natal dan Tahun Baru 2010.[]

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 16 Desember 2009

Bahkan Malaikat pun Menuntut

Tidak lagi belajar di lembaga pendidikan formal, baik di sekolah maupun di kampus, mendorong saya lebih banyak belajar dari lingkungan sekitar. Lingkungan tempat kita tinggal dan beraktivitas menjadi ruang belajar terbuka yang menyilakan siapa saja berperan sebagai guru atau murid atau saling menukar peran antarkeduanya. Kali ini, saya menempatkan para demonstran di gedung KPK sebagai guru. Lalu, perkenankan saya berlaku sebagai murid yang sedang berupaya mengais pelajaran. Lewat tulisan yang saya tuang ini, saya berusaha menjadi sebaik-baik murid dari guru-guru terbaik di depan gedung KPK itu.

Semakin marak kasus korupsi, semakin meriah pula demontrasi antikorupsi di depan gedung KPK. Setidaknya dalam dua kasus terakhir, yakni penahanan Bibit-Chandra dan kasus Bank Century, demonstrasi di depan gedung KPK nyaris berlangsung tanpa henti. Beberapa kelompok mahasiswa bahkan mendirikan tenda di depan gedung. Kalau saya lewat di depan gedung KPK, tidak jarang mata saya kepergok spanduk-spanduk para demonstran. Saya tidak terlalu cermat merekam apa bunyi spanduknya. Yang jelas, dalam demonstrasi akhir-akhir ini, mereka menuntut KPK mengusut tuntas dugaan korupsi pencairan dana penyehatan Bank Century sebesar 6,7 triliun. Para demonstran itu menuntut KPK menjalankan laku-perannya sebagaimana melekat pada nama lembaga itu: memberantas korupsi!

Anggota KPK bukan terdiri dari para malaikat yang dengan khidmat mengabdi dunia akhirat. Anggota KPK terdiri atas manusia biasa yang suatu saat bisa lalai kalau tidak ada suara-suara yang terus mengingatkan. Jangan sampai KPK kehabisan angin dalam memberantas korupsi karena banyak pihak yang berusaha menggembosinya. Dalam hal ini, peran demonstran menjadi salah satu pihak yang berusaha menghalau pihak-pihak lain yang hendak menggembosi KPK. Juga menambah angin, bahkan menambalnya, semata-mata agar KPK bisa berlaku-peran sebagaimana mestinya. Ya memberantas korupsi itu tadi.

Dengan menggunakan pengeras suara, tuntutan para pendemo masuk ke telinga saya yang kebetulan sedang duduk di tempat yang tak jauh dari gedung KPK siang itu. Tuntutan itu terdengar lamat-lamat, juga pada hari-hari sebelumnya dari tempat biasa saya duduk. Mungkin demonstrannya berbeda, namun esensinya tidak beda dengan demontrasi yang diadakan dimana-mana: sekelompok masyarakat yang menuntut atas idealitas sebuah keadaan. Dari sekian banyak aspek yang menarik perhatian, saya lebih tertarik pada esensi sebuah tuntutan.

Mungkin tidak ada kelompok masyarakat yang melakukan tuntutan jika KPK menjalankan laku-peran sebagaimana mestinya. Tuntutan itu ada karena peran yang semestinya dijalankan namun diabaikan, fungsi yang seharusnya optimal namun minimal, wewenang yang sebenarnya tinggi tapi direndahkan, tugas yang sebenarnya agung namun dikerdilkan. Keadaan semacam ini tidak hanya mengancam KPK, namun bisa mengancam lembaga apa saja. Juga, keadaan semacam ini tidak saja mengancam lembaga, tetapi juga terhadap pelaku-pelaku lembaga itu: sosok ciptaan tuhan bernama manusia.

Saya ingin mengatakan bahwa manusia bisa lalai dari berbagai idealitas yang melekat pada dirinya. Ia bisa mengabaikan peran, meminimalkan fungsi, merendahkan wewenang, mengerdilkan tugas sebagai manusia. Manusia bisa menenggelamkan keistimewaan dirinya ke dalam lumpur kotor kelemahan, juga kehinaan, sedalam-dalamnya. Jika hanya sebagai semurni-murninya manusia, maksudnya tanpa jabatan maupun profesi yang melekat padanya, apa yang dilakukan manusia mungkin tidak akan ada yang memprotes. Ini karena apapun jabatan, profesi dan identitas yang melekat pada manusia sebenarnya menjadi alat bantu yang seharusnya mampu mendongkrak ketinggian peran, optimaliasai fungsi, ketinggian wewenang, keagungan tugas sebagai sosok manusia.

Namun justru yang terjadi sebaliknya. Presiden merasa tidak berwewenang dalam menjalankan peran-peran penting sebagai presiden, justru merasa berwewenang menjalankan peran yang tidak penting. Kepolisian sebagai institusi yang seharusnya memberantas kriminal justru melakukan tindak kriminalisasi. Kejaksaan Agung sebagai tempat agung yang menaungi keadilan justru menampung banyak ketidakadilan. Penyelenggara negara yang mengelola uang rakyat demi kemakmuran bersama justru mengkorupsinya. Para wakil rakyat yang seharusnya memperjuangkan kepentingan rakyat namun saling berjuang sendiri-sendiri demi dirinya dan kelompoknya. Jabatan, profesi dan identitas lain yang melekat pada manusia justru digunakan untuk menjerumuskan dirinya sendiri.

Saya teringat firman Tuhan yang menyatakan bahwa kala Tuhan hendak menciptakan manusia, malaikat justru mempertanyakannya. Tanya malaikat pada Tuhan, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Tuhan menjawab bahwa Dia lebih tahu dari apapun yang diketahui oleh malaikat.

Saya tidak bisa menerangkan tafsir dibalik pertanyaan protes malaikat pada Tuhan itu. Namun saya merasa ada kaitan antara para demonstran di depan gedung KPK dengan pertanyaan malaikat yang bernada menuntut itu. Ini pula pelajaran yang bisa saya kais dari para demonstran itu. Yakni, jika kita tidak bisa menunjukkan keistimewaan sebagai manusia, termasuk memberikan peran lebih dari sekedar jabatan, profesi dan identitas yang disandang, mungkin kita perlu meyakinkan diri bahwa nun jauh di sana, malaikat sedang protes menuntut kita, hanya kita tidak diperkenankan mendengarnya. Saat menjalani laku-peran sebagai manusia, kita sering menggembosi diri kita sendiri di tengah jalan sebelum sampai ke tempat tujuan. Mungkin malaikat sangat geram mendengar suara gembosnya. Malaikat hendak menuntut kita, juga mengingatkan Tuhan, bahwa wudhu kita batal karena buang angin, namun kita masih terus sholat dan Tuhan membiarkan sampai akhir sholat. Sampai kita mengucap salam sebagai tanda akhir kehidupan.[]

[+/-] Selengkapnya...

Senin, 30 November 2009

Menjadi Guru Bener di Zaman Keblinger


“Saya minta Menteri Pendidikan Nasional untuk mengubah metodologi belajar-mengajar yang ada selama ini. Sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah jangan hanya gurunya yang aktif, tetapi harus mampu membuat siswanya juga aktif,” begitu ungkapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka Temu Nasional 2009 di Jakarta (Kompas, Jum’at, 30/10). Tersirat, permintaan presiden tersebut tidak hanya ditujukan kepada Menteri Pendidikan Nasional yang baru, tapi juga terhadap para guru sebagai subjek utama penentu kualitas pendidikan nasional.

Namun, mengubah metode belajar-mengajar bukanlah perkara mudah bagi seorang guru. Ada konsekuensi-konsekuensi yang harus dipenuhi oleh guru jika hendak mengubah metode belajar-mengajar yang dilakukan selama ini. Tidak serta merta dapat terpenuhi, apalagi jika dihadapkan pada kenyataan berurat-akar tentang metode belajar-mengajar yang berlangsung bertahun-tahun lamanya. C.E. Beeby, seorang pernah meneliti tentang pendidikan di Indonesia, menggambarkan cara mengajar guru yang ditelitinya tahun 80-an, “guru berbicara dan biasanya menulis di papan tulis (dan ini rata-rata memakan waktu separuh jam pelajaran), murid-murid mendengarkan secara pasif. Ada sisa waktu yang sangat singkat untuk tanya jawab, sedang pertanyaan-pertanyaan bersifat rutin dan menyimpulkan saja: murid-murid kemudian mencatat apa yang didiktekan atau dari papan tulis. Dimana buku teks sangat kurang, kadang-kadang guru mengajar dengan hanya mendiktekan saja pelajaran dan jika masih ada waktu baru memberikan penjelasan sekedarnya.” Tak bisa dinafikan bahwa cara mengajar demikian masih kerap dijumpai di ruang-ruang kelas sekolah kita saat ini.

Pemerintah bukannya tidak memiliki kebijakan ke arah perbaikan metode belajar-mengajar. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) memberi lampu hijau bagi guru dalam menyelengarakan kurikulum yang sesuai dengan corak sekolah masing-masing. Melalui KTSP, guru mendapat hak profesionalnya, termasuk dalam menyusun kurikulum dan mengembangkan metode pembelajaran. Namun, pemberlakuan KTSP tanpa diimbangi penyiapan pengetahuan dan ketrampilan guru dalam mengampu perubahan kurikulum berujung pada pembebanan guru terhadap tugas-tugas administratif belaka. Kurikulum berubah, namun hal itu tidak mempengaruhi guru dalam mengubah penyelengaraan kurikulum, termasuk pendekatan dan metode dalam belajar-mengajar.

Melalui bukunya ini, Doni Koesoema menempatkan guru sebagai subjek penting bagi perubahan. Guru tidak hanya sebagai pelaku perubahan, tapi juga sebagai pendidik karakter. Kedua peran itu saling terkait dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Melalui dua peran ini, pengaruh guru menyebar luas, melampaui tembok-tembok ruang kelas yang menyekatnya setiap hari. Kemauan guru untuk mengubah dan memperbaiki metode belajar-mengajar yang telah dilakukan selama bertahun-tahun berhubungan dengan kesadaran atas peran guru sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter.

Doni Koesoema menengarai dinamika pekerjaan guru menyebabkan guru sulit menerima perubahan. Ada tiga ciri dinamika pekerjaan guru yang menghambat perubahan, terhadap guru itu sendiri pada khususnya, dan dunia pendidikan pada umumnya, yakni konservatisme, individualisme dan presentisme. Gejala konservatisme mengemuka saat guru lebih merujuk pada keberhasilan masa lalu sebagai andalan, alih-alih menolak hal-hal baru yang belum tentu terbukti efektivitasnya. Individualisme tampak saat guru merasa bahwa apapun pilihan tindakannya sebagai guru sepenuhnya adalah haknya yang bersifat individual. Sebagai guru mata pelajaran tertentu, ia merasa bahwa cara mengajar dan hasil belajar siswa akibat cara mengajarnya itu adalah haknya sebagai guru yang siap dipertanggungjawabkan. Presentisme terlihat saat guru lebih mementingkan tugas-tugasnya hari ini yang bersifat jangka pendek dan hasilnya dapat langsung dirasakan, seperti menyiapkan ujian. Daripada mendorong siswa aktif memahami dan menemukan makna baru terhadap apa yang dipelajari, lebih baik mendorong siswa untuk berlatih soal-soal ujian.

Pada saat dinamika pekerjaan guru membuat guru resisten terhadap perubahan, zaman menempatkan guru dan institusi pendidikan lebih tinggi dari seharusnya, bahkan cenderung tidak proporsional. Doni Koesoema menyebutnya sebagai zaman keblinger. Zaman ini setidaknya memiliki dua ciri, yakni mistifikasi peran guru dan pemahaman bahwa sekolah sebagai panasea atau obat mujarab segala macam penyakit sosial. Masyarakat melakukan mistifikasi peran guru dengan menempatkan guru sebagai pangkal segala persoalan yang terjadi di masyarakat. Perdamaian atau permusuhan, kesejahteraan atau kesengsaraan, kecerdasan atau kebodohan yang menggelayuti masyarakat sera merta ditimpakan kepada guru sebagai biangnya. Mistifikasi peran guru berujung pada tuduhan segala ketidakberesan di masyarakat kepada guru.

Zaman ini disebut sebagai zaman keblinger karena sekolah dipandang sebagai panasea atau obat mujarab segala macam penyakit sosial. Masyarakat menyerahkan sepenuhnya baik dan buruknya perilaku siswa atau warganya kepada sekolah. Jika saat awal masuk sekolah seseorang teramat nakal, setelah lulus dia menjadi orang yang baik-baik. Sekolah menjadi obat ampuh atas penyakit apapun di masyarakat. Narkoba dan perilaku seksual menyimpang yang menggerogoti remaja, ditanggulangi oleh satu-satunya institusi terpercaya bernama sekolah. Masyarakat pun berbondong-bondong menyekolahkan anaknya dari pagi sampai sore, bila perlu diasramakan. Namun, jika sekolah tidak lagi ampuh mengobati penyakit sosial itu, yang harus bertanggung jawab sepenuhnya adalah guru.

Tantangan atas perubahan, baik dari internal (dinamika kerja yang resisten terhadap perubahan) dan eksternal (mistifikasi terhadap peran guru dan fungsi sekolah) menuntut guru memiliki visi sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter. Guru sebagai pelaku perubahan berarti menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan orang lain menuju tatanan yang dicita-citakan. Dalam masyarakat demokratis seperti saat ini, guru yang bervisi sebagai pelaku perubahan perlu melakukan reorientasi gaya pedagogis dalam pengajaran yang selama ini menjadi praksis hariannya. Mengembangkan diri sebagai pelaku perubahan berarti mengkritisi asumsi-asumsi dasar tentang pola relasi pengajaran dan pendidikan yang dianut selama ini. Guru perlu melepas dominasi terhadap siswa dalam pembelajaran dan menggantinya dengan memberikan ruang dan kreativitas kepada siswa untuk berkembang dan memiliki otonomi dalam pembelajaran (hal. 123-124). Beberapa kasus di dunia pendidikan yang masih kerap muncul, seperti kekerasan dan tindak asusia yang dilakukan guru terhadap siswa menjadi indikasi masih besarnya dominasi guru terhadap siswa dalam praksis pembelajaran.

Peran yang terus melekat dalam fungsi dan jabatan apapun di sekolah adalah guru sebagai pendidik karakter. Guru bukan hanya membuat siswa menjadi pintar dan menguasai materi, namun membuat mereka bertumbuh secara integral dan utuh sebagai manusia supaya dapat berkembang individualitas dan keunikan dirinya (hal 136). Namun, tuntutan yang tinggi terhadap capaian kurikulum dan harapan nilai yang tinggi dalam Ujian Nasional (UN) menggiring para guru lebih memusatkan pada pencapaian tujuan pendidikan yang dangkal. Sudah jadi rahasia umum, banyak guru yang melakukan berbagai macam cara agar siswa mendapat nilai tinggi dalam UN. Tindakan curang dan tidak jujur dalam UN, bahkan dilakukan secara sistematis, justru menodai visi luhur guru sebagai pendidik karakter.

Menjadi guru yang bervisi sangat diharapkan bagi perbaikan pendidikan nasional. Namun, masih banyak guru yang belum benar-benar menjadi guru. Menjadi guru yang bener, dalam arti mengembangkan perannya sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter, sangat penting bagi masa depan pendidikan di Indonesia. Di zaman sekarang ini, menjadi guru yang bener juga perlu, semata-mata agar guru tidak ikut keblinger. []

[+/-] Selengkapnya...

Senin, 23 November 2009

Mengembangkan Metode, Meningkatkan Kecerdasan

Sebuah selebaran tentang unsur-unsur pengajaran tradisional yang dibuat oleh pakar pendidikan Eric Jensen dan jeannette Vos menyebutkan salah satu diantaranya: “kapur—pidato—tunjuk jari”. Tidak tersedia penjelasan lebih lanjut, tetapi penyebutan “kapur—pidato—tunjuk jari” sebagai salah satu unsur pengajaran tradisional mendapatkan gambaran dan pembenarannya sekaligus saat melihat kegiatan dalam ruang-ruang kelas sekolah kita. Pengalaman kita sebagai murid sekolah dahulu atau saat menjadi guru sekarang adalah pengalaman rutin tentang guru yang memasuki kelas, murid yang segera duduk rapi di bangku; guru yang mengambil kapur untuk menulis di papan tulis, murid yang menyalin di buku catatan; guru yang aktif berpidato menerangkan pelajaran, murid yang tekun mendengarkan; guru yang melontar tanya dengan menunjuk salah satu murid untuk menjawab, murid yang diam, tengok kiri kanan karena tak tahu jawaban, atau menjawab seadanya; guru yang menawarkan kesempatan kalau-kalau ada pertanyaan, murid yang diam karena tak ada yang mau bertanya. Sebagai guru, kita sudah lama tidak membayangkan, apa yang dirasakan para murid jika semua guru menampilkan ‘logat’ pembelajaran yang sama : kapur (menulis), pidato (menerangkan), dan tunjuk jari (memberi pertanyaan).

Jika para murid diperkenankan bertindak jujur terhadap dirinya, mungkin akan banyak murid yang bernasib seperti Totto Chan—tokoh dalam sebuah novel pendidikan anak. Ia terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena bertindak aneh selama di kelas: berdiri di dekat jendela memandang keluar sembari menunggu pengamen datang bernyayi untuknya. Tidak jarang, sembari menunggu pengamen, ia bernyayi-nyayi sendiri. Beruntung ia mendapat sekolah yang bisa memahami dirinya, belajar di kelas yang terbuat dari bekas gerbong kereta dan setiap murid bisa memulai pelajaran dari mana saja yang disukai. Di sekolah barunya, Totto Chan terbebas dari kepercayaan yang keliru tentang pembelajaran: siswa yang tidak bisa duduk diam berarti tidak siap belajar.

Apa jadinya jika murid-murid yang berperilaku seperti Totto Chan tidak mendapatkan sekolah yang dapat menampung cara belajarnya, seperti kelas di gerbong kereta? Mungkin murid-murid itu akan dipaksa putus sekolah, karena sekolah bukan tempat orang yang tidak mau diatur—termasuk yang tidak mau diatur cara belajarnya.

Figur semacam Totto Chan dalam dunia nyata bukan tidak ada. Beberapa diantara mereka adalah tokoh berpengaruh yang memberi sumbangan besar pada peradaban. Sebut saja misalnya Albert Einstein, Winston Churchill dan Thomas Alva Edison. Berikut ini kisah mereka menghadapi gaya belajar sekolah yang tidak sesuai dengan gaya khas mereka (dalam Dryden & Vos, 2001).

Albert Einstein kecil dikenal suka melamun. Guru-gurunya di Jerman mengatakan bahwa dia tidak akan pernah berhasil di bidang apapun; bahwa pertanyaannya merusak disiplin kelas; bahwa lebih baik jika ia tidak usah bersekolah. Namun, dia terus berusaha dengan gaya belajarnya sehingga menjadi salah satu ilmuwan terbesar sepanjang sejarah.

Winston Churchill saangat lemah dalam pekerjaan sekolah. Dalam berbicara dia agak gagap dan cadel. Namun ia kemudian menjadi salah satu pemimpin dan orator ulung terbesar di abad ke-20.

Thomas Alva Edison pernah dipukul di sekolah dengan sebuah ikat pinggang kulit karena gurunya menganggap dia ‘mempermainkan’ dengan mengajukan begitu banyak pertanyaan. Dia begitu sering dihukum sehingga ibunya mengeluarkan dia dari sekolah hanya setelah tiga bulan mengenyam pendidikan formal. Dia terus berusaha sehingga menjadi penemu paling produktif sepanjang zaman.

Albert Einstein, Winston Churchill dan Thomas Alva Edison menjadi ‘korban’ dari ‘malapraktek guru dalam melakukan pembelajaran di kelas. Namun, pembelajaran guru yang kurang tepat tak mampu membendung potensi kecerdasan yang dimilikinya. Kecerdasan mereka lebih berharga daripada sekedar mengikuti apa yang dimaui guru dan sekolah pada umumnya. Demi mengasah potensi optimal kecerdasan, mereka memandang putus sekolah sebagai sesuatu yang remeh belaka. Namun, seberapa banyak orang seperti mereka, yang tanpa putus asa terus mengasah kecerdasannya dengan cara khas mereka sendiri. Tidak sedikit orang yang, walaupun cukup cerdas, memandang putus sekolah sebagai putus harapan—termasuk jaminan hidup bahagia di masa depan.

Riset yang dilakukan oleh pakar pendidikan seperti Howard Gardner, Dunns dan Barbara Prashnig jelas menunjukkan bahwa kebanyakan murid putus sekolah tidak mendapatkan prestasi yang terbaik di sekolah yang hanya menampung dua ragam kecerdasan dari tujuh atau lebih kecerdasan manusia (multiple intelligence). Juga, kebanyakan dari murid putus sekolah merasa terabaikan di tengah lingkungan sekolah yang tidak mendukung pembelajaran kinestetis (Dryden & Vos, 2001).

Dua kecerdasan yang dimaksud mungkin ini: kecerdasan linguistik (bahasa) dan kecerdasan logika-matematika. Kecerdasan linguistik tertampung dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa inggris, maupun ilmu sosial, sementara kecerdasan logika-matematika tertampung pada mata pelajaran matematika dan ilmu-ilmu eksakta. Namun, menimbang-nimbang mata pelajaran sebagai pengasah kedua kecerdasan itu tidaklah cukup. Hal yang lebih penting dalam mengasah kedua kecerdasan itu adalah bagaimana cara guru mengajar mata pelajaran.

Kebanyakan cara guru mengajar adalah dengan menempatkan dirinya sebagai subjek. Guru adalah pengendali penuh proses belajar mengajar. Apalagi, dengan banyaknya materi pelajaran dan terbatasnya waktu yang tersedia, guru terdorong lebih aktif dalam menyampaikan materi. Hasil observasi kelas yang dilakukan oleh peneliti John Goodlad mengungkapkan bahwa pada kebanyakan kasus, guru merupakan pihak yang berbicara paling banyak sepanjang waktu, sementara siswa pasif mendengarkan. Proses pembelajaran dalam kelas kurang mendorong siswa mengasah kemampuan linguistik. Siswa tidak banyak diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapat atau mengajukan pertanyaan. Padahal, mengungkapkan gagasan secara verbal merupakan latihan metakognitif yang penting, karena dengan sering mendengar diri kita berbicara, dan membaca apa yang kita tulis, maka kita memperoleh wawasan mengenai apa yang benar-benar kita pikirkan atau kita ketahui (Campbell, Campbell dan Dickinson, 2006). Sementara, pada pelajaran matematika, para murid hanya diajarkan rumus-rumus belaka, tanpa mengetahui asal-usulnya, harus dihafal di luar kepala—jauh dari esensi pembelajaran matematika, yakni logika. Sementara, pada mata pelajaran lain, guru kurang memberikan kesempatan siswa agar berkembang mandiri menyelesaikan permasalahan tertentu yang relevan dengan apa yang dipelajari—sebuah pondasi dalam berpikir logis-ilmiah.

Pengertian terbaru mengenai kecerdasan manusia membuat para guru harus berpikir ulang dalam memandang murid, termasuk dalam melakukan proses pembelajaran. Howard Gardner menyatakan bahwa otak manusia adalah organ yang sangat kompleks dengan kapasitas yaang jauh lebih besar untuk belajar ketimbang yang saat ini dipakai manusia. Artinya, setiap manusia, termasuk murid, begitu juga guru, berkesempatan meningkatkan potensi kecerdasannya. Konon, penemuan ilmiah menakjubkan yang dilakukannya, Albert Einstein baru menggunakan 15 % dari potensi otaknya. Lantas, akankah murid-murid yang berpotensi lebih cerdas ditumpulkan potensinya akibat cara mengajar guru yang tidak mampu mendayagunakan kecerdasan para muridnya? Bisa ditegaskan bahwa sebenarnya tidak ada murid yang bodoh, juga tidak ada murid yang mengalami kesulitan belajar, yang ada hanyalah kesulitan guru untuk mengajar—untuk tidak mengatakan masih ‘bodoh’ dalam menggunakan beragam metode pembelajaran yang efektif.

Pentingnya metode pembelajaran
Metode pembelajaran sangat penting perannya dalam mengoptimalkan kecerdasan murid. Jika metode yang digunakan baik dan tepat, murid akan terangsang untuk mengoptimalkan kecerdasan yang dimiliki. Metode yang digunakan bukan hanya baik tapi juga tepat. Artinya metode yang dipakai sesuai dengan kebutuhan pembelajaran—termasuk kesesuaian metode tersebut bagi warga belajar. Dalam hal ini metode memiliki kemampuan sebagai alat rangsang yang mampu membangkitkan potensi kecerdasan murid. Untuk itu, bisa dipahami bahwa metode merupakan alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar.

Maka orang mungkin tidak berani membantah bahwa kesuksesan guru—sebagai guru teladan maupun guru favorit di sekolah—terletak pada kesuksesannya dalam menggunakan metode pembelajaran. Murid-murid memandang seorang guru lebih favorit dibanding yang lain karena kemampuannya dalam membawa murid-murid ke alam pembelajaran. Ada semacam inspirasi yang menggerakkan saat guru melakukan proses pembelajaran. Dengan menggunakan metode yang baik dan tepat, seorang guru dapat mengajak murid berada dalam suasana yang dinikmati, bahkan merasa proses pembelajaran adalah milik dirinya—mereka merasa bahwa proses pembelajaran yang dilakukan melibatkan potensi cerdas yang dimilikinya.

Untuk itu guru perlu kiranya mengembangkan metode belajar melalui penggunaan metode yang variatif (sesuai dengan potensi murid yang variatif), memilih metode yang baik (yang mampu meningkatkan kecerdasan siswa) dan menggunakan metode tersebut secara tepat (yang dapat mencapai tujuan pembelajaran).

Ada beberapa argumen yang menguatkan bahwa mengembangkan metode dapat meningkatkan kecerdasan murid. Pertama, kecerdasan bersifat dinamis, artinya ia dapat berkembang dalam dinamika interaksi yang memungkinkan potensi kecerdasan itu tumbuh. Artinya, senada dengan peran metode sebagai alat motivasi ekstrinsik, lingkungan mempengaruhi perkembangan kecerdasan seseorang. Adanya murid yang putus sekolah seperti beberapa tokoh di atas, sebenarnya mencerminkan lingkungan sekolah kurang memberi suasana yang dinamis bagi kecerdasan muridnya. Kedua, metode yang bervariasi memungkinkan murid mengoptimalkan dua potensi otaknya, yakni otak kiri dan otak kanan. Selama ini sekolah lebih menghargai potensi otak kiri (yang rasional, logis, analitis) daripada otak kanan (intuitif, imajinatif dan holistik) muridnya. Ketiga, dalam pertumbuhannya, kecerdasan setiap murid bersifat unik. Setiap orang memiliki ‘jalan cerdas’ nya masing-masing. Artinya, kita tidak tahu pada keadaan yang bagaimana seseorang itu menemukan pencerahan (insight). Harapannya, metode yang digunakan oleh guru dalam belajar di kelas mampu memberikan secercah cerah bagi murid dalam melihat potensi unggul pada dirinya.

Bagaimana mengembangkan metode sekaligus meningkatkan kecerdasan? Beberapa langkah awal perlu dilakukan guru sebelum menentukan metode yang akan digunakan. Pertama, guru harus berpikiran terbuka. Tidak jarang guru terpaku pada metode pembelajaran tertentu karena metode itulah yang dia alami saat dia belajar di sekolah dahulu. Metode ceramah dipilih guru karena metode itulah yang sering dialami dan dilakukan. Jika guru berpikiran tertutup, ia akan mengabaikan dan tidak akan pernah mencoba menggunakan metode lain. Kedua, guru perlu memahami kecerdasan murid-muridnya. Ini penting karena setiap murid memiliki salah satu atau lebih kecerdasan yang menonjol diantara tujuh kecerdasan manusia (linguistuk, matematika-logika, musik, visual-spasial, kinestetik, intrapersonal dan interpersonal). Pemahaman yang baik tentang ketujuh kecerdasan ini diharapkan guru dapat memilih metode yang bisa diikuti dengan baik dan menyenangkan oleh para muridnya. Bagi murid yang memiliki kecerdasan visual-spasial yang baik, mungkin ia lebih tertarik dengan menuliskan ayat alqur’an dalam bentuk kaligrafi daripada diminta membaca dan menghafal ayat tersebut. Ketiga, guru perlu menampung berbagai macam kecerdasan yang berbeda-beda sebagai potensi dalam melakukan proses pembelajaran. Jangan ada ‘diskriminasi kecerdasan’ dengan cara menampung potensi kecerdasan murid tertentu dan mengabaikan potensi kecerdasan murid yang lain. Kabar buruknya adalah, guru cenderung menggunakan cara, gaya dan metode mengajar yang sama dengan cara, gaya dan metodenya dalam belajar. Keempat, guru perlu banyak melakukan uji coba terhadap metode-metode pembelajaran yang mungkin pada tiap jenis kecerdasan. Ini sekaligus juga mengasah kepekaan guru terhadap kecenderungan potensi murid yang berbeda dengan kecenderungan potensi dirinya. Kelima, guru menempatkan murid sebagai subjek belajar. Ini merupakan prasyarat yang perlu ada dalam pembelajaran sehingga murid tidak hanya mendengar, tetapi juga bicara, murid tidak hanya membaca, tetapi juga menulis, murid tidak hanya melihat dan mendengar, tetapi juga mempraktekkannya. Metode-metode seperti bermain peran (role play), diskusi kelompok, debat, praktek, mampu menempatkan murid sebagai pelaku dalam proses pembelajaran. Mengharapkan murid dapat sholat jenasah lengkap dengan kaifiah dan bacaannya tidak cukup dengan menjelaskan di muka kelas dan meminta murid mencatat bacaannya, tapi juga harus praktek. Untuk meneladani figur rasulullah, kita dapat mengajak murid memainkan peran sebagai sahabat nabi yang bisa diteladani semacam abubakar (saat membenarkan kenabian muhammad, misalnya), umar (saat memikul gandum sendiri untuk diberikan pada rakyatnya yang miskin, misalnya), bilal (saat diseret dan tubuhnya ditindih batu, misalnya). Dan sebagainya, dan sebagainya.

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 09 Oktober 2009

Pola-pola Eksternal Menuju Sukses


“Begitu berita tersebar bahwa kami mengadakan pertunjukan, penonton mulai berdatangan ke klub. Kami bermain tujuh malam tiap minggunya. Pada awalnya kami bermain hampir nonstop sampai jam setengah satu malam saat klub ditutup, tetapi saat permainan kami terus membaik penonton terus bertahan sampai jam dua pagi.”

Jika kecerdasan, bakat, ambisi dan kegigihan tidak terlalu berarti, apa rahasia dibalik kesuksesan seseorang? Kalau keberhasilan individu bukan yang utama, apa penentu keberhasilan seseorang? Dalam buku ini, Malcolm Gladwell membangun tesis yang tidak biasa bahwa kesuksesan seseorang diperoleh karena kesempatan dan warisan budaya.

Kutipan di atas adalah ungkapan Pete Best, pemain drum The Beatles. Pada tahun 1960, saat The Beatles masih berupa band rock sekolah, Pete Best dan kawan-kawannya diundang untuk bermain di sejumlah klub di Hamburg, Jerman. Tujuh hari dalam seminggu! Selanjutnya, selama tahun 1960 sampai akhir 1962 The Beatles melakukan perjalanan ke hamburg sebanyak lima kali yang seluruhnya berjumlah 270 malam. Tiap malam mereka melakukan pertunjukan minimal lima jam. Kesempatan di undang ke Hamburg mereka gunakan untuk memperbaiki kualitas permainannya. Hamburg menjadi kawah candradimuka bagi mereka dengan banyak belajar tentang stamina, berbagai aliran lagu dan kedisiplinan. Sekembali dari Hamburg, The Beatles telah menemukan cara terbaik dalam bermain musik. Tanpa kesempatan bermain musik di Hamburg, The Beatles mungkin akan merajut cerita sukses yang berbeda.

Pola yang sama dialami oleh Bill Gates. Pada awal kelas tujuh, orangtua Gates mengirimnya ke Lakeside, sebuah sekolah yang berisi anak-anak keluarga kaya di Seatle. Saat menginjak tahun kedua, Gates bergabung di klub komputer yang baru didirikan sekolahnya. Saat itu, tahun 1968, komputer adalah barang mengagumkan, yang universitas-universitas pun belum banyak memilikinya. Waktu-waktu berikutnya adalah kesempatan bagi Gates belajar banyak tentang program komputer. Praktis, pengalaman mengembangkan perangkat lunak selama lima tahun di sekolah menengah ditambah dua tahun di Universitas Harvard, cukup bagi Gates untuk membuat perusahaan perangkat lunak sendiri.

The Beatles dan Bill Gates adalah dua contoh orang-orang sukses yang melewati pola yang sama: mereka memperoleh kesepatan yang istimewa. Secara metaforis Gladwell menamai mereka sebagai outlier, yakni orang yang melakukan hal-hal di luar kebiasaan. Dalam pengertian yang lebih luas, outlier berarti sesuatu atau seseorang yang berada di luar keadaan normal.
Melalui bukunya ini, Gladwell memperkenalkan berbagai jenis outlier: orang jenius, musisi rock, pembuat program perangkat lunak dan raja bisnis dunia. Gladwell mengenalkan outlier dalam kisah sukses yang tidak biasa. Ia memaparkan data dan hasil penelitian psikologi sosial bahwa kesuksesan bukan hanya ditentukan oleh faktor individu, tetapi juga faktor sosial. Faktor terakhir ini mengingatkan siapa saja yang ingin sukses untuk menilik tempat dan waktu seseorang tumbuh besar. Karena, kesempatan yang diperoleh dan kebudayaan tempat seseorang tumbuh berpengaruh pada pola keberhasilan yang dicapai siapapun dan dalam bidang apapun.

Saat banyak penulis buku tentang kesuksesan memosisikian individu sebagai pelaku kunci, tidak demikian halnya dengan Gladwell. dalam bukunya yang ditulis dengan gaya bercerita ini, Gladwell menangkap fenomena yang luput dari pandangan para penulis tentang kesuksesan. Tanpa menganggap remeh kecerdasan dan bakat seseorang, Gladwell menyematkan tanggung jawab masyarakat sebagai penentu kesuksesan seseorang: masyarakat seharusnya menyediakan kesempatan seluas-luasnya dan mewariskan nilai-nilai yang mendukung kemungkinan seseorang untuk mencapai sukses.

Dengan gaya bercerita yang seprovokatif buku-buku yang ditulis sebelumnya, The Tipping Point dan Blink, Gladwell menggugah pikiran pembaca dalam memandang fenomena yang semula dianggap lumrah. Ia menunjukkan pentingnya tanggal lahir saat pada proses seleksi pemain hoki terbaik di Kanada. Batasan umur penerimaan berbagai kelas usia hoki di Kanada adalah tanggal 1 Januari. Seorang anak laki-laki yang berusia sepuluh tahun pada tanggal 2 Januari bisa bermain bersama-sama seseorang yang berumur sepuluh tahun di akhir tahun itu—padahal, pada periode praremaja, jarak dua belas bulan membuat perbedaan fisik yang besar (hlm 23). Sehingga kebanyakan anggota tim terbaik lahir di bulan Januari, Februari, Maret dan April. Menurutnya, jika kebijakan penerimaan dibuat dua kali pertahun, akan lebih banyak pemain hoki terbaik di Kanada. Pola semacam ini bisa berlaku pada penerimaan murid baru di sekolah dasar: dengan menimbang usianya, kapan sebaiknya seorang anak mulai menikmati hari-hari pertama di sekolah.

Merujuk hasil penelitian, Gladwell mengingatkan tentang kaidah 10.000 jam: seseorang perlu berlatih sebanyak itu untuk mendapatkan keahlian dalam sebuah bidang. Latihan sebanyak itu pula yang ditempuh The Beatles dan Bill Gates. Dengan menekankan pentingnya ‘kecerdasan praktis’—mengetahui apa yang harus dikatakan kepada orang tertentu, mengetahui kapan mengatakannya dan tahu bagaimana mengatakannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal—Gladwell berkisah tentang dua orang genius dalam menghadapi problem kuliah, dan berujung pada kesuksesan karier setelahnya. Dua orang genius bernasib lain karena lingkungan yang berbeda mempengaruhi kualitas kesuksesan. Dalam hal ini, Gladwell menekankan pentingnya keluarga sebagai lingkungan awal pembentuk kesuksesan seseorang, baik genius maupun tidak.
Orang mungkin tidak akan mengira bahwa jatuhnya pesawat terbang dipengaruhi oleh latar belakang budaya awak pesawatnya. Ini berarti bahwa kesuksesan sebuah maskapai penerbangan dipengaruhi oleh warisan budaya awak pesawatnya. Sebelum Korean Air memperbaiki managemennya melalui pembenahan sikap budaya, kecelakaan yang menimpa pesawatnya tujuh belas kali lebih banyak daripada hal yang sama menimpa United Airlines. Bahasa yang digunakan awak pesawat, yakni Bahasa Korea, memiliki enam tingkatan bahasa yang berbeda, bergantung pada hubungan antara kedua pembicara: formal, informal, terbuka, akrab, intim dan datar. Dalam Dimensi Hofstede, orang Korea memiliki Power Distance Index (PDI) tinggi yang menyulitkan komunikasi asertif antara kapten pilot dan ko-pilot dalam sebuah penerbangan yang kritis. Argumentasi ko-pilot dalam menghadapi kasus penerbangan dihambat oleh jarak kekuasaan yang tinggi sehingga tidak bisa berkata lugas kepada pilot yang dalam hirarki penerbangan lebih tinggi tingkat kekuasaannya. Karena faktor budaya pula orang-orang Asia, dengan dipengaruhi oleh pencahariannya menanam padi, memiliki keunggulan dalam bidang matematika.

Pada akhirnya, tesis Gladwell tentang outlier sesunguhnya juga mengisahkan tentang dirinya sendiri. Dia adalah staf penulis di The New Yorker dan mantan reporter bidang bisnis dan sains di Washington Post. Buku Outliers tidak hadir dalam bentuk semacam ini jika dia tidak ada kesempatan baginya melihat ayahnya bekerja, mulai dari mengkaji matematika sampai berkebun, dalam keadaan gembira, teguh dan antusias. Ia pun diberi kesempatan belajar dari ibunya tentang bagaimana mengungkapkan sesuatu dengan jelas dan sederhana. Neneknya, Daisy Nation—yang kepadanya buku ini dipersembahkan—telah berjuang menghadapi diskriminasi ras di Jamaika sehingga ibunya bisa memperoleh pendidikan. Sebuah pola yang indah mewujud dalam keunikan buku: paduan antara ketelitian, kelugasan dan kesegaran sudut pandang.

Apa pelajaran penting dari buku Outliers ini? Faktor eksternal, yakni tersedianya kesempatan dan pewarisan budaya turut menentukan kesuksesan. Masyarakat sedianya memberi kesempatan seluas-luasnya pada siapapun dalam menapaki jalan kesuksesan. Antarsesama selayaknya terjalin bantuan yang memudahkan jalan sukses. Perlu ada penanaman nilai-nilai positif yang memungkinkan terjadi reaksi kimiawi kesuksesan. Terkhusus dalam pendidikan, tiga matranya, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat seyogyanya saling mendukung tersedianya ruang cerah kesuksesan pada anak atau peserta didik, bukannya saling mengandalkan apalagi menghambat satu sama lain. []



[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 05 Agustus 2009

Organisasi sebagai Rumah Belajar

1. Pada saat pemerintah mengkampanyekan sekolah gratis, saat itu pula ‘sekolah mahal ada dimana-mana’. Program pemerintah membuat SSN (Sekolah Standar Nasional) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) pada akhirnya menyedot banyak biaya dari masyarakat. Secara tidak langsung sekolah formal menciptakan stratifikasi sosial di masyarakat kian menganga. Dampaknya tentu tidak menguntungkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Biaya pendidikan tidak terjangkau. Pada saatnya, kesenjangan ini akan ‘mengganggu’ kepribadian pelajar. Pelajar dari kalangan menengah ke bawah tidak banyak kesempatan melakukan ‘concerted cultivation’, yakni pengembangan (diri) yang dilakukan bersama (antara orang tua atau pihak lain dengan dirinya). Pelajar dari kalangan ini tidak banyak belajar menumbuhkan perasaan memiliki ‘hak’. Mereka tidak tahu cara mendapatkan keinginan dan bagaimana menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dihadapi untuk memenuhi keinginannya (Gladwell, 2009).
Keadaan seperti di atas memberikan ‘jalur hijau’ bagi organisasi pelajar untuk membantu pelajar dalam belajar memahami hak-haknya melalui pengalaman-pengalaman keorganisasian. Sudah terbukti bahwa organisasi mampu menjadi sarana mobilitas sosial bagi anggota-anggotanya. Organisasi punya tugas menghambat agar jurang kelas sosial tidak menganga lebar.

2. Ujian Nasional (UN) maupun seleksi masuk lainnya membuka celah bagi kecurangan sistematis yang dilakukan oleh pelaku pendidikan itu sendiri. Sudah jadi rahasia umum bahwa kecurangan dalam UN dilakukan oleh para guru, siswa, dan institusi pendidikan demi mendapat nilai akademik tinggi. Sementara nilai-nilai lain yang lebih luhur, seperti kejujuran, keadilan, dikesampingkan.
Keadaan seperti di atas menjadi ‘bel masuk’ bagi organisasi pelajar dalam melakukan pendidikan karakter melalui kegiatan yang diselenggarakannya. Bagaimana pendidikan karakter itu? Menurut Thomas Lickona, ada tiga langkah ampuh dalam mendidik karakter, yakni knowing, loving dan acting the good. Melalui program dan kegiatannya, organisasi pelajar sedianya memberi ruang bagi anggotanya dalam memahami nilai-nilai, mencintai nilai-nilai itu dan menerapkannya dalam kegiatan sebagai tindakan yang bisa diteladani.

3. Problem kurikulum masih belum beranjak dari rangkaian pengetahuan yang memberatkan pelajar. Sebagaimana dikuatirkan Bertrand Russell (1993), pengetahuan yang diberikan pada pelajar melebihi kemampuannya mencerna bisa menggerus hasrat atas pengetahuan. Ada semacam pertantangan seperti digambarkan oleh John Dewey sebagai ‘anak versus kurikulum’: pertentangan yang timbul dari kepribadian anak melawan keinginan orang dewasa yang tersusun dalam kurikulum. Apa yang terjadi? Banyak pengetahuan yang didapat pelajar tidak relevan dengan kehidupannya sehari-hari. Pada akhirnya, lulus sekolah atau kuliah, tidak menjamin kecakapannya dalam melakukan aktivitas profesional.
Keadaan di atas memberi ‘jalan terang’ bagi organisasi pelajar untuk menempatkan diri sebagai ‘jembatan pengetahuan’ yang mampu mengkontekstualisasikan pengetahuan yang didapat di sekolah. Pembelajaran kontekstual menurut Elaine B Johnson (2009) meliputi delapan komponen: 1)membuat keterkaitain-keterkaitan yang bermakna; 2) melakukan pekerjaan yang berarti; 3) melakukan pembelajaran yang diatur sendiri; 4) bekerja sama; 5) berpikir kritis dan kreatif; 6) membantu individu untuk tumbuh dan berkembang; 7) mencapai standar yang tinggi; dan 8) menggunakan penilaian autentik. Komponen-komponen di atas memungkinkan dilakukan oleh organisasi sehingga pelajar mampu memaknai apa yang dipelajarinya di sekolah.

4. Pelajar, guru, orang tua, dan masyarakat pada umumnya lebih mempedulikan kemampuan kognitif melalui jalur pendidikan formal. Sekedar misal, anak-anak masuk SD sudah dites dengan baca tulis, bahkan diberi soal-soal yang menghendaki kemampuan membaca dan menulis. Masuk SMP, SMA dan PT diuji dengan Tes Potensi Akademik (TPA). Sementara, orang tua pun rela mengeluarkan banyak biaya demi meningkatkan kemampuan akademik anaknya dengan memasukkan anaknya ke sekolah ‘berkelas’, ikut kursus-kursus dan sebagainya.
Keadaan tersebut menjadi ‘lampu kuning’ bagi organisasi pelajar bahwa organisasi pelajar dipandang tidak relevan bagi perkembangan diri pelajar. Dampak ikutannya, pelajar tidak terlalu berminat pada aktivitas keorganisasian, apalagi terlibat terlalu jauh. Kemampuan yang diperoleh lewat organisasi seperti kepemimpinan, pengambilan keputusan, public speaking, diperoleh melalui kursus-kursus yang tidak mengikat, walaupun dengan biaya tinggi.

5. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa diimbangi dengan kesadaran atas makna pengetahuan, hanya melanggengkan sikap-sikap yang justru merugikan pelajar itu sendiri. Sebagai misal, kunci jawaban ujian beredar lewat sms, tugas makalah didapat dengan copy paste hasil searching di internet. Adanya teknologi praktis tersebut justru menggerus identitas dan integritas pelajar sebagai agen intelektual.
Keadaan diatas bisa menjadi ‘lampu merah’ karena secara langsung mempengaruhi pelajar, dan bisa jadi, pengurus organisasi itu sendiri sebagai pelakunya.

6. Organisasi seyogyanya menjadi tempat belajar tentang apa yang disebut psikolog Robert Stenberg sebagai ‘kecerdasan praktis’ (Gladwell, 2009). Bagi Stenberg, ‘kecerdasan praktis’ meliputi hal-hal seperti mengetahui apa yang harus dikatakan pada orang tertentu, mengetahui kapan mengatakannya, dan tahu bagaimana mengatakannya untuk mendapat hasil yang maksimal. ‘Kecerdasan praktis’ ini diasah dalam organisasi saat kita merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan menilai ketercapaian suatu kegiatan. Kecerdasan ini sulit terasah pada seseorang yang, dengan IQ tinggi, justru mengandalkan kemampuan kognitif (analisis) semata.

7. Organisasi perlu menguatkan visinya sebagai rumah belajar bagi pelajar pada khususnya, dan masyarakat umumnya. Visi ini idealnya melekat pada setiap pengurus maupun kader, sehingga dapat dicerminkan dalam program dan aktivitas keorganisasian. Bobbi DePorter (2007) memberi nasehat, “jadilah model bagi visi anda. Terapkanlah agar orang-orang melihatnya.”
Pelajaran baik datang dari Gola Gong yang meyakini, sebagai sebuah prinsip, bahwa “rumah adalah tempat belajar” (Kompas 26 Juli 2009). Ini tersirat pada isi rumahnya yang penuh dengan buku sebagai ‘perabot utama’ rumah tangga. Rumahnya pun tak pernah sepi dari hilir mudik anak muda yang ingin belajar: membaca, menulis, bermain musik. Jika kita meyakini organisasi sebagai rumah belajar, apa kira-kira ‘perabot’ yang harus dimiliki? Jika kita meyakini organisasi sebagai rumah belajar, lingkungan seperti apakah yang hendak kita ciptakan?

8. Sebagai rumah belajar, organisasi perlu menampung berbagai kecenderungan, minat dan bakat pelajar yang, lewat kegiatan keorganisasian, pelajar mampu mengaktualisasikan kecenderungan, minat dan bakatnya itu. Daniel Goleman membagi kecerdasan dalam delapan jenis: linguistik, kinestetik, matematis, spasial, musik, interpersonal, intrapersonal, dan natural. jadi, keberagaman kecerdasan itu mempengaruhi kecenderungan, minat dan bakat pelajar dan perlu dikembangkan melalui komunitas-komunitas pelajar.

9. Selayaknya ada ‘metabolisme’ dalam organisasi yang secara bawah sadar mempertanyakan diri sendiri, bahwa dalam segala aktivitas keorganisasian, akan selalu timbul pertanyaan, “kamu sedang belajar apa?”; “apa pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman atau aktivitas yang dilakukan dalam organisasi?”; “apakah pengetahuanku bertambah?” Jika jawaban dari pertanyaan itu cenderung negatif, artinya organisasi tidak bisa menjadi rumah belajar bagi anggotanya, lebih baik si anggota cepat-cepat beranjak meninggalkan organisasi, mencari tempat lain yang bermanfaat dunia akhirat. Ingat, hidup ini singkat, seumpama belajar ‘sistem kebut semalam’.

Semarang, 1 Agustus 2009

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 08 Juli 2009

Tak Ada Pesta di Hari Pemungutan Suara

Hari itu, 8 Juli 2009, sekitar tujuh menit terlewat dari pukul 08.00, berlangsung kemeriahan warga yang bukan pesta. Masih pagi benar mungkin. Warga masih belum tergerak hadir di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Di TPS 9 RT 07 RW 3 Kelurahan Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat, warga memenuhi kursi yang tak seberapa jumlahnya, satu-dua menit setelah TPS dibuka resmi oleh ketua RT—yang juga ketua KPPS. Ramai dan lengang memenuhi ruang sempit di TPS. Datang dan pergi, ke dan dari sebuah tempat yang, sekali lagi, tidak layak disebut pesta.

Disini tak ada pesta, hanya ada tiga meja, kursi yang tak seberapa, empat bilik, sebuah kotak suara, dan tenda biru yang tertata sederhana. Tenda biru didirikan di lontrong yang lengang, sekitar 3,5 meter lebarnya. Tenda membentang sebagai atap dengan kerangka potongan bambu dan tali seadanya. Bambu dan tali menopang lembaran tenda biru yang sudah dipenuhi lubang dan tambalan. Lontrong ditutup di dua mulutnya dengan palang glugu dan tanda nomor TPS. Walaupun sudah dipalang di mulut lontrong , banyak warga yang berlalu lalang dengan kesopanan yang bercampur segan. Dengan properti sedanya, warga yang datang lebih lambat harus bersiap kepanasan dan berdiri sambil menunggu namanya dipanggil. Perlengkapan sederhana ini sudah meyakinkan siapapun yang melintasi tempat ini bahwa disini benar-benar tak ada pesta.

Disini tak ada pesta, hanya ada sekelompok warga yang tertib mengantri di hari pemungutan suara. Mereka duduk dan berdiri, bergilir menunggu dipanggil oleh ketua RT. Mula-mula mereka mengumpulkan surat undangan ke KPPS setiba di TPS. Saat namanya disebut, mereka memungut kertas suara, menghampiri bilik suara, membubuhi tanda contreng pada calon presiden dan wakil presiden yang dipilih, melipat kembali kertas suara, memasukkan kertas suara di kotak suara dan menenggelamkan ujung jari kelingking kirinya ke dalam tinta warna biru. Begitu semua warga melakukan tindakan yang serupa. Sekali dua kali, anggota KPPS mengingatkan warga yang hampir lalai tidak mencelupkan ujung jari kelingking kirinya ke dalam tinta. Tingkah laku serupa yang dilakukan oleh para warga cukup meyakinkan siapapun bahwa disini benar-benar tak ada pesta.

Disini tak ada pesta, hanya perilaku Pak RT yang sering kali membikin gelak tawa para warga. Perilaku ketua RT seperti perilaku khas ketua RT umumnya di kampung Betawi—kocak dan asal njeplak!. Namun justru dari situlah sebuah kegiatan yang bukan pesta ini bisa dinikmati dan bahkan terjauh dari kelelahan yang menggelayut. Kelelahan mungkin sudah bergelayut diantara para anggota KPPS sejak semalam, yang lembur untuk mempersiapkan TPS dan perangkatnya. Akibat lembur inilah yang membuat Pak RT datang terlambat membuka acara pemungutan suara—tidak seberapa memang, hanya tujuh menit dari waktu yang sudah ditentukan oleh KPU, yakni pukul 08.00.

Entah sudah kebiasaan yang menetap atau karena kurang istirahat, ketua RT sering kali salah ucap dalam menyebut nama warga yang akan bergilir memilih. Misal, pak RT memanggil dengan keras, “Royati!”, hampir semua pengunjung TPS terdiam, bahkan tak ada yang berdiri mendekat menuju meja KPPS, sebelum akhirnya ada warga yang mengingatkan bahwa yang dipanggil Pak RT maksudnya “Reniyati”. “Eh, yah, Reniyati” begitu Pak RT membenarkan, seraya melanjutkan dengan kesalahan mengeja nama untuk warganya yang lain.

Karena TPS berada di lontrong yang biasa dipakai lalu lalang, Pak RT sempat kecelik. Pak RT memanggil dengan lantang, “Ristanto Wijaya!”, eh yang datang seorang perempuan. Kebetulan perempuan itu hanya numpang lewat pas di depan, mendekati meja KPPS. “Eh, dikire die..!” ucap Pak RT yang segera disambut tawa anggota KPPS yang lain dan sejumlah warga yang hadir.

Pak RT, dengan posisinya sebagai pemuka warga itu, tentu merasa dekat dengan warganya. Demikian sebaliknya, warga seperti merasa diorangkan dengan sambutan akrab Pak RT. Namun, bukan Pak RT kalau tidak asal jeplak seperti berikut ini.
“Hee…!” sambut Pak RT pada seorang anak muda yang baru hadir. “Dari Tebet jam berapa ya?” tanya Pak RT seketika pada anak muda tersebut yang mungkin bekerja atau punya tempat tinggal keluarga di Tebet.
“Bukan dari Tebet, Pak. Tapi Depok!” jawab anak muda itu sekaligus mengonfirmasi informasi yang salah yang selama ini diketahui Pak RT tentang dirinya.
“Oh, iya. Depok ya..” jawab Pak RT sekenanya, sambil melanjutkan memanggil warganya yang lain.

Menjelang siang kursi lengang. Warga seakan menunda kedatangan. Pak RT dan anggota KPPS lainnya memanfaatkannya dengan menyantap makanan ringan yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu setempat. “Ayuh, ngopi yuh..” sapa Pak RT pada semua warga yang hadir.
“Pak RT, tamu nih.. kotaknya mana?” tanya seorang warga sambil menunjuk kawannya yang baru hadir. Kotak yang dimaksud dalam hal ini adalah makanan ringan.
“Kolak! Itu tuh, di warung!” jawab Pak RT dengan nada keras sembari menunjuk warung yang berada di dekat TPS. Seperti biasa, Pak RT menjawab sekenanya, yang dimaksud kotak, didengar Pak RT sebagai kolak.
“Kolak, kaya puasa saja kolak,” jawab tamu yang ditawari. Sejenak hadirin di TPS tertawa.

Begitulah. Disini benar-benar tak ada pesta. Hanya ulah Pak RT yang membikin warganya tertawa-tawa. Sebuah kemeriahan yang tercipta spontan, seadanya, dan terbersit ketulusan sebagai endapan dari interaksi intens sesama warga.

Sekali lagi, disini tak ada pesta, hanya perilaku warga pemilih yang membuat warga yang lain tidak bisa menahan gelak gembira. Ada seorang warga yang menjadi saksi bagi capres/cawapres tertentu. Ia hadir terlambat, namun pulang lebih cepat. Saat diminta menyaksikan dan menanggapi suara capres/cawapresnya yag tidak sah, ia hanya melongok sejenak, lalu bilang, “yah, saya percaya saja pada KPPS!” warga yang lain pun hanya mengoloknya, “menang atau kalah capres/cawapres yang didukungnya, dia tidak urusan, yang penting duit sebagai saksi sudah diterima!” warga yang lain sekilas tertawa.

Ada warga yang usai memasukkan kertas suara, hendak mencelupkan ujung kelingkingnya ke dalam secangkir kopi! Pasalnya, petugas KPPS yang melayani celupan tinta menaruh cangkir kopinya di sisi wadah tinta. Lagian, wadah tinta terlalu kecil dibanding cangkir kopi. “Bukan ini, ini kopi!” tegas petugas KPPS yang diiringi tawa warga di sekitarnya.

Seorang warga mengolok kawannya yang menjadi saksi salah satu capres/cawapres. Katanya, “memang saksi ikan asin di jemur!” Si saksi duduk di kursi yang tersiram kuyup panas matahari siang itu.

Ada juga seorang warga perempuan paruh baya yang latah dalam berucap. Yang bikin orang lain tertawa karena kata yang keluar dari latahnya adalah alat kelamin laki-laki!

Begitulah. Disini benar-benar tak ada pesta. Hanya polah warga yang merayakan kemeriahan sederhana sekedar bumbu dalam pergaulan sesama.

Benar, kan? bahwa disini tak ada pesta, hanya warga yang lamat-lamat mendeklarasikan diri, semacam perayaan kecil-kecilan, dengan peralatan sederhana, sikap dan tingkah laku seadanya, bahwa dirinya adalah warga negara yang telah memenuhi kewajibannya: hadir di TPS dan menentukan capres/cawapres pilihannya. Mereka tidak terlalu berurusan apakah capres/cawapres yang dipilihnya akan menang atau kalah. Yang jadi urusannya adalah bahwa dirinya harus menggunakan hak suaranya di hari pemungutan suara. Mereka tidak terlalu berhadap banyak bahwa pasca Pilpres 2009 akan ada perubahan yang lebih baik pada kehidupannya sehari-hari. Bahwa terhadap kondisi apapun yang selama ini mereka alami, mereka telah memiliki sikap bahagia, ada atau tidak ada pesta! []

Jakarta, 8 Juli 2009

[+/-] Selengkapnya...